Perundingan Perkembangan Kerja Sama Internal dan Eksternal ASEAN

Perundingan Perkembangan Kerja Sama Internal dan Eksternal ASEAN

Reporter Dani Zahra Anjaswari ; Editor Syaifa Zuhrina, Elsa Azzahraita


Sesi foto bersama narasumber dengan para peserta webinar.
Sumber : DNKTV-Dani Zahra Anjaswari

Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional menyelenggarakan webinar DPA Goes to Campus melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (23/9).

Webinar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan informasi mengenai perkembangan, hasil perundingan dan manfaat, serta potensi kerja sama perundingan ASEAN.

Acara dibuka secara resmi oleh Koordinator Isu Investasi, UKM, Daya Saing dan Isu ASEAN, Direktorat Perundingan ASEAN, serta Kementerian Perdagangan, Andri Gilang Nugraha.

Kegiatan ini dibagi menjadi 2 topik pembahasan yaitu “Perkembangan Kerja Sama Internal ASEAN” serta “Perkembangan Kerja Sama Eksternal ASEAN”.

Dalam paparannya, Negosiator Perdagangan Ahli Muda, Juniarsa Arief mengatakan neraca perdagangan Indonesia kembali meningkat.

 “Neraca perdagangan Indonesia dengan ASEAN pada tahun 2016 sampai 2019 mengalami penurunan, namun pada tahun 2019 sampai 2020 kembali meningkat dikarenakan nilai ekspor Indonesia yang jauh lebih besar daripada ekspor dari negara ASEAN,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan tentang arti penting peran Indonesia di ASEAN tahun 2023, dimana sentralitas ASEAN perlu diperkuat melalui digitalisasi ekonomi.


Webinar DPA Goes to Campus melalui virtual zoom meeting
Sumber : DNKTV-Dani Zahra Anjaswari

Setelahnya, dilanjutkan dengan pemaparan materi kedua oleh Negosiator Perdagangan Ahli Muda, Desi Ariani dengan pokok bahasan perkembangan, manfaat dan peluang kerja sama eksternal ASEAN.

“Dalam perkembangan ASEAN+1 FTAs terdapat 3 dasar yang dapat diterapkan yaitu implementasi, protokol perubahan, dan work program yang sangat membantu agar lebih tertata dan padu dalam menjalankan program tersebut,” ujarnya.

Salah satu peserta yang merupakan Mahasiswa Universitas Pelita Harapan, Kevin Reinaldi mengatakan acara ini sangat relevan dan bermanfaat bagi mahasiswa.

“Acara ini tentunya sangat baik. Materi yang disampaikan sangat relevan dan penting untuk para mahasiswa bukan hanya jurusan Hubungan Internasional, tetapi semua jurusan karena peran Asean dalam perkembangan Indonesia sangat mempengaruhi pergerakan ekonomi negara. Selain itu, tidak hanya pembekalan materinya, tetapi ada pre-test dan post-test yang cukup interaktif, dan master of ceremony yang sangat bersemangat, Tentu saya berharap yang terbaik. Semoga ada rangkaian acara berikutnya yang tentunya akan saya dan tim BEM-UPH hadiri,” ucapnya.

Selain itu, Mahasiswa UIN Jakarta Sastra Yudha juga menanggapi hal serupa.

“Acara ini sangat relevan  sekali untuk  mahasiswa di berbagai jurusan karena peran ASEAN tentunya sangat mempengaruhi pergerakan ekonomi negara yang nantinya dapat memajukan berbagai aspek didalamnya, tidak hanya materi tetapi kita diberi pre test dan post test yang cukup menarik dan interaktif untuk para pesertanya sehingga mengurangi rasa bosan dan saya berharap agar acara ini bisa lebih sukses dan mengajak lebih banyak mahasiswa untuk turut serta dalam mengetahui kemajuan ASEAN di masa depannya,”jelasnya.

Bijak di Ruang Digital dengan Nilai Pancasila

Bijak di Ruang Digital dengan Nilai Pancasila

Reporter Prayoga Adya Putra; Editor Ahmad Haetami dan Elsa Azzahraita

Webinar Gerakan Nasional Literasi, Sabtu (18/9)
Sumber: DNK TV-Prayoga Adya Putra

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Bandar Lampung yang mengusung tema "Kreatif Lestarikan Nilai-Nilai Pancasila di Ruang Digital" ini diselenggarakan secara virtual, pada Sabtu (18/9).

"Kalau dunia digital ini diwarnai dengan  hal-hal ketuhanan, nilai-nilai moral, dan norma keagamaan, saya pikir dunia digital kita akan indah, tidak seperti sekarang," ujar Akademisi Politik Hukum dan Filsafat Hukum, Ali Mansur pada sesi kecakapan digital.

Selain Ali, webinar ini juga diisi oleh Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam sekaligus GM DNKTV UIN Jakarta Dedi Fahrudin, Dosen Universitas Muhammadiyah Lampung Tansri Adzian Syah dan ketua PD IPM Lampung Utara dan Founder Internasional Language Course Rendi Dwi Putra.

Dedi Fahrudin menyampaikan bahwa tingginya penduduk Indonesia yang memiliki gawai dengan pengguna internet dan sosial media yang banyak, masih belum diiringi dengan literasi digital yang baik.

“Literasi digital yang merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks ini tidak seimbang dengan penetrasi banyaknya pengguna internet dan sosial media di Indonesia,” ujarnya.

Penyampaian materi oleh Dedi Fahrudin pada Webinar Gerakan Nasional Literasi 2021.
Sumber: DNK TV-Prayoga Adya Putra

Sementara itu, Rendi Dwi Putra menyampaikan bahwa berbudaya digital mesti berdasarkan kebangsaan Indonesia dan harus berlandaskan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Hal senada disampaikan pula oleh Tansri Adzian Syah.

“Yang namanya karya kreatif dengan dibingkai dalam nuansa Pancasila tentu suatu hal yang baik,” imbuhnya.

Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pengerapan  berharap kegiatan ini dapat mengedukasi kepada masyarakat untuk bijak bermedia sosial dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila pada era digitalitasi, di antaranya kecakapan, keamanan, etika, dan budaya digital.

Webinar ini ditutup dengan kesimpulan yang di bawakan oleh moderator.

Pancasila sebagai Modal untuk Mewujudkan Indonesia Tangguh di Era 4.0

Pancasila sebagai Modal untuk Mewujudkan Indonesia Tangguh di Era 4.0

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Fauzah Thabibah dan Elsa Azzahraita

Webinar Memperingati Hari Pancasila Indonesia Bangkit 2021, Senin (7/6).

Kegiatan webinar dalam memperingati Hari Pancasila yang diadakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta pada Senin (7/6), mengajak pemuda-pemudi Indonesia agar konsisten merealisasikan Pancasila sebagai ideologi Indonesia.  

Membahas Pancasila, berkaitan dengan ekonomi Pancasila yang menjadi satu sistem bisnis yang tepat sebagai pelaku bisnis di Indonesia. Memiliki sifat gotong royong dan juga kekeluargaan guna mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Ekonomi Pancasila juga memiliki cita-cita yakni adanya pemerataan dalam pembangunan ekonomi.

Anggota DPR RI Komisi XI, Kamrussamad menjelaskan kepada para mahasiswa bahwa ekonomi Pancasila dibuat berdasarkan asas-asas Pancasila.

“Kebijakan ekonomi yang pancasialis merupakan kebijakan yang dibuat dengan berdasarkan kepada asas-asas Pancasila terutama dalam sila kelima, yaitu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” paparnya.

Webinar Peringatan Hari Pancasila dalam mewujudkan Indonesia Tangguh, Senin (7/6).

Selanjutnya, Founder Yayasan Pondok Kasih (YPK), Hana Amalia Vandayani juga mengatakan warga Indonesia wajib bangga memiliki ideologi Pancasila.

“Kita (bangsa Indonesia) harus bangga karena tidak ada satu bangsa yang memiliki ideologi seperti Pancasila yang pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Hana Amalia Vandayani atau yang biasa disapa dengan Mama Hana, mengaskan bahwa   pancasilais dimulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa dan menerapkan Pancasila dengan menghayatinya dalam kehidupan.

Goals yang utama dalam Pancasila terdapat pada sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini bisa dicapai dengan saling mendukung dan membantu. Dalam hal ini yang harus dilawan bersama ialah kemiskinan, kebodohan, kebencian, serta perpecahan. 

Dalam hal ini kata perdamaian juga menjadi sebuah kunci. Di Indonesia sendiri, terdapat organisasi yang mengajarkan dan mendampingi sekolah perdamaian kepada anak muda untuk melakukan kolaborasi dengan guru dan para siswa agar bersama belajar tentang sebuah perdamaian.

Salah satu anggota dari organisasi yang disebut Agent of Peace tersebut, Miftahul Huda menjelaskan mengenai kandungan kelima sila Pancasila.

Sila pertama mengandung ketauhidan juga kepasrahan, bahwa ada yang lebih besar dari manusia. Sila kedua tentang berbuat keadilan yang mana sesuai dengan Al-Qur’an. Sila ketiga tentang hubbul wathon minal iman yakni menjaga dan merawatnya. Sila keempat mengandung arti demokrasi yang mana apa yang tejadi di Indonesia harus lebih peduli, dengan mengedepankan perjuangan tanpa kekerasan. Dan sila kelima adalah sebuah inspirasi dari Al-Qur’an. 

Dalam kondisi sekarang ini, bangsa Indonesia dapat menghadapi Pancasila dengan tidak terlalu banyak bicara dan tunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang toleran dan menghayati Pancasila. Serta serukan kecintaan kita terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bangsa Indonesia harus saling bekerja sama dan saling memahami bagaimana agar mengontrol diri  akan keanekaragaman.

Maka, sholeh secara pribadi dan sholeh secara sosial itu perlu. Dengan memperkuat demokrasi yakni berani bersuara untuk sebuah kebenaran. Salam Pancasila.

Integrasi Ilmu dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam

Integrasi Ilmu dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam

Reporter Iis Suryani;  Editor Elsa Azzahraita

Flori Ratna memeparkan materi di webinar pada Kamis (18/3)

Sains dan kedokteran merupakan ilmu yang mempelajari objek nyata dan ilmiah. Sedangkan Islam justru menjadikan objek ghaib untuk dipelajari.

Ketua Pusat Kajian Integrasi Ilmu UIN Jakarta Mulyadhi Kartanegara mengatakan, ketimpangan sains dan Islam ini terlihat ketika ilmu sains dan kedokteran modern cenderung mengadopsi paham barat yang sulit percaya akan hal-hal ghaib.  Padahal, Al-Quran yang seharusnya menjadi pedoman utama dalam mempelajari sains.

“Kadang-kadang ada korelasi antara Al-Quran dengan alam. Bahkan kita harus membaca alam untuk memahami Al-Quran, atau memahami Al-Quran untuk bisa mengerti alam,” ucap Mulyadhi, dalam webinar Integrasi Ilmu & Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam dalam Keilmuan Kedokteran, Kamis(18/3).

Secretary General IIIT Omar Kasule mengatakan, integrasi keilmuan ialah ilmu yang sangat sentral dalam sistem pendidikan. Terdapat dominan sekuler atau umum yang sering digunakan termasuk dalam ilmu kedokteran dan dominan sistem Islam murni. Menurutnya, sangat penting memadukan antara Al-Quran dan As-Sunnah dengan rasional.

Ketua Komisi Etik FK UIN Jakarta Muchtar Ikhsan mengungkapkan, saat ini integrasi ilmu kedokteran menjadi urgensi akademik sekaligus praktek bagi FK UIN Jakarta.

Ada tiga hal yang telah berhasil dilakukan FK UIN Jakarta dalam mengimplementasikan integrasi keilmuan Islam dalam kedokteran, diantaranya kedokteran nabi dengan penelitian tentang pengobatan behkam, kedokteran medis atau klinis dan spiritual medicine.

Penasehat Pusat Kajian Integrasi Ilmu Andi Faisal Bakti berharap implementasi keislaman tidak hanya ada di FK UIN Jakarta, tetapi juga untuk fakultas lainnya yang ada di UIN Jakarta.

"Integrasi keilmuan ini merupakan tugas agama dan tugas pendidikan. Dan hal ini diharapkan bisa jadi program untuk setiap fakultas lainnya," tuturnya.

Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik

Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik

Oleh : Arista Wardani; Editor : Elsa Azzahraita

Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Prodi KPI Universitas Azzahra (UA) Jakarta dan Askopis bekerjasama menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk "Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik Bagi Mahasiswa dan Alumni KPI" secara virtual, pada Kamis (25/2).

Dihadiri oleh Ketua DPP Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Perguruan Tinggi  Keagamaan Islam Negeri dan Swasta Se Indonesia (Askopis), Muhammad Zamroni, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Dr. Sihabudin Noor, Wapimred Republika Nur Hasan Murtiaji, Kaprodi KPI UIC Retna, Dwi Estuningtyas, dan dimoderatori oleh Kaprodi KPI UA, Kristopo.

Nur Hasan Murtiaji, Wapimred Republika, Kamis (25/2)

Nur Hasan menyampaikan menjadi seorang jurnalistik itu tidak hanya dibutuhkan orang yang cerdas atau orang yang pintar saja disamping itu seorang jurnalistik harus bisa bersosialisasi, ketika kita terjun di dunia jurnalistik kita akan mengalami rotasi bidang liputan

“Kita ingin pers itu bisa menjadi industri yang sehat yang memang profesional, tidak sedikit yang memanfaatkan pers bukan dalam rangka untuk independen pers itu sendiri, tapi untuk kepentingan kepentingan lain,” Ujarnya.

Sihabudin Noor, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Kamis (25/2)

Dalam webinar ini, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Sihabudin Noor mengatakan bahwa mahasiswa sekarang harus mempersiapkan beberapa aspek penting, diantaranya keluar dari zona nyaman, bekerja dengan target atau capaian yang jelas, fokus memberikan aktivitas yang bermakna dan berdampak, menerima dan memberikan feedback berkualitas, membentuk mental model seorang expert.

“Anda harus fokus dengan aktivias yang bermakna, bergabung dengan komunitas yang ada di kampus dan jadikan itu sebagai media latihan anda untuk menjadi seorang jurnalism.” Ujar Sihabudin Noor.

Dalam dunia jurnalistik, fotografi merupakan aspek penting guna memberikan informasi yang lebih valid dan juga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat

Wapimred Republika Nur Hasan Murtiaji, Kaprodi KPI UIC Retna, Dwi Estuningtyas menjelaskan tentang peran fotografi dalam jurnalistik, dimana foto juga merupakan pendukung lengkap dari adanya suatu berita.

“Sekarang dunianya sudah digital, dalam dunia jurnalis fotografi kita harus bisa mendiskripsikan lewat gambar, gambar itu tentunya harus bisa dipahami oleh siapapun, bahasa gambar itu adalah bahasa yang universal, bahasa yang bisa dipahami oleh siapapun hanya dengan melihat gambar, gambar juga sebagai pendukung dari tulisan yang ditulis oleh seorang wartawan.” Ungkap Dwi Estuningtyas.

Flyer Bedah Buku

Bedah Buku “Manajemen Halal”: Transformasi Manajemen Konvensional ke Syariah

Bedah Buku “Manajemen Halal”: Transformasi Manajemen Konvensional ke Syariah

Aulia Gusma Hendra

Webinar Nasional dan Bedah Buku Manajemen Halal, Selasa (02/02)

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan webinar nasional dan bedah buku berjudul “Manajemen Halal (Transformasi Paradigmatik dan Konvensional ke Syari’ah)” secara virtual pada Selasa (02/02).

Acara secara resmi dibuka oleh Dekan Fdikom, Suparto yang diwakili oleh Dekan I Bidang Akademik Siti Napsiyah dengan moderator Fita Fathurokhmah. Materi dari acara ini disampaikan oleh A. Ilyas Ismail, penulis buku, Arief Subhan dan Muhamad Zein selaku Pembedah buku. 

Foto : Ilyas Ismail (Pemateri dan Penulis Buku)

Ilyas Ismail mengatakan manajemen halal merupakan asas-asas yang digali dari Al-Quran dan Sunnah serta pemikiran Ulama dan diikat secara kuat oleh nilai-nilai Islam. Konsep manajemen halal ini mengutamakan benefit, sedangkan manajemen konvensional berbicara profit (uang atau kekayaan dunia).

”Jika menggunakan istilah, manajemen halal sama dengan manajemen syariah, manajemen yang sesuai syariah itu halal dan juga sebaliknya manajemen yang tidak sesuai dengan syariah itu tidak halal,” ujar Ilyas.

Ilyas juga memaparkan bahwa ada relevansi dalam komunikasi dengan leader dimana sebagai pemimpin atau top management harus mampu menyampaikan komunikasi secara efektif agar terjadi tranformasi yang baik dalam manajemen dari konvensional ke syariah.

Arief Subhan menyampaikan, buku ini sebagai bagian dari usaha civitas akademika dalam menyumbangkan proses integrasi ilmu di bidang manajemen. Ia menambahkan, terdapat dua bagian dalam buku ini, pertama bagian positioning halal itu sendiri, asas dan hakikat manajemen halal, kedua, bagian pendukung agar manajemen halal ini berjalan operasional.

“Substansial kajian bukunya sangat menarik dan inovatif, kondisi kekinian dan sebagai problem solving minimnya literatur manajemen halal atau manajemen Islam. Selain itu kombinasi berbagai disiplin ilmu manajemen, syariah, akhlak, qawaid fiqhiyah, ilmu dakwah, ilmu komunikasi, ilmu marketing, leadership, manajemen bisnis terdapat dalam buku ini,” ungkap Muhamad Zein selaku pembedah buku.

Diharapkan buku ini dapat menjadi rekomendasi para praktisi bisnis syariah, civitas akademika dan mahasiswa dalam mencari literatur terkait manajemen halal.

Peluang di Dunia Pertelevisian dan Tantangan di Era Industri 4.0

Peluang di Dunia Pertelevisian dan Tantangan di Era Industri 4.0

Poster Web Seminar Nasional Broadcasting 2020, Tema Peluang dan Tantangan Berkarir di Bidang Pertelevisian

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DKI Jakarta bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menggelar Web Seminar Nasional (Webinar Nasional) dengan topik pembahasan “Peluang dan Tantangan Karir di Bidang Pertelevisian”. Seminar tersebut dilaksanakan melalui aplikasi Zoom, Senin (24/8).

Seminar tersebut membahas tentang strategi yang dapat dilakukan bidang penyiaran agar tidak tertinggal dan bisa memanfaatkan era digital seperti sekarang.

Berada dalam era disrupsi dan era new normal ini kita dituntut untuk memasuki dunia digital. The World is Going Digital, berdasarkan data dari Statista, Mitechnews, Merchdrope, sebanyak lebih dari 80% pengguna handphone memakai internet. Semua terkoneksi dengan dunia digital.

Pandemi Covid-19 sudah menjadi tantangan bagi bidang penyiaran untuk saat ini meskipun tidak terlalu terganggu namun Covid-19 melahirkan tantangan kesehatan dan ekonomi bagi dunia penyiaran.

Web Seminar Nasional Broadcasting 2020 yang diselenggarakan KPID DKI JAKARTA dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tidak hanya memberi tantangan, disrupsi digital sekaligus menjadi peluang baru bagi media. Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar, Retno Pinasti mengungkapkan selain memberikan tantangan, disrupsi digital melahirkan kembali kepercayaan jurnalisme media mainstream. Karena itu, untuk menimbulkan kredibilitas diharapkan mampu memproduksi konten untuk berbagai platform lainnya.

Retno Pinasti, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar (sumber foto:kumparan)

Selain itu, ia menambahkan dalam produk jurnalistik juga perlu mempertahankan konten yang kredibel, pengemasan yang menarik seperti mengetahui format yang disukai penonton dan tentunya fokus pada konten yang ditayangkan.

Industri pertelevisian berinovasi memanfaatkan peluang dengan mengatur fokus segmentasi penyiaran, target audience, dan perlu adanya inovatif dalam penayangan. Selain itu melakukan strategi pemanfaatan multiple platform sehingga televisi tidak ditinggalkan melainkan berubah cara menontonnya.

 "Keberadaan televisi masih bisa diakses melalui konten streaming sehingga televisi masih diminati masyarakat." Ungkap Ketua Asosiasi Televisi Swasta (ATVSI), Syafril Nasution.

Generasi muda harus mampu bersaing dan memanfaatkan peluang. Seperti yang diungkapkan oleh CEO Transmedia, Atiek Nur Wahyuni,

“…yang perlu disiapkan sebagai fresh graduated selain persyaratan khusus perusahaan, memasuki era disrupsi harus meningkatkan kualitas karena sudah masuk dunia digital. Era sudah berubah jadi harus ada penambahan knowledge atau skill tertentu.” Pungkas Atiek.

Tantangan abad ke-21 ini membutuhkan masyarakat yang berpikir kritis (out of the box). Tidak hanya ide yang dihasilkan namun juga kemampuan sumber daya manusianya yang perlu ditingkatkan agar dunia penyiaran televisi dapat terus bersaing.

Reporter: Wafa Thuroya Balqis

Moderasi Beragama di Mata Media

Moderasi Beragama di Mata Media

Web Seminar Moderasi Beragama di Mata Media (07/8)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerja sama dengan Countering Violent Extremism In Indonesia (CONVEY) menggelar Webinar (Web Seminar) Series 7 bertajuk “Moderasi Beragama di Mata Media" pada Jumat (07/08). Webinar ini dihadiri oleh empat narasumber, diantaranya Makroen Sanjaya, Wakil Pemimpin Redaksi RTV, Savic Ali, Direktur NU Online dan Islami.co, Muhammad Hanifuddin, Pemimpin Redaksi Buletin Jumat Muslim Muda Indonesia, dan Ed Sepsha, Jurnalis Kyodo News untuk Kantor Berita Jepang dengan moderator Jamhari Makruf (Team Leader CONVEY Indonesia). Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom yang dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia dan disiarkan langsung di YouTube Convey Indonesia.

Seminar kali ini menitikberatkan pada moderasi beragama di media. Fokus utamanya adalah mengetahui bagaimana cara memaksimalkan media yang ada untuk menyebarkan ajaran Islam yang moderat.

Makroen Sanjaya menjelaskan bahwa pengisi acara keagamaan di televisi bersifat populis. Perspektif ekonomi media juga lebih dominan, ketimbang perspektif fungsi ideal media sebagai informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

"Jika program agama dakwah Islam tersebut tidak berkiprah dan mencapai target audiens maka program tersebut akan dihapus atau diganti. Sehingga perspektif ekonomi medianya lebih dominan.  Pungkas Makroen.

Selain itu, internet menjadi platform yang menonjol dalam penyebaran dan diskusi ide-ide keagamaan, sehingga memungkinkan banyaknya gerakan agama baru memasuki ranah publik, dan mengubah cara lembaga keagamaan berinteraksi dengan komunitas mereka.

“Penutur agama tumbuh subur di media sosial. Bebas menyebarluaskan pemahaman mereka masing-masing." Ujarnya.

Savic Ali juga menjelaskan bahwa masa depan Indonesia akan dipengaruhi oleh apa yang berlangsung di dunia online.

“Realitas 93% orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup. Lebih tinggi dari Mesir, Malaysia dan lainnya, maka transformasi lewat jalur keagamaan sangat berperan." Ujar Savic.

Menurut riset yang dilakukan Savic, media keislaman memiliki pembaca khususnya sendiri sehingga media yang bersifat intoleran mulai tergeser. Media umum seperti Kompas dan Tribunnews pun mulai menulis isu-isu keislaman.

Muhammad Hanifuddin menjelaskan konten islami yang ditampilkan harus fokus mengutamakan moderasi beragama. Sumber-sumbernya dengan mengombinasikan data klasik dan kekinian agar mudah diserap oleh berbagai kalangan.

“Terkait dengan konten, kita fokus mengutamakan moderasi beragama dan itu mempengaruhi narasi dan framing dari setiap berita yang kita kemas.”

Selanjutnya, Ed Sepsha menyarankan kepada media di Indonesia khususnya, agar membuat berita-berita Islam yang memberikan citra positif. Kebanyakan isu agama di media Internasional masih mengangkat tema hari besar. Tantangannya adalah bagaimana media memberitakan citra Islam di Indonesia tidak seperti di timur tengah.

“Kebanyakan liputan agama masih ceremonial, masih peristiwa, serangan. Tapi sisi-sisi humanis mengenai keagamaan belum banyak diangkat.”

Dengan adanya seminar ini diharapkan media dapat menyiarkan ajaran Islam moderat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Reporter: Erika Oktaviani

Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Diskusi Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 (5/8)

Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam atau KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Web Seminar (Webinar) Nasional dengan tema "Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 di Era New Normal. Apakah Bisa Mengubah Perilaku Masyarakat?". Melalui aplikasi Zoom, Rabu (5/8), acara ini diselenggarakan guna mengetahui pentingnya peran komunikasi publik dalam penanganan Covid-19 bagi perubahan perilaku masyarakat.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., dengan dimoderatori oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia, Jojo S. Nugroho. Materi yang dibahas pada acara ini disampaikan oleh 3 pembicara, yaitu Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Dr. Gun Gun Heryanto M.Si., Anggota Komisi III DPR RI, Johan Sapto Pribowo, dan Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati.

Topik utama dalam diskusi webinar ini terkait masalah komunikasi publik yang selama ini dilakukan, terutama oleh pemerintah guna menginformasikan kepada masyarakat mengenai kebijakan-kebijakan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Serta bagaimana komunikasi publik yang diterima masyarakat tersebut, baik melalui media massa atau sosial dapat berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat dalam menanggapi pandemi Covid-19 ini.

Menurut Johan Budi, komunikasi publik yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya maksimal karena sering terjadinya kendala berupa miskomunikasi yang terjadi di dalam pemerintahan saat menginformasikan mengenai Covid-19, seperti beberapa perbedaan pernyataan dan data oleh Juru Bicara Covid-19 dengan beberapa gurbernur dan Menteri Kesehatan. Hal ini pun menimbulkan keraguan pada persepsi masyarakat dalam menanggapi dan bertindak saat pandemi Covid-19 ini.

Ia pun menjelaskan mengenai manajemen komunikasi krisis yang harus dilakukan pemerintah agar masyarakat dapat menerima dengan baik dan tepat mengenai informasi Covid-19, seperti mengidentifikasikan penyebab dan dampak Covid-19 agar di dalam masyarakat tidak memunculkan hal negatif dan lelucon mengenai Covid-19, memberikan informasi dengan jelas dan merata, membangun persepsi publik melalui media massa dan sosial, mampu me-recovery keadaan krisis, mengumpulkan sumber daya, serta cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Dalam bertindak, pemerintah pun tidak hanya bekerja di depan layar namun juga giat bekerja di balik layar.

Dalam penjelasan Adita sebagai perwakilan Kementerian Perhubungan, pemerintah telah berupaya melakukan strategi komunikasi publik dalam penanganan pandemi Covid-19. Melalui arahan Presiden, pemerintah melakukan komunikasi yang partisipatif, membangun kepercayaan yang berbasis ilmu pengetahuan dan data sains guna membangkitkan partisipasi masyarakat dan memastikan kembali gerakan nasional disiplin protokol kesehatan. Pemerintah pun melibatkan berbagai pihak seperti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK serta penyebarluasan komunikasi dalam berbagai bentuk setiap harinya di program relawan, media center (TV dan radio), media sosial, SMS blast, dll.

Mengenai tingkat pengetahuan masyarakat, Adita memaparkan data dari berbagai survei yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Covid-19 cukup tinggi. Namun hal itu berbanding terbalik dengan perilaku yang dilakukan masyarakat lebih banyak melanggar aturan. Melihat hal ini, ia pun menyarankan agar semua unsur harus bergerak bersama-sama dengan berkolaborasi dan saling mendukung agar penyebaran Covid-19 dapat terselesaikan.

Ia pun menjelaskan mengenai diksi new normal yang sudah pemerintah gantikan dengan diksi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini dikarenakan penggunaan istilah new normal dapat membingungkan masyarakat yang justru diartikan masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Dalam hal ini, menurut Gun Gun Heryanto menilai perubahan diksi new normal juga penting karena pemahaman mengenai diksi ini mengakibatkan polemik di masyarakat hingga sekarang.

Gun Gun Heryanto, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta

Dalam kesimpulannya, Gun Gun Heriyanto menyarankan agar pemerintah memperkuat kebijakan dan komunikasi kebijakan terkait dengan adaptasi kebijakan baru dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi, menguatkan narasi komunikasi publik: kata-kata dan tindakan simbolik, handling isu media dan media sosial, dan memperkuat strategi kolaborasi.

Reporter: Laode M. Akbar H.

Kiai dan Nyai Muda Bicara Moderasi Beragama

Kiai dan Nyai Muda Bicara Moderasi Beragama

Webinar Kiai dan Nyai Muda Bicara Moderasi Beragama (10/7)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerja sama dengan Countering Violent Extremism In Indonesia (CONVEY) menggelar Webinar (Web Seminar) Series 4 bertajuk “Kiai dan Nyai Muda Bicara Moderasi Beragama" pada Jumat (10/07). Webinar ini dihadiri oleh tiga narasumber, diantaranya Fauziah Fauzan, Pengasuh Pondok Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Tutik Nurul Janah, Direktur PUSAT FISI IPMAFA dan Wakil Pengasuh Pesantren Putri al Badi’iyyah Pati, dan Irfan Amalee, Mudir Pondok Peacesantren Welas Asih Garut) dengan moderator Jamhari Makruf (Team Leader CONVEY Indonesia). Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dan disiarkan langsung di YouTube Convey Indonesia.

Seminar kali ini menitik beratkan pada moderasi beragama di lingkungan pendidikan, khususnya pondok pesantren. Fokus utamanya adalah mengetahui bagaimana cara seorang kiai atau nyai pesantren mengenalkan toleransi pada anak didiknya. Hal ini dianggap penting terutama untuk kalangan milenial, karena merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa ini kelak.    

Fauziah Fauzan menjelaskan bagaimana sebuah perbedaan itu merupakan bagian dari hukum alam, bahkan sudah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Allah kan beri panduan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa kita diciptakan itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Artinya adalah kita harus tahu bahwa Allah telah menciptakan perbedaan-perbedaan itu, tapi sebagai Muslim, kita diminta untuk menjadi yang paling bertaqwa. Nah dari sini sudah muncul rasa untuk menghargai orang lain.” jelas Fauziah.

Ia juga menjelaskan bagaimana pondok pesantren yang diasuhnya melakukan kegiatan pendidikan atau program kunjungan ke luar negeri. Tidak hanya untuk kepentingan keilmuan, tetapi hal itu juga dilakukan untuk menumbuhkan sikap toleransi atau moderasi beragama,

“… misalnya ketika ngantri di bandara melihat ada yang pake celana pendek, mereka gak comment. Lakum Diinukum Wa Liyadiin. Orang gak peduli sehebat apa kamu, kalau sudah antar negara, cuma satu, akhlakmu atau attitudemu.” pungkasnya.

Berbeda dengan Fauziah, Tutik Nurul Janah menjelaskan tentang bagaimana moderasi beragama juga dipengaruhi oleh para pemimpin pesantrennya. Pesantren Putri Al-Badi’iyyah sendiri hidup berdampingan dengan masyarakat abangan dimana mereka selalu memiliki perbedaan tidak hanya dalam masalah agama, tetapi juga dalam persoalan politik, ideologi, maupun kebiasaan.

“Kami merasa beruntung, guru kami, almaggfurlah K.H Sahal Mahfudh telah mengenalkan kepada kami pemikiran tentang Fiqih Sosial memberikan mindset atau pemikiran moderasi beragama. ujar Tutik.

Selanjutnya Irfan Amalee yang biasa disapa dengan abah ini menambahkan bahwa untuk menanamkan jiwa moderasi beragama itu memang harus dimulai dari lingkungan pendidikan.

"Pendidikan selalu menjadi poin terakhir untuk dikembangkan, padahal seharusnya tidak demikian. Oleh sebab itu, pondok pesantren mengembangkan berbagai macam keilmuan, tidak hanya sains, agama, tetapi juga ahlak. Salah satunya adalah tentang moderasi beragama itu sendiri." Ujarnya.

Dengan adanya seminar ini diharapkan masyarakat dapat menumbuhkan sikap moderasi beragama. Hal ini akan menunjukkan betapa agama itu bisa menimbulkan atau mengeluarkan energi positf bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Reporter: Asep Sopian