Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Reporter  Latifahtul Jannah; Editor Tiara De Silvanita 

Ismatu Rompi membuka Launching Hasil Survei PPIM Jakarta
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melaksanakan Kegiatan Launching Hasil Survei Nasional PPIM Jakarta dengan tema “Anak Muda dan Covid-19: Berbineka Kita Teguh, Ber-hoak Kita Runtuh.” pada Rabu (5/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat umum mengenai bagaimana pandangan siswa di sekolah maupun madrasah tentang Agama, Pandemi dan Bencana di Indonesia.

Berbicara anak muda berbanding lurus tentang masa depan Indonesia, realita covid-19 yang ada ternyata sangat mempengaruhi anak muda.

Penelitian yang dilakukan delapan bulan dengan 3031 dari seluruh Indonesia menghasilkan temuan penting, pertama, prokes perilaku hidup sehat, dan vaksinasi perlu ditingkatkan.

Kedua saat pandemi Covid-19, level Islamisme pada pelajar Indonesia relatif tinggi, ketiga social trust pelajar Indonesia cukup tinggi, khususnya pada pemimpin agama baik lokal maupun nasional, dan juga pada keluarganya, ungkap Yunita Faela Nisa salah satu peneliti PPIM UIN Jakarta.

Narila Mutia yang juga peneliti PPIM UIN Jakarta menambahkan siswa yang stres karena pandemi mengakibatkan intensitas ibadahnya semakin menurun terutama pada siswa laki-laki.

Presentase anak muda yang terbawa suasana dengan hoax membuat teori konspirasi di masa pandemi sebesar 31,5% dari mereka percaya bahwa Rumah Sakit meng-covidkan pasien untuk keuntungan dana, 20,5% percaya Covid-19 hanyalah flu biasa, dinyatakan berbahaya untuk keuntungan pihak tertentu, dan 20,5% pemuda percaya Covid-19 adalah senjata biologi yang dibuat negara maju melemahkan negara berkembang.

Narila Mutia memaparkan hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah adalah vaksinasi, namun hasil penelitian PPIM UIN Jakarta menemukan 12,58% menganggap vaksinasi bertentangan dengan agama.

Hasil analisa menemukan bahwa agama memiliki pengaruh negatif terhadap keputusan vaksinasi.

Associate Professor of Sociology, NTU Singapore, Sulfikar Amir menanggapi bahwa agama dan bencana sebenarnya bukan suatu isu yang baru. Covid-19 sendiri dikategorikan bencana, yaitu bencana biologis.

“Bencana menjadi event-event penting membentuk peradaban, dan bagaimana bencana itu dihadapi melalui pemahaman religius masyarakat, jadi sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru,” terang Sulfikar.

Sulfikar Amir menanggapi hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Sulfikar juga menambahkan Covid-19 memiliki kompleksitas yang tinggi.

“Sebenarnya kita tidak bisa melihat secara langsung korelasi antara agama terhadap prilaku kesehatan, karena Covid-19 memiliki kompeksitas yang tinggi, dimana agama menjadi hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi cara Individu menghadapi resiko terinveksi Covid-19,” ungkap Sulfikar.

Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat Sesditjen P2P Kemenkes RI, Iqbal Djakaria juga menanggapi bahwa tantangan bagi Kemenkes di era perkembangan teknologi sekarang jauh lebih besar, sehingga memang sudah seharusnya perlu meningkatkan pemberian pemahaman kepada masyarakat baik mengenai Covid-19 dan vaksinasi.

Moderasi Beragama Sebagai Pencegahan Radikalisme

Moderasi Beragama Sebagai Pencegahan Radikalisme

Rahmatul Hidayat

Webinar series oleh PPIM UIN Jakarta melalui zoom meeting (5/2)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan  Convey Indonesia menggelar Webinar series dengan tema “Moderasi Beragama” secara virtual melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube Convey Indonesia , Jumat (5/2).

Mengusung topik “Masjid dan Moderasi Beragama”, webinar ini dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama  RI, Juraidi,  Ketua Majelis Ulama Indonesia, Sudartono Abdlu Hakim, Pengurus PP Dewan Masjid Indonesia, Kustini, Koordinator Penelitian Buletin PPIM UIN Jakarta, Kusmana,  serta moderator, Jamhari Makruf selaku Team Leader Convey Indonesia.

Kusmana mengatakan beberapa masjid disalahgunakan untuk dakwah yang berbau radikal, sehingga hal tersebut menjadi tantangan besar.

“Kita dihadapkan dalam dua tantangan besar, yaitu munculnya parokialisme paham keagamaan dan konservatisme paham keagaamaan  yang berimplikasi dalam sikap radikalisme baragama”.

Kusmana juga mengatakan bawasanya masyarakat juga perlu waspada dan prihatin karena ada buletin-buletin tertentu yang menyebarkan paham radikalisme yang beredar di masjid. Bulletin tersebut tentu tidak bertanggung jawab atas tulisannya.

2021-02-05 (27)
Sudarnoto Abdul Hakim selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Sudarnoto Abdul Hakim selaku Ketua MUI menambahkan bahwa kebanyakan anak muda dari golongan moderat itu enggan untuk mengurusi masjid, sehingga pengurus masjid diambil kelompok-kelompok radikal.

“Kelompok-kelompok seperti ini akan terus bergerak meskipun secara kelembagaan sudah tidak ada tapi tidak ada jaminan bahwasanya pikiran itu mati, tidak ada jaminan kelompok itu mati karena kelompok radikal tersebut akan bergerak dengan berbagai cara,” ujar Sudartono.

Juraidi memastikan pemerintah memperhatikan bagaimana moderasi beragama yang terjadi di masijd-masjid. Pemerintah membuat berbagai macam regulasi masjid, dengan harapan  untuk memaksimalkan fungsi dari masjid tersebut.