Oktober Tak Perlu PeduliLindungi, Kemenkes Ungkap Syarat Penggantinya

Oktober Tak Perlu PeduliLindungi, Kemenkes Ungkap Syarat Penggantinya

Reporter Salsabila Saphira; Editor Ainun Kusumaningrum

Ilustrasi PeduliLindungi
Sumber: Instagram-@pedulilindungi.id

PeduliLindungi merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia untuk memantau kasus infeksi Covid-19.

Aplikasi ini sudah ada sejak awal munculnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Sayangnya, banyak warga yang mengalami kesulitan mengunduh aplikasi PeduliLindungi lantaran memori di perangkatnya terlanjur penuh. Bahkan, masih ada orang yang belum memiliki ponsel cerdas sekalipun.

Untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperbaiki dan memperbarui mekanisme terkait itu. 

Mulai Oktober mendatang, Kemenkes memberikan sejumlah opsi untuk menunjukkan status vaksinasi masyarakat.

Terkait hal itu Chief Digital Transformation Office Kemenkes, Setiaji mengungkapkan syarat pengganti aplikasi PeduliLindungi.

“Ini (Syarat dan Ketentuan ) akan launching di bulan Oktober ini. Ada proses dimana kami memerlukan beberapa model untuk bisa diakses oleh setiap orang,” ungkapnya (24/9). 

Lantas seperti apa sistematis untuk perjalanan masyarakat nantinya?

Setiaji menjelaskan bahwa status hasil tes swab PCR atau antigen dan sertifikat vaksin dari calon penumpang tetap teridentifikasi dengan cara lain.

Ia mengatakan bahwa hal itu bisa diketahui

melalui nomor NIK penumpang ketika membeli tiket.

“Kalau naik kereta api itu sudah tervalidasi pada saat pesan tiket. Sehingga tanpa menggunakan handphone pun itu bisa diidentifikasi bahwa yang bersangkutan sudah memiliki vaksin dan ada hasil tesnya (PCR atau antigen),” ungkap Setiaji.

Ilustrasi penggunaan teknologi
Sumber: Instagram-@pedulilindungi.id

Tidak hanya itu, Kemenkes juga akan menjadikan fitur  PeduliLindungi untuk bisa diakses di berbagai platform seperti Gojek, Tokopedia, Grab, Dana, Tiket, Traveloka, Cinema XXI, dan Link Aja.

Dengan penggabungan itu, maka masyarakat tak harus mengunduh aplikasi PeduliLindungi dan hanya memanfaatkan fitur tersebut di berbagai platform.

Hal ini dilakukan untuk mengatasi keluhan masyarakat yang tidak bisa mengunduh aplikasi PeduliLindungi karena memori ponsel pintarnya penuh.

“Kami saat ini sudah berkoordinasi, berkolaborasi dengan platform-platform digital seperti Gojek, Grab Tokopedia, Traveloka bahkan dengan Pemerintah Provinsi Jakarta yaitu dengan Jaki,” kata Setiaji dalam diskusi daring, Jumat (24/9).

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Ridho Hatmanto menyetujui kebijakan tersebut.

“Sangat di apresiasi kepada pihak-pihak yang berusaha membuat mobilitas masyarakat dikala pandemic ini semakin mudah, karena dengan begitu keadilan akan merata bagi siapapun yang ingin beraktivitas luar rumah tanpa download aplikasi-aplikasi tambahan,” ungkap Ridho.

Vaksinasi Masyarakat Umum pada Juli 2021, Begini Responnya

Vaksinasi Masyarakat Umum pada Juli 2021, Begini Responnya

Reporter Nisrina Fathin; Editor Elsa Azzahraita

Ilustrasi vaksinasi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan program vaksinasi Covid-19 nasional tahapan tiga akan dimuali di awal bulan Juli 2021. Pada tahap tiga ini menuju pada ratusan juta masyarakat rentan dan masyarakat umum sesuai dengan pendekatan klister.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi merincikan tahapan pertama Kemenkes tertuju sebanyak 1,4 juta tenaga kesehatant, tahap kedua secara paralel tertuju sebanyak 21,5 juta lansia dan 17,4 juta petugas pelayanan publik dan tahapan ketiga 141,3 juta penduduk berusia di atas 18 tahun.

Pelaksanaan kegiatan vaksinasi Covid-19 ini pun didesak oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo, agar dilakukan percepatan pelaksanaan vaksinasi massal di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan diadakannya kegiatan vaksinasi tersebut menuai berbagai pro-kontra di masyarakat. Salah satunya Gozlia sebagai tenaga pendidik berpendapat bahwa vaksinasi ini dapat saling menjaga.

“Alasan saya ikut vaksin karena saya dari tim pengajar jadi saya harus menjaga Kesehatan dan keselamatan saya sebagai guru dan juga untuk anak didik saya, ” ujarnya. 

Selain itu, ada pula warga yang masih meragukan vaksin Covid-19 ini. Maulana, salah satu pekerja media yang berdomisili di Jakarta.

“Masih belum percaya dengan uji klinis vaksin yang digunakan, jadi untuk saat ini saya belum siap divaksin,” ujar Maulana.

Indonesia Urutan Ke-4 Terbanyak Vaksinasi Covid-19 di Angka 10 Juta

Indonesia Urutan Ke-4 Terbanyak Vaksinasi Covid-19 di Angka 10 Juta

Reporter Taufik Akbar Harefa; Editor Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi vaksin Covid

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia telah melakukan penyuntikan 10 juta dosis vaksin Covid-19 untuk dosis pertama dan kedua.

Budi Gunadi juga mengklaim Indonesia menjadi negara non-produsen vaksin Virus Corona yang menduduki urutan keempat vaksinasi Covid-19 terbanyak di dunia.

“Dengan capaian ini, Indonesia masuk dalam posisi 4 besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tapi tertinggi dalam melakukan penyuntikan. Kita di bawah Jerman, Turki, dan Brasil, berhasil melampaui Israel dan Perancis. Ini sebuah kabar gembira,” kata Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes, Rabu, (31/3).

Budi mengatakan, vaksin Covid-19 sudah menjadi isu geopolitik. Negara-negara di seluruh dunia saling berebut untuk mendapatkan vaksin.

Oleh sebab itu, Budi mengatakan vaksin yang tersedia adalah vaksin yang terbaik untuk digunakan.

Mantan wakil menteri BUMN itu menegaskan tidak ada satupun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara yang berpenduduk besar seperti Indonesia.

Ia mengatakan, Indonesia beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan 4 produsen vaksin, yaitu Sinovac, Astrazeneca, Novavax, dan Pfizer.

Lebih lanjut, Budi juga mengungkapkan bahwa empat produsen vaksin itu akan digunakan untuk pemenuhan program vaksinasi nasional. Sementara dua produsen vaksin dari Sinopharm dan Moderna akan digunakan untuk program vaksinasi gotong royong.

“Ketersediaan vaksin menjadi sangat penting dalam menjaga kelancaran program vaksinasi pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, Budi meminta masyarakat tak ragu untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 saat gilirannya sudah tiba.

“Vaksin memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari risiko yang ditimbulkan. Ketika saatnya tiba untuk vaksinasi, tidak usah ragu-ragu. Apapun jenis vaksinnya, pasti aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita,” tambahnya.

Hingga Selasa (30/3), tercatat jumlah masyarakat yang sudah selesai divaksinasi dosis pertama dan kedua mencapai 3.561.192 orang.

Dalam periode yang sama, jumlah warga yang sudah disuntik vaksin dosis pertama yakni 7.840.024 orang.

Informasi tersebut ditayangkan www.kemkes.go.id  yang dikutip DNK TV Rabu, (31/3).

Angka Kematian Tinggi, BPOM Buka Opsi Uji Klinik Vaksin Batita

Angka Kematian Tinggi, BPOM Buka Opsi Uji Klinik Vaksin Batita

Reporter Anggita Fitri Chairunisa; Editor Tiara De Silvanita dan Elsa Azzahraita

Ilustrasi uji klinik vaksin Covid-19 pada batita.
Sumber: hellosehat.com (Kemenkes RI)

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain. Setidaknya terdapat 59 anak meninggal dunia akibat Covid-19, dan 42 persen di antaranya terjadi pada usia di bawah satu tahun.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia membuka opsi untuk melakukan uji klinik penggunaan vaksin kepada batita atau bayi dibawah usia tiga tahun.

Sebelumnya, para peneliti memang memprioritaskan orang dewasa dalam uji coba vaksin awal, karena penyakit Covid-19 yang akut jarang terjadi pada batita.

Menurut Rizka, hingga saat ini belum ada hasil uji klinik yang dapat memastikan bahwa vaksin aman digunakan bagi batita. Penelitian terakhir terhadap batita baru sampai fase dua, namun belum ada hasil.

 “Tentunya Badan POM harus mendapatkan data yang lengkap dari hasil uji klinik tersebut. Dan, atau mungkin kita akan melakukan uji klinik sendiri pada populasi anak-anak,” tutur Rizka dalam jumpa pers daring, Kamis (25/3).

Vaksin batita tidak bisa didistribusikan hingga benar-benar menjalani serangkaian uji klinik dan terbukti aman serta efektif.

Pasalnya, sistem imunitas dan kekebalan tubuh anak bervariasi tergantung pada usia anak, sehingga akan menghasilkan percobaan yang lebih kompleks dibandingkan penelitian orang dewasa.

“Jadi kita tidak boleh memberikan uji klinik atau melakukan uji klinik pada kelompok anak-anak sebelum yakin bahwa dia [vaksin] aman dan bermanfaat untuk dewasa,” kata Rizka.

Menurut dokter imunologi sekaligus Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases Anthony Fauci, memberikan vaksinasi Covid-19 kepada anak-anak sangat penting untuk mencapai kekebalan kelompok.

16 Juta Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia, Pemerintah Targetkan Vaksinasi Selesai Akhir 2021

16 Juta Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia, Pemerintah Targetkan Vaksinasi Selesai Akhir 2021

Reporter Ika Selfiana; Editor Elsa Azzahraita

16 juta vaksin Sinovac asal China telah tiba ke Indonesia, pada Kamis (25/3).
Sumber:Instagram-jokowi

Sebanyak 16 juta vaksin Sinovac asal China telah tiba ke Indonesia, pada Kamis (25/3). Vaksin tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Pemerintah menargetkan akhir tahun vaksinasi telah selesai dengan target 70 persen masyarakat tervaksin. Dengan vaksinasi maka diharapkan dapat memicu kekebalan komunal atau herd immunity. Sehingga dapat menekan laju penyebaran Covid-19 di Indonesia.

“Target kita akhir tahun Insyaallah sudah selesai semua asal vaksinasinya berproses seperti ini terus. Karena yang namanya Covid mau datang bisa mental dan tidak menularkan lagi dari orang ke orang, dari warga ke warga bisa kita hentikan.” ujar Presiden Joko Widodo.

Kedatangan vaksin tersebut telah memasuki gelombang keenam. Vaksin gelombang sebelumnya datang pada 2 Maret 2021 dengan 10 juta dosis. Maka dengan kedatangan 16 juta dosis vaksin kemarin, Indonesia telah memiliki 53,5 juta dosis vaksin Sinovac.

“Dengan adanya supply tambahan vaksin yang baru pada hari ini, maka tentu pace dan kecepatan vaksin per hari akan terus kita tingkatkan sehingga kita akan mencapai 181,5 juta vaksin, yang akan kita jadikan target herd immunity atau kekebalan komunal dalam waktu yang secepat-cepatnya,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Harbuwono.

Dante mengatakan bahwa vaksinasi pada gelombang ini, ditunjukkan untuk masyarakat prioritas. Karena pemerintah harus mengatur pace dari program ini.

Adapun prioritas pertama yang diberikan ialah tenaga kesehatan dengan total 1,4 juta lebih tenaga kesehatan. Kini pemerintah telah memasuki tahap kedua, yang menargetkan lansia dan petugas publik.

Dalam waktu belakangan ini, Jokowi sering berkunjung keluar kota untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi di daerah. Kemarin, jokowi telah meninjau 3 lokasi penyuntikan vaksin di Ambon yakni di Pelabuhan Yos Sudarso, RSUP dr. J. Leimena dan Kediaman Raja Hitu, Kabupaten Maluku Tengah.

“Saya berterima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan, para vaksinator yang bekerja keras setiap hari melayani masyarakat yang divaksin dan kita berharap pandemi ini segera selesai dan ekonomi daerah, nasional, ekonomi provinsi bisa bangkit kembali, dan kita bisa bekerja dalam kehidupan sehari-hari seperti biasanya,” tutur Jokowi.

Vaksin Sinovac Kedaluwarsa Pertengahan Maret, Kemenkes Kebut Vaksinasi

Vaksin Sinovac Kedaluwarsa Pertengahan Maret, Kemenkes Kebut Vaksinasi

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Elsa Azzahraita

Ilustratsi vaksin

PT Bio Farma (Persero) menyatakan bahwa masa kedaluwarsa vaksin corona Sinovac gelombang pertama mengalami perubahan, semula tercatat sampai tahun 2023, kini dipercepat menjadi Maret 2021. Percepatan ini wajar dilakukan karena vaksin Sinovac dikeluarkan melalui izin penggunaan darurat (EUA).

“Iya itu expired date dari manufacture. Dalam izin masa penggunaan darurat (EUA), expired date sesuai yang dikeluarkan dan disetujui oleh BPOM,” jelas Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Bio Farma, Bambang Heriyanto.

Sebelumnya, pihak Bio Farma pun menyatakan seluruh vaksin gelombang pertama ini sudah didistribusikan awal Januari 2021 lalu, sebelum sampai pada masa kedaluwarsanya 25 Maret 2021 mendatang.

Menanggapi hal ini, Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi menjelaskan vaksin yang akan kadaluwarsa merupakan vaksin Sinovac gelombang pertama, yakni sejumlah 1,2 juta dosis dan 1,8 juta dosis. Vaksin tersebut berbentuk botol kecil atau vial yang berisi satu dosis dan biasanya hanya untuk satu kali penyuntikan.

Selain itu, Nadia juga mengatakan bahwa saat ini pemerintah terus mendorong percepatan vaksinasi gelombang pertama sebelum masa kedaluwarsa vaksin. Diketahui, izin penggunaan darurat ini adalah maksimum 6 bulan, sehingga proses penyuntikan harus cepat dilakukan. Saat ini, sudah hampir 300 ribu dosis yang disuntikan per hari.

Namun demikian, ia mengaku pemerintah masih mengalami hambatan percepatan vaksinasi, terutama dalam hal pendistribusian vaksin ke sejumlah wilayah di Indonesia yang akses jalannya masih sangat terbatas dan tertinggal.

“Jadi dengan potensi terjadinya kedaluwarsa ini kita akan selalu mendorong, ini tantangan kita terutama di daerah terpencil, terluar, dan terdalam untuk segera mereka lakukan vaksinasi ini waktunya untuk masa penggunaanya cukup singkat,” jelas Nadia.

Sementara itu, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Kusnadi Rusmil mengatakan bahwa meski sudah habis masa kedaluwarsa, vaksin Sinovac masih memiliki masa perpanjangan penggunaan vaksin sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan vaksin yang kadaluwarsa akan berdampak pada tingkat sentisitivitas vaksin dan tidak lagi membentuk antibodi, sehingga vaksin tersebut harus segera dihabiskan.

Vaksinasi Dosen, Paristiyanti: Mahasiswa Tidak Masuk Kategori SKB

Vaksinasi Dosen,  Paristiyanti: Mahasiswa Tidak Masuk Kategori SKB

Reporter: Aulia Gusma Hendra; Editor Redaksi: Nur Arisyah Syafani

Proses pra vaksinasi Dosen UIN Jakarta

Vaksinasi corona tenaga pendidik dosen dan mahasiswa sempat disebut akan berlangsung dari Maret hingga Juni mendatang. Namun, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani mengatakan bahwa terjadi kesalahan penyampaian informasi terkait vaksinasi mahasiswa. Pemerintah masih mempersiapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) antarmenteri terkait vaksinasi yang menyasar lingkup pendidikan Indonesia, namun mahasiswa belum masuk dalam kategori sasaran.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan vaksinasi Corona untuk mahasiswa masuk dalam tahap berbarengan dengan masyarakat, dan jadwalnya kemungkinan baru bisa dimulai Mei mendatang.

Mahasiswa fdikom UIN Jakarta, Siti Humaeroh berpendapat bahwa vaksinasi untuk mahasiswa juga sangat perlu.

“Vaksinasi memang dirasa sangat penting dan sangat perlu diadakan untuk mahasiswa, karena terkait adanya wacana perkuliahan tatap muka. Maka dari itu, seluruh lapisan masyarakat terutama dilingkup pendidikan harus mendapatkan vaksinasi” Kata Siti.

Meski mahasiswa masih menunggu giliran untuk vaksinasi, para dosen sudah mulai melakukan agenda vaksinasi ini, salah satunya di UIN Jakarta. Vaksinasi Corona bagi dosen UIN Jakarta dilaksanakan pada Sabtu-Senin tanggal 6-8 Maret 2021. Di Gedung Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Jakarta.

Peserta vaksinasi harus memastikan badan dalam kondisi fit, dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Kemudian diwajibkan membawa KTP dan ballpoint guna untuk pengisian format skrining.

Dosen fdikom UIN Jakarta, Zakaria mengatakan perasaaannya sangat senang setelah vaksinasi. “Perasaan saya sangat senang dan serasa lebih sempurna dalam ikhtiar pencegahan Covid-19” ujarnya.

Zakaria juga menilai bahwa vaksinasi untuk dosen ini sangat penting untuk melindungi keluarga dan masyarakat dari terpapar Covid-19, terutama untuk aktifitas kedosenan yang sangat mobile dan super aktif.

Vaksinasi Dosen – Mahasiswa, Paristiyanti: Kuliah Tatap Muka akan Berjalan

Vaksinasi Dosen – Mahasiswa, Paristiyanti: Kuliah Tatap Muka akan Berjalan

Reporter: Aulia Gusma Hendra; Editor Redaksi: Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi vaksinasi

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung sejak awal 2021. Presiden RI, Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntikkan vaksin.

Vaksinasi dilanjutkan untuk tenaga medis yang tergolong rentan terpapar virus. Kemudian, vaksinasi untuk lansia, awak media, dan atlet. Tahap selanjutnya vaksinasi difokuskan untuk para tenaga pendidik.

Presiden Joko Widodo mengatakan Dosen termasuk salah satu kelompok prioritas penerima vaksin. Agar kegiatan perkuliahan di kampus dapat berjalan di tengah pandemi.

“Tenaga pendidik, salah satunya adalah dosen menjadi prioritas agar wacana pendidikan tatap muka dapat dilakukan” ungkap Jokowi.

Mahasiswa juga mendapatkan vaksinasi pada tahap ini. Vaksinasi corona untuk mahasiswa dan dosen akan berlangsung  pada Maret sampai Juni mendatang. Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Paristiyanti Nurwardani.

Paris mengatakan antar menteri sedang menyiapkan surat keputusan bersama (SKB) terkait vaksinasi untuk mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, dan pegawai kementerian.

“Sesuai arahan Pak Presiden, Menteri menyiapkan PTM (pembelajaran tatap muka) bulan Juli dengan tetap mematuhi protokol kesehatan 5M. Sehingga akan ada waktu transisi PTM dengan protokol 5M” Kata Paris melalui pesan singkat pada Sabtu (6/3).

Paris juga menambahkan bahwa kegiatan belajar tatap muka untuk pendidikan tinggi akan berjalan dengan memenuhi kuota 25-50 persen kapasitas gedung.