Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Reporter Belva Carolina; Editor Fauzah Thabibah

Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” yang dipaparkan oleh Penyaji Laifa Annisa Hendarmin, Koordinator Penelitian Pesantren & Pandemi.
Sumber: DNKTV-Belva Carolina

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui CONVEY Indonesia mengadakan Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” pada Rabu (19/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan dalam sambutannya bahwa tujuan yang ingin dicapai yaitu mendapatkan data yang komprehensif bagaimana pesantren berusaha keluar dari problem yang dihadapi sejak pandemi muncul.

“Pesantren sangat rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19 dan ingin melihat kebijakan apa yang diambil oleh pesantren, melihat kaitan pandemi dengan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, serta menyoroti pula peran Kiai dalam mempromosikan prokes, meluruskan hoaks atau konspirasi, dan menyelesaikan problem Covid-19,” tuturnya.

Hasil studi penelitian diperoleh dari 15 pesantren yang memiliki sekolah menengah atas di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat terkait dengan kerentanan dan ketahanan Pesantren. Sumber pandemi dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, dan politik serta peran Nyai dan pemimpin perempuan di pesantren selama masa pandemi dengan metodologi penelitian yaitu Convergent Mixed Method Study yang dilakukan sejak bulan Januari sampai Oktober 2021.

Kemampuan pesantren sebagai institusi untuk merespon dan memitigasi pandemik yang terjadi untuk tetap memiliki siklus kinerja institusional yang baik, dalam hal ini pelayanan pendidikan dan pengasuhan di pesantren.

Berdasarkan penyampaian Team Leader CONVEY Indonesia, Profesor Jamhari Makruf bahwa dengan kapasitas dan pengetahuan kesehatan yang terbatas pesantren dapat bertahan bahkan dijadikan contoh pendidikan umum lainnya.

“Dampak positifnya membuka kesadaran pesantren untuk meningkatkan aspek kesehatan dan kebersihan menjadi bagian hidup pesantren serta mengadaptasi dunia digital sebagai kebutuhan santri saat di luar pesantren, serta harapan adanya uluran tangan pemerintah,” ucap Jamhari.

Pesantren saat pandemi mendapatkan penanganan langsung dari Kemenag dengan adanya program Gugus Tugas Covid-19, Edukasi Penanganan Covid-19, Sosialisasi SKB 4 Menteri, Bantuan langsung, Buku Pesantren Tanggap Bencana Covid-19, dan Program Pesantren Tangguh Covid – 19.

Namun semua itu realitanya tidak membendung adanya klaster penyebaran Covid-19 pada lingkungan pesantren. Dapat dilihat dalam media dan riset yang dihasilkan yaitu terdapat 605 Kyai dan Ibu Nyai yang meninggal terinfeksi Covid-19 serta 67 pondok pesantren dengan 4328 santri terinfeksi Covid-19 di 13 provinsi di Indonesia.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa pesantren mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

“Kyai dan Bu Nyai bersama-sama dan bergotong-royong melindungi santri tetap sehat. Hasil survei dalam data kami lingkungan pesantren relatif mengikuti protokol kesehatan, hanya saja keterbatasan banyak hal seperti informasi hoaks dari eksternal pesantren,” tegasnya.

Adapun dalam riset penelitian yaitu pengetahuan santri dan guru dalam merespon pandemi sudah cukup namun terdapat beberapa aspek yang masih minim seperti edukasi dan infodemik serta sikap santri dan guru dalam merespon pandemi yaitu tidak ingin orang lain tahu jika terkena Covid-19 dan masih setuju orang tua untuk berkunjung selama pademi.

Hasil Kajian Dampak dan Ketahanan Institusi PLTA di 15 pesantren Jakarta, Banten, dan Jawa Barat saat Krisis Pandemi Covid – 19 yang dikemukakan oleh Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari.
Sumber: DNK TV-Belva Carolina

Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari menerangkan manfaat penelitian ialah meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku yang positif terhadap protokol, mendapatkan perhatian serta pengetahuan tentang pencegahan dan sikap terhadap respon pemerintah, serta memberikan pemahaman yang terus-menerus melalui para Kyai dan Nyai mengenai persepsi terhadap vaksin.

“Adapun perilaku pencegahan dan pengendalian secara individu seperti pencarian sumber kesehatan yang kredibel, adanya etika saat batuk atau bersin, dan pola hidup sehat, serta secara kelompok yaitu literasi kesehatan, pelaksanaan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan kelompok seperti tracing, test, dan treatment kemudian pengendalian dan komunikasi risiko.”

Anggota DPR-RI Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily sebagai wakil rakyat dalam berbagai kesempatan selalu menyampaikan bahwa Covid-19 bukanlah konspirasi dan kewajiban kita semua memastikan agar anggapan seperti ini tidak muncul di masyarakat.

“Intinya adalah salah satu hal yang sangat penting dapat menjelaskan mengenai Covid-19 kepada masyarakat terutama dalam lingkungan pesantren agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Alangkah baiknya sampel riset ini dapat diperbanyak sehingga dapat menggambarkan kondisi pesantren pada masa pandemi, serta perlunya evaluasi dari kalangan pesantren apakah penanganan Covid-19 ini sudah tepat atau belum.

Harapan darinya pemerintah pusat dan daerah tidak saling melempar tanggung jawab dalam penanganan Covid-19.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIO) Jakarta, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, menganalisis peran Kyai dan Nyai di beberapa pesantren yang sangat dinamis dan jika ingin membidik relasi keadilan atau relasi Nyai dan Kyai yang setara mengukurnya dengan lensa keadilan hakiki untuk melihat pergulatan bagaimana peran gender yang konvensional dalam relasi suami-istri itu juga mempengaruhi pembagian peran antara Kyai dan Nyai.

Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Gus Romzi Ahmad memaparkan bahwa riset yang dilakukan PPIM perlu direspon dengan baik dan dapat dijadikan rujukan oleh pondok pesantren.

“Perlu adanya penerimaan sebuah riset secara terbuka, mulai belajar auto kritik dan memperbaiki banyak hal dari dalam agar di kemudian hari pondok pesantren bisa jauh lebih baik, mapan, dan efektif menangani masalah krisis terutama yang berkaitan dengan krisis sosial,” tegasnya.

Status vaksinasi Covid-19 dalam lingkungan pesantren terdapat 70,5 persen responden telah di vaksin, 36% masih ragu dan tidak berminat dalam melaksanakan vaksinasi serta 5% menolak vaksin karena agama. Hal tersebut beriringan dengan pemahaman fikih pandemi yang masih minim.

Cybercrime: Mengapa Masih Terjadi?

Cybercrime: Mengapa Masih Terjadi?

Oleh Ahmad Fajarullah; Editor Redaksi Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi Cyberattack
Sumber: Tirto.id

Teknologi telah menjadi sumber kehidupan dalam peradaban manusia. Dengan adanya teknologi berupa internet, manusia menjadi terhubung satu sama lain, meskipun dalam keadaan jarak jauh dan tentunya sangat membantu dalam mengerjakan berbagai aktivitas yang ada. Indonesia menjadi salah satu negara pengakses internet tertinggi di dunia dengan jumlah pengguna yang mencapai 196,7 juta atau 73,7 persen dari populasi.

Mengutip dari bisnis.com, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza mengatakan berdasarkan hasil survei pengguna internet di Indonesia periode 2019-kuartal II 2020, jumlah pengguna internet per kuartal II tumbuh signifikan dibandingkan dengan hasil survey pada 2019 lalu tentang perilaku pengguna internet tahun 2018.

Pertumbuhan pengguna internet yang signifikan ini ternyata cukup mengkhawatirkan. Bukan lagi kejahatan di dunia nyata yang terjadi, kini dunia maya menjadi tempat beraksi para penjahat siber. Hal inilah yang kita ketahui dengan istilah cybercrime. Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia pada bulan Januari hingga Agustus 2020. Dari data tersebut terlihat bahwa kasus kejahatan siber naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hampir mencapai 39 juta serangan siber.

Menanggapi hal tersebut, pihak Microsoft menjelaskan salah satu kemungkinan penyebabnya adalah penggunaan software bajakan dan ketidaktahuan konsumen mengenai bahaya siber. Selain itu, tajamnya lonjakan kasus cybercrime juga disebabkan oleh perubahan pola hidup masyarakat selama pandemi yang hampir semua aktivitasnya bergantung pada teknologi termasuk internet.

Cybercrime yang masih marak terjadi, sebenarnya terdapat solusi yang dapat kita lakukan. Bukan semata-mata untuk menghindari terjadinya cybercrime namun juga untuk menjaga keaaman dan kenyamanan penggunakan sosial media. Seperti yang kita tahu jika sosial media banyak sekali bahaya, apabila tidak berhati hati. Salah satu solusinya yaitu dengan menyimpan kata sandi akun hanya untuk diri sendiri, jangan sampai diketahui orang lain. Selain menjaga kata sandi, kita juga harus benar-benar bijak dalam penggunaan media sosial jangan sampai menjadi korban maupun pelaku cybercrime. Untuk menghindari tindak kejahatan di media sosial juga tidak lepas dari tanggung jawab diri kita sendiri.

Meskipun kejahatan tidak terduga, namun selagi bisa menjaga dan merahasiakan hal hal yang bersifat privat maka tidaklah akan terjadi tindakan cybercrime. Namun nyatanya banyak tenaga pembobol akun yang bisa merugikan orang lain dengan keahlianya, cara dari menjaga keamanan adalah dengan cara selalu menutup akun setiap kali login dari perangkat, cara ini bisa menetralisir kan para hacker ataupun tindak kejahatan merugikan lainnya.

Cara  terakhir untuk menghindarkan agar tindak kejahatan di ranah media sosial adalah dengan tidak menjadikan media sosial sebagai tempat segala kebutuhan hidup atau bahkan ketergantungan. Karena jika sudah terlanjur masuk ke lingkup yang terlalu dalam, maka dengan mudah tindak kejahatan beraksi. Mengapa demikian, karena pelaku sudah melihat kehidupan dan bahkan barang-barang ataupun gaya hidup dari calon korban. Untuk menghindari itu dibutuhkan kehati hatian yang tinggi dan bijak dalam penggunaan media sosial.

            Dilansir dari CNBC Indonesia  Direktorat tindak pidana siber (Dittipidsiber) Bareskrim Mabes Polri telah mengimbau untuk semua pengguna aplikasi WhatsApp agar selalu berhati-hati dan waspada terkait penerimaan pesan permintaan OTP (One Time Password). “Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas) telah mencatat beberapa kasus peretasan yang ada di Indonesia mendapati jumlah total terbilang cukup besar pada tahun 2020 silam.  kasus peretasan dikarenakan jumlah pengguna Internet yang semakin meningkat selama pandemi Covid-19.”

Siber Polri mencatat bahwa penipuan melalui WhatsApp menjadi salah satu dari sekian banyak modus kasus yang sering dilaporkan oleh masyarakat. Biasanya modus yang paling banyak digunakan ialah dengan scanning (memindai) QR Code yang terdapat pada  WhatsApp Web pada ponsel Anda. Si Pembajak WhatsApp biasanya menggunakan akun Anda untuk melakukan kejahatan, sepertimeminta pulsa hingga meminta uang.

Tercatat sejak tahun 2020 telah terjadi sekitar 649 laporan penipuan, sekitar sebanyak 39 laporan pencurian data yang telah masuk Siber Polri, dan sebanyak 18 aduan peretasan elektronik. Sehingga total aduan yang terpantau diportal patroli Siber sejak tahun 2020 hingga saat ini tercatat sebanyak 15.414  aduan dan total kerugian mencapai Rp. 1,23 Triliun rupiah.

Komunikasi Digital, Jantung Berkomunikasi di masa Pandemi

Komunikasi Digital, Jantung Berkomunikasi di masa Pandemi

Arisyah Syafani- Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

person using laptop
Ilustrasi Mendapatkan Informasi dari Internet (Sumber: unplash.com)

Komunikasi merupakan hal yang mendasar dan menjadi urgensi dalam menjalani kehidupan. Bermula dari dua buah kaleng dan seutas benang, lalu menjadi secarik kertas dengan goresan tinta hitam, kini hanya dengan benda pipih di genggaman, serasa kita telah menggenggam seisi dunia.

Komunikasi sebagai hal yang menjadi kebutuhan dalam kehidupan, juga berubah mengikuti perubahan peradaban, termasuk teknologi yang juga semakin canggih. Perubahan hingga saat ini, menjadikan satu klik kata kunci, bisa mendapatkan informasi dan juga berkomunikasi di manapun dan kapanpun.

Ternyata pengaruh komunikasi tidak hanya karena faktor perubahan di era digitalisasi atau awamnya disebut dengan era 4.0, pengharusan dalam beradaptasi juga kembali dirasakan oleh manusia ketika suatu pandemi yang bermula dari Wuhan Cina, hingga kini turut mewabah di berbagai belahan dunia, tak terkecuali negara kita Indonesia.

Dilansir dari WHO International, bahwa pada  Januari   2020,   Organisasi Kesehatan  Dunia  (WHO)  mengumumkan wabah  penyakit  coronavirus  baru  di Provinsi Hubei, Tiongkok menjadi Darurat Kesehatan  Publik  untuk  Kepedulian Internasional. 

WHO  menyatakan  ada risiko  tinggi  penyakit  coronavirus  2019 (Covid-19) menyebar ke negara lain di seluruh  dunia.  WHO  dan  otoritas kesehatan  publik  di  seluruh  dunia mengambil tindakan untuk mengendalikan wabah  Covid-19. 

Namun,  kesuksesan jangka panjang tidak bisa diterima begitu saja.  Semua  bagian  masyarakat  kita  termasuk  bisnis  dan  pengusaha harus berperan  jika  kita  ingin  menghentikan penyebaran  penyakit  ini.

Dapat  dipahami  bahwa  Covid-19 sudah  banyak  membawa  kerugian  di seluruh  sektor  dan  bukan  hanya  sektor kesehatan  saja,  menurut  WHO,  Semua negara  harus  mencapai  keseimbangan yang  baik  antara  melindungi  kesehatan, meminimalkan  gangguan  ekonomi  dan sosial, dan menghormati hak asasi manusia.

WHO menyatakan bahwa Covid-19 ini  bukan  hanya  krisis  kesehatan masyarakat,  ini  adalah  krisis  yang  akan menyentuh  setiap  sektor  sehingga  setiap sektor  dan  setiap  individu  harus  terlibat dalam  perjuangan. 

Negara-negara  harus mengambil    pendekatan    seluruh pemerintah, seluruh masyarakat, dibangun di  sekitar  strategi  komprehensif  untuk mencegah infeksi, menyelamatkan nyawa dan meminimalkan dampak.

Virus corona Covid-19, membawa banyak perubahan, berdampak banyak di berbagai bidang, pendidikan, ekonomi, politik, komunikasi dan bahkan budaya atau kebiasaan. Bahkan urgensi kita dalam bersosialisasi dan menjalani kehidupan yaitu berkomunikasi juga terdampak besar-besaran atas pandemi ini.

Komunikasi yang terbagi menjadi dua, yakni verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah jenis komunikai dalam bentuk lisan atau tulisan, sedangkan komunikasi non verbal adalah menggunakan bahasa tubuh seperti gerakan tangan, raut wajah, gelengan kepala dan lainnya. Hingga apa yang terjadi jika semua aktivitas komunikasi di masa pandemi Covid-19 ini harus dilakukan melalui layar? Atau awamnya disebut dengan komunikasi digital.

Perkembangan teknologi digital didukung oleh kekuatan internet telah membawa banyak perubahan dan perkembangan yang luar biasa. Perkembangan pada bidang komunikasi berteknologi digital sudah melahirkan aneka macam jenis media komunikasi, terutama pada smartphone yang digunakan pada kehidupan sehari-hari, baik dalam berbisnis atau sekedar menanyakan kabar pada seseorang kerabat dekat dalam kehidupan sosial.

Dalam era digital ini juga terdapat bentuk komunikasi baru. Jika sebelumnya   satu-satunya   perangkat   berbicara   adalah   mulut  dan  perangkat  mendengar  adalah  telinga,  dengan  adanya  telepon  pintar,  orang  ‘berbicara’  mengungkap  kata  melalui  jempol  menekan  huruf  dan  ‘mendengar;  pesan  berupa  kata  tertulis  pada  layar  melalui  mata  dan  kemudian semua berubah.

Dilansir dari pakar komunikasi, Teori Difusi Inovasi oleh Everett Rogers yang menggambarkan bagaimana, mengapa, dan pada tingkatan apa teknologi baru berkembang dan diadopsi ke dalam berbagai konteks. Teori ini menggarisbawahi adanya 4 (empat) elemen utama yang mempengaruhi berkembangnya media baru yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu dan sistem sosial. Rogers mendefinisikan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi keputusan seorang individu untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi.

Bagaimana kiprah teknologi komunikasi digital di kehidupan manusia pada pandemi Covid-19 inilah yang akan dibahas pada tulisan ini. Sedangkan komunikasi akan dan harus tetap berjalan dalam peradaban apapun. Komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan, karena manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup dan berkembang tanpa berkomunikasi dengan yang lain. Sebagian besar aktivitas manusia berkaitan dengan komunikasi.

Fandi Hasib, News Anchor iNews Tv mengungkapkan hal serupa “Selama beberapa bulan terakhir, mau secara sadar atau tidak sadar, masyarakat mulai terbiasa dengan perubahan komunikasi dari luring menjadi daring (online). Ini membuktikan masyarakat bisa melaksanakan  berbagai aktivitas secara dari, yang dulunya mungkin tidak terpikir bisa dilakukan secara daring dan harus secara tatap muka, ternyata bisa dilakukan dengan media komunikasi jaringan internet.”(24/10/20)


Perubahan komunikasi tatap muka menjadi komunikasi digital selama masa pandemi Covid-19, menjadi pilihan utama. Hal tersebut juga menyokong tetap berjalannya seluruh aspek kehidupan di berbagai bidang seperti pendidikan, politik, ekonomi, dan bahkan seluruh bidang keberlangsungan dalam kehidupan. Dapat dilihat dalam data penggunaan internet di seluruh dunia per Januari 2020.

Data Penggunaan Internet di Dunia
(Sumber: We are Social x Hootsuite)

Berdasarkan data igital 2020 terungkap bahwa pengguna internet di seluruh dunia telah mencapai angka 4,5 milyar orang. Angka ini menunjukkan bahwa pengguna internet telah mencapai lebih dari 60 persen penduduk dunia atau lebih dari separuh populasi bumi.

Perubahan dari pola komunikasi interpersonal tatap muka menuju era komunikasi digital. Tentu ada kelebihan, sekaligus kekurangan. Kelebihan pada efisiensi waktu dan juga fleksibilitas kondisi komunikasi, sedangkan kekurangannya terdapat pada komunikasi yang dibangun menjadi kurang terarah, yaitu pesan terkadang tidak tetap sasaran dan missunderstanding karna pemahaman tiap individu yang berbeda dan cenderung kurang sejalan.

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makarim dalam Keterangan Pers: Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 di laman YouTube resmi Kemendikbud RI (15/6)

Melalui konferensi pers di laman YouTube resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau Kemendikbud RI, bersama dengan Kementrian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan sejumlah instansi pemerintahan lainya, mengumumkan  Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di masa pandemi Covid-19 untuk sekolah, Senin (15/6).

Rencananya, tahun ajaran baru akan tetap dimulai pada Juli 2020. Hanya sekolah di zona hijau yang akan diperbolehkan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat ini, zona hijau hanya ada 85 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Sedangkan, 429 Kabupatan dan Kota berada pada zona merah,  zona orange dan zona kuning masih harus melakukan pembelajaran secara daring.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyampaikan, aturan pembukaan sekolah di masa transisi ini akan dibuka selama dua bulan dengan mengedepankan keselamatan dan kesehatan siswa serta pengajar. Penyelenggaraan sekolah tatap muka akan dilakukan secara dinamis. Jika daerah zona hijau berganti status menjadi zona kuning, orange hingga merah. Sekolah tersebut akan kembali ditutup,  dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar secara daring.

Masa transisi akan diawali dengan pembukaan sekolah SMA/SMK/sederajat dan  SMP/MTS/ sederajat. Dua bulan berikutnya akan dibuka untuk SD/MI/sederajat. Lalu menyusul, pembukaan TK/PAUD/sederajat buka dua bulan setelahnya.

‘’Pelaksanaan nantinya akan sangat dinamis. Jika daerah tersebut (zona hijau) berubah (menjadi zona kuning,orange dan merah) maka sekolah akan ditutup. Meskipun sekolah di zona hijau boleh dibuka, tetapi bila orang tua murid belum memperbolehkan masuk ke sekolah, maka diperbolehkan untuk belajar dari rumah’’ ujar Nadiem Makarim.

Sederet protokol kesehatan wajib dipatuhi selama pembukaan kembali sekolah di zona hijau. Diantaranya, baik siswa maupun tenaga pengajar wajib menggunakan masker, menjaga jarak 1,5-2 meter antar siswa, pembatasan isi ruang kelas maksimal 18 orang siswa,  dan memfasilitasi sanitasi kesehatan dan kebersihan.  Selain itu, kegiatan ekstrakulikuler dan kantin sekolah pun ditiadakan.

Reporter : Sadam Al Ghifari