Pasca Pengepungan Desa Wadas: Warga Dihantui Trauma

Pasca Pengepungan Desa Wadas: Warga Dihantui Trauma

Reporter  Belva Carolina; Editor Tiara De Silvanita


Konferensi Pers secara virtual oleh Gempadewa bertajuk “Siaran Pers dan Kronologi Terkini Pengepumgan di Desa Wadas” pada Kamis (10/02).
Sumber: instagram-@wadas_melawan

Kejadian penangkapan warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah oleh Aparat Kepolisian terjadi sejak Senin (7/2) sebagai persiapan pengamanan proses pengukuran daerah tambang batu andesit. Terlihat dengan jelas adanya penekanan dan intimidasi sesuai dengan pernyataan warga yang  tidak disebutkan identitasnya.

Pasca penangkapan tersebut Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) mengadakan siaran pers dan kronologi terkini secara daring pada Kamis, (10/02).

Kejadian Penangkapan Warga oleh Aparat Kepolisian Senin (07/02).
Sumber: instagram-@wadas_melawan

Perwakilan Gempadewa Heronimus Heron mengungkapkan rasa trauma menghantui warga, dari anak-anak, perempuan, hingga lansia, dikarenakan sanak keluarga diangkut paksa tanpa alasan. Sehingga aktivitas keseharian warga terhambat, terutama aktivitas perekonomian. Kegiatan bertani, beternak, sampai bersekolah dihentikan akibat kekhawatiran yang mengancam warga terhadap penangkapan oleh aparat.

“Sampai hari ini keadaan masih sama. Aparat dari Brimob hingga Kepolisian semakin banyak yang berjaga. Ada warga yang keluar dari Desa (Wadas) , adapula yang naik ke hutan, tidak berani turun karena takut diajak melakukan pengukuran lahan secara paksa,” jelasnya saat siaran pers daring , Kamis (10/02).

Pihak Solidaritas Perempuan Kinasih dalam Konferensi Pers menyatakan bahwa sebagian besar wilayah dijaga berlapis oleh ratusan aparat sehingga beberapa wilayah tidak dapat diakses. Pemadaman listrik dan penurunan sinyal internet pun mengintai di desa tersebut.

“Kekerasan dalam penangkapan tidak kenal pandang, dari anak-anak sampai lansia mengalami kekerasan, pukulan, dan bentakan. Terdapat Ibu-ibu yang suaminya ditangkap berkumpul dalam satu rumah akibat ketakutan, makan pun seadanya,”

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja, Yogi Zul Fadhli mengungkapkan bahwa pendampingannya secara hukum tidak mendapatkan respon oleh Aparat Kepolisian. Dirinya mempertanyakan alasan penangkapan paksa dan tindakan kekerasan terhadap warga, bahkan Aparat Kepolisian merazia telepon seluler milik warga tanpa alasan. Namun pihak Kepolisian tidak mampu memberikan keterangan yang jelas.

“Status pemeriksaan ketiga warga yang semula penyelidikan dinaikkan menjadi penyidikan oleh Polres Purworejo atas dugaan peristiwa pidana Pasal 28 UU ITE dan Pasal 14 UU 1 Tahun 1946 akibat ujaran kebencian, SARA, dan kebohongan,” tegasnya.

Pihak Walhi Jogja menyatakan bahwa negara tidak memberikan keamanan bagi warga, melainkan diminta secara paksa melakukan penandatanganan oleh aparat. Oleh karena itu warga akan bersatu berjuang bersama.

Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Trisno Raharjo mengatakan pihak kepolisian sangat berlebihan dalam mengerahkan aparat mereka. Dalam peristiwa itu, Trisno berujar, bahkan ada polisi yang berpakaian preman ikut terlibat dalam pengamanan mengukur lahan untuk Bendungan Bener. Menurutnya jika menggunakan pendekatan resmi, maka sebaiknya menggunakan pakaian resmi.

“Tugas aparat hanya melakukan pengukuran saja, sedangkan pengamanan diserahkan ke satuan yang bertugas di Desa Wadas. Menurutnya, jika diselesaikan formal menggunakan ranah hukum yang benar tidak justru menggunakan cara kekerasan,” ungkap Trisno.

Konferensi Pers kemudian ditutup dengan pembacaan tiga poin tuntutan kepada Gubernur dan Kapolda Jawa tengah yaitu:

  1. Menghentikan pengukuran tanah dan rencana pertambangan di Desa Wadas,
  2. Menarik aparat kepolisian dan menghentikan kriminalisasi serta intimidasi terhadap warga Desa Wadas,
  3. Bebaskan warga yang ditangkap.

KMPLHK Ranita Kaji Cepat Erupsi Gunung Semeru

KMPLHK Ranita Kaji Cepat Erupsi Gunung Semeru

Reporter Syafitri Rahmanda; Editor Tiara De Silvanita

Persiapan Relawan Ranita bersama Tim Respon Erupsi Gunung Semeru
Sumber: Dok. KMPLHK Ranita

Gunung Semeru mengalami erupsi pada Sabtu, 4 Desember 2021 sekitar pukul 14.50. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat,  warga luka-luka sebanyak 56 jiwa, hilang 17 jiwa dan meninggal dunia 34 jiwa, sedangkan jumlah populasi terdampak sebanyak 5.205 jiwa. Untuk korban mengungsi sendiri meningkat menjadi 3.697 jiwa.

Erupsi juga mengakibatkan 2.970 unit rumah terdampak serta bangunan lainnya berupa fasilitas pendidikan 38 unit dan Jembatan Gladak Perak putus.

Sebagai bentuk respon terhadap bencana tersebut, Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batuttah (KMPLHK Ranita) UIN Jakarta mendelegasikan dua orang tim relawan tanggap darurat, yaitu Yogi Handika  dan Fitri Diani pada Senin, (6/12).

Respon Bencana Erupsi Gunung Semeru KMPLHK Ranita
Sumber: Dok. KMPLHK Ranita

Berdasarkan hasil asesmen relawan Ranita, informasi yang didapatkan yaitu wilayah terdampak pada dua Kecamatan yakni Kecamatan Candipuro dan Kecamatan Pronojiwo tepatnya di Desa Juogasari, Desa Sumberwuluh, Desa Penanggal, Desa Sumbermujur, Desa Kloposawit, Desa Sumberejo, Desa Tambahrejo dan Di Kecamatan Pronojiwo yakni Desa Pronojiwo, Desa Supiturang, Desa Oro-Oro Ombo dan Desa Sumber Urip.

Pengungsi yang tercatat pada masing-masing kecamatan yaitu Kecamatan Candi Puro sebanyak 46.360 jiwa, Kecamatan Pronojiwo sebanyak 29.376 jiwa dan luka ringan sebanyak 5 jiwa, luka berat sebanyak 32 jiwa, serta pasien yang dirujuk ke Puskesmas Penanggal sebanyak 25 jiwa dan pasien yang dirujuk ke RSDH, RSB, RSB sebanyak 12 jiwa.

Berdasarkan informasi yang didapat dari relawan kebutuhan mendesak saat ini berupa obat-obatan, alat kesehatan, dan terpal untuk posko.

Ketua Posko Respon Bencana Erupsi Semeru, Nur Azizah Dwi Ningrum mengatakan setelah upaya menurunkan relawan ke lokasi bencana untuk mengevakuasi korban, KMPLHK Ranita juga akan membantu pemulihan di lokasi bencana.

“Setelah masa tanggap darurat selesai (pasca bencana), kemungkinan kami (KMPLHK Ranita) juga akan membantu pemulihan di lokasi bencana seperti melakukan kegiatan psikososial, memberikan bantuan logistik, dan lain-lain,” paparnya kepada DNK TV, Rabu (8/12).

Azizah menambahkan KMPLHK Ranita membuka donasi bagi siapapun yang ingin membantu masyarakat terdampak dan pemulihan di lokasi bencana. Donasi dapat disalurkan melalui informasi yang tertera pada akun instagram @ranita_uin.