Kerugian Psikis Penggunaan Media Sosial bagi Anak di Bawah Umur

Kerugian Psikis Penggunaan Media Sosial bagi Anak di Bawah Umur

Oleh Hartika Rahman; Editor Ainun Kusumaningrum

Ilustrasi media sosial.
Sumber: IDX Channel

Media sosial sudah sangat luas jangkauanya dan cepat dalam memberikan update tentang informasi juga berita kepada penggunanya. Karena media sosial ini biasa digunakan untuk berkomunikasi karena sangat efisien. Dan sosial media ini tidak ada kubu kalangan umur, yang berarti sosial media digunakan oleh segala umur. Mulai dari anak kecil, dewasa hingga orang tua. Tetapi media sosial juga mempunyai sisi buruk juga dampak yang serius apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dan hati-hati.

Data menyimpulkan dari 20 anak di bawah umur bermain media sosial hanya 2 anak yang bisa memanfaatkanya dengan baik. Lalu bagaimana dengan yang 18 anak yang lain? Mereka cenderung sudah kecanduan dengan media sosial, media sosial ini sangat tinggi dengan risiko cyberbullying, dan juga kesehatan psikologi anak sudah pastinya terganggu. Hal ini bisa menyebabkan adanya rasa kecemasan dan depresi pada anak.

Media sosial merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang sulit untuk dibendung. Maka dari itu, para orang tua tidak boleh bersikap acuh dan mulailah menetapkan aturan agar anak tetap aman dalam menggunakan media sosial. Dampak yang di dapat ialah anak bisa menjadi malas, malas berkomunikasi didunia nyata dan pemahaman bahasa menjadi terggangu.

Mereka juga lebih egois dibanding dengan anak yang tidak mempunyai media sosial. Karena situs jejaring sosial ini akan menimbulkan dampak negatif yang membuat anak lebih mementingkan diri sendiri. Mereka tidak peduli dengan sekitarnya, sebab waktunya habis untuk menjelajah internet. Oleh karena itu menyebabkan banyaknya anak lebih apatis dengan lingkungan sekitar.

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Sumber: KPAI

Dan dampak yang sangat fatal bagi anak adanya kejahatan atau kriminal di media sosial. Hal ini sangat mudah bagi penjahat menemukan mangsanya sebab media sosial merupakan platform paling mudah di jangkau. Rata-rata orang dalam bermedia sosial tidak benar-benar menunjukan identitas atau jati dirinya yang asli. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, bisa saja dia memalsukan identitasnya di media sosial untuk melakukan kejahatan yang sangat berbahaya.

Hal ini juga baru-baru terjadi kepada seorang siswi SMP yang nyaris menjadi korban perkosaan oleh seorang pria yang dikenalnya di media sosial di sekitar kawasan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, pada Sabtu malam (30/10).

Korban berhasil melarikan diri dan ditemukan warga dalam kondisi tanpa mengenakan celana. Kasat Reskrim Polres Karanganyar AKP Kresnawan Hussein mengatakan bahwa korban baru dua hari berkenalan dengan pelaku melalui media sosial. Mereka lantas membuat janji untuk bertemu.

“Korban diantar ibunya dari rumah dan turun di jalan,” ujarnya.

Hingga di lokasi tersebut, pelaku memaksa korban untuk melayani birahinya. Dia sempat mengancam korban yang menolak keinginannya. Beruntungnya sebelum disetubuhi, dia berhasil lolos dan kemudian lari untuk bersembunyi. Meskipun, dia harus lari tanpa mengenakan celana yang telah dilepas oleh pelaku. Korban lantas mendapat pertolongan dari warga dan diantar melapor ke polisi. Menurut Kresnawan, pihaknya saat ini menangani kasus tersebut bersama tim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karanganyar.

CreaTalk CBX 2021: How Social Media Shapes The Way We Think

CreaTalk CBX 2021: How Social Media Shapes The Way We Think

Reporter Anggita Fitri Chairunisa; Editor Fauzah Thabibah

Creatalk, acara puncak Campus Broadcasting Expo (CBX) 2021.
Sumber: Divisi Publikasi dan Dokumentasi CBX 2021

Dakwah dan Komunikasi Televisi (DNK TV) UIN Jakarta menyelenggarakan CreaTalk sebagai acara puncak Campus Broadcasting Expo (CBX 2021) pada Sabtu, (16/10). Pada tahun Ini CreaTalk CBX mengusung tema “How Social Media Shapes The Way We Think”.

Ketua pelaksana CBX 2021, Taufik Nur Rohman mengatakan bahwa kegitan ini bertujuan untuk membuka pikiran masyarakat mengenai sosial media.

“Tema dari CreaTalk CBX 2021 adalah How Social Media Shapes The Way We Think, itu kita angkat melihat dari kondisi masyarakat sekarang yang terbilang pendidikan terkait media sosial cukup rendah maka dari itu kita ingin CBX hadir untuk masyarakat secara luas agar nantinya masyarakat lebih terbuka akan pengetahuan-pengetahuan terkait media sosial,” ujar Taufik.

CreaTalk ini menghadirkan Jurnalis SCTV, David Rizal, content creator, Fardi Yandi, serta komedian, Pandji Pragiwaksono, selain itu dimeriahkan juga dengan penampilan spesial dari Ruang Baca.

Pemaparan materi oleh David Rizal di acara CreaTalk CBX 2021, Sabtu (16/10).
Sumber: Divisi Publikasi dan Dokumentasi CBX 2021

David Rizal mengaku senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini, ia juga menyatakan tema yang diangkat pun sangat menarik dan penting untuk dibahas.

“Ngomong masalah anak muda milenial pasti erat kaitannya dengan sosial media, aku yakin pasti teman-teman panitia dan peserta semuanya adalah pengguna sosial media, apa yang ingin kita lakukan dan bicarakan pasti ada pengaruhnya dengan sosial media, jadi menurut aku acara ini penting banget karena jangan sampai apa yang kita lihat di sosial media mentah-mentah kita adaptasi, kita anggap itu benar karena ada pepatah bilang yang kamu lihat di sosial media belum tentu itu aslinya di dunia nyata,” tutur David Rizal kepada tim liputan DNK TV, Sabtu (16/10).

Berbeda dengan sebelumnya, selain mengadakan perlombaan news presenter, CBX 2021 juga mengusung perlombaan TikTok challenge, dan virtual class untuk berbagi ilmu secara cuma-cuma. Dalam virtual class ini diajarkan ‘How to be a Powerful Speaker’ oleh Founder Bicarapede Academy, M. Syafiul Muktapa, dan juga dibekali ilmu ‘The Art of Copywriting’ oleh Dwi Andika Pratama Founder of Impactful Writing.

Meilita Elaine, pemenang lomba news presenter CBX 2021 merasa sangat antusias dengan seluruh rangkaian acara CBX 2021. Ia juga pernah menjadi juara kedua pada lomba news presenter CBX tahun lalu. Meilita pun mengungkap rahasia suksesnya menjadi juara lomba news presenter kepada tim liputan DNK TV.

“Aku mulai ikut lomba-lomba pada tahun 2019 akhir dan berlanjut sampai saat ini. Di CBX tahun lalu aku dapat juara 2, dan aku merasa mungkin aku belum pantas dapat juara satu, tapi dari situ aku mencari keunggulan si juara satu, juara tiga, lalu aku belajar bahwa kita harus punya ciri khas diri sendiri, jadi tidak usah berharap jadi orang lain tapi lakukan yang terbaik saja,” jelasnya. 

Salah satu peserta CreaTalk, Imam Kurniawan beranggapan bahwa kegiatan ini memberikan banyak manfaat serta kesan positif.

“Banyak banget yang didapatkan dari acara CreaTalk ini, yang pertama tentang bagaimana bijak dalam bersosial media, mengantisipasi hoax yang beredar dengan cara menyaring dulu baru men-sharing seperti yang Bang David bilang. Narasumber kedua juga luar biasa sekali, Bang Fardi yang menyampaikan bagaimana cara kita memulai menjadi seorang konten kreator, dan ditutup dengan closing dari Bang Pandji yang luar biasa banget materinya tentang bagaimana kita membuat sebuah konten yang dapat menghibur diri kita, jadi bukan hanya untuk kesenangan orang lain melainkan kesenangan kita sendiri, acaranya keren banget,” ucapnya.

David Rizal berharap semoga pengguna sosial media di Indonesia dapat menjadi warganet yang bijak dan beradab agar menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang maju.

“Harapanku untuk semua pengguna social media khususnya anak muda, yuk sama-sama sekarang melek media, melek digital, kita jadi pengguna social media atau netizen yang beradab. Think before you click, think before you share, think before you type the comment. Jadi jangan sampai jarimu harimaumu. Jadilah netizen yang bijak agar menunjukkan bahwa Indonesia itu negara yang maju bukan negara yang bobrok.”

Memaksimalkan Ekonomi dengan Media Sosial

Memaksimalkan Ekonomi dengan Media Sosial

Reporter Annisa Nahwan; Editor Fauzah Thabibah

Salah satu pemateri dan EGGA (Emina Girl Gang Ambassador) di  Workshop Makeup ECONOWEEKS 2021

Emina dan Rodamas kembali mengadakan acara  Workshop Make Up ECONOWEEKS 2021 secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting, pada Sabtu (24/4).

Acara ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana memaksimalkan penggunaan media sosial, terutama dalam mengasah dan menambah kemampuan yang kita miliki.

Indonesia sendiri menjadi negara urutan ke-6 di dunia dengan pengguna media sosial terbanyak pada tahun 2019 lalu. Maka dari itu salah satu EGGA (Emina Girl Gang Ambassador), Annisa Riveliamemberikan kiat-kiat dalam memaksimalkan penggunaan media sosial.

Pertama, membuat akun dengan nama atau username yang mudah diingat. Hal tersebut memudahkan orang lain untuk mencari akun media sosial yang kita miliki. Buatlah media sosial yang kita miliki sekreatif mungkin melalui bakat atau kemampuan yang kita miliki.

Kedua, mematuhi peraturan yang ada di media sosial. Bukan hanya dalam kehidupan nyata, kehidupan di media sosial juga memiliki peraturan tersendiri, yang paling utama good attituade, dilanjut dengan confident, dan positive content.

Ketiga, jangan pernah menyerah atau berhenti untuk berkreasi karena terlalu mendegarkan argumentasi orang lain. Kita harus dapat mengubah prespektif menjadi sebuah motivasi, balas ucapan atau pandangan jelek orang lain dengan kebaikan. Kita tidak perlu selalu memenuhi ekspetasi orang lain, yang harus kita lakukan adalah memperbaiki diri kita. Seperti yang Annisa Rivelia katakan ‘’Do not hesitate to trying on what you’re passionate about. Just do it constantly, lightly yet whole heartedly’’ .

Keempat, dalam media sosial seperti instagram, kita dapat memanfaatkan instastory untuk memiliki jangkauan akun yang lebih luas dengan share QnA, atau pun dengan membalas komentar dari followers.

Kelima, kita juga dapat menggunakan tagar untuk memperbanyak reaksi dari orang banyak. Namun, penggunaan tagar tetap memiliki batas maksimal dalam tiap unggahan yaitu 5 tagar.

Terakhir, kita juga harus konsisten terhadap konten yang akan kita buat dengan menjaga mood. Apabila bosan dengan konten yang biasa dibuat, kita dapat mengubah konten agar lebih baru atau kreatif. Lihat referensi sebanyak-banyaknya dapat  menjadi cara lain untuk mengubah mood untuk membuat konten baru.  

Jangan Unggah Sertifikat Vaksin ke Medsos

Jangan Unggah Sertifikat Vaksin ke Medsos

Reporter Taufik Akbar Harefa; Editor Nur Arisyah Syafani

Proses vaksinasi
Sumber: covid.go.id

Pemerintah melarang seluruh peserta vaksinasi Covid-19 mengunggah sertifikat vaksin ke media sosial. Larangan ini merespons tren warganet memamerkan bukti telah menjalani vaksinasi.

Setelah dua minggu menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama, maka peserta akan kembali menerima suntikan vaksin tahap kedua. Sama seperti pada penyuntikan pertama, sertifikat vaksinasi juga kembali diterima.

Namun, penerima vaksin diimbau agar tak mengunggah sertifikat vaksin ke media sosial karena dapat membahayakan data pribadi.

Menteri Komunikasi dan Informatika Jhony G. Plate, mengimbau masyarakat yang sudah mendapatkan sertifikat bukti untuk tidak membagikan sertifikat tersebut ke media sosial. Sebab, di dalam kartu tersebut menyimpan data pribadi sehingga tindakan ini dapat membahayakan diri sendiri.

”Sertifikat vaksinasi ini jangan di upload di sosial media, sebaiknya hanya untuk diri sendiri dan keperluan-keperluan khusus saja,” Terang  Jhony.

Hal serupa juga disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

“Pemerintah meminta kepada para penerima vaksin Covid-19 yang sudah mendapat sertifikat bukti telah divaksin agar tidak mengunggahnya ke media sosial ataupun juga mengedarkannya,” tuturnya.

Menurutnya, data pribadi bisa bocor jika QR Code itu tersebar lewat unggahan medsos. Wiku berharap warga bijak menjaga data pribadi masing-masing.

“Gunakan sertifikat tersebut sesuai dengan kebutuhannya karena tersebarnya data pribadi dapat membawa risiko bagi kita,” tambahnya.

Pemerintah berharap imbauan ini bisa dilaksanakan oleh seluruh masyarakat yang telah divaksin, agar kerahasiaan data sasaran bisa terjaga keamanannya.