Otak-Atik Kebijakan PCR, Mana Langkah yang Tepat?

Otak-Atik Kebijakan PCR, Mana Langkah yang Tepat?

Reporter Laode M. Akbar; Editor Ahmad Haetami

Foto Ilustrasi Tes PCR
Sumber: IstockPhoto

Baru sepekan kebijakan syarat wajib PCR bagi penumpang penerbangan Jawa-Bali dikeluarkan, namun pemerintah melalui Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan tidak mengharuskan tes PCR dan diperbolehkan menggunakan tes swab antigen sebagai syarat penerbangan.

“Sama dengan yang sudah diberlakukan untuk (penerbangan) wilayah luar Jawa Non Bali, sesuai dengan usulan dari bapak Mendagri (Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian),” katanya dalam Konferensi Pers PPKM secara virtual, Senin (01/11).

Lebih lanjut, perubahan kebijakan ini juga tercantum dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 57 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, Level 1 Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali. Aturan ini ditandatangani oleh Mendagri Tito Karnavian di hari yang sama.

Dalam Inmendagri tersebut dijelaskan yang diperbolehkan menggunakan hasil tes antigen H-1 yaitu bagi pelaku penerbangan yang sudah divaksin 2 kali. Sementara bagi pelaku penerbangan yang baru divaksin 1 kali menggunakan hasil PCR H-3.

Berikut aturan lengkap penerbangan di wilayah Jawa Bali dalam Inmendagri tersebut:

– Menunjukkan kartu vaksin

– Menunjukkan antigen H-1 bagi pelaku perjalanan yang sudah vaksin 2 kali atau PCR H-3 bagi pelaku perjalanan yang baru divaksin 1 kali untuk moda transportasi pesawat udara yang masuk/keluar Jawa Bali

– Menunjukkan antigen H-1 bagi pelaku perjalanan yang sudah vaksin 2 kali atau PCR H-3 bagi pelaku perjalanan yang baru divaksin 1 kali untuk moda transportasi pesawat udara antar wilayah Jawa – Bali.

Menko PMK Muhadjir Effendy dalam Konferensi Pers PPKM secara virtual, Senin (01/11)
Sumber: YouTube-Sekretariat Presiden

Selain itu, dalam perjalanan darat jarak jauh dari dan ke Pulau Jawa-Bali, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan hasil negatif PCR H-3 atau antigen H-1 serta bukti vaksin yang lengkap juga dibutuhkan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 90 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Darat Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Tindakan pemerintah yang dengan mudah mengubah kebijakan terkait penggunaan PCR dan antigen bagi aktivitas transportasi publik, terkhusus penerbangan menuai kritikan oleh berbagai pihak.

Salah satu mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Muhammad Firda Azil yang juga merupakan mahasiswa rantau pengguna transportasi udara berpendapat perubahan terkait kebijakan PCR ini terlalu cepat sehingga sangat membingungkan masyarakat.

“Di satu sisi sangat membingungkan masyarakat, tapi di satu sisi mengingat di masa kritis peraturan bisa berubah kapanpun, tapi seharusnya tidak begitu cepat, dan juga ini menurutku terlalu banyak informasi yang membingungkan,” ujarnya kepada Tim DNK TV, Selasa (02/11).

Ia pun berharap kedepannya kebijakan syarat tes PCR dan sejenisnya tidak diberlakukan di transportasi publik dan diganti dengan kartu vaksin saja.

“Semoga tidak ada lagi pemberlakuan tes skrining Covid apapun, baik di darat maupun udara, ataupun moda transportasi apapun. Hal ini kita bisa raih dengan mempercepat vaksinasi untuk teman-teman yang belum vaksin,” harapnya.


Kerja Sama Indonesia-Rusia Produksi Vaksin Covid-19

Kerja Sama Indonesia-Rusia Produksi Vaksin Covid-19

Reporter Ainun Kusumaningrum; Editor Aulia Gusma Hendra

Pertemuan bilateral  Indonesia-Rusia, Selasa(6/7).
Sumber : Instagram- @dit.eropa3

Menteri Luar Negeri RI (Menlu RI) Retno Marsudi melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Rusia  Sergey Lavrov di gedung Pancasila Jakarta, Selasa (6/7).

Pertemuan ini membahas isu bilateral, baik regional maupun internasional yang menjadi pusat perhatian serius.  Salah satu hal yang dibahas termasuk mengenai kerja sama dalam bidang kesehatan, baik dalam jangka panjang dan jangka pendek.

“Penguatan kerja sama kesehatan tetap menjadi sorotan utama pertemuan baik dalam pertemuan bilateral maupun multilateral,” kata Menlu Retno dalam keterangan persnya, Selasa (6/7).

Kerjasama ini merupakan sebuah langkah tindak lanjut dari Presiden Joko Widodo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berbicara melalui sambungan telepon membahas kerja sama menangani pandemi Covid-19.

Dalam jangka pendek, Retno mengatakan isu penyediaan vaksin, obat-obatan terapeutik dan diagnostik menjadi prioritas utama. Rusia menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kerja sama jangka pendek. Kemudian Retno menegaskan bahwa semua kerja sama akan dilakukan sesuai pedoman otoritas kesehatan kedua negara dan WHO.

Terkait kerjasama pengadaan vaksin, Menlu RI mengatakan pada bulan lalu Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan telah berkunjung ke Rusia untuk meninjau fasilitas vaksin. Selain itu, Rusia juga mendonasikan obat antivirus dan peralatan medis untuk Indonesia pada awal merebaknya Covid-19.

Kerjasama antara Indonesia dan Rusia telah berlangsung sejak awal Pandemi Covid-19  melanda. Rusia juga telah menyumbangkan obat-obatan anti virus dan alat-alat kesehatan ke Indonesia untuk membantu penanganan pandemi.

Menlu RI mengatakan kerja sama kesehatan antara Rusia dan Indonesia akan diperkuat melalui Nota Kesepahaman (MoU) yang tengah difinalisasi.

“Kerja sama yang baik ini akan diperkuat dengan memorandum of understanding (MoU) kedua negara yang saat ini tengah difinalisasi. MoU ini diharapkan menjadi dasar kerja sama jangka menengah dan panjang, termasuk rencana produksi vaksin bersama antara Indonesia dan Rusia,” ujar Retno.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, pihaknya setuju bahwa vaksin harus tersedia bagi semua orang.Hal itu pula yang menjadi dasar untuk kerja sama Rusia dan Indonesia, terkait vaksin tersebut.

“Kami setuju bahwa vaksin harus tersedia bagi semua orang dan kami juga telah setuju untuk bekerjasama dalam konteks bilateral menyediakan atau membantu produksi lokal vaksin tersebut,” ungkap Sergei.

Vaksin Covid-19 Diizinkan untuk Anak, Bagaimana Kejelasannya?

Vaksin Covid-19 Diizinkan untuk Anak, Bagaimana Kejelasannya?

Reporter Salsabila Saphira; Editor Aulia Gusma Hendra dan Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi vaksin pada anak

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersyukur Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan pengguna izin darurat atau emergency use of authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac yang digunakan pada anak-anak. Kini, anak usia 12-17 tahun di Indonesia pun sudah bisa melakukan vaksinasi Covid-19.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan membenarkan adanya surat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait pemberian emergency use authorization (EUA)  vaksin bagi anak-anak dan remaja.

Seperti yang diketahui bahwa, Media Lawan Covid-19 mengingatkan potensi ancaman penularan varian-varian baru Covid-19 terhadap kelompok usia (0-18 tahun). Hal ini mendapat perhatian sangat serius dari para orang tua, tenaga pendidik, dan juga kalangan remaja.

 Salah satu siswa SMP Negeri Banjarbaru Kalimantan Selatan Syerlinn Aurelia Setianto mengatakan sangat setuju dengan adanya vaksinasi untuk anak tersebut. Dirinya mengaku siap untuk di vaksin.

” Vaksin itu sesuatu yang sangat diperlukan, mengingat kondisi saat ini. Apalagi anak-anak usia seperti saya, juga pastinya membutuhkan vaksin. Jika vaksin untuk anak sudah terealisasikan, saya siap untuk divaksin” ujar Syerlinn saat diwawancarai oleh Tim DNK TV Selasa (29/6).

Sherlynn menambahkan dengan adanya vaksinasi untuk anak ini, dirinya berharap wacana sekolah tatap muka akan segera terealisasikan.

Dalam vaksinasi anak ini,  tentu tidak terlepas dari persetujuan dan pengawasan orang tua. Salah satu orang tua, Ririn mengatakan vaksinasi anak ini bisa menjadi cara untuk pencegahan Covid-19.

“Untuk yang terpenting, saya sebagai ibu atau orang tua yang mempunyai anak, saya berharap vaksinasi ini sudah di uji klinis dan terjamin untuk imun anak, dan yang terpenting efek sampingnya ga ada dan fungsi utamanya mencegah penyebaran virus. Dengan begitu vaksin dapat melindungi anak-anak dari risiko terpapar. Terlebih, ketika pembelajaran tatap mula digelar, tubuh anak dapat lebih kuat melawan Covid-19” Ungkapnya.

Pada konferensi pers Direktur Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Afrial Rosya menyatakan bahwa vaksinasi pada anak telah dimulai sejak Senin (28/6) bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional, yang dilakukan oleh para bidan sebagai strategi dari Kemenkes dan Pulau Jawa akan menjadi prioritas.

Virus Corona Varian Delta Mulai Menyebar di Indonesia

Virus Corona Varian Delta Mulai Menyebar di Indonesia

Reporter Diva Raisa; Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Ilustrasi virus

Covid varian Delta atau B1617 yang pertama kali ditemukan di India, kini sudah masuk ke Indonesia. Varian virus corona Delta yang disebut 40 persen lebih mudah menular, mulai menyebar dan banyak terdeteksi di Indonesia. Bukan hanya itu, varian ini juga dapat meningkatkan risiko perawatan rumah sakit hingga dua kali lipat.

Di Indonesia, varian ini ditemukan pertama kali di Banten, Jawa Barat, dan Cilacap, Jawa Tengah, dan menjangkiti sejumlah tenaga kesehatan  pada awal Mei 2021.

Terkait hal tersebut, peneliti melihat ada perubahan pola gejala yang ditimbulkan oleh varian Delta. Profesor Tim Spector yang menjalankan Zoe Covid Symptom Study mengatakan varian Delta  kemungkinan bisa hanya menimbulkan gejala mirip pilek pada kaum muda.

Banyak orang mengira mereka hanya mengidap flu berat musiman, mereka tetap berpergian dan beraktivitas, walaupun tidak sakit berat tetapi tindakan itu bisa merugikan orang lain.

Lantas, apa saja gejala yang menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi virus varian yang satu ini?

Gejala varian virus corona Delta sebagaimana disampaikan oleh profesor kedokteran darurat dan kesehatan internasional di Johns Hopkins Universiy, Dr. Bhakti Hansoti meliputi sakit perut, hilangnya selera makan, muntah, mual, nyeri sendi, dan gangguan pendengaran.

Kebanyakan pasien yang terinfeksi virus ini juga membutuhkan perawatan medis di rumah sakit, bahkan memerlukan bantuan oksigen dan menderita komplikasi lain.

Dr. Durrani menjelaskan tentang vaksin dan Covid Delta.
Sumber: Finance.yahoo.com

Dokter Residen Pengobatan Darurat UT Health San Antonio, Dr. Owais Durranimengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah Covid Delta ini adalah dengan vaksin.

“Mereka (vaksin) pada dasarnya menghilangkan kasus yang parah, dan masih memberikan perlindungan yang baik dalam hal menghilangkan kasus simtomatik, sekitar 80% hingga 85% efektif. Itu benar-benar berita bagus,” ujarnya dikutip dari kanal resmi Finance.yahoo, Rabu (16/6).

Mulai Hari ini, Vaksin Gotong Royong Siap Disuntikkan

Mulai Hari ini, Vaksin Gotong Royong Siap Disuntikkan

Reporter Syafitri Rahmanda; Editor Fauzah Thabibah

Ilustrasi vaksin Covid-19

Vaksin gotong royong merupakan vaksin yang dibeli oleh sebuah perusahaan ataupun badan usaha untuk diberikan secara gratis kepada keryawan perusahaan tersebut. Berbeda dengan vaksin dari pemerintah, vaksin ini tidak menggunakan jenis vaksin Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menegaskan jika perusahaan harus melapor ke Kementerian Kesehatan dengan melampirkan data lengkap.

“Jenis vaksin Gotong Royong juga harus mendapatkan izin atau persetujuan penggunaan darurat dalam bentuk EUA ataupun penerbitan nomor izin edar,” tegasnya.

Ilustrasi vaksinasi Covid-19

Jenis vaksin gotong royong ini ada dua yakni Sinopharm dan CanSino, namun akan dimulai dengan vaksin Sinopharm yang merupakan vaksin berjenis SARS-CoV-2 Vaccine (Vero Cell) yang bekerja dengan menggunakan partikel virus, untuk mengekspos sistem kekebalan tanpa adanya resiko penyakit serius.

Sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI, vaksin ini juga sudah dinyatakan aman untuk digunakan oleh BPOM pada 29 april 2021, dan ditargetkan untuk digunakan pada tanggal 17 Mei 2021.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir memaparkan bahwa penggunaan vaksin ini dilakukan sebanyak dua kali.

“Untuk vaksin dengan dua dosis per orang, vaksin kesatu dan kedua harus sama,” ucapnya.

Sebanyak 500 ribu dari 7,5 juta vaksin ini sudah tiba di Indonesia yang siap digelar pasca Idulfitri yang memprioritaskan perusahaan-perusahaan di zona merah untuk menekan penyebaran Covid-19. Tercatat pendaftar telah mencapai lebih dari 2.000 perusahaan.

Belum Disetujui BPOM, Uji Klinis Vaksin Nusantara Tetap Dilanjutkan

Belum Disetujui BPOM, Uji Klinis Vaksin Nusantara Tetap Dilanjutkan

Reporter Taufik Akbar Harefa; Editor Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi vaksin Covid-19

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito, menyampaikan ada sejumlah syarat yang belum dipenuhi sehingga pihaknya belum mengeluarkan izin uji klinis fase kedua untuk vaksin Nusantara.

Menurut Penny, vaksin Nusantara belum bisa lanjut, ke tahap uji klinis selanjutnya karena beberapa syarat belum terpenuhi, di antaranya cara uji klinik yang baik (good clinical practical), proof of concept, good laboratory practice, dan cara pembuatan obat yang baik (good manufacturing practice).

Sementara itu, Uji klinis fase kedua vaksin Nusantara tetap dilanjutkan meski BPOM belum mengeluarkan izin atau Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK).

Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Laka Lena, mengatakan sejumlah anggota Komisi IX akan menerima vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto pada Rabu (14/4). Mereka menjadi relawan dalam uji klinis vaksin yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Bukan hanya sekedar jadi relawan ya, orang kan pasti mempunyai keinginan untuk sehat kan. Kalau untuk massal kan nanti prosesnya di BPOM tapi kalau per orang kan bisa menentukan yang diyakini benar untuk dia,” ungkap Melki.

Melki mengklaim, tim peneliti vaksin tersebut telah menyesuaikan pengembangan vaksin dengan rekomendasi dari BPOM. 

“Dan sudah peneliti lakukan penyesuaian, sudah pernah diterapkan perbaikan seperti yang dicatatkan BPOM dan karena BPOM hanya memberikan semacam catatan rekomendasi Penelitiannya tetap berjalan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, hingga saat ini tidak ada permasalahan yang muncul dari uji klinis klinis vaksin tersebut.

Logo BPOM
Sumber: Indonesia.go.id

Kendati demikian, BPOM menyebut adanya komponen vaksin Nusantara yang tidak berkualitas untuk masuk ke tubuh manusia.

Kementerian Kesehatan pun telah menghentikan sementara pengembangan vaksin Nusantara atas permintaan tim peneliti dari RSUP dr Kariadi Semarang.

Pengajuan penghentian sementara dilakukan guna melengkapi syarat cara pembuatan obat yang baik (CPOB) yang diminta BPOM untuk masuk ke uji klinis fase kedua.

Vaksin Buatan Rusia Cegah Covid-19 pada Hewan

Vaksin Buatan Rusia Cegah Covid-19 pada Hewan

Reporter Wafa Thuroya Balqis; Editor Fauzah Thabibah

Ilustrasi Vaksin Covid-19.
Sumber: Klikdokter.com

Badan Regulator Agrikultur Rusia, Rosselkhoznadzor mengumumkan bahwa Rusia menjadi negara pertama di dunia yang telah mendaftarkan vaksin Covid-19 khusus untuk hewan. Rosselkhoznadzor menyikapi kecemasan World Health Organization (WHO) tentang peluang penularan virus Covid-19 antara manusia dengan hewan bahwa vaksin Carnivac-Cov  dapat memberikan perlindungan terhadap hewan yang rentan dan menggagalkan mutasi virus.

Wakil Presiden Eksekutif Kesehatan di EcoHealth Alliance, William Karesh, mengatakan bahwa meski pemahaman Covid-19 akan hilang setelah vaksinasi namun virus ini tetap bisa berisiko menular termasuk pada hewan.

“Uji klinis Carnivac-Cov, yang dimulai pada Oktober 2020 lalu, melibatkan hewan anjing, kucing, rubah, dan berbagai hewan lainnya.” Terang Wakil Kepala Rosselkhoznadzor Konstantin Savenkov.

Vaksin untuk hewan ini dibuat oleh Rusia untuk memutus rantai penularan virus Covid-19 ke manusia atau sebaliknya. Seperti yang dikatakan Kepala Institut Vaksin Sputnik V, Alexander Gintsburg, “Tahap selanjutnya di epidemik ini adalah infeksi virus corona pada hewan ternak dan hewan peliharaan.” Ujarnya.

Menurut peneliti Rusia, penggunaan vaksin Carnivac-Cov ini bisa mencegah perkembangan mutasi virus yang paling sering terjadi selama penularan agen antarspesies. Hasil uji coba vaksin ini aman dan mengembangkan antibodi terhadap virus Covid-19 dalam 100 persen setidaknya selama enam bulan sejak uji coba dimulai pada Oktober 2020.

Selain itu, vaksin ini juga memberikan respon kekebalan terhadap molekul virus dan juga antigen yang cukup melindungi dari infeksi.

Ilustrasi Vaksin Covid-19

Wakil Kepala Rosselkhoznadzor, Konstantin Savenkov mengungkapkan, ”Hasil uji coba memungkinkan kami menyimpulkan bahwa vaksin Carnivac-Cov aman dan sangat imunogenik karena semua hewan yang divaksinasi mengembangkan antibodi terhadap virus Corona.”

Produksi vaksin Carnivac-Cov disebutkan lebih lanjut akan diproduksi massal secepatnya bulan April 2021 ini.

Indonesia Urutan Ke-4 Terbanyak Vaksinasi Covid-19 di Angka 10 Juta

Indonesia Urutan Ke-4 Terbanyak Vaksinasi Covid-19 di Angka 10 Juta

Reporter Taufik Akbar Harefa; Editor Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi vaksin Covid

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia telah melakukan penyuntikan 10 juta dosis vaksin Covid-19 untuk dosis pertama dan kedua.

Budi Gunadi juga mengklaim Indonesia menjadi negara non-produsen vaksin Virus Corona yang menduduki urutan keempat vaksinasi Covid-19 terbanyak di dunia.

“Dengan capaian ini, Indonesia masuk dalam posisi 4 besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tapi tertinggi dalam melakukan penyuntikan. Kita di bawah Jerman, Turki, dan Brasil, berhasil melampaui Israel dan Perancis. Ini sebuah kabar gembira,” kata Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes, Rabu, (31/3).

Budi mengatakan, vaksin Covid-19 sudah menjadi isu geopolitik. Negara-negara di seluruh dunia saling berebut untuk mendapatkan vaksin.

Oleh sebab itu, Budi mengatakan vaksin yang tersedia adalah vaksin yang terbaik untuk digunakan.

Mantan wakil menteri BUMN itu menegaskan tidak ada satupun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara yang berpenduduk besar seperti Indonesia.

Ia mengatakan, Indonesia beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan 4 produsen vaksin, yaitu Sinovac, Astrazeneca, Novavax, dan Pfizer.

Lebih lanjut, Budi juga mengungkapkan bahwa empat produsen vaksin itu akan digunakan untuk pemenuhan program vaksinasi nasional. Sementara dua produsen vaksin dari Sinopharm dan Moderna akan digunakan untuk program vaksinasi gotong royong.

“Ketersediaan vaksin menjadi sangat penting dalam menjaga kelancaran program vaksinasi pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, Budi meminta masyarakat tak ragu untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 saat gilirannya sudah tiba.

“Vaksin memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari risiko yang ditimbulkan. Ketika saatnya tiba untuk vaksinasi, tidak usah ragu-ragu. Apapun jenis vaksinnya, pasti aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita,” tambahnya.

Hingga Selasa (30/3), tercatat jumlah masyarakat yang sudah selesai divaksinasi dosis pertama dan kedua mencapai 3.561.192 orang.

Dalam periode yang sama, jumlah warga yang sudah disuntik vaksin dosis pertama yakni 7.840.024 orang.

Informasi tersebut ditayangkan www.kemkes.go.id  yang dikutip DNK TV Rabu, (31/3).