New Normal dan Tantangan Perubahan Iklim

New Normal dan Tantangan Perubahan Iklim

Sabtu Pagi, Polusi Udara Jakarta Terburuk di Dunia
Ilustrasi polusi udara Jakarta (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Perubahan iklim dapat diukur dalam bentuk statistik melalui International Panel on Climate Change. Salah satu perubahan iklim yang sering terjadi adalah bencana alam yang terkait dengan peningkatan suhu bumi. Melansir dari Lingkunganhidup.co, suhu rata-rata bumi telah meningkat sebesar 1,5 derajat Farenheit di bandingkan beberapa abad lalu. Suhu kini diperkirakan akan naik lagi seratus tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat Farenheit.

Penyebab meningkatnya suhu bumi yang kini dihadapi adalah dampak dari Gas Rumah Kaca (GRK). Konsentrasi GRK semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer ini akhirnya menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global.

Direktur  Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ruandha Agung Sugardiman menyampaikan, dari sejumlah perhitungan, emisi GRK nasional cenderung menurun pada Maret hingga Mei. Namun, emisi kembali naik pada Juni dan Juli seiring dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Era new normal mengalihkan fokus penggunaan energi dari perkantoran, sekolah, jalan raya, dan industri, berganti ke pengunaan energi rumah tangga sehingga ada kecenderungan pemakaian energi rumah tangga lebih boros.

Diungkapkan Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar, Rino Gumpar Hutasoit, pada video konferensi “PLN Rangers” yang digelar Selasa, 16 Juni 2020. Konsumsi listrik golongan pelanggan rumah tangga pada periode work from home (WFH) yang berlanjut dengan kebijakan PSBB naik 13%-20% per bulan. Kontribusi alat elektronik rumah tangga, seperti TV terhadap pemakaian listrik sekitar 15%-20%, alat penerangan berkontribusi 15%-20%, sedangkan AC mencapai 60%-70%.

Penggunaan energi rumah tangga juga menyumbang emisi GRK yang berdampak pada pencemaran udara dan menimbulkan permasalahan kesehatan. Mengutip dari coaction.id, pakar epidemologi Universitas Indonesia Budi Haryanto, mengatakan, partikel halus berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) juga dapat meningkatkan kematian 5%-10% jika dihirup manusia dan menyebabkan sejumlah penyakit pernapasan. Sementara itu, berdasarkan penelitian KLHK di Jakarta pada 2010, menunjukkan 57,8% penyakit yang ada di Jakarta berkaitan dengan polusi udara.

Senada dengan hal tersebut aktivis lingkungan Climate Rangers, Mitha Afrida melalui  DNKTV menjelaskan urgensi masyarakat untuk melakukan upaya hemat energi guna mengurangi emisi karbon yang berakibat pada krisis iklim dan bencana ekologis.

“Bila kita tidak cukup peduli untuk menghemat energi, maka kita harus menerima risiko bila di hari depan bukan tidak menutup kemungkinan akan ada virus vektor yang lebih berbahaya dari Covid-19. Juga satu dekade lagi menuju tahun 2030, dimana agenda dan cita-cita kita untuk tidak melampaui 1.5 derajat farenheit suhu rata-rata global, sudah sepatutnya kita panik. Sudah sepatutnya kita jorjoran dalam mengatasi krisis ini”.

Lebih dari sekadar memenuhi protokol kesehatan, layaknya membiasakan diri menggunakan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak di tengah pandemi. New normal perlu dimaknai spiritnya sebagai sebuah tindakan untuk mewujudkan lingkungan berkelanjutan dalam menghadapai krisis iklim. Mitha memaparkan upaya apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi emisi karbon dari langkah sederhana di kehidupan sehari-hari:

  1. Mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan

Menghemat energi dengan cara mematikan lampu dan peralatan elektronik di rumah selama satu jam setara dengan biaya untuk memberikan akses listrik kepada satu rumah tangga di daerah terpencil.

  • Beralih pada powerbank tenaga surya 

Penggunaan gawai sehari-hari memerlukan pengisian daya yang lumayan tinggi, kita dapat mulai beralih menggunakan powerbank tenaga surya untuk men-charge gawai.

  • Menghabiskan makanan yang kita konsumsi

Sampah makanan yang tercampur dengan materi anorganik di tempat pembuangan akhir (TPA) akan menghasilkan gas metana. Gas metana 25 kali lebih berbahaya dari gas karbondioksida yang menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca. Selain itu, bau busuk yang dihasilkan dari sampah makanan juga dapat mengganggu kestabilan ekosistem dan menjadi pencemaran pada tanah dan air.

  • Membatasi penggunaan plastik sekali pakai

Proses produksi plastik, dimulai dari ekstraski minyak bumi hingga pengolahan sampah menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer menyebabkan peningkatan suhu bumi dan berujung pada krisis iklim.

Reporter: Tiara De Silvanita

Jurus Jitu Cegah Hoax di Fase New Normal

Jurus Jitu Cegah Hoax di Fase New Normal

Jurus Jitu Cegah Hoax di Fase New Normal (23/7)

Perkembangan media sosial di tengah masyarakat,  mempermudah  akses dalam mendapatkan informasi . Namun, di sisi lain media sosial ternyata telah menjadi ladang tumbuhnya hoaks atau berita bohong. Hoaks akan terus berjalan, seiring dengan tren yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

 Seperti saat ini, pandemi Covid – 19 telah mengantarkan kita ke dalam fase adaptasi kebiasaan baru atau fase new normal. Indonesia Care Forum (ICF) hadir untuk menggelar web seminar (Webinar), dengan mengangkat tema “Jurus Jitu Cegah Hoax di Fase New Normal” bersama beberapa civitas akademika yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom, pada Kamis (23/06).

Diskusi ini dimoderatori, oleh Chief Editor Suara Sumut Grup, Rakisa dan dihadiri oleh tiga narasumber, diantaranya, Co – Founder and Head of Fact Checker Committee MAFINDO Aribowo Sasmito, General Manager DNK TV dan RDK FM UIN JAKARTA Dedi Fahrudin, dan Akademisi IUQI RPI Akhmad Saoqillah.

Pelintiran konteks yang akan menimbulkan hoaks akan terus terjadi pada fase new normal. Mengingat hoaks memiliki beberapa tujuan diantaranya, untuk menggiring opini publik, membentuk presepsi, serta sebagai kejahatan dalam dunia maya.

Namun nyatanya, ada banyak cara untuk mencegah hoaks. Menurut Co – Founder and Head of Fact Checker Committee MAFINDO, Aribowo Sasmito, diperlukan adanya perbaikan literasi untuk menghindari penyebaran hoakssecara meluas. Ia juga menambahkan beberapa jurus jitu dalam mengatasinya yaitu, menjaga emosi diri, tidak mudah percaya dengan unsur “katanya”, memastikan kebenaran sumber berita, berhati – hati dengan judul dan kalimat provokatif, jangan mengabaikan pendapat ahli, teliti dalam mengklarifikasi berita, dan mencurigai ketika unsur berita tidak sesuai.

Dedi Fahrudin juga mengatakan,  bahwa kunci dalam mencegah hoaks adalah literasi media.

“Ketika masyarakat memiliki literasi media yang tinggi dijamin tidak akan berkembang. Karena, secara umum literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk media.” Ujar Dedi.

Tak hanya literasi bermedia, Akhmad Saoqillah menambahkan, kesadaran sosial juga diperlukan dalam upaya pencegahan berita hoaks.

Reporter : Ika Selfiana

Bersepeda dan Bercocok Tanam, Aktivitas Pilihan di Tengah Pandemi

Bersepeda dan Bercocok Tanam, Aktivitas Pilihan di Tengah Pandemi

Kegiatan bersepeda (Sumber: unsplash.com)

Sejak berlakunya masa New Nomal pada awal bulan Juni. Pemerintah menyarankan untuk beraktivitas dengan tetap mematuhi protokol-protokol kesehatan, agar tetap produktif dan selalu menjaga kebugaran demi menghindari wabah Virus Corona.

Masyarakat mulai menekuni kegiatan yang bermanfaat dan menyehatkan, agar selalu fit selama pandemi. Dari banyaknya aktivitas yang dipilih, bersepeda dan bercocok tanam jadi kegiatan yang cukup banyak dilakukan oleh masyarakat.

Peminat kegiatan bersepeda mulai banyak dijumpai, selain bisa melepas penat saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masyarakat juga dapat  melihat langsung kondisi alam sekitar.

“Bersepeda pada masa pandemi ini bisa jadi opsi pemulihan diri biar gak stress dan suntuk di rumah. Yang penting kita jaga protocol kesehatan dan hindari tempat yang terlalu ramai”, ungkap salah satu pesepeda, Naura.

Tidak hanya itu, omset penjualan sepeda akhir-akhir ini melonjak, para penjual sepeda hampir kewalahan dengan banyaknya pesanan. Dilansir dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada survei 5 juni 2020 lalu. Lonjakan pengguna sepeda bahkan sampai melebihi 10 kali lipat.

Kegiatan bercocok tanam. (Sumber: unsplash.com)

Tidak kalah dengan bersepeda, kegiatan bercocok tanam merupakan aktivitas yang juga banyak diminati. Aktivitas ini  menyenangkan bila mengajak anggota keluarga di rumah, karena bisa sembari praktik dan belajar bercocok tanam secara langsung agar tetap produktif walau di rumahsaja.

“Saya tidak perlu banyak belanja kebutuhan dapur, buah-buahan dan umbi-umbian saya cukup mengambil di pelataran rumah, sehingga bisa menghemat pengeluaran juga” ungkap Hikmah salah satu warga penggiat bercocok tanam.

Menurutnya manfaat dari bercocok tanam sangat banyak salah satunya yaitu selain menghemat pengeluaran, bercocok tanam juga dapat memperbanyak stok bumbu, sayuran, dan tanaman lainnya juga lebih terawat.

“Bercocok tanam adalah kegiatan yang sangat terpusat yang dapat membantu menghabiskan waktu, dan menyiram juga merupakan praktik yang sangat menenangkan, zen dan meditatif”, ungkap Dr. Gregory Nawalanic Pys.D., selaku asisten professor di university of kansas,  dilansir dari laman Bustle.

Disisi lain bercocok tanam juga sangat berpengaruh untuk menurunkan stress, gejala kecemasan, depresi, dan gangguan motorik lainnya.

Bersepeda dan bercocok tanam hanyalah sedikit contoh dari segelintir kegiatan positif yang dapat dilakukan di tengah masa pandemi. Banyak kegiatan positif lainya yang dapat dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Reporter: Taufiq Nur Rohman

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makarim dalam Keterangan Pers: Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 di laman YouTube resmi Kemendikbud RI (15/6)

Melalui konferensi pers di laman YouTube resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau Kemendikbud RI, bersama dengan Kementrian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan sejumlah instansi pemerintahan lainya, mengumumkan  Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di masa pandemi Covid-19 untuk sekolah, Senin (15/6).

Rencananya, tahun ajaran baru akan tetap dimulai pada Juli 2020. Hanya sekolah di zona hijau yang akan diperbolehkan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat ini, zona hijau hanya ada 85 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Sedangkan, 429 Kabupatan dan Kota berada pada zona merah,  zona orange dan zona kuning masih harus melakukan pembelajaran secara daring.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyampaikan, aturan pembukaan sekolah di masa transisi ini akan dibuka selama dua bulan dengan mengedepankan keselamatan dan kesehatan siswa serta pengajar. Penyelenggaraan sekolah tatap muka akan dilakukan secara dinamis. Jika daerah zona hijau berganti status menjadi zona kuning, orange hingga merah. Sekolah tersebut akan kembali ditutup,  dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar secara daring.

Masa transisi akan diawali dengan pembukaan sekolah SMA/SMK/sederajat dan  SMP/MTS/ sederajat. Dua bulan berikutnya akan dibuka untuk SD/MI/sederajat. Lalu menyusul, pembukaan TK/PAUD/sederajat buka dua bulan setelahnya.

‘’Pelaksanaan nantinya akan sangat dinamis. Jika daerah tersebut (zona hijau) berubah (menjadi zona kuning,orange dan merah) maka sekolah akan ditutup. Meskipun sekolah di zona hijau boleh dibuka, tetapi bila orang tua murid belum memperbolehkan masuk ke sekolah, maka diperbolehkan untuk belajar dari rumah’’ ujar Nadiem Makarim.

Sederet protokol kesehatan wajib dipatuhi selama pembukaan kembali sekolah di zona hijau. Diantaranya, baik siswa maupun tenaga pengajar wajib menggunakan masker, menjaga jarak 1,5-2 meter antar siswa, pembatasan isi ruang kelas maksimal 18 orang siswa,  dan memfasilitasi sanitasi kesehatan dan kebersihan.  Selain itu, kegiatan ekstrakulikuler dan kantin sekolah pun ditiadakan.

Reporter : Sadam Al Ghifari

Merebut Kendali Arus Informasi ditengah Pandemi dan Infodemic

Merebut Kendali Arus Informasi ditengah Pandemi dan Infodemic

Penulis: Rian Fahardi Risyad

Informasi Peta Sebaran Covid-19 di Indonesia hingga 14/06/20, melalui situs informasi resmi kasus Covid-19 di Indonesia (Covid19.go.id)

Perang melawan Covid-19 tidak mudah untuk dimenangkan karena yang kita hadapi bersama ini adalah lawan yang tidak kelihatan. Dibutuhkan komunikasi yang baik dan kerja kolektif yang tidak setengah – setengah. Kedisiplinan warga negara jelas sangat dibutukan di situasi seperti ini, inisiatif kita dengan saling menjaga juga sangat menentukan tetapi negara lah yang punya kapasitas paling maksimal dan cuma pemerintah yang bisa menggerakkan dengan optimal.

Indonesia saat ini di uji oleh pandemi, Virus Covid -19 yang terus tersebar dengan angka – angka yang terus bertambah di berbagai daerah. Pandemi ini bukan hanya persoalan kesehatan tetapi juga menyangkut banyak sendi kehidupan. Beragam masalah yang muncul, mulai dari data yang dipermasalahkan hingga komunikasi publik yang tidak optimal dan tarik ulur keputusan yang membingungkan publik, rentan menjadi kepanikan. Kesiapan ketahanan ekonomi dan sosial juga menjadi pertanyaan besar bagi publik bagaimana pemerintah atau negara berupaya dalam  menghadapi pandemi akibat wabah Covid -19 yang telah menjadi krisis di setiap belahan dunia.

Pada Tahun 1918 – 1919 juga terjadi wabah pandemi influenza, atau flu Spanyol, yang diperkirakan telah menginfeksi 500 Juta orang di seluruh dunia dan mengakibatkan lebih dari 20 juta kematian, sebelum virus Covid-19 menyerang sudah banyak peristiwa – peristiwa yang memicu terjadinya krisis, baik itu krisis – krisis besar maupun kecil yang disebabkan oleh alam dan manusia, hal ini memang tidak dapat dihindari.

 Namun pada kenyataanya, banyak ahli menunjukkan bahwa kejadian – kejadian seperti ini bisa terjadi dengan frekuensi lebih sering dan dapat menyebabkan bahaya yang leih besar. Meskipun tidak mungkin untuk menghindari semua krisis dan bencana seperti wabah ini, beberapa cara maupun langkah – langkah dapat dikelola dan dilakukan secara efektif untuk meminimalisir dampak bencana dengan cara menerapkan strategi Komunikasi Publik yang efektif, baik itu komunikasi, integrasi, koordinasi dan kerja – sama sangat penting untuk dilakukan

Esensi Probelm dan Tantangan Singlecodes dan Multicodes akibat Pandemi

Esensi problem yang belum sepenuhnya dipahami merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi krisis akibat wabah yang telah  menjadi pandemi ini  sehingga menjadikan banyak ketidakpastian dalam meresponnya. Berbagai negara menunjukkan respon yang terkesan “tidak siap” mengenai bagaimana menghandle problem ini.

Jika diposisikan sebuah “kode – informasi” Covid -19 – esensinya adalah kode kesehatan; namun sebagai sebuah “pandemi” kode informasinya mengalami karakter multicodes yang menyebabkan pemrosesan informasinya yang berdimensi ganda sehingga harus ditemukan formula yang tepat dalam pemrosesan informasi yang bersifat multikode tersebut.

Dari sisi komunikasi, kita bisa melihat bagaimana konstruksi realitas tentang Covid-19 ini, jika kita masuk pengkodingan dalam teori proses informasi, maka Covid -19 adalah esensi kode kesehatan. Kemudian setelah menjadi pandemi menjadi multicodes (kode ganda ) yang menyebabkan pemrosesan informasinya bermakna ganda

Karakter pemrosesan informasi yang multidimensi sangat menentang sehingga dalam fokus problemnya tetap harus menjadi primer, namun di sisi lain perlu mendorong resonansi dari banyak sistem untuk memberikan respon yang tepat untuk dilakukan oleh pemerintah.

Meskipun dengan fokus problem kesehatan, tetapi resonansi sistem lain secara tepat merupakan tantangan yang sangat nyata seperti halnya ekonomi, sosial, budaya,yang juga menjadi sangat penting karena terdampak langsung dan bersamaan di saat – saat seperti ini sehingga menjadikan pemerintah sebagai pemilik otoritas harus bekerja secara maksimal dan berani mengambil risiko demi kepentingan publik.

Jika Pemrosesan skenarionya menggunakan Skenario Single Code, maka pandemi covid-19 akan di respon dalam code – code yang clear dunia sains , ekonomi, politik , sosial dan budaya. Semuanya dibayangkan akan mengeroyok pandemi covid-19 ini. Tetapi kemudian kalau kita melihat Indonesia dari awal munculnya krisis, kita memaknai Covid-19 ini dalam kode ganda ( double – codes). Dengan kode ganda ini jika diterapkan dengan optimal maka dua aspek akan terselamatkan yaitu ekonomi dan kesehatan tetapi dengan resiko yang sangat besar yaitu kehilangan fokus primer atau fokus utamanya.

Nampaknya Pemerintah ingin mengambil double codes artinya kode kesehatan dan kode ekonomi. Dengan kode kesehatan seperti secara Infrastruktur penunjang RS, tenaga medis, APD, dan obat – obatan dan edukasi perilaku masyarakat yang tepat secara klinis sedangkan kode ekonomi yaitu meminimalisasi disrupsi sosial , proteksi pekerjaan, tourism, dan penyelematan warga yang terdampak.

Upaya Dalam Menangani Covid 19 melalui Strategi Komunikasi Publik

Dua – dua nya tentu memiliki resiko masing – masing,  jika berbicara dengan karakter komunikasi publik yang dibutuhkan dalam situasi pandemi ini ada tiga cara yaitu yang  pertama Komunikasi resiko, kemudian komunikasi Krisis dan Komunikasi Emergency.

Komunikasi Resiko artinya Pemerintah atau negara sebelum krisis terjadi telah mempersiapkan semacam respon yang cepat, transparan, dan mudah diakses sehingga dapat meredam  infodemic berupa informasi – informasi terkait pandemi yang kebenarannya masih dipertanyakan tetapi telah tersebar luas ditengah masyarakat luas melalui media sosial.

 Sementara komunikasi krisis memiliki karakter  komunikasi untuk memanage secara strategis dan membingkai persepsi publik pada apa yang dihadapkan untuk diikuti dengan sifatnya yang jujur, akurat, kemudian keakuratan data yang tepat tanpa menyembunyikan fakta sehingga krisis akibat pandemi ini bisa di control dengan baik.

Terakhir ada Komunikasi Emergency yaitu  bagaimana menjamin publik tetap terinformasikan dalam resonansi publik terhadap kemampuan organisasi atau pemerintah yang relevan sehingga mampu menghandle problem – problem yang terjadi di situasi krisis ini.

Sayangnya 3 Hal ini harus dilakukan secara bersaamaan dalam menghadapi situasi pandemi yang terjadi di Indonesia pada saat ini, dan pada situasi yang bersamaan kita menghadapi sesuatu yang selalu berkembang di masa Unsetter yaitu problem Infodemic yang artinya jumlah informasi yang luar biasa memborbardir masyarakat, sehingga kita menjadi sulit dalam mengidentifikasi mana yang benar dan mana yang bisa memberikan tawaran solutif atau tidak. Yang terkadang lebih mengerikan dari virusnya itu tersendiri.

Komunikasi merupakan poin penting dalam setiap kegiatan  dalam menjaga citra positif lembaga pemerintah di mata masyarakat terutama dalam kondisi krisis pada saat ini. Komunikasi yang tidak baik akan menimbulkan hubungan yang tidak baik pula antara humas pemerintah dengan masyarakat.

Pengambilan keputusan pasti memerlukan pemrosesan informasi dan langkah berani untuk meminimalkan akibat yang tidak diinginkan. Contohnya ditengah krisis yang terjadi akibat pandemi ini keakuratan data dan informasi menjadi sangat penting untuk menjaga kondusifitas di tengah krisis.

Komunikasi karakter yang harus dikembangkan adalah komunikasi yang meminimalkan rumor dan kesalahpahaman yang berpotensi bisa menjauhkan dari respon yang seharusnya. Hal ini merupakan realita yang terjadi pada masa krisis akibat pandemi covid-19.

Sebenarnya WHO pada tanggal 19 Maret 2020 sudah memberikan terkait SOP yang biasa dilakukann jika terjadi sebuah pandemi dan kata kunci yang dipakai dalam kasus covid-19 ini adalah risk communication dan community enggagements atau komunikasi risiko dan pelibatan komunitas.

Komunikasi harus dilakukan secara pro aktif seperti memberikan informasi mengenai apa yang sudah diketahui dan bahkan apa yang tidak diketahui sehingga dapat melibatkan masyarakat secara luas hingga terbesik dalam pikiran masyarakat bahwa kita sama – sama menghadapi masalah ini. Pelibatan publik secara luas ini baik publik makro maupun publik yang beresiko, kemudian dengan komunikasi resiko dan pelibatan publik yang optimal bisa mengurangi reduksi infodemic.

Peran Media Dalam Menangkal Infodemic

Media dapat berperan sebagai observer – pengamat yang tajam, tetapi media tetap harus berpijak dalam menjaga logika publik dalam menghadapi masa krisis dan menemani masyarakat untuk keluar dari masa – masa sulit

Tetapi tantangan bagi Indonesia tidak mudah karena sistem komunikasi publik yang lemah, dominasi media baru ( new media ) khususnya media sosial yang cenderung sangat terbuka dengan keragaman informasi yang kurang akurat tetapi cenderung dapat dipercaya oleh publik sebagai sumber informasi utama.

Bagaimana media membingkai respon yang sangat beragam dalam masyarakat perlu ditautkan dengan integrasi antara Komunikasi Krisis dan Komunikasi Resiko pada level Emergency

Banyak media yang saat ini memanfaatkan situasi krisis ini untuk meraup berbagai macam keuntungan salah satunya dengan kegenitan media membuat berita – berita click bait dengan judul – judul yang provokatif sebenarnya sangat membahayakan bagi publik dalam kondisi krisis seperti ini akan sangat beresiko pada pemahaman publik secara luas pada apa yang sebenarnya terjadi.

Sehingga, peran media mainstream  di Indonesia sebagai clearing house untuk kebenaran peristiwa seharusnya berperan penuh dalam merebut kendali arus informasi yang masih simpang siur yang telah memborbardir masyarakat.

Kesimpulan

Pada akhirnya strategi komunikasi publik yang baik penting agar pemerintah tidak mengambil keputusan yang salah sehingga dapat memperburuk keadaan di tengah pandemi, dari case  yang saat ini terjadi, strategi komunikasi Pubik harus dilakukan secara efektif dan melalui protokol yang jelas sehingga tidak membuat ruang publik menjadi bingung ataupun strategi  komunikasi krisis yang kurang begitu dipahami dan kurangnya pengetahuan tentang krisis belum ada

Tiga strategi yang harus bisa dilakukan pertama yaitu yaitu mengidentifikasi sumber – sumber informasi,  mengumpulkan informasi, dan menganalisis informasi. Artinya Pemerintah yang memiliki otoritas terkait hal ini sebelum memutuskan tindakan/langkah yang di ambil harus mempunyai data atau informasi yang benar benar valid sehingga penanganan wabah Covid -19 dapat diminimalisir. Pemerintah, dimanapun, tak akan mampu mencapai tujuan – tujuan kebijakanya tanpa memiliki sebuah perencanaan dan eksekusi komunikasi yang efektif. (PR Proffesional)

Tapi, Slogan ini juga bisa dibalik: Tanpa perumusan tujuan dan miskinnya perencanaan kebijakan , pemerintah tak akan mampu untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. (PR “Doubters”)

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Live streaming Webinar Diskusi & Halal bi Halal Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (3/6)

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Web Seminar (Webinar) Diskusi dengan topik “Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal” dan Halalbihalal secara virtual bersama civitas akademika yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom,  Rabu (03/06).

Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fidikom Suparto dengan dimoderatori oleh Wakil Dekan Fidkom Sitii Napsiyah, serta sambutan dari Rektor UIN Jakarta Amany Lubis. Materi pembahasan webinar diskusi ini disampaikan oleh dua narasumber, yakni Wakil Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Jamhari Makruf dan Guru Besar Fidikom UIN Jakarta, Prof. Murodi.

Pemaparan Materi Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Setelah beberapa bulan pemerintah menerapkan kebijakan PSSB, pemerintah menerapkan kebijakan new normal. Kebijakan ini melonggarkan kembali berbagai macam kegiatan secara normal namun tetap mengikuti protokol kesehatan. Kebijakan new normal ini pun berdampak pada strategi berdakwah yang sebaiknya dilakukan pada masa new normal.

Murodi menjelaskan bahwa berdakwah, baik pada masa PSSB maupun new normal tidaklah mengalami perubahan. Menurutnya, berdakwah masa pandemi Covid-19 ini lebih baik dilakukan melalui media massa atau media sosial guna mencegah penyebaran virus Covid-19, baik itu dilakukan secara lisan maupun tulisan.

“Dakwah melalui tabligh akbar di masa sekarang akan mengumpulkan orang dengan jumlah yang banyak sehingga dihindari dulu karena masih dalam masa pandemi, oleh karena itu strategi dakwah yang terbaik bisa melalui Youtube, karena ada peluang untuk berdiskusi disitu.” ujarnya.

Murodi juga menjelaskan bahwa ada beberapa problematika dalam berdakwah melalui media digital seperti yang sering ditemukan yaitu minimnya penguasaan teknologi para da’i, terutama para da’i yang sudah berusia tidak muda lagi. Dan juga pesan-pesan dan dampak negatif yang marak beredar di era digital. Problematika seperti itu harus segera diatasi.

Sementara itu, narasumber lain Jamhari menyebut, menurut beberapa survei, banyak dari ustadz dan ustadzah seperti Mamah Dedeh dan Ust. Yusuf Mansyur memiliki kepopuleran yang tinggi di masyarakat karena menggunakan media massa dan media sosial dalam berdakwah.

Mengenai dakwah digital di Indonesia, Jamhari menjelaskan bahwa tidak ada negara lain yang memiliki keunikan dakwah melalui media sosial dan media massa kecuali di Indonesia. Sehingga dakwah-dakwah di Indonesia bisa memiliki kemampuan ke kancah internasional dan menjadikan dakwah di Indonesia memiliki keunikan dan keunggulan.

“Sayangnya belum banyak yang menulis dan melakukan risetnya, bahkan risetnya dilakukan oleh orang lain. Sehingga yang seharusnya riset itu dilakukan oleh para da’i-da’i di Indonesia namun malah orang luar yang melakukannya.”ujarnya.

Peserta Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Sehingga ia pun berpesan untuk seluruh civitas Fidikom agar tidak hanya berdakwah dalam ceramah dan tulisan, namun juga melakukan riset dakwah guna mengetahui strategi dakwah yang up-to-date. Kemudian, kurikulum di Fidikom juga harus link and match dengan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga mahasiswa dapat mengetahui dan memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang ini. Mahasiswa Fidikom juga harus menguasai teknologi dan informasi serta memiliki networking atau kerjasamayang baik dengan berbagai lembaga guna memudahkannya dalam berdakwah yang lebih efektif.

“Orang yang tidak melakukan riset akan ketinggalan jaman sehingga tidak akan dipakai, orang yang tidak melakukan kerjasama akan terkucil karena sekarang ini tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sendirian, semuanya harus berkoordinasi, lintas ilmu, dan lintas pengetahuan untuk mempunyai media dalam mempromosikan dakwahnya.” imbuhnya.

Reporter : Laode Akbar