Survei : Makin Bayak Orang Menghindari Berita Penting

Survei : Makin Bayak Orang Menghindari Berita Penting

Reporter Debri Wahyu Wardana; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi seseorang memuat media. (Freepik/@freepik)

Semakin berkurangnya kepercayaan orang terhadap media menyebabkan banyak orang lebih selektif terhadap berita yang dibacanya. Seperti berita yang berisikan hal yang penting seperti Covid-19 hingga invasi Rusia ke Ukraina.

Reuters Institute for the Study of Journalism dalam Laporan Berita tahunannya mengatakan, beberapa orang yang berusia di bawah 35 tahun mengatakan bahwa berita penting dapat menurunkan kenyamanan suasana hati mereka.

Semakin banyaknya berita hoaks juga memicu berkurangnya kepercayaan orang terhadap media. Menurut hasil survei Edelman Trust Barometer 2010, tujuh dari 10 masyarakat dunia merasakan berita palsu akan digunakan sebagai senjata. Bahkan pada survei tahun 2022 sebanyak 15 dari 27 negara mengalami penurunan kepercayaan terhadap media.

Di Amerika Serikat (AS) kepercayaan terhadap berita menurun bahkan mencapai titik terendah. Menurut Direktur Institut Reuters, Rasmus Kleis Nielsen dalam laporannya berdasarkan survei daring terhadap 93.432 orang di 46 negara bahwa hanya sebagian kecil yang percaya terhadap organisasi berita di atas kepentingan kormesial.

“Sejumlah besar orang melihat media sebagai subjek untuk pengaruh politik yang tidak semestinya, dan hanya sebagian kecil yang percaya bahwa sebagian besar organisasi berita menempatkan yang terbaik bagi masyarakat di atas kepentingan komersial mereka sendiri,” tulisnya.

Sedangkan di Indonesia menurunnya tingkat kepercayaan terhadap berita akibat dari semakin banyaknya berita hoaks terlebih lagi tentang isu politik. Dari data Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) pada tahun 2018, jenis hoaks yang sering diterima masyarakat adalah isu sosial dan politik sebesar 91,8 persen, selain itu 88,6 persen masyarakat juga menyatakan paling sering menerima berita tentang isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Ilustrasi berita hoaks (Freepik/@freepik)

Jumlah persentase hoaks tentang isu politik yang tinggi membuat banyak orang lebih menghindari berita tentang politik. Lebih lagi anak muda yang lebih tertarik menerima berita yang berisikan hiburan dibandingkan isu politik.

Salah satu mahasiswa UIN Jakarta, Haidar Ali mengatakan bahwa permasalahan politik tidak terlalu dipedulikan.

“Kalo masalah politik sih saya tidak tertarik jadi mau membangga-banggakan atau menjelek-jelekkan orang yang lawan politik gitu saya tidak peduli,” ujarnya.

Menurut Haidar bahwa banyaknya berita hoaks di media membuat beberapa orang lebih suka menerima berita atau informasi di media alternatif seperti TikTok. Terlebih lagi kaum muda yang lebih suka menerima berita dengan cara yang lagi mudah dan simpel.

“Di TikTok lebih enak untuk menerima berita karena berbentuk video dan tulisan dibandingkan harus membaca di web yang hanya berisi tulisan saja, selain itu kalo ada berita hoaks biasanya ada komentar yang buruk, jadi lebih mudah diseleksi,” ujar Haidar.

Terdapatnya konten hiburan yang ada di TikTok menjadi platform tersebut paket lengkap untuk anak muda. Bukan hanya sebuah konten informasi yang didapat terdapat juga konten hiburan di dalamnya. Dengan demikian, perlahan anak muda lebih suka konten hiburan dibandingkan memuat berita.

TikTok menjadi tempat kaum muda untuk mencari, berdiskusi, atau berbagi berita. Setiap minggu 78 persen anak berusia 18 hingga 24 tahun mengakses melalui agregator, mesin pencari, dan media sosial. Empat puluh persen dari kelompok usia tersebut menggunakan TikTok setiap minggunya.

Kepercayaan terhadap media terutama media tradisional yang menurun seharusnya dapat merebut kembali kepercayaan orang dengan meningkatkan kredibilitas lewat produksi berita-berita yang valid. Jika kepercayaan terhadap media berkurang akan mengakibatkan media alternatif seperti TikTok yang tanpa ruang redaksi memadai dan prosedur jurnalisme ketat akan semakin menjamur.

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Penulis Annisa Nahwan Shafira; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustasi sadfishing. (Pinterest/@healthline)

Tren pada sosial media ternyata dapat menjadi ajang pamer kesedihan, yang mana hal tersebut dibuat menjadi suatu yang berlebihan agar penonton merasa iba, istilah ini disebut sadfishing.

Sadfishing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang dalam menunjukkan masalah emosional mereka secara berlebihan untuk membangkitkan simpati pada orang lain.

Namun, hal ini tidak selalu mendapat respon yang baik dari para pembaca atau pengikut yang melihatnya, bahkan tren ini dapat menimbulkan cyber bullying yang justru membuat orang tersebut menciptakan rasa kurang percaya diri (insecure) terhadap masalahnya dan dapat merugikan kesehatan mental. Oleh karena itu, istilah tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan beberapa opsi lain dalam mencurahkan isi hati, baik itu menceritakannya pada orang tua, sahabat atau ahli psikologi.

Ilustrasi media sosial. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya istilah sadfishing, salah satu Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta, Diva Putri Cahyadi memaparkan perlunya berhati-hati dalam bersosial media terlebih lagi dalam menceritakan kisah pribadi yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang pembaca yang positif maupun negatif.

“Media sosial itu bukan tempat yang baik untuk mencurahkan isi hati atau permasalahan, sebab media sosial itu bersifat umum yang semua orang bisa mengetahuinya, dan takutnya menjadi masalah semakin besar, bukannya mengundang simpati malah menjatuhkan harga diri,” ujarnya saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (7/6).

Namun tidak sedikit yang memiliki perspektif sebaliknya, seperti tanggapan Mahasiswa lain, Fathia Rachmawati yang menganggap bahwa sudah menjadi hak semua orang dalam membagikan apapun di sosial media milik pribadi serta kebebasan dalam mengekspresikan diri.

“Karena curhat di medsos itu juga menjadi hak kita, kita bebas untuk mengekspresikan diri di sana. Kalau ada orang yang berkomentar macam-macam atau menanggapi hal-hal negatif, ya cuekin aja atau kalau memang tidak suka bisa kita blokir akun tersebut,” Imbuh Fathia kepada tim DNK TV.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian orang melontarkan curhatan hanya untuk sekadar berbagi cerita (sharing) bukan untuk mencari perhatian, serta perlunya berhati-hati dan peduli terhadap dampak dari perbuatan yang dilakukan.

Kemajuan Industri Media di Masa Depan

Kemajuan Industri Media di Masa Depan

Reporter Alda Wahyuni; Editor Belva Carolina

Pemaparan materi oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan LPP TVRI, Efianty Analisa. (DNK TV/Alda Wahyuni)

Program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fdikom mengadakan Seminar Nasional yang dilangsungkan secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting serta disiarkan live streaming di kanal youtube Fdikom pada Senin (6/6) dimulai dari pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

Acara yang bertemakan “Majukan Industri untuk Masa Depan” dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Nadzif, perwakilan dari mahasiswa pogram studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Acara tersebut membahas mengenai manajemen industri penyiaran di Indonesia yang dimoderatori oleh Lukman Hakim dan M. Fanshoby. Turut hadir Kepala Program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Armawati Arbi.

Armawati berharap melalui acara Seminar Nasional ini dapat menginspirasi dosen-dosen Fdikom terutama dalam menulis buku yang bertemakan manajemen penyiaran melalui para pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan LPP TVRI, Efianty Analisa menjelaskan mengenai praktis analog ke digital, peluang bisnis bagi brand digital, hingga perlunya solidaritas masyarakat yang belum menggunakan TV digital. Beliau juga mengajak para partisipan untuk mulai bertransisi dari TV analog ke digital.

“Ternyata masyarakat itu sudah mendigitalisasi diri mereka sendiri melalui TV kabel, melalui satelit, melalui para bola. Masyarakat tidak terlalu memahami apa itu peralihan dari analog ke digital. Kalau pun itu dilakukan, itu tidak akan berpengaruh pada masyarakat,” terang Efianty.

Direktur Utama TV Muhammadiyah, Makroen menerangkan landscape media penyiaran TV Indonesia yang terbagi menjadi Lembaga Penyiaran Swasta (LPS), TV Lokal, Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB), dan Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK). Selain itu beliau juga menjelaskan mengenai media penyiaran TV islam, dekadensi televisi arus utama, model bisnis TV dakwah atau islam, literasi media digital muslim Indonesia, dan meningkatnya sumber pendapatan TV digital sehingga menjadi tantangan bagi TV analog dalam mendapat profit atau keuntungan.

Perwakilan dari TV Nahdlatul Ulama, Ali Ramadhan menjelaskan mengenai bagaimana kepentingan media baik dari ranah politik, ekonomi, dan bisnis dalam melanjutkan usaha bermedia. Beliau juga membahas mengenai cara berdigitalisasi skala nasional, serta bagaimana cara menjawab tantangan-tantangan dalam bermedia.

Materi terakhir dijelaskan oleh Direktur Media Dakwah Radio Silaturahmi, Ichsan Thalib dengan menjelaskan bahwa radio dakwah memiliki visi dan misi yang kuat. Beliau juga menjelaskan mengenai pemanfaatan teknologi radio dakwah Islam, target atau sasaran dari pemasaran program siaran, dan media Islam.

TVONAIR 7.0: Media Wajib Berkolaborasi Demi Peluang

TVONAIR 7.0: Media Wajib  Berkolaborasi Demi Peluang

Reporter Indi Azizi Editor Ahmad Haetam

REC 
Hi, I am 
Eno Bening 
Content Creator 
Show Producer 
Social Media Strategist 
Start Video 
82 
Participants 
More
Pemaparan Materi Oleh Eno Bening (DNK TV/Indi Azizi)

UMN TV menyelenggarakan acara Sharing and Discussion TVONAIR 7.0 sebagai bentuk rangkaian terakhir peringatan hari jadi UMN TV ke-7, Sabtu (16/04). Acara yang mengusung tema ‘‘Once Upon a Journey: Media Collaboration for Bussines Opportunites” ini diadakan secara daring melalui Zoom dan  turut mengundang 21 media se-Indonesia.

Dengan terdapat sekitar 80 peserta, acara ini mengajak media untuk berpartisipasi secara aktif dalam menerapkan kolaborasi agar menghadirkan peluang bisnis. Ketua Koordinasi Acara TVONAIR 7.0, Elora Sianto, mengatakan bahwa media di Indonesia harus dapat membangun kolaborasi agar dapat merasakan peluang ketika sedang melakukan kolaborasi.

”Media-media di Indonesia dapat membangun culture ‘collaborate’ dari sekarang. Sehingga mereka dapat merasakan ‘opportunities’ apa saja yang bisa didapakan ketika melakukan kolaborasi. Media-media di Indonesia juga dapat mengepakkan sayapnya lebih besar lagi untuk dikenal tidak hanya sebagai media tetapi juga sebuah platform yang memiliki impact tinggi,” jelas Elora Sianto

Pada pelaksanaannya yang ketujuh, Snd TVONAIR 7.0 kali ini dihadiri oleh beberapa narasumber, yakni ada Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Sasmito Madrim, Social Media Strategist, Eno Bening, dan Brand and Marketing Strategist,  Alya Dalila.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ketua Panitia TVONAIR 7.0, Adeline Frederica, kemudian sesi selanjutnya yaitu pemaparan materi dari narasumber. Narasumber pertama yaitu Ketua  AJI, Sasmito Mardim, menjelaskan bahwa di era yang serba digital saat ini media harus mau untuk berkolaborasi.

”Kolaborasi itu wajib dan tidak bisa dihindari di era yang serba digital ini. Mau tidak mau media harus berkolaborasi karena yang dihadapi bukan lagi dengan sesama media tetapi dengan media sosial,” ujar Sasmito 

Oleh karena itu, AJI berinisiatif melakukan kolaborasi bersama lembaga-lembaga di berbagai bidang. Salah satunya yaitu Indonesian Leaks yang merupakan program kolaborasi investigasi AJI dengan lembaga Free Press Unlimited, Tempo Institute, dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara.

Narasumber kedua, Alya Dalila menjelaskan, bahwa dengan kolaborasi akan mendapatkan dampak yang sangat besar. kita dapat mengambil market kompetitor dan di sisi lain juga dapat memiliki user intention.

Ia juga menjelaskan bahwa penolakan yang diterima dari penawaran kolaborasi bukan berati kita gagal dalam melakukan kolaborasi, melainkan kita harus melakukan riset lebih luas lagi untuk menemukan media yang cocok untuk diajak berkolaborasi.

REC 
Unmute 
Start Video 
Zoom v 
Share 
82 
Participants 
ave 
More
Sharing and Discussion dipandu oleh Moderator, Amelia Santoso (DNK TV/Indi Azizi)

Pemaparan materi dilanjutkan oleh Eno Bening yang memaparkan pentingnya untuk memedulikan sosial media jika ingin menjadikan sosial media sebagai personal branding.

Social media is you, karena apa yang kita lakukan di sosial media akan mempresentasikan diri kita. Jadi, kita perlu mencari jati diri kita yang berbeda dan unik dari orang lain, jika ingin menjadikan sosial media sebagai personal branding,” ujar Eno

Eno juga menambahkan, untuk memperkuat personal branding kita dapat dengan ‘tell your story’ karena tak sedikit juga influencer yang lahir dari cerita-cerita mereka.

Setelah berakhirnya sesi pemaparan materi dari para narasumber, Moderator, Amelia Santoso membuka sesi tanya jawab dan mengajak seluruh peserta dari berbagai media untuk berdiskusi dengan para narasumber. Salah satunya berdiskusi terkait bagaimana media dapat melakukan kolaborasi dan membangun peluang bisnis.

Eno bening dan Sasmito Mardim menanggapi bahwa kolaborasi sangatlah luas, tidak dapat di sama persiskan dan bahkan ada yang berbayar. Namun, kembali lagi semua tetap harus memperhatikan kode etik yang berlaku.

Wokshop Digital Broadcast Media, Strategi Generasi Muda di Era Digital

Wokshop Digital Broadcast Media, Strategi Generasi Muda di Era Digital

Reporter Kireina YukiEditor Syaifa Zuhrina

cordin 
Uin 
Operator DNK TV 
DIGITAL BROADCAST MEDIA 
FOkuItas 
DNK rv 
Talking: Dandy Pradana 
@ dnktv 
62 
Participants 
dnk_tv 
Chat 
DNR TV UIN JAKARTA 
Unmute 
Start Video 
Share Screen 
Record 
Reactions
Narasumber Digital Marketing Specialist, Dandy Hakim Pradana. (DNK TV/Kireina Yuki) 

Tantangan era digital bagi generasi muda sebagai penerus bangsa dan agen perubahan, tentunya tidak dibolehkan hanyut dengan perkembangannya saja. Maka dari itu, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bersama Dakwah dan Komunikasi Televisi (DNK TV) menyelenggarakan workshop bertajuk “How To Be A Broadcaster and Journalist in Digital Era” secara virtual via Zoom Meeting pada Selasa (15/3).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, Digital Marketing Specialist, Dandy Hakim Pradana, Reporter TV One, Kani Dwi serta beberapa Mahasiswa Fdikom . Dalam sambutannya, Cecep menyampaikan bahwa acara ini menjadi momen penting di era digital saat ini.

“Saya harap teman semua yang hadir di sini, diharapkan acara ini dapat menjadi bagian yang tidak bisa didapatkan dari materi pada mata kuliah yang ada di kelas. Era digital, era modern, era globalisasi  akan memberikan pemikiran, pengetahuan, dan wawasan dalam rangka memahami dunia internasional melalui teknologi. Media sekarang menjadi bagian yang tidak bisa kita pisahkan,” ucapnya.

Pada paparan materinya, Dandy Hakim Pradana menyampaikan materi mengenai digital marketing specialist. Ia menjelaskan bahwa salah satu strategi marketing be present yaitu mencoba untuk hadir di setiap media.

“Jadi kita harus hadir di mana pun. Misalnya seperti DNK TV yang punya YouTube, TikTok, Instagram, Twitter, dan platform lainnya. Jadi be present itu ada di mana-mana,” ujar Dandy.

Selain itu, ia juga menjelaskan terkait strategi dalam mencapai goals, yaitu dengan memperhatikan tiga poin seperti business goals, marketing goals, dan social media goals.

x 
Recol 
üiii 
Operator DNK TV 
Start Video 
% 3_Akhmad Fattahul Ro... 
Tiara 
DIGITAL BROADCAST MEDIA 
Fokultos dan Komunik08i 
I.JIN syon H oyatu JOkorto 
ONK rv 
14 
DNK TV UIN JAKARTA 
@ dnktv 
Participants 
dnk tv 
Chat 
Unmute 
770F 
Rain 
Share Screen 
Record 
Reactions 
5:42 PM 
3/15/2022
Repoter TV One, Kani Dwi. (DNK TV/Kireina Yuki) 

Pemaparan selanjutnya oleh Kani Dwi yang menyampaikan materi mengenai media siaran pers di era digital. Salah satu materi yang disampaikannya ialah terkait teknik menulis siaran pers.

“Akan berbeda ketika menulis berita biasa dengan berita yang akan ditayangkan di televisi. Jadi harus menggunakan kata-kata yang cukup menarik untuk bisa didengar dan ditonton,” jelasnya.

Ia juga menambahkan terkait penjelasan bahasa jurnalistik dan contohnya, serta beberapa materi lainnya terkait media siaran pers di era digital.

Salah satu peserta, Sadam Al-Ghifari menanggapi positif kegiatan ini, menurutnya pendalaman belajar dalam suatu materi merupakan suatu keharusan. Ia juga menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat.

“Kegiatan ini sangat menarik untuk diikuti sebagai bagian dari proses belajar, khususnya dalam bidang broadcaster dan jurnalis di tengah era digital yang semakin pesat. Untuk itu, materi dalam kegiatan ini menawarkan pengetahuan, salah satunya terobosan baru dalam kemajuan teknologi seperti halnya digital marketing yang cakupanya sangat luas. Saya sebagai mahasiswa, tentunya harus mau belajar agar bisa menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai manusia,” ujar Sadam saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (15/3).

“Selama berjalannya kegiatan ini, terlihat bagaimana pemateri yang dihadirkan begitu menguasai dan profesional dibidangnya, hal semacam ini sangat disayangkan apabila tidak diikuti. Tentunya  juga perlu diaplikasikan agar pengetahuan yang diberikan oleh pemateri bisa bermanfaat. Karena penguasaan teori dan praktek, harus seimbang,” lanjutnya.

Mengenal Jurnalistik melalui Media

Mengenal Jurnalistik melalui Media

Reporter Jenni Rosmi Aryanti; Editor Elsa Azzahraita

Penyampaian materi oleh Pepih Nugraha pada Webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Jurnalistik UIN Jakarta menggelar Webinar Jurnalistik Expo (J-Expo) bertajuk “Cultural Odyssey Through Unexplored Realm of Journalism” pada Sabtu (2/10) secara virtual melalui zoom meeting.  

Webinar diisi oleh dua narasumber yang berkecimpung di dunia jurnalistik yaitu Founder Kompasiana, Pepih Nugraha dan Reporter Kompas TV, Isye Naisila Zulmi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya.

Dalam materinya, Pepih memaparkan perkembangan media jurnalistik mulai dari media cetak hingga media sosial.

“Perkembangan media tentu dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya internet. Seperti yang kita ketahui bahwa konvergensi media menggabungkan berbagai jenis media yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda ke dalam media tunggal menggunakan jaringan internet,” pungkas Pepih.

Menurut Pepih, untuk menggabungkan komputasi, komunikasi, dan konten pada zaman sekarang masyarakat cukup  menggunakan smartphone.

“Ada tiga tipe penggunaan media sosial yang perlu diperhatikan. pertama, open social yaitu menggunakan tombol berbagi melalui situs web. Kedua, close social yaitu menggunakan tombol berbagi pesan pribadi, dan yang perlu diwaspadai ialah dark social, yaitu menyalin dan mem-paste tautan ke media tertutup seperti WhatsApp.” jelas Pepih.

Tidak hanya materi mengenai media, ada juga pengenalan Program Studi (Prodi) Jurnalistik yang dipaparkan oleh Isye yang merupakan alumni Prodi Jurnalistik mulai dari sejarah hingga prospek kerja.

“Pada awalnya konsentrasi jurnalistik berada di bawah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KI). Namun, pada tahun 2015 mulai diajukan menjadi program studi. Adapun mata kuliah yang didapat pada semester awal biasanya tentang ilmu keislaman. Tapi, tenang saja tentu kita diajarkan dasar-dasar dan praktek jurnalistik juga.” jelas Isye.

Penyampaian materi oleh Isye Naisila Zulmi pada webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Webinar J-Expo merupakan kegiatan pertama dari rangkaian acara Jurnalistik Fair (J-Fair) 2021. Ridho Hatmanto selaku panitia menjelaskan tujuan diselenggarakannya webinar ini.

“Jurnalistik itu merupakan bidang yang luas dan menarik untuk didalami tentunya memiliki prospek yang baik kedepannya. Adapun sasaran peserta yaitu anak-anak SMA sederajat terutama tahun terakhir yang sedang memutuskan untuk memilih jurusan ke jenjang selanjutnya (perguruan tinggi).” ujar Ridho.

Ridho berharap dari kegiatan ini dunia jurnalistik dapat lebih dikenal secara dekat oleh para pelajar maupun umum, agar terciptanya minat atau ketertarikan pada dunia industri kreatif khususnya jurnalistik.