Buruknya Dampak Lingkungan, Industri Rokok Dimintai Pertanggungjawaban

Buruknya Dampak Lingkungan, Industri Rokok Dimintai Pertanggung Jawaban

Reporter Belva Carolina

Lentera Anak, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Ecoton Indonesia dan World Clean-up Day Indonesia menyelenggarakan webinar bertema “Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau: Antara Solusi Palsu dan Tanggung Jawab yang Seharusnya” melalui Zoom Cloud Meeting, pada Jum’at (27/05) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2022.

Dalam hal ini industri tembakau diimbau bertanggung jawab atas segala dampak yang ditimbulkan dan menghentikan segala bentuk manipulasi seolah-olah peduli terhadap lingkungan (kegiatan greenwashing) atas limbah produknya yang termasuk sampah B3 (bahan berbahaya beracun) hingga menimbulkan dampak lingkungan dan merusak ekosistem.

Ilustrasi pencemaran puntung rokok. (www.mongabay.co.id)

National Profesional Officer for Policy and Legislation, Dina Kania menyatakan bahwa semua proses pembuatan rokok konvensional berkontribusi terhadap perubahan iklim dan mengurangi ketahanan iklim dan berkontribusi sebesar 5% terhadap kerusakan hutan global dan tidak memungkinkan peremajaan tanah atau perbaikan komponen ekosistem pertanian lainnya baik dari pembudidayaan, produksi, distribusi, dan limbah produk tembakau.

Tak hanya itu, akibat harga rokok yang murah dan dijual batangan, strategi distribusi dan pemasaran industri rokok yang massif dengan menyasar anak dan remaja, dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya rokok, dalam 30 tahun terakhir konsumsi tembakau di Indonesia meningkat pesat.

“Setiap produsen wajib bertanggungjawab terhadap sampah kemasan, produk, dan kemasan produknya, atau biasa kita kenal dengan istilah Extended Producer Responsibility (EPR). Alih-alih membuat sistem yang tepat untuk mengelola produk mereka, yakni sampah rokok konvensional dan rokok elektrik beserta kemasannya, industri tembakau malah berinvestasi melakukan greenwashing untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerugian lingkungan yang mereka timbulkan,” kata Rahyang Nusantara, Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP).

Penghijauan yang dilakukan tidak sepadan dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Justru yang digencarkan adalah produk daur ulang dari olahan sampah puntung rokok. Namun, masih dipertanyakan keamanannya.

“Usaha penghijauan yang mereka lakukan tidak sepadan dengan kerusakan lingkungan yang mereka timbulkan. Yang sedang mereka gencarkan adalah mengolah sampah puntung rokok menjadi produk daur ulang lain yang masih dipertanyakan keamanannya, baik dari segi proses maupun produk jadinya. Ini seharusnya disiapkan dulu baku mutunya sehingga dapat memitigasi dari potensi racun yang dapat tersebar ke lingkungan,” tambah Rahyang.

Fakta menunjukkan Indonesia menjadi negara nomor dua penyumbang sampah di laut setelah China dengan 187,2 juta ton sampah di laut Indonesia. Ditambah dengan 4,5 triliun puntung rokok dibuang setiap tahun di seluruh dunia, yang menyumbangkan 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, serta dua juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok.

Ilustrasi manusia mengonsumsi rokok. (Adobestock)

Peneliti Ecoton, Eka Chlara Budiarti menerangkan bahwa banyaknya temuan pencemaran limbah puntung rokok baik di daratan maupun lingkungan perairan tidak dapat di daur ulang bahkan butuh 30 tahun terurai di alam. Terdapat sekitar 5.6 triliun puntung rokok atau setara dengan 845 ribu ton puntung rokok di seluruh dunia yang dibuang per tahunnya. Peneliti dari Spanyol pada tahun 2021 melaporkan, setidaknya dalam satu puntung rokok memiliki 15,6 ribu helai fiber.

“Temuan di pesisir mediterania menemukan ada setidaknya 2 juta punting rokok, dan ini lebih banyak daripada sampah jenis lainnya, seperti kantong plastik, tutup botol maupun sachet,” lanjutnya.

Ketua Dewan Pembina Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri Bebassari menegaskan bahwa tanggung jawab produsen industri rokok sesungguhnya sudah diatur dalam UU No.18 Tahun 2008 yang mewajibkan produsen mempunyai kendali dalam limbah hasil produksinya.

“Industri rokok harus memastikan bahwa produk yang mereka pasarkan sudah memperhitungkan dampak lingkungan, yakni bagaimana setelah produk dikonsumsi industri rokok harus mempertanggungjawabkannya dari segi EPR kemana sampahnya harus dibuang, atau bagaimana sampah itu harus diperlakukan, dan bukan sebagai CSR” tegas Sri.

Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari menyatakan bahwa dalam UU  Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan, penggunaan rokok harus dilakukan pengamanan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan serta lingkungan. UU Cukai juga mengatur karena berdampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup.

“Mengingat dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan industri rokok, kami meminta Pemerintah membuat kebijakan yang kuat dan tegas untuk menangani dampak lingkungan yang disebabkan industri tembakau dan mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau sebagai bentuk kepedulian lingkungan dan Kesehatan,” pungkasnya.

Manipulasi dan Kebohongan Dibalik Rokok Elektronik

Manipulasi dan Kebohongan Dibalik Rokok Elektronik

Reporter Indi Azizi; Editor Ahmad Haetami

Sesi “Manipulasi dan Kebohongan Dibalik Rokok Elektronik”.  (YouTube/KPM TV)

Dalam rangka memperingati hari tembakau sedunia tahun 2022. Indonesia Youth Council For Tobacco Control (IYCTC) mengadakan kegiatan Indonesia Youth Summit on Tobacco Control (IYSTC) 2022. Kegiatan yang diadakan melalui Zoom Cloud Meeting ini dihadiri oleh 500 lebih kaum muda seluruh Indonesia dan aktivis lingkungan.

IYSTC menghimpun suara kaum muda dan menyuarakan kemajuan pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia. Dalam acara tersebut, terdapat beberapa topik yang dibahas salah satunya yaitu ”Manipulasi dan Kebohongan Dibalik Rokok Elektronik”

Indonesia belum sepenuhnya bebas dari ancaman rokok, kalangan muda masih menjadi target industri dan dijadikan perokok pengganti yang dilakukan secara manipulatif.

Narasumber dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Muhammad Bigwanto menjelaskan bahwa jika dilihat di pasaran, variasi rasa pada rokok elektronik memang sangat banyak dan jika dibandingkan dengan rokok konvensional memang terkesan mirip.

”Ini menjadi masalah yang sangat serius karena mayoritas mengandung zat berbahaya yang menyebabkan kecanduan pada anak-anak,” jelas Bigwanto.

Saat ini perusahaan rokok konvensional juga ikut terlibat dalam perusahaan rokok elektronik dan memiliki merk-merk sendiri yang dijual di pasaran, citra yang disuguhkan pada rokok elektronik seolah merupakan produk yang aman karena bukan dihasilkan dari industri rokok konvensional.

Pemaparan materi oleh Muhammad Bigwanto. (YouTube/KPM TV)

Selain itu, Bigwanto juga mengatakan, hal yang lebih mengkhawatirkan lagi di kalangan anak muda saat ini banyak dari mereka selain mendapatakan dari seseorang, juga ada dari online shop yang ikut berkontribusi untuk mendapatkan produk tembakau ini.

Manipulasi rokok tidak akan berubah dari masa ke masa, ditambah adanya teknologi baru media digital yang berhasil memaksimalkan jangkauannya. Maraknya penggunaan rokok elektronik saat ini juga diperparah dengan tidak adanya regulasi yang sebenarnya saat ini sangat dibutuhkan. Adanya regulasi supaya dapat membatasi beredarnya rokok elektronik yang saat ini semakin marak digunakan.

Bigwanto mengatakan, jumlah anak muda yang menggunakan rokok elektronik terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2016 ada sekitar 1.2% pengguna rokok elektronik berusia 10-18 tahun. Dan jumlah ini terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 10.2%. Hal ini menunjukkan bahwa produk ini benar-benar harus diregulasi dan bersama-sama mencegah salah informasi yang menyebar di masyarakat.

AksiKebaikan Perjuangkan Kawasan Tanpa Rokok di UIN Jakarta

AksiKebaikan Perjuangkan Kawasan Tanpa Rokok di UIN Jakarta

Reporter Chandra Hermawan; Editor Dani Zahra Anjaswari

Idayogyiiah JE 
Matikan rokokmu 
bersihkan kampus 
dari puntung rokok 
Hentikan sebatmu 
mari tobat 
bersamaku 
Wujudkan 
UIN Jakarta 1000/0 
Kawasan Tanpa Rokok 
Matikan 
rokokmu, mari 
wujudkan World 
Class University 
bersamaku 
Hentikan sebatmu, 
mari hebat 
bersamaku 
Kampus tanpa rokok 
adalah impian 
mahasiswa
Aksi kebaikan UIN Jakarta bersama peserta. (DNK TV/Zharfan Zahir)

Komunitas aksi kebaikan UIN Jakarta menggelar aksi bersama dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menegakkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang bertempat di Lobi Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta pada Rabu (18/5).

Aksi ini sudah digelar sejak tahun 2018, selanjutnya pada tahun 2019 digelar 2 kali, dan kembali digelar pada tahun 2022 setelah pandemi Covid-19 mereda. Aksi ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa dan organisasi di UIN Jakarta.

Ketua aksi kebaikan UIN Jakarta, Arya Saputra Ramadani mengatakan hal ini sesuai dengan Undang-Undang (UU) No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang terdapat pada pasal 115 untuk menjadikan kampus sebagai KTR.

“Mengingat UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 115 mengatakan bahwa KTR itu salah satunya tempat belajar mengajar yaitu perguruan tinggi juga termasuk di dalamnya.”

Ia berharap agar aturan bukan hanya sebagai regulasi tetapi aturan harus ditegakkan. Selain itu, masalah rokok harusnya menjadi hal yang fatal dan mahasiswa yang melanggar seharusnya diberi sanksi berat.

“Jika mahasiswa merokok di kawasan kampus, seharusnya mendapat sanksi berat sebab kampus merupakan KTR,” ujarnya.

Regulasi terkait larangan merokok di UIN Jakarta sebenarnya sudah diatur dalam kode etik mahasiswa maupun kode etik dosen tahun 2019. Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis juga sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor B/990/R/HK.00.7/08/2019 tentang Larangan Merokok di UIN Jakarta namun implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.

Dalam Term Of Reference (TOR) acara ditulis bahwa ada tiga tujuan dari kegiatan yang dilakukan yaitu :

  1. Meningkatkan pemahaman peserta tentang dampak negatif rokok bagi lingkungan, terutama lingkungan akademik di universitas.
  2. Meningkatkan kesadaran peserta tentang dampak negatif rokok bagi kesehatan holistik seorang mahasiswa.
  3. Memberikan pemahaman langkah praktis mengambil bagian dan bersuara demi kenyamanan bersama dalam menempuh pendidikan di lingkungan yang sehat dan terbebas dari rokok.
Pencarian puntung rokok di sekitar UIN Jakarta. (DNK TV/Zharfan Zahir)

Dalam menyampaikan advokasi, salah satu strategi yang dilakukan oleh komunitas aksi kebaikan ini adalah menyampaikan keluh kesah seperti KTR. Komunitas ini juga memberikan solusi salah satu solusi yang diberikan yaitu merekomendasi kepada rektorat untuk memperkuat kode etik mahasiswa.

“Selain sebagai perbaikan aksi regulasi, kami aksi kebaikan juga menawarkan untuk menjadi satgas KTR dengan tujuan dapat bersinergi bersama rektorat untuk mewujudkan KTR di UIN Jakarta,” tutur Arya.

Peserta aksi, Afifah Meliulia menuturkan harapan dari aksi ini yaitu dapat memberikan perubahan bagi mahasiswa yang merokok.

“Semoga dengan adanya aksi ini kita semua juga bisa membangun kesadaran seluruh ahasiswa dan memiliki kemauan agar sadar bahwa kampus itu bukan kawasan yang diperbolehkan untuk merokok,” kata Afifah.

Setelah kegiatan aksi ini dilaksanakan, aksi kebaikan UIN Jakarta berencana akan menyelenggarakan webinar sebagai sosialisasi mereka dengan target seluruh mahasiswa UIN Jakarta. Selain itu juga, mereka akan menghadap kepada rektorat dan jajaran wakil rektor untuk bertemu langsung dengan tujuan mengadvokasi urgensi KTR di UIN Jakarta.

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Reporter Arsyad; Editor Dani Zahra Anjaswari

Arsyad 2021 
M aya 
Aeshnina Azzahra Aqilani 
% Nabila Tauhida. 
anätasia_Wähyudi 
ula fitria 
abila Nadya 
Sarah Rauzana - GIDKP 
Jordan Vegard Ahar_Forum Aoak Kota Ambon
Konferensi pers online Indonesian Youth Council for Tobacco Control. (DNK TV/Arsyad)

Indonesian Youth Council for Tobacco Control (IYCTC) adalah koalisi kaum muda dari 43 organisasi di 20 kota atau kabupaten dalam upaya menyuarakan pengendalian zat adiktif produk tembakau di Indonesia dengan inklusif dan bermakna. Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2022 dan menghimpun suara kaum muda.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sebagai upaya strategis menyuarakan aspirasi kaum muda yang ditargetkan industri rokok untuk mendapatkan replacement smoker dalam keberlangsungan bisnisnya. Konferensi pers ini merupakan rangkaian acara awal untuk memberikan informasi dan mempromosikan kegiatan IYSTC 2022 yang akan dilaksanakan pada tanggal 21-22 Mei 2022 mendatang.

Dalam acara puncak ini juga akan menyuarakan agar pemerintah membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif. Mereka berharap bisa mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

host 
host 
Aeshnina Azzah... 
Aeshnina Azzahra Aqi.. 
Arsyad 2021 
SlJediatJ 
Start V ideo 
Sarah Rauzana 
• • 26 
Partic i pants 
Salsabila Nadya 
Share Screen 
Jordan Vegard Ahar_ 
Reactions 
Whiteboards
Pemaparan materi oleh Sekretasis Jendral IYTCT. (DNK TV/Arsyad)

Sekretasis Jendral IYCTC, Rama Tantra mengungkapkan bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok sehingga adanya edukasi dan pemahaman terkait permasalahan tembakau atau produk zat aditif tembakau.

“Acara IYSTC akan dihadiri 500 anak muda dari seluruh Indonesia dan 70 organisasi atau komunitas yang mau menyepakati suara bersama bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok dan mereka industri rokok tidak peduli sama sekali dengan masalah kesehatan dan masalah lingkungan yang ditimbulkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa output dari acara ini untuk melakukan advokasi guna mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif yang dapat meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Output acara dari ini adalah melakukan advokasi untuk mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif bahwa anak muda dan masyarakat butuh hak kesehatan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan,” kata Rama.

Rokok konvensional sendiri mempunyai partikel-partikel yang terbuat dari plastik seperti pada bungkus rokok maupun pada puntungnya yang dapat berubah menjadi mikro plastik dan bisa mencemari udara sehingga sangat berbahaya ketika kita menghirup udara.

Selanjutnya, rokok elektronik walaupun tidak mengandung partikel plastik tetapi baterainya sangat berbahaya sebab baterai tersebut terbuat dari zat kimia yang sulit untuk diurai sehingga dapat mencemari lingkungan. Liquid pada rokok elektronik juga dapat mempengaruhi kualitas udara, air, dan tanah.

Dengan demikian, pemerintah diharapkan untuk membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif agar mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau

Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau

Reporter Qo’is Ali Humam; Editor Latifahtul Jannah

Flayer Media Briefing : Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau. (Dok. Istimewa)

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Dimulai dari tahun 1987, ketika dunia mulai menyadari bahaya rokok terhadap kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menginisasi Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dunia sebab adanya ancaman bahaya penggunaan tembakau yang memicu penyakit dan kematian. Bahkan di Indonesia sendiri merokok menjadi penyebab angka kematian terbesar kedua setelah hipertensi.

Di tahun 2022 ini, WHO menetapkan tema HTTS adalah “Tobacco : Threat to our environtment“. Tema ini sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia, dimana adiksi masyarakat terhadap penggunaan rokok dan peran industri tembakau telah menimbulkan dampak pada lingkungan dan dapat merusak ekosistem dalam semua prosesnya, mulai dari pembudidayaan, produksi, distribusi, bahkan limbah produk tembakau atau rokok tersebut sangat berpengaruh pada kerusakan lingkungan.

Dalam rangka menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Anak Foundation bersama Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Organisasi Konservasi Lingkungan Ecoton Indonesia, dan World Cleanup Day Indonesia berkolaborasi dalam mengadakan Media Briefieng dengan tema “Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau” pada Kamis (12/5) bertempat di Bakoel Koffie, Cikini Raya, Jakarta Pusat. Dengan mengundang puluhan media massa dalam acaranya, mereka berharap media ikut andil dalam mengangkat isu pencemaran lingkungan yang salah satunya disebabkan oleh industri tembakau.

Dihadiri para narasumber perwakilan dari beberapa organisasi konservasi lingkungan. (DNK TV/Rizky Faturrahman)

Kolaborasi ini tentunya bertujuan untuk sama-sama memberikan pemahaman mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat industri tembakau, mulai dari proses produksi hingga menjadi sisa konsumsi atau sampah produk. Serta pemahaman tentang siasat industri tembakau yang menghindari tanggung jawab penyelamatan lingkungan yang disebabkan produk industri rokok, melalui program Greenwashing yang dianggap hanya bersifat pencintraan.

Para narasumber yang hadir dalam Media Briefing ini menyampaikan data yang ditunjukkan oleh STOP (exposetobacco.org) yang merupakan kelompok kemitraan yang fokus dalam penelitian pengendalian tembakau di University of Bath Inggris mengungkap bahwa prouduksi rokok mengakibatkan 5% penggundulan hutan global, 30% penggundulan hutan di negara penanam tembakau, dan keruskan 200.000 hektar biomassa kayu setiap tahunnya. Konsumsi rokok juga mengakibatkan 4,5 trilliun puntung rokok dibuang setiap tahun di seluruh dunia, menyumbang 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, 2 juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok, dan 19-38% sampah yang dikumpulkan dari pembersihan laut secara global berasal dari puntung rokok.

Temuan banyaknya sampah produk tembakau atau rokok di lingkungan bebas menunjukkan abainya tanggung jawab industri tembakau akan sampah hasil produksi mereka, padahal sebagai produsen seharusnya industri tembakau bertanggungjawab mengelola sampah produk mereka. Namun, dengan dalih membuat sistem untuk mengelola sampah produknya, industri tembakau malah berinvestasi dengan melakukan greenwashing untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerugian lingkungan yang mereka timbulkan.

Bahkan dalam hal ini Koordinator Nasional GIDKP, Rahyang Nusantara menyampaikan bahwa pencemaran lingkungan ini tidak hanya berasal dari rokok tembakau biasa melainkan juga berasal dari limbah rokok elektrik, karena selain berbentuk sampah pelastik yang sangat sulit terurai rokok elektrik ini juga termasuk dalam sampah elektronik dan dikategorikan ke dalam sampah B3 (bahan, berbahaya, dan beracun).

Peneliti senior Ecoton Indonesia Eka Chlara Budiarti, juga menyatakan hal yang sama bahwa limbah puntung rokok ini tak dapat disepelekan karena di dalamnya mengandung mikroplastik dan berbagai macam zat kimia.

“Nyatanya pada tahun 2021 ada beberapa penilitian bahwa limbah dari puntung juga berpengaruh dan berdampak pada kesehatan tubuh kita, melalui degradasi limbah puntung rokok itu sendiri. Selain dari limbah kemasan berupa pelastik yang dinyatakan hanya dapat terurai sekitar 30 tahun di alam, di penghujung 2021 terdapat penilitan bahwa setidaknya dalam satu limbah puntung roko ini memiliki 15.600 helai fiber sintetis dan kandungan satu puntung rokok ini bahkan dapat mencemari 1000 liter air dan pastinya mengganggu lingkungan makhluk hidup yang ada di dalamnya” ujarnya.

Atas dasar itu semua, Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari yang juga sebagai penyelenggara sangat berharap masyarakat dapat memahami dan ikut peduli terhadap isu pencemaran lingkungan ini.

“Ya saya berharap dengan adanya Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi event dan kesempatan untuk kita meluaskan edukasi dan kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi, media, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat, untuk terus mengajak masyarakat lainnya agar mulai peduli terhadap kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan solusi yang tepat ialah kita harus sadar dan memulai, walaupun tidak dapat berhenti sepenuhnya, setidaknya mengurangi, jika tidak dapat teratasi seutuhnya, setidaknya tetap berusaha sedikit demi sedikit.