Pengelolaan Sampah akan Mengurangi Emisi

Pengelolaan Sampah akan Mengurangi Emisi

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi sampah di dalam laut. (freepik.com)

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, jumlah timbunan sampah yang berasal dari 200 kabupaten kota pada tahun 2021 mencapai 21,45 juta ton. Lebih dari 500.000 ton sampah plastik berakhir di laut.

Di samping itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengungkapkan adanya permasalahan dalam pengelolaan sampah di Indonesia mulai dari pembakaran sampah terbuka, pembuangan sampah sembarangan, hingga tidak adanya pemanfaatan gas metana (CH4) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hal tersebut disampaikan Siti melalui pidato yang dibacakan oleh Wakil Menteri LHK, Alue Dohong pada Peringatan Peduli Sampah Nasional 2022, Senin (21/2).

“Masih ada aktivitas penurunan sampah yang salah seperti pembakaran sampah terbuka, pembuangan sampah sembarangan. Kurang maksimal pengelolaan sampah, tidak adanya pemanfaatan gas metan di TPA dan daur ulang sampah kertas yang masih minim,” ungkap Siti dalam pidato yang dibacakan Alue.

Masih dalam kesempatan yang sama, Siti juga mengatakan sampah merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Menurutnya, sampah bukan hanya buruk secara estetika, tetapi juga menjadi penyebab kualitas kondisi lingkungan menurun.

Ia juga mengatakan gas metan yang dihasilkan dari TPA berjumlah signifikan dan berkontribusi besar dalam menciptakan gas efek rumah kaca.

“Jumlah signifikan gas metan yang dihasilkan dari TPA, sampah mengambil peran besar di dalam menciptakan gas efek rumah kaca,” katanya.

Ilustrasi perubahan iklim. (freepik.com)

Bila diselidiki lebih jauh, pengelolaan sampah dapat berperan penting dalam upaya pengendalian perubahan iklim dan dampaknya.

Kepala Bidang Disaster Management Kelompok Pencinta Alam Arkadia UIN Jakarta, Muhammad Bayu Ajie mengatakan saat ini iklim mulai meresahkan karena dipengaruhi oleh pengelolaan sampah di bumi.

“Kita menyadari bahwa iklim saat ini sangat meresahkan. Mulai dari panas dan teriknya di musim kemarau hingga banjir dari hujan terus mengguyur pada saat musim hujan. Dari sini lah sampah dapat mempengaruhi Iklim,” katanya.

Bayu juga menuturkan berdasarkan penelitiannya, bahwa pemahaman pengelolaan sampah di tingkat masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah masih sangat minim.

”Memang benar adanya bahwa pemahaman pengelolaan sampah di tingkat masyarakat yang perekonomian menengah ke bawah itu masih sangat minim, sehingga banyak masyarakat masih membuang sampah sembarangan, membakar sampah,” tuturnya.

Menurutnya, untuk pengelolaan sampah yang tepat perlu adanya langkah Kolaboratif Penthalix.

“Pengelolaan sampah yang tepat menurutku harus adanya langkah Kolaboratif Penthalix yaitu kolaborasi yang merangkul 5 stakeholder di antaranya pemerintah, masyarakat, media massa, dunia usaha, dan akademisi,” jelasnya.

Selain itu, Pengkampanye Walhi Jakarta, Muhammad Aminullah pun angkat suara mengenai hal ini. Menurutnya, pengelolaan sampah justru tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

“Pengelolaan sampah gak bisa sembarang, misal pemerintah pakai teknologi termal buat mengelola sampah, itu justru berpotensi jadi masalah juga untuk lingkungan karena proses pembakaran sampahnya bisa memunculkan polutan,” ujar Aminullah melalui DNK TV pada Selasa, (22/2).

Ia berharap pemerintah berhenti mengolah sampah dengan teknologi-teknologi yang justru berpengaruh ke perubahan iklim.

“Harapannya pemerintah berhenti mengelola sampah dengan teknologi-teknologi yang justru pengaruh perubahan iklim, seperti Refuse Derived Fuel (RDF), insinerator, dan teknologi-teknologi termal lainnya. Dengan teknologi seperti itu, meskipun sampahnya habis tapi ada masalah lain untuk lingkungan,” pungkasnya.

Bukan Solusi! Pembangunan Insinerator di Tebet Malah Jadi Polusi?

Bukan Solusi! Pembangunan Insinerator di Tebet Malah Jadi Polusi?

Reporter Putri Anjeli; Editor Tiara De Silvanita

Ilustrasi Insinerator
Sumber: Greeners.co

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menjalankan rencana pembangunan Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA) berskala mikro di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. FPSA di Tebet ini kabarnya akan menggunakan teknologi insinerator (membakar sampah) dengan kapasitas mengolah sampah mencapai 150 ton per hari. Pihak Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mengabarkan bahwa Amdal FPSA di Tebet sedang dalam proses.

Namun, Rencana Pengelolaan Sampah Antara di  Tebet menuai banyak penolakan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta menolak pembangunan FPSA ini karena berpotensi menambah beban polusi udara Jakarta.

Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Tubagus mengatakan bahwa proyek pengelolaan sampah dengan insinerator tersebut tidak ada dalam kebijakan strategi daerah dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis rumah tangga. Kedua, proyek yang berpotensi menambah beban pencemaran udara berada di area publik  dan berdekatan langsung dengan permukiman.

“Bisa dibayangkan area yang biasa dijadikan area publik seperti rekreasi, berolahraga, dan lain sebagainya akan terpapar dampak buruk insinerator. Dengan demikian FPSA dengan teknologi insinerator ini juga bertentangan dengan Peraturan Daerah Nomor 04 tahun 2019, karena tidak memperhatikan aspek sosial dan tidak tepat guna dalam pengelolaan sampah,’’ kata Tubagus mengutip laman Kompas.com, Senin (8/8)

Ia menambahkan bahwa dampak buruk pengelolaan sampah dengan cara insinerator berpotensi membahayakan ruang interaksi masyarakat. Memperbesar resiko buangan asap, abu sisa pembakaran sampah, hingga gangguan lain seperti kebisingan.

Mahasiswi UIN Jakarta Ayudha Lailiyah yang juga seorang warga Tebet mengatakan kurang setuju atas perencanaan pengelolaan sampah teknologi insinerator.

“Pemerintah berarti cukup merespon tentang banyaknya tumpukan sampah. Namun, rencana baru untuk pengelolaan sampah ini kurang baik jika menggunakan teknologi insinerator. Karena berdampak buruk bagi masyarakat khususnya penduduk yang tinggal di daerah Tebet ,” ujarnya kepada DNK TV pada Jumat, (13/8).