Jurnal Studia Islamika UIN Jakarta Lima Besar Terbaik Asia

Jurnal Studia Islamika UIN Jakarta Lima Besar Terbaik Asia

Reporter Raeihan Ramadhan; Editor Ahmad Haetami

Postingan PPIM UIN Jakarta. (Instagram/@ppim_uinjakarta)

Jurnal Studia Islamika terbitan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta berhasil meraih peringkat Quartile (Q1) lima terbaik jurnal ilmiah terbaik kategori studi-studi keagamaan (religious studies) untuk kawasan Asia versi pemeringkatan Scimago Journal and Country Rank.

Scimago Journal dan Country Rank adalah portal penyedia informasi peringkat jurnal-jurnal ilmiah internasional juga negara-negara asal.

Peringkat Q1 yang diraih Studia Islamika ini berdasarkan sejumlah komponen yang diperoleh selama 2021-2022, di antaranya skor 10 pada komponen h-index dan 0,193 pada perhitungan indeks keterkutipan. Kedua nilai ini meningkat dibanding periode sebelumnya dengan skor 9 dan 0,149.

“Buat kami di Studia Islamika, pemeringkatan ini semata-mata hal administratif. Penting tapi bukan satu-satunya ukuran keunggulan sebuah jurnal. Studia Islamika jadi salah-satu jurnal terbaik berarti bahwa manajemen jurnal ini sangat baik dengan tingkat keterbacaan (readership) dan pengaruh yang juga sangat baik,” ujar Direktur PPIM UIN Jakarta, Ismatu Ropi, saat diwawancarai tim DNK TV melalui WhatsApp.

Artikel di jurnal Studia Islamika. (https://journal.uinjkt.ac.id/)

Menurut Ismatu Ropi, tujuan terpenting adalah bagaimana kualitas isi dan artikel yang ada di dalam jurnal menjadi rujukan utama dalam studi Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Studia Islamika terus berupaya menerbitkan artikel yang memiliki kebaruan (novelty) baik isi maupun pendekatan.

Pihak PPIM UIN Jakarta berharap UIN Jakarta bisa memberikan ‘uluran tangan’ karena selama kurun empat tahun terakhir tak ada alokasi anggaran atau bantuan teknis lain seperti yang dilakukan di universitas lain terhadap jurnal-jurnal terbaiknya.

“Studia Islamika mendapatkan peringkat yang baik tahun ini hampir bisa dikatakan karena kerja keras dan dedikasi manajemen editorial sendiri,” ucap Ropi.

Berdasarkan perolehan ini Studia Islamika konsisten dan berdedikasi tinggi sesuai dengan misinya, menjembatani kesenjangan kajian keislaman di Indonesia dan dunia.

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Reporter Belva Carolina; Editor Fauzah Thabibah

Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” yang dipaparkan oleh Penyaji Laifa Annisa Hendarmin, Koordinator Penelitian Pesantren & Pandemi.
Sumber: DNKTV-Belva Carolina

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui CONVEY Indonesia mengadakan Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” pada Rabu (19/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan dalam sambutannya bahwa tujuan yang ingin dicapai yaitu mendapatkan data yang komprehensif bagaimana pesantren berusaha keluar dari problem yang dihadapi sejak pandemi muncul.

“Pesantren sangat rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19 dan ingin melihat kebijakan apa yang diambil oleh pesantren, melihat kaitan pandemi dengan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, serta menyoroti pula peran Kiai dalam mempromosikan prokes, meluruskan hoaks atau konspirasi, dan menyelesaikan problem Covid-19,” tuturnya.

Hasil studi penelitian diperoleh dari 15 pesantren yang memiliki sekolah menengah atas di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat terkait dengan kerentanan dan ketahanan Pesantren. Sumber pandemi dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, dan politik serta peran Nyai dan pemimpin perempuan di pesantren selama masa pandemi dengan metodologi penelitian yaitu Convergent Mixed Method Study yang dilakukan sejak bulan Januari sampai Oktober 2021.

Kemampuan pesantren sebagai institusi untuk merespon dan memitigasi pandemik yang terjadi untuk tetap memiliki siklus kinerja institusional yang baik, dalam hal ini pelayanan pendidikan dan pengasuhan di pesantren.

Berdasarkan penyampaian Team Leader CONVEY Indonesia, Profesor Jamhari Makruf bahwa dengan kapasitas dan pengetahuan kesehatan yang terbatas pesantren dapat bertahan bahkan dijadikan contoh pendidikan umum lainnya.

“Dampak positifnya membuka kesadaran pesantren untuk meningkatkan aspek kesehatan dan kebersihan menjadi bagian hidup pesantren serta mengadaptasi dunia digital sebagai kebutuhan santri saat di luar pesantren, serta harapan adanya uluran tangan pemerintah,” ucap Jamhari.

Pesantren saat pandemi mendapatkan penanganan langsung dari Kemenag dengan adanya program Gugus Tugas Covid-19, Edukasi Penanganan Covid-19, Sosialisasi SKB 4 Menteri, Bantuan langsung, Buku Pesantren Tanggap Bencana Covid-19, dan Program Pesantren Tangguh Covid – 19.

Namun semua itu realitanya tidak membendung adanya klaster penyebaran Covid-19 pada lingkungan pesantren. Dapat dilihat dalam media dan riset yang dihasilkan yaitu terdapat 605 Kyai dan Ibu Nyai yang meninggal terinfeksi Covid-19 serta 67 pondok pesantren dengan 4328 santri terinfeksi Covid-19 di 13 provinsi di Indonesia.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa pesantren mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

“Kyai dan Bu Nyai bersama-sama dan bergotong-royong melindungi santri tetap sehat. Hasil survei dalam data kami lingkungan pesantren relatif mengikuti protokol kesehatan, hanya saja keterbatasan banyak hal seperti informasi hoaks dari eksternal pesantren,” tegasnya.

Adapun dalam riset penelitian yaitu pengetahuan santri dan guru dalam merespon pandemi sudah cukup namun terdapat beberapa aspek yang masih minim seperti edukasi dan infodemik serta sikap santri dan guru dalam merespon pandemi yaitu tidak ingin orang lain tahu jika terkena Covid-19 dan masih setuju orang tua untuk berkunjung selama pademi.

Hasil Kajian Dampak dan Ketahanan Institusi PLTA di 15 pesantren Jakarta, Banten, dan Jawa Barat saat Krisis Pandemi Covid – 19 yang dikemukakan oleh Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari.
Sumber: DNK TV-Belva Carolina

Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari menerangkan manfaat penelitian ialah meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku yang positif terhadap protokol, mendapatkan perhatian serta pengetahuan tentang pencegahan dan sikap terhadap respon pemerintah, serta memberikan pemahaman yang terus-menerus melalui para Kyai dan Nyai mengenai persepsi terhadap vaksin.

“Adapun perilaku pencegahan dan pengendalian secara individu seperti pencarian sumber kesehatan yang kredibel, adanya etika saat batuk atau bersin, dan pola hidup sehat, serta secara kelompok yaitu literasi kesehatan, pelaksanaan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan kelompok seperti tracing, test, dan treatment kemudian pengendalian dan komunikasi risiko.”

Anggota DPR-RI Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily sebagai wakil rakyat dalam berbagai kesempatan selalu menyampaikan bahwa Covid-19 bukanlah konspirasi dan kewajiban kita semua memastikan agar anggapan seperti ini tidak muncul di masyarakat.

“Intinya adalah salah satu hal yang sangat penting dapat menjelaskan mengenai Covid-19 kepada masyarakat terutama dalam lingkungan pesantren agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Alangkah baiknya sampel riset ini dapat diperbanyak sehingga dapat menggambarkan kondisi pesantren pada masa pandemi, serta perlunya evaluasi dari kalangan pesantren apakah penanganan Covid-19 ini sudah tepat atau belum.

Harapan darinya pemerintah pusat dan daerah tidak saling melempar tanggung jawab dalam penanganan Covid-19.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIO) Jakarta, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, menganalisis peran Kyai dan Nyai di beberapa pesantren yang sangat dinamis dan jika ingin membidik relasi keadilan atau relasi Nyai dan Kyai yang setara mengukurnya dengan lensa keadilan hakiki untuk melihat pergulatan bagaimana peran gender yang konvensional dalam relasi suami-istri itu juga mempengaruhi pembagian peran antara Kyai dan Nyai.

Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Gus Romzi Ahmad memaparkan bahwa riset yang dilakukan PPIM perlu direspon dengan baik dan dapat dijadikan rujukan oleh pondok pesantren.

“Perlu adanya penerimaan sebuah riset secara terbuka, mulai belajar auto kritik dan memperbaiki banyak hal dari dalam agar di kemudian hari pondok pesantren bisa jauh lebih baik, mapan, dan efektif menangani masalah krisis terutama yang berkaitan dengan krisis sosial,” tegasnya.

Status vaksinasi Covid-19 dalam lingkungan pesantren terdapat 70,5 persen responden telah di vaksin, 36% masih ragu dan tidak berminat dalam melaksanakan vaksinasi serta 5% menolak vaksin karena agama. Hal tersebut beriringan dengan pemahaman fikih pandemi yang masih minim.

Survei Nasional: Tingkat Konservatif Muslim Milenial Lebih Tinggi dibanding Generasi Lain

Survei Nasional: Tingkat Konservatif Muslim Milenial Lebih Tinggi dibanding Generasi Lain

Reporter Laode M. Akbar H; Editor Tiara De Silvanita

Foto Bersama Peneliti PPIM dengan Narasumber dalam Launching Hasil Penelitian “Beragam Ala Anak Muda”, Rabu (08/12)
Sumber: YouTube – PPIM UIN Jakarta

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui Media and Religious Trend in Indonesia (Merit Indonesia) menggelar Launching Hasil Survei Nasional dengan Tema “Beragama Ala Anak Muda: Ritual No, Konservatif Yes” via Zoom dan akun YouTube PPIM UIN Jakarta, Rabu (08/12).

Pada acara kali ini, PPIM menyampaikan hasil penelitiannya di berbagai wilayah Indonesia terkait gaya ekspresi keagamaan baru dalam dunia modern saat ini di berbagai generasi, terutama bagi generasi muda.

Selain itu, guna memperdalam materi hasil penelitiannya, PPIM juga mengundang berbagai pihak pemerintah, ahli komunikasi, dan tokoh muslim.

Perwakilan peneliti Merit mengatakan hasil penelitian ini menjelaskan generasi muda atau milenial memiliki tingkat konservatif lebih tinggi dibanding generasi lainnya. Namun, generasi muda memiliki presentase religiusitas lebih rendah dibanding generasi tua.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa media sosial menjadi sumber ilmu pengetahuan dan ranah diskusi terkait agama yang paling banyak digunakan, sementara generasi tua lebih memilih media TV dan radio.

Penyampaian Peneliti PPIM terkait Hasil Penelitian
Sumber: YouTube – PPIM UIN Jakarta

Mengomentari hasil penelitian tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI Widodo Muktiyo menjelaskan pemerintah terkhusus Kominfo secara struktural harus dibenahi dan secara fungsional keterampilan SDM juga harus dikembangkan terhadap isu-isu yang mudah dicerna oleh generasi muda.

 “Sebab justru milenial itu treatment-nya itu juga harus milenial, harus ada view experience yang sama, kita tidak bisa memaksakan tanpa ada pendekatan yang humanistik,” ujarnya.

Widodo pun menjelaskan bahwa Kominfo sedang menerapkan model dengan pegawai humasnya menjadi micro-influencer yang aktif menggunakan akun media sosial individu dalam menebar kebaikan.

Terkait dengan politik, Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media, Kementerian Sekretaris Negara RI Faldo Maldini menjelaskan kuatnya gairah konservatif pada anak muda akibat dari ruang politik yang terbatas.

Faldo juga mempertanyakan bagaimana peran kampus membuka ruang mewujudkan cita-cita perjuangan politik bagi generasi muda.

“Jika politik itu menyala, konservatisme itu pasti akan meredup. Tapi  kalau tidak, anti moderasi akan menjadi arus utama dari apa yang dipilih anak-anak muda,” tambah Faldo.

Selain dalam politik, Ulama Muda Habib Ja’far mengatakan kelompok moderat dalam menyampaikan dakwahnya di media sosial sudah masif, namun dalam pengemasan dan penyampaiannya tidak sesuai dengan gaya media sosial.

“Makanya saya mencoba menyesuaikan dengan segmen yang saya hadapi, dengan gaya pakaian yang menyesuaikan, dengan gaya bahasa yang menyesuaikan, dengan diksi-diksi yang menyesuaikan,” ujar Ja’far.