UIN Jakarta Menuju Kampus Internasional Meski Sering Tuai Keluhan Mahasiswa

Reporter Qo’is Ali Humam; Editor Latifahtul Jannah

Foto bersama di Hamad Bin Khalifah University Doha. (uinjkt.ac.id)

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis berkunjung ke Doha, Qatar, pada Minggu (12/6). Tujuan utama kunjungan tersebut sebagai bentuk kerja sama sekaligus sebagai upaya pengenalan UIN Jakarta ke pemerintah dan masyarakat Qatar. Dalam kunjungannya yang berlangsung selama empat hari, Rektor UIN Jakarta didampingi oleh beberapa staf dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Doha.

Rektor Amany Lubis dari Doha melaporkan, di hari pertama kunjungan terlebih dahulu dilakukan ke Hamad Bin Khalifah University (HBKU). Dalam kunjungannya Rektor UIN Jakarta disambut oleh Wakil Rektor, HBKU Benedik.

Benedik menyampaikan dalam pertemuan yang berlangsung di kampus berusia 10 tahun itu merupakan universitas riset ternama dalam kajian yang bersifat interdisiplinary. HBKU juga merupakan satu-satunya universitas nasional Qatar yang berada di kawasan Education City bersama dengan delapan kampus ternama dunia, seperti North Western University dan Cornell University.

Kunjungan Amany Lubis beserta staf KBRI ke HBKU ini merupakan langkah besar untuk menjadikan UIN Jakarta universitas global atau World Class University (WCU). Rektor menjelaskan bahwa UIN Jakarta merupakan perguruan tinggi Islam di bawah Kementerian Agama RI yang memiliki banyak program studi baik yang umum maupun agama. Dalam kunjungannya ke HBKU, Rektor berharap diadakan kerja sama lebih lanjut untuk saling menukar informasi kelembagaan serta kerja sama dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Kunjungan Rektor UIN Jakarta di HBKU Doha. (uinjkt.ac.id)

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Zakaria berpendapat bahwa kunjungan tersebut sangat menghasilkan dampak positif pada kemajuan dan pengembangan UIN Jakarta kedepannya.

“Saya rasa UIN Jakarta ini sangat layak dan memang harus menjadi World Class University. Hal ini dapat diukur dengan jumlah guru besar yang ada di dalamnya, riset dan publikasi internasional juga sangat memperlihatkan adanya kontribusi dan reputasi UIN Jakarta di level dunia.”

Namun, pada kenyataannya masih sering ditemukan adanya keluhan dari mahasiswa mengenai kerja sama UIN Jakarta.

Mahasiswi UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia mengatakan kerja sama UIN Jakarta sebenarnya bisa lebih di explore ke negara lain, tidak hanya berfokus pada negara Islam.

“Program yang dikeluarkan oleh UIN Jakarta yang saya tahu kerja sama hanya dengan negara Islam padahal menurut saya kita juga bisa explore ke negara lain. Kalaupun UIN Jakarta kerja sama dengan negara seperti Mesir dan Turki sering sangat minim informasi, timeline kegiatan, dan prosedurnya juga kurang jelas,” ujarnya.

Syifa melanjutkan, “Jadi banyak mahasiswa yang kebingungan untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Kemarin juga ada magang mandiri ke 3 negara Asia dan 3 negara Timur Tengah. Namun sangat disayangkan berbayar, dan itu dibayar sendiri.”

Mahasiswi UIN Jakarta, Aulia Febri Saputri menambahkan sistem dan birokrasi UIN Jakarta terkait berbagai program yang disediakan untuk mahasiswa baik skala nasional maupun internasional juga masih kurang baik.

“Sistem dan birokrasi masih sangat kurang, karena tidak semua dosen mengetahui program-program Prodinya (Program Studi) sendiri, hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi ke semua pihak.”

Salah satu program yang paling diincar hampir seluruh mahasiswa ialah Kampus Merdeka. Sayangnya, kampus yang berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag) tidak bisa ikut dalam kegiatan tersebut.

“Saya sudah mengetahui informasi mengenai Kampus Merdeka dari semester 2, namun kampus UIN Jakarta tidak terdaftar karena di bawah Kemenag, saya sangat menyayangkan adanya perbedaan dari program besar ini. Memang Kampus Merdeka ini digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), hanya saja di bawah Kemenag tetap ada jasa pendidikan, kenapa Kemdikbud dan Kemenag tidak berkolaborasi untuk sama-sama meningkatkan kualitas calon penerus bangsa,” keluh Syifa.

“Kampus Merdeka merupakan program yang diinisiasi oleh Kemdikbud. Yang isinya ada 10 program yang mendukung untuk mahasiswa mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan. Salah satunya adanya magang yang bekerja sama dengan berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Saya juga awalnya sangat antusias dengan program ini, mencari informasi mulai dari dosen Pembimbing Akademik hingga Ketua Prodi, namun tidak mendapatkan informasi. Akhirnya saya tahu UIN Jakarta memang tidak bisa mengikuti program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa ini,” sambung Aulia.

Zakaria menyampaikan bahwa memang UIN Jakarta berada dalam naungan Kemenag. Jadi hal ini masih dalam tahap adaptasi terkhusus dalam program nasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

“Kita bertahap ya tentunya, meskipun belum dapat diterapkan secara menyeluruh tetapi seiring berjalannya waktu UIN Jakarta memang harus menerapkan porogram nasional MBKM ini. Contohnya dalam Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) itu telah menerapkan MBKM berupa pertukaran pelajar dengan KPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bahkan Fdikom sudah melakukan workshop penyusunan RPS berbasis MBKM.”


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.