“Vox Populi” Karya Mahasiswi UIN Jakarta Sukses Raih Juara

Reporter Akhmad Fattahul Rozzaq; Editor Adellia Prameswari

SERTIFIKAT 
FOTOGRAFl 
Ι 2022 
SERTlFlKAT 
URASATl 
1 ΙΟΥΝ FOTOGRAFl
Febria Adha Larasati raih juara pertama perlombaan Fotografi Jurnalistik. (uinjkt.ac.id)

Salah satu mahasiswi dari Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta, Febria Adha Larasati berhasil mencetak prestasi dengan mendapatkan juara pertama dan juara favorit pada perlombaan Fotografi Jurnalistik Antarmahasiswa Perguruan Tinggi Tingkat Nasional yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten dalam event Gebyar Jurnalistik bertema “Freedom of Journalism: Are We Moving Forward or Backward?” pada 27 Juni hingga 1 Juli lalu.

Febria juga merupakan fotografer dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut UIN Jakarta. Baginya LPM Institut UIN Jakarta merupakan organisasi yang memotivasi dirinya untuk terus aktif dan berkembang dengan mengikuti lomba Fotografi Jurnalistik Antarmahasiswa Perguruan Tinggi Tingkat Nasional.

“Sebetulnya yang memotivasi saya untuk ikut lomba ini adalah organisasi saya, yaitu LPM Institut. Mereka telah banyak memberi bantuan dari memberi informasi lomba sampai membantu mencari like sehingga saya menjadi juara favorit dengan like terbanyak,” ujarnya dalam wawancara bersama DNK TV via Whatsapp pada Senin (1/8).

SUAR%I 
0818 651 255
Karya berjudul “Vox Populi” oleh Febia Adha Larasati. (Instagram/@gebyarjurnalistikuntirta)

Dalam perlombaan tersebut terdapat empat subtema foto, yakni Kebebasan Berekspresi, Kebebasan Pers, Anti Kekerasan, dan Merdeka Belajar. Dari keempat subtema tersebut, Febria memilih tema “Anti Kekerasan” dan “Kebebasan Berekspresi”. Melalui fotonya, ia ingin menyampaikan pesan bahwa semua orang bebas mengekspresikan diri dan juga dapat melawan segala ketidakadilan dengan kedamaian.

“Potret ini memberi pesan, kita boleh bebas mengutarakan ekspresi. Seperti mahasiswa yang berorasi untuk memperjuangkan suara rakyat jika dirasa masih ada kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Kemudian untuk foto kedua, foto seorang polisi diberi sebatang bunga mawar oleh salah satu peserta aksi pengawalan kasus kekerasan seksual di Universitas Riau. Dengan memberi bunga tersebut bukan berarti mereka tidak ada cek cok dengan aparat. Maka, mereka bisa melawan dengan kedamaian. Maka dari itu saya memberi judul “Paradoks” pada foto tersebut,” tuturnya.

Febria mengaku tidak mengalami kendala yang berat saat mengumpulkan foto-foto tersebut karena foto yang ia lombakan merupakan hasil foto ketika berbagai demonstrasi berlangsung sekaligus foto yang dikumpulkannya untuk portal LPM Institut.

“Untuk kendala sebenarnya tidak terlalu berat. Kurang lebih kendalanya ya saat demo, sulit mendapat angle yang pas untuk memotret karena banyak massa di sana,” ujarnya.

Ia juga berpesan pada seluruh mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan peluang yang ada dengan berusaha maksimal untuk memanfaatkannya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.