Korban Tradisi, Pembantaian 1.400 Lumba-Lumba

Korban Tradisi, Pembantaian 1.400 Lumba-Lumba

Reporter Hasna Nur Azizah ; Editor Tiara Juliyanti Putri



Bangkai lumba-lumba di pinggir pantai Kepulauan Faroe, Daerah Otonom Denmark.
Sumber: Twitter-Petter Baldwin

Perburuan lumba-lumba di Kepulauan Faroe menyita perhatian publik lantaran lebih dari 1.400 mamalia di bunuh dalam satu hari. Kawanan lumba-lumba sisi putih (leucopleurus acutus) dibawa dari tengah lautan ke daerah tepi sungai yang sempit di wilayah Atlantik Utara pada Minggu (12/09).

Perahu membawa mereka ke perairan dangkal pantai Skalabotnur di Eysturoy, kemudian di bunuh secara massal. Setelah itu, tubuh lumba-lumba dibawa ke darat dan dibagikan kepada warga setempat untuk dikonsumsi.

Dalam kebudayaan Faroe perburuan mamalia laut, terutama paus telah menjadi tradisi yang di praktikkan selama ratusan tahun dan merupakan cara berkelanjutan untuk mengumpulkan makanan dari alam. Namun, di sisi lain aktivis hak-hak binatang tidak setuju karena pembantaian hewan di anggap perbuatan kejam.



Bangkai lumba-lumba Atlantik
Sumber: Sea Shepherd

Bjarni Mikkelsen, ahli biologi kelautan dari Kepulauan Faroe mengatakan bahwa jumlah lumba-lumba yang di bunuh Minggu lalu adalah rekor tertinggi.

Meski begitu, menurut Sjurdarberg, penangkapan itu disetujui oleh otoritas setempat dan tidak ada hukum yang dilanggar karena telah diatur dan merupakan bentuk non-komersial yang diselenggarakan pada tingkat komunitas.

“Membunuh lumba-lumba sisi putih merupakan tindakan egal tapi tidak populer,” kata Sjurdur Skaale, anggota parlemen Denmark Kepulauan Faroe.

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Muhammad Tegar mengatakan perlu adanya komunikasi antara masyarakat Faroe dan pihak internasional yang menaungi tentang hak-hak hewan, misalnya dibuatnya aturan pembatasan pemburuan.

Skaale menjelaskan bahwa dari sudut pandang kesejahteraan hewan, ini adalah cara yang baik untuk membunuh hewan, bahkan jauh lebih baik daripada memenjarakan sapi dan babi.

Berbeda dengan Mahasiswi UIN Jakarta program studi Kimia, Risma Nur Fitria menanggapi kejadian tersebut merupakan tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan dan tidak masuk akal.

“Lumba-lumba merupakan hewan mamalia yang tergolong cerdas dan terbilang populasinya menurun atau hampir punah yang seharusnya dijaga dengan baik populasinya, bukan kebalikannya dengan membuat berkurangnya populasi lumba-lumba,” jelasnya.