Moderasi Islam di Mata Dunia

Moderasi Islam di Mata Dunia

Reporter Haidar Akbar; Editor Belva Carolina

Sambutan acara oleh Wakil Dekan Fdikom UIN Jakarta, Siti Napsiyah. (DNK TV/Haidar Akbar)

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menggelar webinar internasional berjudul “Islamic Moderation As Worldview” melalui Zoom Cloud Meeting pada Senin (9/5).

Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta, Siti Napsiyah, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, Director of Graduate Program Washington University, Aria Nakissa, dan Direktur Pusat Studi Perdamaian dan Pemberdayaan, Rosita Tandos yang dimoderatori oleh Dosen UIN Jakarta, Wahyunengsih.

Thank you very much for the community for your effort to connect this event. So, of course I hope everybody can join this webinar. Maybe we can still invite our students. I think, i just observed the participants story. Because we have two speakers here and we will have so many knowledge information, stories of we’ll hear from the speakers“, ujar Siti Napsiyah dalam sambutannya.

Seminar internasional ini merujuk pada pembahasan mengenai pandangan dunia terhadap moderasi Islam. Seperti yang kita ketahui berbicara mengenai moderasi Islam adalah hal yang sangat kompleks. Dimana di dalamnya terjadi berbagai perdebatan sejarah yang cukup panjang selama kurang lebih dua abad. Moderasi Islam bukanlah sesuatu yang hanya dibicarakan di Indonesia, melainkan dibahas pula di Amerika Serikat, Prancis, Cina, dan negara lain.

Terdapat beberapa cara dalam memahami moderasi Islam. Misalnya dalam konteks Cina dimana beberapa budaya Cina mengalami asimilasi seperti, membangun sebuah masjid yang di atasnya memiliki semacam kubah atau menara yang terlihat seperti kuil. Adapun contoh pertentangan yang terjadi pada moderasi Islam. Seperti dalam konteks Prancis yang pada saat itu mengharuskan orang-orang untuk tidak mengenakan jilbab di sekolah atau area publik.

Pemaparan materi oleh Aria Nakissa. (DNK TV/Haidar Akbar)

Aria Nakissa menyampaikan bahwa jika kita merujuk pada ayat-ayat ummatan washatan atau melihat buku-buku tentang teologi, mereka tidak banyak membahas tentang moderasi Islam. Karena terjadi banyak perdebatan atau diskusi kontemporer tentang moderasi Islam yang muncul pada periode modern dan dalam konteks tertentu.

What i’d like to do with today’s talk is clarify the complex context in which debates over Islamic moderation emerge. So one element one dimension that i want to focus on might be called the conceptual context. So in reality, when we talk about Islamic moderation and slink to kind of three important projects that characterize moslem countries in the modern period or moslem societies,” jelasnya.

“When i say moslem societies in the modern period, i basically mean moslem societies over the past 200 years. So one project is islamic reform,” lanjut Aria Nakissa.

Pandangan lain adalah ketika pemerintahan Eropa sedang memajukan proyek pembangunan, membuat perundang-undangan baru, mendukung hak asasi manusia, serta terdapat juga hal yang bertentangan dengan dunia muslim.

Reaksi dari berbagai kelompok muslim terhadap beberapa hal tersebut inilah yang mereka sebut sebagai fanatisme. Dimana umat muslim cenderung mempertahankan pemahaman tradisional tentang syariah dan juga cenderung menganut jihad sebagai jalan mempertahankan bentuk kehidupan mereka.

Maybe you have doubts about let’s say LGBT rights that’s going to be debated issue in society. They will talk about legalizing all drugs, like for instance legalizing things like cocaine and heroin. So, there would be many groups in Indonesia that will say, okay i can see the we should change our laws to some, but were you too legalize drugs in the Indonesian context, that would go too far. So these are ongoing debates. So even the kind of law that exists in the west are changing and moslem in Indonesia, in Egypt and other places are always trying to grapple with the question of how much should they adapt and how much they resist for the sake of preserving their traditions,” ucapnya.

Pada akhirnya, pengertian moderasi ini tidak memiliki dasar yang pasti dalam Al-Qur’an dan hadits, tetapi cara moderasi Islam didefinisikan oleh berbagai pihak yang mempelajari bagaimana hal itu terkait dengan agenda pembangunan, sejarah, dan bagaimana asal muasal sesuatu. Kita harus menempatkan segala sesuatu dalam kerangka politik global yang lebih besar serta yang telah menjadi ciri masyarakat muslim selama dua abad terakhir.

Survei Nasional: Tingkat Konservatif Muslim Milenial Lebih Tinggi dibanding Generasi Lain

Survei Nasional: Tingkat Konservatif Muslim Milenial Lebih Tinggi dibanding Generasi Lain

Reporter Laode M. Akbar H; Editor Tiara De Silvanita

Foto Bersama Peneliti PPIM dengan Narasumber dalam Launching Hasil Penelitian “Beragam Ala Anak Muda”, Rabu (08/12)
Sumber: YouTube – PPIM UIN Jakarta

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui Media and Religious Trend in Indonesia (Merit Indonesia) menggelar Launching Hasil Survei Nasional dengan Tema “Beragama Ala Anak Muda: Ritual No, Konservatif Yes” via Zoom dan akun YouTube PPIM UIN Jakarta, Rabu (08/12).

Pada acara kali ini, PPIM menyampaikan hasil penelitiannya di berbagai wilayah Indonesia terkait gaya ekspresi keagamaan baru dalam dunia modern saat ini di berbagai generasi, terutama bagi generasi muda.

Selain itu, guna memperdalam materi hasil penelitiannya, PPIM juga mengundang berbagai pihak pemerintah, ahli komunikasi, dan tokoh muslim.

Perwakilan peneliti Merit mengatakan hasil penelitian ini menjelaskan generasi muda atau milenial memiliki tingkat konservatif lebih tinggi dibanding generasi lainnya. Namun, generasi muda memiliki presentase religiusitas lebih rendah dibanding generasi tua.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa media sosial menjadi sumber ilmu pengetahuan dan ranah diskusi terkait agama yang paling banyak digunakan, sementara generasi tua lebih memilih media TV dan radio.

Penyampaian Peneliti PPIM terkait Hasil Penelitian
Sumber: YouTube – PPIM UIN Jakarta

Mengomentari hasil penelitian tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI Widodo Muktiyo menjelaskan pemerintah terkhusus Kominfo secara struktural harus dibenahi dan secara fungsional keterampilan SDM juga harus dikembangkan terhadap isu-isu yang mudah dicerna oleh generasi muda.

 “Sebab justru milenial itu treatment-nya itu juga harus milenial, harus ada view experience yang sama, kita tidak bisa memaksakan tanpa ada pendekatan yang humanistik,” ujarnya.

Widodo pun menjelaskan bahwa Kominfo sedang menerapkan model dengan pegawai humasnya menjadi micro-influencer yang aktif menggunakan akun media sosial individu dalam menebar kebaikan.

Terkait dengan politik, Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media, Kementerian Sekretaris Negara RI Faldo Maldini menjelaskan kuatnya gairah konservatif pada anak muda akibat dari ruang politik yang terbatas.

Faldo juga mempertanyakan bagaimana peran kampus membuka ruang mewujudkan cita-cita perjuangan politik bagi generasi muda.

“Jika politik itu menyala, konservatisme itu pasti akan meredup. Tapi  kalau tidak, anti moderasi akan menjadi arus utama dari apa yang dipilih anak-anak muda,” tambah Faldo.

Selain dalam politik, Ulama Muda Habib Ja’far mengatakan kelompok moderat dalam menyampaikan dakwahnya di media sosial sudah masif, namun dalam pengemasan dan penyampaiannya tidak sesuai dengan gaya media sosial.

“Makanya saya mencoba menyesuaikan dengan segmen yang saya hadapi, dengan gaya pakaian yang menyesuaikan, dengan gaya bahasa yang menyesuaikan, dengan diksi-diksi yang menyesuaikan,” ujar Ja’far.

Memahami Konstruksi Moderasi Beragama

Memahami Konstruksi Moderasi Beragama

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Farhan Mukhatami

Penyampaian materi oleh Khadijah Mualim pada acara Pelatihan Soft Skill PBAK Berkelanjutan Seri 2 “Moderasi Beragama” Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Soft Skill dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Berkelanjutan Seri 2 yang bertajuk “Moderasi Beragama” melalui Zoom Meeting dan siaran langsung Youtube pada Rabu (27/10). Acara ini merupakan sesi kedua dari sepuluh sesi.

Sekretaris Wakil Dekan Fdikom Cecep Castrawijaya dalam sambutannya, berharap dengan pemberian materi moderasi bergama ini mahasiswa dapat memahami dan menjalankan agama secara moderat sesuai dengan syariat Islam.

“Harapannya mahasiswa dapat memahami dan menjalankan agama secara moderat sesuai dengan syariat Islam,” ujar Cecep.

 Sambutan oleh Sekretaris Wadek Fdikom Cecep Castawijaya dalam Pelatihan Soft Skill PBAK Berkelanjutan Seri 2 “Moderasi Beragama” Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Dosen Fdikom Khadijah Mualim menjelaskan bahwa pentingnya memahami konsep moderasi beragama ini adalah untuk menyikapi perjalanan hidup pada masalah-masalah keagamaan yang sangat sensitif.

Menurut penuturan Khadijah, moderasi beragama tidak terlepas dari eksistensi paham esktrem kiri dan kanan.

“Moderasi agama di negeri kita sudah menjadi wacana publik sejak  beberapa tahun terakhir,  muncul pemikiran dan gerakan yang terindikasi mengandung unsur ekstremisme dan intoleran,” tambahnya.

Pemaran Materi “Konstruksi Metodologi Moderasi Beragama” oleh Dosen Fdikom Khadijah Mualim.
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Selain itu, Ia juga memberikan beberapa contoh kasus pembangunan produk konstruksi moderasi beragama di masyarakat yang sudah lama dicontohkan oleh para Jumhur Ulama.

Harapannya, dengan ini mahasiswa sebagai calon cendekiawan dapat memahami konstruksi metodologi moderasi beragama dengan baik, sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan esktremis yang ada.

Majelis Taklim Kitab Kuning, Satu Kesatuan Besar bagi Umat Islam

Majelis Taklim Kitab Kuning, Satu Kesatuan Besar bagi Umat Islam

Reporter Putri Anjeli; Editor Syaifa Zuhrina dan Elsa Azzahraita

Penyampaian Materi oleh Rakhmad Zailani Kiki  selaku Ketua Ketua PW RMI NU DKI Jakarta.
Sumber: DNK TV-Syaifa Zuhrina

Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Pusat Studi Pemberdayaan dan Perdamaian UIN Jakarta dan PW RMI NU DKI Jakarta bekerjasama menyelenggarakan webinar bertajuk “Majelis Taklim, Kitab Kuning dan Moderasi Beragama” secara virtual, pada Kamis (16/9).

Dihadiri oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Suparto, Ketua PWNU DKI Jakarta Samsul Ma’arif, Ketua PW RMI NU DKI Jakarta Rakhmad Zailani Kiki, Ketua Bidang II PW RMI NU DKI Jakarta Badrah Uyuni, penulis buku “Dimensi-dimensi Kitab Kuning”, Syamsul Yakin, jajaran dosen serta para mahasiswa Fdikom.

Ketua PW RMI NU DKI Jakarta sekaligus peneliti dan penulis Majelis Taklim Kitab Kuning di Jakarta, Rakhmad Zailani Kiki memaparkan materi mengenai “Majelis Taklim Kitab Kuning dan Moderasi Beragama”.

Ia memaparkan salah satu riset yang dilakukannya pada tahun 2016 terhadap 234 Majelis Taklim Kitab Kuning yang tersebar di 5 wilayah kota dan 1 Kabupaten DKI Jakarta, bahwa Majelis Taklim Kitab Kuning tetap populer di Jakarta.

“Dari sekian banyak ulama-ulama yang ada di Jakarta yang memang lahir hanya dari Majelis Taklim Kitab Kuning. Ini membuktikan bahwa Majelis taklim kitab kuning tetap menjadi kesatuan yang besar bagi umat Islam,” ucapnya.

Selain itu, Ketua Bidang ll PW RMI NU DKI Jakarta Badrah Uyuni menambahkan, Majelis Taklim itu merupakan lembaga pendidikan keagamaan non formal yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Pembelajaran pada Majelis Taklim mengarah kepada pembentukan akhlak mulia bagi jamaahnya serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Dan kitab kuning ini merupakan kitab literatur Islam yang ditulis dalam bahasa arab klasik, Isi kitab meliputi berbagai bidang studi Islam,” ujarnya.

Penyampaian Materi oleh Badrah Uyuni selaku Ketua Bidang ll PW RMI NU DKI Jakarta.
Sumber: DNK TV-Syaifa Zuhrina

Salah satu peserta yang merupakan Mahasiswa PMI UIN Jakarta, Muhammad Darusman mengatakan webinar ini  sangat bermanfaat bagi mahasiswa.

“Webinar ini sangat bermanfaat terkhusus untuk mahasiswa aktif yang berjiwa idealis dan akademis agar selalu terus meng-upgrade keilmuan dan wawasan dan sebagai benefit kehidupan di dunia nyata dan dunia maya,” ucapnya.

Potret Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Muslim

Potret Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Muslim

Reporter : Erika Oktaviani; Editor : Elsa Azzahraita

Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta terkait moderasi beragama di kalangan mahasiswa muslim, Kamis (25/2).

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan hasil penelitian terkait moderasi beragama terhadap tiga PTKIN (UIN Jakarta, UIN Bandung, dan UIN Yogyakarta) dengan metodologi kuantitatif dan kualitatif.

Diikuti oleh Dewan Penasihat PPIM UIN Jakarta, Azyumardi Azra, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden RI, Siti Ruhaini Dzuhayatin, Ketua Pokja Moderasi Beragama Kementrian Agama RI, Oman Fathurahman, Kepala Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Ahmad Najib Burhani.

Jamhari mengatakan penelitian ini sangat penting untuk memajukan Indonesia terutama mengembangkan budaya toleransi dikalangan akademisi di kampus. Penelitian ini merupakan keinginan untuk menyeimbangkan beberapa pemikiran juga pendapat bagaimana agar terus memajukan dan memantapkan moderasi beragama yang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia.

Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI mengatakan bahwa lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi memiliki fungsi dan peran yang penting dalam menyemai prinsip keberagamaan yang menjunjung tinggi sikap moderat mahasiswa perlu diberikan pemahaman memadai.

Arief Subhan selaku koordinator penelitian memaparkan bahwa moderasi beragama menjadi bagian tak terpisahkan dari revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Kapasitas institusi merupakan faktor strategis yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam implemantasi moderasi beragama di kampus Islam.

“Perlunya memperkuat kembali pedekatan non mazhabi. Di lingkungan PTKIN tingkat intoleransinya meningkat dengan sesama muslim yang berbeda mazhab dibandingkan dengan antar penganut agama lain. Oleh karena itu proses pembelajaran harus kembali diperkuat dengan pendekatan non mazhabi,” Ujar Azyumardi Azra.

Siti Ruhaini mengatakan konsep manusia moderat memiliki pandangan keyakinan yang egaliter, bertindak inklusif, serta berkehendak responsif afirmatif yang terbuka untuk berbagi di ruang publik.

Oman fathurahman menuturkan bahwa moderasi beragama bukan upaya memoderasi agama melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan umat beragama. Moderasi beragama mengalami penguatan secara cepat dengan tiga area fokus yang sedang digalakkan yaitu regulasi, wacana, dan layanan publik.

Diharapkan melalui penelitian ini, moderasi beragama dapat diterapkan dengan baik, dimana sudah menjadi treadmark Kementerian Agama RI dalam menjawab tantangan intoleransi saat ini.

Moderasi Beragama Sebagai Pencegahan Radikalisme

Moderasi Beragama Sebagai Pencegahan Radikalisme

Rahmatul Hidayat

Webinar series oleh PPIM UIN Jakarta melalui zoom meeting (5/2)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan  Convey Indonesia menggelar Webinar series dengan tema “Moderasi Beragama” secara virtual melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube Convey Indonesia , Jumat (5/2).

Mengusung topik “Masjid dan Moderasi Beragama”, webinar ini dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama  RI, Juraidi,  Ketua Majelis Ulama Indonesia, Sudartono Abdlu Hakim, Pengurus PP Dewan Masjid Indonesia, Kustini, Koordinator Penelitian Buletin PPIM UIN Jakarta, Kusmana,  serta moderator, Jamhari Makruf selaku Team Leader Convey Indonesia.

Kusmana mengatakan beberapa masjid disalahgunakan untuk dakwah yang berbau radikal, sehingga hal tersebut menjadi tantangan besar.

“Kita dihadapkan dalam dua tantangan besar, yaitu munculnya parokialisme paham keagamaan dan konservatisme paham keagaamaan  yang berimplikasi dalam sikap radikalisme baragama”.

Kusmana juga mengatakan bawasanya masyarakat juga perlu waspada dan prihatin karena ada buletin-buletin tertentu yang menyebarkan paham radikalisme yang beredar di masjid. Bulletin tersebut tentu tidak bertanggung jawab atas tulisannya.

2021-02-05 (27)
Sudarnoto Abdul Hakim selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Sudarnoto Abdul Hakim selaku Ketua MUI menambahkan bahwa kebanyakan anak muda dari golongan moderat itu enggan untuk mengurusi masjid, sehingga pengurus masjid diambil kelompok-kelompok radikal.

“Kelompok-kelompok seperti ini akan terus bergerak meskipun secara kelembagaan sudah tidak ada tapi tidak ada jaminan bahwasanya pikiran itu mati, tidak ada jaminan kelompok itu mati karena kelompok radikal tersebut akan bergerak dengan berbagai cara,” ujar Sudartono.

Juraidi memastikan pemerintah memperhatikan bagaimana moderasi beragama yang terjadi di masijd-masjid. Pemerintah membuat berbagai macam regulasi masjid, dengan harapan  untuk memaksimalkan fungsi dari masjid tersebut.

Moderasi Beragama di Mata Media

Moderasi Beragama di Mata Media

Web Seminar Moderasi Beragama di Mata Media (07/8)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerja sama dengan Countering Violent Extremism In Indonesia (CONVEY) menggelar Webinar (Web Seminar) Series 7 bertajuk “Moderasi Beragama di Mata Media” pada Jumat (07/08). Webinar ini dihadiri oleh empat narasumber, diantaranya Makroen Sanjaya, Wakil Pemimpin Redaksi RTV, Savic Ali, Direktur NU Online dan Islami.co, Muhammad Hanifuddin, Pemimpin Redaksi Buletin Jumat Muslim Muda Indonesia, dan Ed Sepsha, Jurnalis Kyodo News untuk Kantor Berita Jepang dengan moderator Jamhari Makruf (Team Leader CONVEY Indonesia). Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom yang dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia dan disiarkan langsung di YouTube Convey Indonesia.

Seminar kali ini menitikberatkan pada moderasi beragama di media. Fokus utamanya adalah mengetahui bagaimana cara memaksimalkan media yang ada untuk menyebarkan ajaran Islam yang moderat.

Makroen Sanjaya menjelaskan bahwa pengisi acara keagamaan di televisi bersifat populis. Perspektif ekonomi media juga lebih dominan, ketimbang perspektif fungsi ideal media sebagai informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Jika program agama dakwah Islam tersebut tidak berkiprah dan mencapai target audiens maka program tersebut akan dihapus atau diganti. Sehingga perspektif ekonomi medianya lebih dominan.  Pungkas Makroen.

Selain itu, internet menjadi platform yang menonjol dalam penyebaran dan diskusi ide-ide keagamaan, sehingga memungkinkan banyaknya gerakan agama baru memasuki ranah publik, dan mengubah cara lembaga keagamaan berinteraksi dengan komunitas mereka.

“Penutur agama tumbuh subur di media sosial. Bebas menyebarluaskan pemahaman mereka masing-masing.” Ujarnya.

Savic Ali juga menjelaskan bahwa masa depan Indonesia akan dipengaruhi oleh apa yang berlangsung di dunia online.

“Realitas 93% orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup. Lebih tinggi dari Mesir, Malaysia dan lainnya, maka transformasi lewat jalur keagamaan sangat berperan.” Ujar Savic.

Menurut riset yang dilakukan Savic, media keislaman memiliki pembaca khususnya sendiri sehingga media yang bersifat intoleran mulai tergeser. Media umum seperti Kompas dan Tribunnews pun mulai menulis isu-isu keislaman.

Muhammad Hanifuddin menjelaskan konten islami yang ditampilkan harus fokus mengutamakan moderasi beragama. Sumber-sumbernya dengan mengombinasikan data klasik dan kekinian agar mudah diserap oleh berbagai kalangan.

“Terkait dengan konten, kita fokus mengutamakan moderasi beragama dan itu mempengaruhi narasi dan framing dari setiap berita yang kita kemas.”

Selanjutnya, Ed Sepsha menyarankan kepada media di Indonesia khususnya, agar membuat berita-berita Islam yang memberikan citra positif. Kebanyakan isu agama di media Internasional masih mengangkat tema hari besar. Tantangannya adalah bagaimana media memberitakan citra Islam di Indonesia tidak seperti di timur tengah.

“Kebanyakan liputan agama masih ceremonial, masih peristiwa, serangan. Tapi sisi-sisi humanis mengenai keagamaan belum banyak diangkat.”

Dengan adanya seminar ini diharapkan media dapat menyiarkan ajaran Islam moderat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Reporter: Erika Oktaviani