Unpaid Internship : Perbudakan Berkedok Menambah Pengalaman?

Reporter Nura Inayatus Sa’adah; Editor Adellia Prameswari

Ilustrasi internship. (freepik.com/@tirachardz)

Internship atau magang menjadi andalan mahasiswa untuk menambah pengalaman, memperluas relasi, bahkan mengembangkan skill. Magang sendiri memiliki dua jenis, yaitu magang berbayar (paid internship) dan magang tak berbayar (unpaid internship) yang mana kedua jenis magang ini memiliki benefit masing-masing.

Kebanyakan mahasiswa, terutama mahasiswa semester awal, memilih magang tak berbayar untuk sekedar mengisi waktu luang atau persiapan untuk magang wajib saat semester akhir nanti. Meskipun unpaid internship memiliki banyak peminat, nyatanya magang yang satu ini menjadi topik perdebatan karena dinilai tidak memenuhi hak peserta magang.

Dalam unggahan akun Instagram @kenapaharuspeduli dijelaskan mengapa unpaid internship tidak memenuhi hak peserta magang, karena perusahaan dianggap lebih banyak mendapat keuntungan dengan cara mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah, atau bahkan tanpa bayaran.

Banyak hal yang terkuras saat menjalani magang, seperti waktu, tenaga, bahkan biaya, terutama apabila magang dilakukan di kantor. Ini membuat magang seolah-olah seperti bekerja secara cuma-cuma apabila tidak ada bayaran yang diterima, belum lagi beban kerja yang harus dilakukan.

Perusahaan yang menyelenggarakan program magang akan mendapat banyak keuntungan dengan adanya unpaid internship, seperti mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah dengan iming-iming menambah pengalaman dan relasi. Hal ini terlihat seakan-akan magang adalah perbudakan berkedok mengumpulkan pengalaman dan relasi.

Lalu apakah magang harus dibayar?

Peraturan mengenai magang sendiri sudah diatur dalam Pasal 10 ayat (2) Permenaker 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri. Dalam peraturan ini peserta magang memiliki beberapa hak yang diterima, diantaranya yaitu:

  1. Bimbingan dari pembimbing;
  2. Pemenuhan hak sesuai perjanjian;
  3. Jaminan tenaga kerja;
  4. Besaran uang saku/uang transportasi;

Dari hukum yang mengatur tentang program magang, terlihat jelas bahwa peserta memiliki hak untuk mendapatkan kompensasi uang saku atau setidaknya uang transportasi. Barulah dapat dikatakan program magang tersebut merupakan kegiatan legal.

Meskipun ada fakta-fakta tersebut, masih banyak mahasiswa yang merasa tidak keberatan dengan program unpaid internship. Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta, Muti’ah Nur Rahmah berpendapat bahwa ia tidak setuju dengan pernyataan jika unpaid internship adalah perbudakan.

“Memang banyak hal yang dikeluarkan untuk magang seperti waktu, tenaga, ide, bahkan biaya. Setidaknya perusahaan harus memberikan uang transportasi. Cukup berat juga jika tidak mendapatkan apa-apa selama magang. Kalau unpaid internship disamakan dengan perbudakan, sebenarnya tidak sesadis itu. Setidaknya masih ada pengalaman dan networking yang bisa didapatkan,” ujarnya.

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Ridho Hatmanto yang juga peserta unpaid internship berpendapat demikian. Ia mengatakan bahwa unpaid internship untuk mahasiswa semester awal sepertinya tidak salah untuk dicoba karena banyak pengalaman yang bisa didapatkan. Ia juga memilih program tersebut untuk mengisi waktu liburan dengan menambah banyak pengalaman.

“Sebenarnya tidak apa-apa soal unpaid internship, karena nggak semua mencari pengalaman harus dibayar. Unpaid internship juga nggak bisa dikatakan perbudakan, kecuali kalau pekerjaan yang diberikan itu over dan tidak sesuai dengan jobdesk-nya,” tuturnya.

Ilustrasi peserta internship. (freepik.com/@tirachardz)

Sebenarnya unpaid internship worth it gak sih?

Setiap hal tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan, seperti halnya magang. Walaupun unpaid internship sering dianggap merugikan, jika ditelaah, masih banyak benefit yang bisa didapatkan. Berikut beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari unpaid internship; seperti pengalaman kerja di dunia profesional, kesempatan diangkat menjadi pegawai tetap, kesempatan belajar langsung dengan ahli di bidangnya, mendapatkan relasi yang banyak, dan kemampuan yang terasah dan semakin berkembang.

“Walaupun begitu, nyatanya masih banyak peserta magang yang tidak mendapatkan hak-hak mereka, terutama uang saku. Peserta magang malah jadi rugi secara ekonomi: uang mereka habis untuk perjalanan, internet dan makan selama kerja. Apalagi, ada banyak peserta magang yang kondisi ekonominya tidak memungkinkan buat bekerja secara cuma-cuma,” mengutip dalam unggahan Instagram @kenapaharuspeduli pada Rabu (27/7).

Layak atau tidaknya unpaid internship pun tergantung dari pemikiran dan keputusan peserta magang. Setiap perusahaan tentunya memberikan keterangan berbayar atau tidak dalam promosi program magangnya, sehingga sebelum menjalani magang, setiap peserta juga menandatangani kontrak dengan persyaratan yang telah disepakati. Maka dari itu sebagai peserta magang harus bisa menjalaninya dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.


3 Komentar

Arfvjdaync · Agustus 2, 2022 pada 11:05 pm

does cialis make you last longer in bed how much does cialis cost without insurance peptide tadalafil reddit

Blythe Traill · Agustus 4, 2022 pada 7:29 pm

Hello

I am writing to recommend a great resource for your blog on uinjkt.ac.id. I hope you find it to be the right fit for your readers.

Join our JustCBD experts on a journey of insight as they expose your dominant personality traits, your inner secrets and hidden desires, purely based on your go-to vape juice flavour.

Whether you like peach, plum or papaya the flavour you choose reveals a lot about you and your personality. Although a person may like to dabble in different flavours depending on their mood, there is always that one go-to flavour that we keep going back to. That one flavour can tell us a lot about your personality and how you like to live your life.

CBD experts Nataly Komova and Kristina Shafarenko have teamed up with JustCBD to create a detailed infographic covering 20 of the most popular vape flavours and the meaning behind the flavours we choose.

Nataly Komova a nutritionist and CBD blogger has this to say “I’m always intrigued what a person’s go-to vape juice flavour is as it can reveal so much about them as a person.”

Kristina Shafarenko a psychologist and freelance writer says “The vape flavours we choose are a reflection of our personality. Flavour psychology is something that I’m incredibly passionate about and the psychology behind the vape flavours we choose is an endless source of fascination for me.”

Find out what your dominant vape fruit flavour says about you with this handy infographic.

https://justcbdstore.com/what-your-favourite-fruit-flavour-says-about-you/

### ENDS ###

Notes To Editors:

About JustCBD

JustCBD, strives to improve people’s daily lives with the most convenient and effective CBD products all over the world. They offer a vast selection of fast acting and powerful CBD oil as well as a passionate team of knowledgeable sales reps with exceptional customer service skills.

About Nataly Komova

Nataly is a London-based nutritionist and CBD blogger. Her passion for CBD was heightened after experiencing first-hand what CBD did to relieve her skin condition. Nataly’s aim is to spread the word about the benefits of CBD through blogging and participating in CBD and health events. In her spare time she loves jogging in the great outdoors whilst listening to her favourite playlists.

About Kristina Shafarenko

Kristina is a relationship and wellness psychologist and freelance writer. She covers a variety of topics including health & fitness, sexual wellness and relationships. When she’s not writing you can find her planning her next getaway, visiting coffee shops or relaxing at home with her cat Buddy.

basketball stars · Agustus 5, 2022 pada 9:57 am

Young people love to explore your website as much as they love https://basketball-stars.io

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.