NFT, Emisi Karbon, dan Krisis Iklim

NFT, Emisi Karbon, dan Krisis Iklim

Reporter Nisrina Fathin; Editor Fauzah Thabibah dan Tiara De Silvanita

Akun NFT Ghozali Everyday
Sumber: Opensea.io

Sultan Gustaf Al Ghozali atau kerap disapa Ghozali Everyday, belakangan ini menjadi viral sebab swafoto yang ia unggah melalui Non-Fungible Tokens (NFT) mendapatkan harga jual tertinggi hingga mencapai 2 Ethereum atau senilai dengan Rp92,3 juta.

NFT merupakan aset digital berupa karya seni, atribut game hingga barang koleksi yang memiliki keunikan dengan bukti kepemilikan yang dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya. Non-Fungible sendiri memiliki makna sesuatu yang tidak dapat ditukarkan dengan sesuatu yang sebanding. Sedangankan Tokens bermakna kepemilikan yang dapat menguntungkan bagi pemiliknya.

Dengan melonjaknya pasar NFT menyebabkan terjadinya emisi karbon. Proof-of-Work (PoW) dengan intensif daya seperti Bitcoin dan Ethereum ternyata dalam prosesnya rakus energi sehingga menghasilkan emisi karbon yang tinggi, emisi ini disebut gas fee.

Seorang seniman digital, telah menganalisis 18.000 NFT dan menemukan bahwa rata-rata NFT memiliki jejak karbon yang setara dengan listrik lebih dari satu bulan untuk orang yang tinggal di Uni Eropa. Atau setiap transaksi yang dilakukan NFT dapat mengkonsumsi daya setara dengan berkendara sejauh 1.000 KM atau menerbangkan pesawat jet selama 2 jam.

Logo NFT
Sumber: medium.com/mchplus

Emisi karbon yang digunakan dalam NFT ini dapat merusak ekosistem alam secara keseluruhan. Aktivis lingkungan meberikan perhatian pada kurangnya kesadaran di komunitas Ethereum karena dampak lingkungan yang dihasilkan oleh sistem konsensus Ethereum.

Perilaku yang mendorong tren NFT secara signifikan juga mendorong nilai Ethereum, penambang akan menaikkan lebih banyak mesin yang mereka gunakan. Lebih banyak mesin berarti lebih banyak polusi.