Seniman Ikut Berperan Atasi Krisis Iklim

Seniman Ikut Berperan Atasi Krisis Iklim

Reporter Zakiah Umairoh; Editor Latifahtul Jannah

Webinar “Seni dan Krisis Iklim : Harapan dan Perlawanan”. (Zakiah Umairoh/DNKTV UIN Jakarta)

Krisis iklim yang belakangan ini merebak di sekitar kita menyebabkan dampak yang nyata, tidak hanya bagi manusia bahkan terhadap ekosistem makhluk hidup lainnya. Itu menandakan bumi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sekarang bukan hanya aktivis lingkungan yang melakukan pergerakan tetapi juga kalangan seniman dan ekosistem seni. Hubungan seni dengan eksistensi krisis iklim, dibahas pada webinar dengan tema “Seni dan Krisis Iklim: Harapan dan Perlawanan” pada Minggu, (29/05) secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.

Kemudahan dan kenikmatan yang seringkali kita rasakan di zaman ini, sebagian besar hasil dari kegiatan yang merusak lingkungan. Dapat dilihat dari listrik, teknologi, bahkan kendaraan yang kita gunakan sehari-hari memiliki dampak yang serius pada kehidupan masa depan kita. Selain itu, minimnya pemahaman masyarakat terkait kenikmatan yang dirasakan adalah hasil perkembangan zaman yang berdampak buruk pada lingkungan.

Butuh peran semua lapisan masyarakat untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang semakin tidak terkendali, tentunya juga dukungan penuh oleh para petinggi negara. Bahkan sekarang kemunculan para tokoh kesenian juga ikut andil dalam memberikan pengaruh dan dampak untuk misi penyelamatan bumi dari krisis iklim.

Salah satu narasumber sekaligus seniman, Alexandra Karyn mengatakan “Kita semua dapat saling berbagi dan merawat satu sama lain juga, menjaga satu sama lain dalam dunia yang sudah dilanda krisis ini.”

Isu krisis iklim bukan lagi menjadi suatu hal yang dapat kita sepelekan. Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk peduli pada bumi kita, tak terkecuali pada seniman. Salah satu yang dapat dilakukannya seperti menyisipkan pesan lingkungan di dalam karyanya.

Salah satu seniman, Nova Ruth mengatakan bahwa dalam aktivis iklim terdapat 3 hal yang perlu dipahami.

“Saya menemukan sebuah pemahaman bahwa di dalam climate activism, itu ada 3 hal, pertama adalah korban dari perubahan iklim, kedua dia yang membela, ketiga adalah pelaku-pelaku (orang-orang yang murka dan tidak punya hati) untuk berhenti dengan apa yang selalu mereka lakukan di dalam industri-industri fosil, ketiga hal itu harus selalu diingat dan dilakukan agar bisa menyadarkan diri kita untuk selalu berbuat baik setiap harinya,” ungkap Nova.

Nova menambahkan ia memiliki metode sendiri yang dikembangkan terkait krisis iklim melalui seni yakni dengan cara manggung di atas kapal Arka Kinari. Pertunjukan tersebut dilakukan dalam bentuk audio-visual teater dan lagu yang bertemakan krisis iklim.

“Melalui seni saya mengembangkan metode ‘manggung di atas kapal’ dalam bentuk audio-visual teater dan lagu yang bertemakan krisis iklim, saya dan tim berkomitmen untuk berada di dalam projek ini selama 7 -10 tahun dan sekarang baru berjalan 3 tahun namun diinterupsi oleh pandemi selama 2 tahun. Akhir-akhir ini metode untuk manggung di atas kapal dilakukan kembali, namun berjarak dengan penonton dan di ruang yang terbuka. Metode ini bertujuan untuk mengajak masyarakat mengatasi krisis iklim yang tidak dapat dilakukan sendirian,” sambung Nova.

•Elf 
가4E1
Ilustrasi tentang tiada lagi tempat manusia tinggal selain di bumi saat ini. (Freepik.com/@freepik)

Lantas, akankah peran seniman dapat benar-benar menyelamatkan dan mengatasi krisis iklim? Hal itu dapat dilihat dari bencana alam kebakaran hutan Rimbang Hilir, Riau, akibat dari suhu bumi yang semakin memanas. Pada akhirnya, para seniman bergerak untuk membuat sebuah pembaharuan melalui karya seni dalam merespons bencana alam karena perbuatan manusia. Tujuannya para seniman akan menyadarkan masyarakat melalui karya seni festival musik yang diadakan di tengah hutan Rimbang Hilir. Kegiatan tersebut merupakan sebuah bentuk kampanye untuk meminimalisasikan pembangunan pabrik di sekitaran hutan yang nantinya dapat menghasilkan polusi.

Salah satu penanggap dari Rumah Budaya Sikukeluang, Heri Budiman berpendapat “Peran seniman yang saat ini saya pikirkan adalah sebagai dakwah atau kampanye untuk menyampaikan pesan agar kita dapat berbuat baik pada lingkungan, seperti dengan menanam pohon, menebang hutan, dan lainnya. Diharapkan dimulai dari penggemar mereka agar lebih mengerti pentingnya menjaga lingkungan”.

Dengan adanya gerakan sosial dari para seniman, masyarakat diharapkan mampu memahami atas dasar kenikmatan, bukan paksaan. Dengan begitu, kesadaran yang tercipta secara keseluruhan, pada akhirnya dapat berpengaruh secara signifikan terhadap krisis iklim. Sebagian besar orang masih merasa belum cukup atau mampu untuk memberikan kontribusinya dalam mengatasi krisis iklim. Namun, kenyataannya hal itu dapat terjadi dari hal-hal kecil yang dilakukan secara bersamaan untuk saling mencapai tujuan yang sama dalam mengatasi isu lingkungan secara lebih cepat.

Persoalan yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawab bersama, seperti halnya seniman yang mengupayakan krisis iklim dengan melakukan kampanye melalui hal unik yaitu seni seperti musik, lukisan, lagu, dan lain sebagainya. Selanjutnya diharapkan masyarakat dan penguasa di negeri ini pun dapat ikut serta dalam mengurangi krisis iklim.

Pestarama Kenang Wisran Hadi Lewat Sastra dan Drama

Pestarama Kenang Wisran Hadi Lewat Sastra dan Drama

Reporter Hasna Nur Azizah; Editor Ahmad Haetami

Pameran dalam Pestarama ketujuh sambut pengunjung dengan karya-karya dari sastrawan Wisran Hadi. (DNK TV/Hasna Nur Azizah)

Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menyelenggarakan Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama) ketujuh di Aula Student Center UIN Jakarta pada Jumat (25/03).

Dengan membawa tema “Membumi Bersama Wisran Hadi”, pentas yang diadakan tiap tahun ini bertujuan untuk memenuhi mata kuliah Kajian Drama 2 bagi mahasiwa PBSI semester 6.

Di samping itu, acara ini juga bertujuan merevitalisasi kebudayaan Indonesia dan membangkitkan kesadaran masyarakat awam akan kebudayaan.

Acara yang membutuhkan persiapan selama kurang lebih tiga bulan ini diselenggarakan selama delapan hari, mulai dari 21 hingga 28 Maret 2022.

Selain dihadiri oleh mahasiswa UIN Jakarta, pementasan ini terbuka untuk umum dengan kuota 50 peserta. Untuk dapat menghadiri pentas drama ini, para pengunjung dapat membeli tiket seharga Rp25.000.

Dengan mengadaptasi karya-karya dari sastrawan asal Minangkabau untuk dipentaskan dalam drama, Pestarama membawakan karya dari Wisran Hadi secara beragam setiap harinya. Karya-karya tersebut, yakni Singa Podium, Makam Dipertuan, Nyonya-Nyonya, Penjual Bendera, Nilam Sari, Roh, dan Salon Song.

Mahasiswa PBSI sumbangkan lukisan Wisran Hadi dalam Pestarama ketujuh. (DNK TV/Hasna Nur Azizah)

Mahasiswi PBSI UIN Jakarta, Adelia mengatakan bahwa acara ini meninggalkan kesan yang menyenangkan baginya, sebab ia jadi mendapat pengetahuan tentang kebudayaan Minangkabau setelah menonton pentas drama ini.

“Kalau bagi saya sendiri, ini pengalaman pertama dan ternyata seru banget. Kita jadi tahu tentang adat Padang. Buat pengalaman pertama, sih, ini pengalaman yang menyenangkan banget,” katanya.

Selain itu, mahasiswa PBSI UIN Jakarata lainnya, Anisa Rahmayanti turut menanggapi terkait pementasan ini. Menurutnya, akting dari para pemeran sangat mendalami peran, sehingga meninggalkan kesan yang menarik bagi penontonnya.

“Kalau buat aku menonton teater bukan pengalaman pertama, tetapi keren banget para pemainnya. Misalnya yang berperan sebagai ayahnya Nilam. Lalu, semua aktris dan aktor sangat mendalami peran. Jadi kita yang tidak tahu tentang adat Padang jadi tahu,” tutupnya.

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Reporter Anggita Fitri Chairunisa

Pembacaan Surat Keputusan Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fdikom, Selasa (18/1).
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Lembaga Otonom (LO) Komunitas Edukasi dan Seni Tari Saman (Sketsa) dan Komunitas Kreasi dan Seni Musik (Kontras Musik) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan pelantikan pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik masa bakti 2022 secara hybrid, Selasa (18/1).

Dihadiri oleh Dekan Fdikom, Suparto, Wakil Dekan (Wadek) Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, pengurus LO SKETSA dan Kontras Musik, serta para tamu undangan.

Surat Keputusan dan Ikrar Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik dibacakan langsung oleh Wadek Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya.

Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, berharap anggota LO Sketsa dan Kontras Musik menjadi mahasiswa yang terus aktif, kreatif, dan produktif dalam menciptakan suatu karya seni.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Kontras Musik periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Kontras Musik periode 2021, Danu menyerahkan jabatannya kepada ketua terpilih periode 2022, Allendro Ghauti Najwati. Dalam sambutannya, Danu berpesan kepada pengurus LO Kontras Musik masa bakti 2022 untuk terus memberikan karya terbaik.

“Kepada pengurus baru 2022 saya ucapkan selamat, teruslah berkarya dan memberikan yang terbaik untuk fakultas. Menjadi pengurus pasti lelah, namun nikmati saja prosesnya karena nantinya banyak hal yang akan kalian dapatkan dan kalian rasakan manfaatnya,” ujarnya.

Sebagai ketua LO Kontras Musik periode 2022, Allendro mengaku senang dengan amanah yang diberikan dan ini juga menjadi kesempatan baginya untuk melatih jiwa kepemimpinannya.

“Karena ini merupakan pengalaman pertama saya dalam memimpin sebuah organisasi, pastinya dipercaya dan diberikan amanah sebagai ketua LO Kontras Musik ini menjadi sebuah tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar dalam memimpin sebuah organisasi yang baik,” tuturnya.

Allendro berharap agar ke depannya LO Kontras Musik dapat mempertahankan integritas, meningkatkan kreatifitas, dan memperkuat solidaritas.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Sketsa periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Sketsa periode 2021, Pitri Amalia mengatakan pandemi tidak menjadi penghalang untuk tetap berkarya dan mencetak prestasi yang membanggakan.

“Tahun 2021 kita terhalang oleh pandemi, semuanya menjadi serba online. Semoga di tahun 2022 menjadi titik terang bagi kita, bisa bertemu secara tatap muka. Banyak belajar dari pandemi, menjadi gebrakan baru untuk melakukan proker secara online. Semoga menjadi semangat yang lebih besar untuk meneruskan visi misi dan membawa nama baik fakultas dakwah,” ucapnya.

Sarah Nabila Muklis, Ketua LO Sketsa Periode 2022 sendiri berharap pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa yang sempat terhenti akibat pandemi.

“Saya berharap, saya dan seluruh pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa, karena sempat terhenti untuk kegiatan-kegiatan secara offline akibat pandemi,” ujarnya.

Nabila juga menyampaikan inovasi yang akan dilakukan oleh LO Sketsa di tahun 2022 demi memperbesar sinergi dan mengharumkan nama Fdikom melalui prestasi-prestasi yang diraih.

“Dengan memulai kegiatan-kegiatan baik secara offline maupun online, seperti latihan rutin, live class melalui media sosial seputar perempuan, kecantikan, public speaking, dan terjun untuk tampil dan mengikuti perlombaan-perlombaan baik dalam kampus maupun di luar kampus,” imbuh Nabila.

Jurnalistik Fair 2021: Jelajah Ranah Seni Indonesia

Jurnalistik Fair 2021: Jelajah Ranah Seni Indonesia

Reporter Prayoga Adya Putra; Editor Ahmad Haetami

Salah satu rangkaian acara Jurnalistik Fair yaitu talk show
Sumber: DNK TV- Wildan Ali Fikri

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Jurnalistik mengadakan acara tahunan Jurnalistik Fair (Jfair) secara hybrid, pada Minggu (31/10).

Acara yang menampilkan pameran foto, talk show, dan seni mulai dari teater hingga wayang dengan tema “Cultural Odyssey Throught Unexplored Realm of Journalism” ini merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, yaitu webinar dan berbagai perlombaan.

“Jurnalistik dan seni itu sama-sama memiliki suatu kebebasan dan kami turut ingin melestarikan kebudayaan Indonesia. Sebagai mahasiswa, kami memiliki tanggung jawab untuk selalu melestarikan kebudayaan Indonesia,” ujar Maghreza Rifsanjani selaku Ketua Pelaksana Jfair.

Kepala Program Studi Jurnalistik Kholis Ridho mengapresiasi kegiatan ini karena penting sebagai mahasiswa Jurnalistik untuk melengkapi portofolio dan terus mengembangkan diri.

“Saya sangat bangga dengan kegiatan ini karena kegiatan di tengah pandemi tentu saja tidak mudah, perlu kreativitas dan kerja keras. Tentu saja apresiasi yang sangat luar biasa buat yang berkontribusi untuk kegiatan ini. Jurnalistik Fair itu pada hakikatnya adalah bentuk kurikulum, latihan pengembangan diri di luar kampus yang menjadi pengembangan diri mahasiswa agar kemampuan jurnalismenya terasah di lapangan,” ucapnya.

Acara ini turut menampilkan bakat dari mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, seperti pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Selain itu turut menghadirkan sesi talk show dengan pembicara yang aktif dalam bidang seni kreatif digital, Aswin D. C.

Penampilan puisi.
Sumber: DNKTV- Wildan Ali Fikri

“Seni itu tidak bisa lepas dari senimannya, seniman itu menghasilkan karya tersebut, tidak peduli mereka bilang hasil seniman itu jelek, karena seni itu merupakan gambar dari perasaan bagaimana hati kita. Berbicara mengenai digitalitasi, kita tidak bisa pungkiri makin ke sini digital makin berkembang dengan pesat, kita harus bisa menyesuaikan atau beradaptasi dengan era digitalitasi yang sifatnya luas.”

“Seni yang berbentuk digital itu sudah banyak, khusus Indonesia seni digital sudah banyak yg menggunakan, kalau dibilang kurang menghargai segmentasi tertentu kita belom tau, justru malah yang kurang dihargai yang berbentuk fisik seperti pertunjukan wayang,” pungkasnya.

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta yang hadir dalam kegiatan ini, Daffa menuturkan, “Perpaduan jurnalistik dan seni menurut saya sangat cocok untuk acara ini. Karena salah satu bagian dari jurnalistik itu foto, lalu lebih menarik lagi ditambah seni budaya Indonesia.”

Acara Jfair ditutup oleh penampilan wayang dari Dalang Fakih Tri Sera Fil Ardhi.

Menampilkan Sejarah Seni, Museum ini Wajib Dikunjungi

Menampilkan Sejarah Seni, Museum ini Wajib Dikunjungi

Oleh Ani Nur Iqrimah; Editor Ahmad Haetami dan Taufik Akbar Harefa

12 Oktober yang diperingati sebagai Hari Museum Nasional, merupakan momentum yang tepat untuk kita kembali memberi perhatian lebih terhadap keberadaan museum di Indonesia. Museum tidak hanya tempat penyimpanan benda-benda dan koleksi foto peristiwa-peristiwa bersejarah, tapi bisa menjadi tempat wisata yang seru.

Tak kalah asyik dengan jalan-jalan menjelajah kota, mengunjungi museum dapat memberikan banyak manfaat, salah satunya menambah pengetahuan. Eits, buang jauh-jauh anggapan museum di Indonesia itu usang dan membosankan, Indonesia juga punya lho museum yang seru dan keren. Berikut 8 museum keren yang wajib dikunjungi.

1. Art: 1 New Museum

Sumber: Instagram-@art1newmuseum

Mungkin nama ini lumayan asing bagi warga Jakarta karena museum ini sempat berganti nama di tahun 2011. Art: 1 New Museum atau dahulu dikenal sebagai Mon Decor Museum merupakan sebuah museum yang memajang aneka ragam karya terbaik dari beberapa seniman hebat di seluruh Indonesia.

Salah satu karya seni temporer yang menarik untuk dikunjungi adalah karya seni milik seniman Jepang bernama Osamu Watanabe dengan tajuk Museum Cake. Di Art: 1  New Museum kamu juga bisa ikut ragam acara maupun kelas yang diadakan oleh pengelola Art: 1 New Museum.

2. Museum MACAN

Sumber: museummacan.org

Museum MACAM mungkin bagi yang belum tahu sama sekali, akan menganggap sebagai museum yang ada hewan macannya. Atau membayangkan seputar tentang permakanan, dari mulai macan yang diawetkan, replika macan, hingga macan- macan lainnya.

Bayangan tersebut ternyata sangat-sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Serius lho, di museum tersebut nggak ada satupun macannya, bahkan anak macan pun nggak ada.

Ternyata Museum Macan adalah kependekan kata dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara, yang disingkat MACAN. Meskipun Museum Macan adalah museum seni, namun konsepnya, penyajian hasil karya, dan spot-spot yang ada di dalamnya sangat keren.

3. Museum Multatuli

Sumber: Kelanaku.com

Tidak jauh dari ibu kota, kita bergeser ke Lebak Banten, tepatnya di Jl. Alun-Alun Timur No.8 Rangkasbitung. Kamu bisa mengunjungi Museum Multatuli, tempat yang bisa kamu jadikan sebagai pembelajaran mengenai Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, tokoh penting antikolonialisme yang menulis Max Havelaar (1860), mahakarya yang bercerita penindasan dan kekejaman kolonial Belanda dan bupati di Banten.

4. Museum Benteng Heritage

Sumber: Instagram-@bentengheritage

Masuk ke Pasar Lama Tangerang, selain kamu menjumpai aneka makanan lezat yang siap disantap, kamu juga akan menjumpai hidden gem yang sayang sekali untuk tidak kamu kunjungi. Bagaimana tidak, museum yang bernama Museum Benteng Heritage ini menyajikan interior desain yang indah dan autentik khas Tionghoa. Konon, bangunan ini dibangun pada pertengahan abad 17.

Museum ini berisi peninggalan-peninggalan peranakan Tionghoa Tangerang pada masa lampau. Kamu bisa menjumpai patung, guci, barang-barang yang sangat mencirikan Tionghoa Tangerang.

5. Museum Kesehatan Jiwa Lawang

Sumber: rsjlawang.com

Bangunan kuno Belanda yang identik dengan pintu serta jendela besar dan lebar langsung menyambut pengunjung yang singgah di Museum Kesehatan Jiwa di Jalan Ahmad Yani, Lawang. Manekin dengan baju suster dan dokter era kolonial menjadi pemandangan pertama di dekat pintu masuk. Kejutan yang membuat merinding pengunjung juga langsung disuguhkan dengan adanya balok kayu untuk memasung orang gila.

Museum Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, merupakan museum kesehatan jiwa pertama dan satu-satunya di Indonesia. Terletak di dekat Rumah sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Kecamatan Lawang atau lebih dikenal dengan RSJ Lawang, museum ini merupakan tempat menyimpan alat-alat kesehatan jiwa sejak jaman Belanda.

6. Tumurun Private Museum

Sumber: Instagram @tumurunmuseum

Berkunjung ke Solo, ada sebuah museum seni yang sedikit berbeda dengan museum-museum lainnya. Namanya Tumurun Private Museum. Tumurun Private Museum atau Museum Tumurun adalah sebuah museum milik pribadi yang berada di Jalan Kebangkitan Nasional No. 8, Solo.

Museum Tumurun merupakan museum yang dikelola oleh keluarga Lukminto. Masuk ke museum ini, akses wisatawan dibatasi di lantai 1 saja. Sementara, lantai 2 di Museum Tumurun diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja dan berisi karya-karya seni yang sudah berusia cukup tua.  Karya-karya di Museum Tumurun sendiri memang bisa dibilang unik.

7. Museum Nasional Jogja atau Artjog

Sumber: Instagram-@monyoku

Museum Nasional Jogja adalah sebuah museum seni yang memamerkan seni kontemporer dari berbagai seniman-seniman lokal yang berada di bawah Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara.

Seperti yang kita sudah tau, Jogja memang menyimpan berbagai ragam budaya Jawa dengan nuansa yang kental di setiap sudutnya. Dengan mengunjungi Museum Nasional Jogja, kamu bisa belajar tentang seni kontemporer langsung di sana. Banyak sekali karya terkenal yang bisa kamu lihat di sana, beberapa di antaranya adalah karya dari Ugo Untoro, S. Teddy D, Agus Suwage, dan seniman lain.

8. Museum Kata

Sumber:Instagram-@museumkataandreahirata

Di Museum Kata Andrea Hirata yang berlokasi di Belitung ini kamu akan diajak untuk mengintip sekaligus belajar banyak hal tentang sastra ala museum yang unik ini. Berdirinya Museum Kata Andrea Hirata Belitung ini merupakan suatu bentuk rasa terima kasih Andrea Hirata kepada Belitung, kampung halamannya.

Museum Kata Andrea Hirata Belitung ini merupakan satu-satunya museum sastra yang ada di Indonesia. Ada banyak sesuatu yang menarik di dalam museum ini. Mulai dari luar hingga dalam museum terdapat sesuatu yang memiliki makna mendalam. Museum ini sangat cocok buat kamu yang suka quotes dan kata-kata indah.