Resmi Ditutup, Sertifikasi Diharapkan Tingkatkan Kualitas Pembimbing Haji Umrah

Resmi Ditutup, Sertifikasi Diharapkan Tingkatkan Kualitas Pembimbing Haji Umrah

Reporter Putri Anjeli, Fauzah Thabibah, dan Ilham Balindra; Editor Aulia Gusma Hendra

Warek 3, Lily Surraya sedang menyampaikan sambutan pada Minggu (21/3).

Kegiatan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V tahun 2021 resmi ditutup pada Minggu (21/3), di Gedung Pomelotel Kuningan, Jakarta Selatan.

Dihadiri oleh Ditjen PHU Subhan Gholid, Wakil Rektor UIN Jakarta, Lily Surayya Eka Putri, Kepala Kanwil Propinsi DKI Jakarta Saiful Mujab, Ketua Tim Sertifikasi Fdikom UIN Jakarta Ade Marfudin, Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto beserta jajarannya, Ketua Umum DPP AMPUH Abdul Azis, Ketua Umum DPP HIMPUH Budi Darmawan, Alumni Sertifikasi Angkatan ke IV, para Asesor dan juga para peserta.

Ade Marfudin menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk tidak meloloskan para peserta sertifikasi pembimbing manasik Haji dan Umrah. “Dari 91 peserta hanya 1 yang tidak kami loloskan karena tidak pernah hadir,” ujarnya.

Dekan Fdikom, Suparto berharap kegiatan ini bisa memberikan banyak manfaat. “Harapannya dengan adanya kegiatan ini, memberikan manfaat bagi peserta dan penyelenggara manasik Haji dan Umrah memiliki pembimbing profesional yang berkompetensi,” jelas Suparto.

Warek 3 UIN Jakarta, Lily Surraya menyampaikan, “Saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang lolos dan saya berharap semoga program ini semakin baik kedepannya kemudian kerjasama yang telah dilakukan agar terus terjalin,”.

Ketua DPP HIMPUH, Budi Darmawan berharap dengan adanya pelatihan ini, peserta sertifikasi dapat mengetahui seluk beluk dasar aturan dan regulasi yang ada di Saudi Arabia, kemudian mendapatkan pengetahuan yang luas.

Dengan berakhirnya sertifikasi haji dan umrah professional angkatan ke-V diharapkan dapat melahirkan para pembimbing haji dan umrah yang berkualitas, profesional, dan tersertifikasi sehingga dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji dan umrah di Indonesia.

Pemantapan RKO Wujudkan Pembimbing Haji dan Umrah Profesional

Pemantapan RKO Wujudkan Pembimbing Haji dan Umrah Profesional

Reporter Taufik Nur Rohman; Editor Tiara De Silvanita

Peserta Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan Ke-V sedang melakukan diskusi Rencana Kerja Operasional (RKO), Sabtu (20/3).
(Sumber: DNK-Ramadhianti)

Rangkaian Penutupan Sertifikasi Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V digelar di Hotel Pomelotel Kuningan, Jakarta Selatan, pada Sabtu (20/3).

Acara diisi dengan diskusi Rencana Kerja Operasional (RKO) dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) seputar hukum dan problematika dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Tujuan acara ini ialah agar pembimbing haji mengetahui syariat maupun fiqih dalam melaksanakan haji dan umrah, sehingga nantinya pembimbing haji lebih siap untuk mendampingi Jemaah.

Prana Tandjudin selaku peserta mengatakan, sertifikasi haji ini sangat bermanfaat bagi pembimbing haji kedepannya terutama saat memberikan sosialisasi kepada jemaah.

“Memberikan pembekalan ilmu-ilmu agar nantinya memberikan bimbingan dan pelayanan yang terbaik, sehingga kedepannya diharapkan jemaah bisa melaksanakan haji secara mandiri, tidak bergantung kepada satu pembimbing sehingga jemaah lebih tenang dalam melaksanakan ibadah,” ungkap Prana Tandjudin.

Dengan adanya Sertifikasi Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V diharapkan dapat melahirkan pembimbing haji dan umrah profesional dan lebih siap dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Pengembangan Aplikasi untuk Jemaah Haji

Pengembangan Aplikasi untuk Jemaah Haji

Reporter Ariqah Alifia; Editor Elsa Azzahraita

Kegiatan Sertifikasi Pembimbing Haji dan umrah Profesional Angkatan Ke-V Tahun 2021 hari ke-5 dipandu oleh Dedi Fahrudin dengan narasumber Anton Satria Prabuwono, Rabu (17/3).

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan Ke-V Tahun 2021 hari ke-5, Rabu (17/3) dihadiri oleh 101 peserta secara virtual. Adapun kegiatannya ialah penyampaian materi mengenai Optimalisasi Bimbingan Manasik Haji Berbasis IT, Untuk Pembimbing Haji dan Umrah yang disampaikan  Anton Satria Prabuwono dan dimoderatori Dedi Fahrudin.

Dalam materinya Anton memaparkan adanya beberapa keluhan jemaah haji dan umrah berdasarkan penelitian Khalid Majrashi (2018), seperti kurangnya akurasi data/informasi, koneksi jaringan internet, dan penumpukan jemaah di lokasi tertentu. Oleh karena itu, beberapa aplikasi dikembangkan sebagai upaya Kementerian Haji dan Umrah (MOHU) Arab Saudi dalam mengoptimalkan pelayanan dan keselamatan di masa pandemi.

Para peserta Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan Ke-V  yang sedang menyimak materi.

“Aplikasi-aplikasi yang membantu ini gratis, bisa didownload di smartphone untuk ritual haji dan umrah dengan teknologi pintarnya”, ujar Anton.

Tawakkalna, Eatmarna, Manasikana, dan Ershad, 4 aplikasi mobile utama yang disarankan untuk para jemaah haji dan umrah. Aplikasi Tawakalna baru saja digunakan sejak pandemi untuk memudahkan pihak keamanan haji dan umrah dalam memonitor pergerakan, kesehatan jemaah, dan aktivitas keluar-masuk jemaah dengan izin polisi pada jam malam dan waktu lockdown.

Sementara Eatmarna dapat digunakan jika sudah memiliki akun Tawakkalna, karena aplikasi ini saling berkaitan. Fitur dalam aplikasi ini membantu perizinan umrah, tempat sholat lima waktu di Masjidil Haram, perjalanan ke Raudoh, pembelian tiket transportasi, dan penginapan.

Manasikana, dirancang sebagai pemberi bantuan dan arahan lokasi, layanan keluar dari area, pertukaran uang, dan menyajikan peta offline. Selain itu, juga sebagai layanan terjemahan dan teks ke suara dari bahasa lain ke bahasa Arab atau sebaliknya.

Ershad, aplikasi pembantu perwakilan badan resmi haji tahunan mengidentifikasi jeamaah haji internasional dan lokal yang berada di Arab Saudi. Aplikasi ini terkoneksi dengan e-bracelet (gelang elektronik) yang mampu memberikan informasi pribadi, penyediaan layanan haji, dan logistik kepada jemaah.

“Dengan aplikasi ini, maka tidak ada lagi cerita para Haji kesasar, kesulitan berkomunikasi, karena bisa di akses lewat smartphone,”jelas Anton.

Kepribadian Psikologis terhadap Pembimbing Manasik Haji

Kepribadian Psikologis terhadap Pembimbing Manasik Haji

Reporter Diva Raisa; Editor Taufik Akbar Harefa

Abdul Mujib tengah menyampaikan materinya  secara virtual (17/3).

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan V Tahun 2021 hari ke lima kembali dilaksanakan secara virtual via zoom meeting pada Rabu (17/3).

Membahas tentang Psikologi Kepribadian Haji dan Umrah yang disampaikan oleh Abdul Mujib selaku narasumber, dan dimoderatori Iif Fikriyati. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 90 peserta.

Dalam materinya, Abdul Mujib menjelaskan betapa pentingnya psikologi kepribadian bagi pembimbing manasik haji. Ia menyampaikan bahwa peran pembimbing manasik haji ini tentu sangat penting, dan kepribadian pembimbing sangat berpengaruh kepada para jamaah haji.

“Kita disana itu menjadi pelayan, pelayannya para tamu Allah, bukan kita dilayani,” ujar Abdul Mujib.

Profesionalisme juga sangat dibutuhkan disaat menjadi pembimbing, yaitu kualitas kerja, berkompeten dan komitmen pada tugas. Perlu dipahami juga, professional harus sesuai pada etos, etik, budaya dan nilai kerja. “Iman kita harus dilandasi dengan amal, ilmu, dan takwa,” Ujarnya.

Pola spiritual dalam pembimbingan haji juga harus dikuasai. Ia mengatakan pribadi sehat adalah mereka yang tahu ajaran agamanya sebagai sumber kehidupan spiritual dan mampu mengamalkannya dengan penuh keimanan dan ketakwaan.

Abdul Mujib juga menambahkan bahwa sebagai pembimbing jamaah haji, diperintahkan untuk menjadi pendamping haji, bukan mementingkan dirinya untuk haji.

Landasan Ibadah Haji dan Umrah Perspektif Al-Qur’an dan Hadist

Landasan Ibadah Haji dan Umrah Perspektif Al-Qur’an dan Hadist

Reporter Ani Nur Iqrimah Editor Aulia Gusma Hendra dan Elsa Azzahraita

Dirjen PHU Kemenag RI, Muchlis Hanafi sedang
menyampaikan materi (16/3).

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V Tahun 2021 hari ke 4 dilaksanakan secara daring, pada Selasa (16/3).

Kepala Lajnah Pentashihan Al-qur’an Kementrian Agama, Muchlis Hanafi menyampaikan materi mengenai landasan ibadah haji dan umrah perspektif Al-Quran dan hadits.

Muchlis menjelaskan Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 196 tentang hukum haji dan umrah.

“Kita harus menyempurnakan ibadah haji dan umrah karena Allah SWT, dengan cara memenuhi syarat, rukun maupun sunnah-sunnahnya dengan niat yang ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah SWT,”. ujarnya.

Muchlis juga menyampaikan delapan poin penting terkait pemaparan Al-Quran dan Hadits tentang ibadah Haji dan Umrah, pertama ialah secara umum bagaimana Al-Quran bertutur tentang haji dan umrah, kedua melihat jejak ajaran Nabi Ibrahim dalam syariat haji, ketiga bagaimana Nabi Ibrahim AS membangun ka’bah dan kota Mekkah, keempat sifat perintah berhaji dalam penggalan ayat “Walillahi `alannasi hijjul baiti manistata’a ilaihi sabila” (QS. Ali Imran: 97), kelima dimensi ketuhanan dan kemanusiaan dalam ibadah haji, keenam moderasi dalam berhaji, ketujuh prinsip kemudahan dalam berhaji, kemudian yang terakhir ialah menyikapi perubahan dan dinamika fatwa seputar perhajian.

Muchlis menambahkan bahwa pembimbing haji dan umrah tidak hanya mengarahkan jamaah untuk melakukan syarat dan rukunnya saja, namun pembimbing haji harus esa mengarahkan jamaah agar esa merasakan keagungan Allah SWT.

“Ibadah haji dan umrah itu sangat kental dengan dimensi ketuhanan dan kemanusiaannya, bukan hanya sebatas hubungan esa kepada Allah SWT saja, namun juga hubungan horizontal dengan esame manusia,” ujar Muchilis Hanafi.

Pembimbing haji dan umrah harus bisa mengarahkan jamaah agar tetap seimbang antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaaan, karena ibadah haji dan umrah mengingatkan terhadap kepedulian sosial dan rasa empati kepada yang lain. Hal ini karena salah satu indikator haji mabrur adalah memberi makan fakir miskin dan menyebarkan kedamaian.

Mengenal Haji dalam Lintas Sejarah

Mengenal Haji dalam Lintas Sejarah

Reporter Latifahtul Jannah; Editor Fauzah Thabibah

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis sedang mejelaskan materi via daring (15/3).

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V tahun 2021 dilaksanakan secara daring, pada Senin (15/3).

Jas Merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah, ucapan soekarno ini juga sejalan dengan tema pertemuan kali ini yaitu “Haji dalam Lintasan Sejarah” dengan narasumber Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis.

“Masa kolonial itu kan abad 16, tetapi islam sudah ada sejak abad 7, yakni di masa Rasulullah SAW. Itu adalah hikmah, Rasulullah menerima wahyu 3 tahun, sehingga beliau dapat memahamkan ajaran Islam, khususnya tauhid kepada seluruh masyarakat masa Rasulullah. Dan Bangsa Indonesia adalah bangsa pedagang, melaut untuk berdagang. Tidak dipungkiri ada delegasi-delegasi dari Nusantara telah bertemu dengan Rasulullah,” ucap Amany

Di dalam teori Mekah, Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang muslim Arab sekitar abad ke-7 Masehi.

Salah satu rukun Islam adalah ibadah haji. Namun haji pada zaman dahulu hanya dapat dilakukan oleh kalangan elit saja. Salah satunya Sultan Ageng Tirtayasa yang mengirim putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah. Setelah ke Mekah mereka langsung menuju Turki. Sebab perjalanan itulah Sultan Abdul Kahar bergelar Sultan Haji.

Berbeda dengan masa kerajaan, pada masa kolonial perjalanan haji sering dihambat, karena jamaah haji Indonesia yang pulang dari jazirah Arab  memimpin gerakan untuk menolak kebijakan dari Belanda.

Saat Jepang menjajah pun lebih parah, karena perang terus menerus membuat mereka tidak mampu memberangkatkan dan menunaikan ibadah haji dari tanah air Indonesia.

Regulasi haji setelah Indonesia merdeka sedikit membawa angin segar, menteri agama tahun 1946, HM. Rasyidi, mengarahkan penataan administrasi kehidupan umat beragama dan menganjurkan perlunya persatuan seluruh bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

Setelah pemerintah Indonesia mulai menata pengelolaan haji, pada tahun 1949 terjadi perlonjakan jamaah yang cukup banyak.

Pada masa awal kemerdekaan, pengelolaan haji dilakukan sepenuhnya oleh Penyelenggara Haji Indonesia (PHI) disetiap karesidenan.

Menteri Agama, Wahid Hasyim, dengan surat tanggal 1 Februari 1950 mengusulkan kepada Perdana Menteri RIS (Republik Indonesia Serikat) agar Panitia Perbaikan Haji Indonesia (PPHI) diakui dan disahkan sebagai satu-satunya badan yang sah di samping pemerintah.

Penetapan Menteri Agama No. 9 Tahun 1954 tanggal 13 April 1954 menyatakan bahwa tugas pemerintah c/q. Kementerian Agama khusus dalam bidang pemerintahan yang menyangkut soal haji, yaitu merealisasikan prosedur pendaftaran, menghubungi pemerintah Arab Saudi, menghubungi instansi pemerintah yang bersangkutan dengan penyelenggaraan Haji.

“Saya kira ini momen penting sekali, melalui penetapan Menteri agama tahun 1954, dibentuklah satu badan pemerintah republik Indonesia,  semua mengenai haji mulai dari prosedur pendaftaran, registrasi, dan berkomunikasi dengan kerajaan Saudi melalui harmonisasi berbagai peraturan di Arab Saudi,” ucap Amany.