Peduli Lingkungan Bawa Ranita Raih Prestasi Tingkat ASEAN

Peduli Lingkungan Bawa Ranita Raih Prestasi Tingkat ASEAN

Reporter Akhmad Fattahul Rozzaq; Editor Belva Carolina

Potret Sindy Indah Oktavia dan Siti Robiatul Adawiyah yang meraih juara pada perlombaan ASEAN Young Climate Leaders Programme bertema “Green Conversations” yang digelar  ASEAN Foundation dan SAP SE. (uinjkt.ac.id)

Prestasi kembali ditorehkan oleh Mahasiswa UIN Jakarta yang berasal dari organisasi kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Ranita UIN Jakarta. Ranita mengirimkan 3 perwakilan pada perlombaan ASEAN Young Climate Leaders Programme bertema “Green Conversations” yang digelar  ASEAN Foundation dan SAP SE (perusahaan perangkat lunak multinasional) pada 22 Mei-5 Juni 2022.

Dari ketiga perwakilan yang ikut perlombaan, dua di antaranya meraih juara yaitu Sindy Indah Oktavia yang merupakan Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) sebagai juara pertama dan Siti Robiatul Adawiyah Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) sebagai juara kedua dalam nominasi kreatif kompetisi video.

Ilustrasi mahasiswa meraih prestasi. (Pinterest/@freepik)

Perlombaan tersebut merupakan ajang untuk menjaga lingkungan. Menurut Sindy yang mempelajari eko-populis dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ranita, lingkungan perlu dijaga untuk keberlangsungan semua makhluk hidup.

Sindy mengangkat video tentang kearifan lokal yang bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada Association of Southeast Asian (ASEAN).

“Aku pikir, tujuanku dalam membuat video tersebut, sebagai mediaku untuk menulis dan menyampaikan secara visual, bentuk ideologi dan praktik masyarakat adat. Mengenai bagaimana penjawantahan nilai-nilai kearifan lokal dari masyarakat adat yang secara sustain berdampak terhadap lingkungan, khususnya di Indonesia. Aku ingin terus menjelajah, menyentuh peradaban secara langsung, menulisnya, lalu mengabarkannya kembali pada dunia,” ujarnya.

Peraih juara kedua, Siti Robiatul Adawiyah mengangkat tema pertanian urban yang menyoroti Situ Gintung, sebuah kawasan wisata di Ciputat yang hanya dipergunakan untuk rekreasi. Padahal, Situ Gintung merupakan contoh pertanian urban sehingga bisa dipergunakan untuk edukasi. Dia terinspirasi dari Sindy yaitu sebagai apresiator dalam pembuatan kreatif videonya.

Media digital semakin berkembang pesat, penggunaan yang bijak mendorong dalam membuat karya yang dapat di apresiasi banyak orang, bahkan dapat mengedukasi.

“Banyak sekali hal yang bisa dimanfaatkan di era millenial ini, kalau maupun sudah banyak faktor-faktor yang mendukung untuk kita berkembang menjadi generasi yang kreatif. Pilihannya hanya mau atau tidak mau memanfaatkan faktor-faktor itu. Pesan aku untuk generasi muda, lebih banyak lagi eksplor hal hal baru karena sudah banyak faktor-faktor mendukung yang tersedia tapi kita yang harus menggalinya,” ucapnya.

Minoritas Tak Jadi Penghalang, Candy Capai Predikat Terbaik FISIP UIN Jakarta

Minoritas Tak Jadi Penghalang, Candy Capai Predikat Terbaik FISIP UIN Jakarta

Reporter Adinda Shafa Afriasti; Editor Syaifa Zuhrina

Sarjana non muslim lulusan terbaik, Rahasimamonjy Lovanavalona Allison Candy. (uinjkt.ac.id)

Rahasimamonjy Lovanavalona Allison Candy merupakan salah satu Mahasiswi Hubungan Internasional (HI) UIN Jakarta yang mendapat predikat terbaik dengan capaian IPK 3,65 dalam acara pelepasan sarjana ke 124 yang diselenggarakan di Gedung Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta pada Sabtu (4/6).

Memilih UIN Jakarta sebagai kampus pilihanya tentu tidak dilakukan dengan tanpa pertimbangan. Perempuan asal Madagaskar tersebut menuturkan bahwa ia telah melakukan riset terlebih dahulu terkait kualitas pendidikan di UIN Jakarta khususnya program studi yang ditempuh.

“Sebenarnya saya memilih UIN Jakarta karena saya sudah melakukan riset dengan kualitas pendidikan program studi yang saya ambil,” ucapnya saat diwawancarai melalui Whatsapp pada Selasa (7/6).

Ia yang bukan seorang muslim dan UIN Jakarta yang merupakan kampus bercorak Islam, tak menjadikan hal tersebut sebagai persoalan atau hambatan. Candy justru merasa bersyukur karena dipertemukan dengan karyawan dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta yang bisa menerimanya. Meski demikian, ia tak menampik adanya hambatan yang kerap menimpa dirinya. Baik itu mata kuliah yang sangat asing baginya bahkan sampai perasaannya yang kerap merasa sendiri.

“Dari lingkungan saya tidak dapat masalah apapun terkait identitas sebagai seorang Kristen, hanya terkadang saya merasa sendiri saja,” ujar perempuan yang berhasil masuk ke UIN melalui jalur mandiri dengan biaya Program Darmasiswa Kemendikbud RI itu.

Menanggapi kabar tersebut, salah satu Mahasiswi UIN Jakarta, Alya Andriyani memaparkan bahwa gelar Cum Laude yang Candy dapatkan merupakan sebuah kepantasan berkat kerja kerasnya.

“Kak Candy selama ini mengikuti perkuliahan dengan baik dan merupakan mahasiswi yang aktif. Meski pada awalnya ia memiliki kendala dalam bahasa, namun ia berhasil menanganinya. Sehingga, gelar tersebut pantas didapatkannya,” ujar Alya.

Candy dan Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis. (uinjkt.ac.id)

Selama menjadi Mahasiswi UIN Jakarta selain melakukan kegiatan kampus, Candy rutin mengikuti kursus dalam mempelajari Bahasa Indonesia setiap malamnya di Pusat Bahasa UIN Jakarta. Ia mengaku dirinya tidak mengikuti organisasi apapun di dalam kampus namun kerap mengikuti Konferensi Nasional.

Sebagai Mahasiswi FISIP UIN Jakarta, Rasyifa Muflitah mengaku bahwa capaian tersebut sangat menakjubkan, mengingat bahwa menjadi minoritas tidaklah mudah. Rasa toleransi dan kemampuan adaptasi yang tinggi menunjukkan bahwa Candy adalah mahasiswi yang sangat berkompeten.

“Nah kerennya beliau ini bisa menyesuaikan diri, menghormati, dan berbaur dengan lingkungan kita. Apalagi sebagai non muslim ketika harus mempelajari agama Islam dan bahasa arab yg memang sangat jarang di negara asalnya,” tutur Rasyifa.

Candy mengaku, predikat terbaik yang didapatnya adalah buah hasil perjuangannya yang konsisten sejak semester satu hingga lulus. Rajin membaca dan memahami pelajaran di dalam ataupun di luar jam kelas, melakukan semua aktivitas perkuliahan dengan baik serta penelitian skripsinya dengan konsisten.

Ranita UIN Jakarta Punya Prestasi, Apa Aksi Nyatanya untuk Lingkungan dan Kemanusiaan?

Ranita UIN Jakarta Punya Prestasi, Apa Aksi Nyatanya untuk Lingkungan dan Kemanusiaan?

Reporter Herlinda Mendrofa; Editor Latifatul Jannah

KMPLHK RANITA RAIH PRESTASI NASIONAL
Potret Ranita di kejuaraan nasional. (kmplhkranita.org)

Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Ranita UIN Jakarta berhasil meraih empat kejuaraan pada perlombaan yang diadakan oleh Disaster Management Center (DMC) dan Dompet Dhuafa di Hopeland Camp, Jawa Barat pada 25-27 Maret 2022.

Dalam kesempatan tersebut, Ranita mengirimkan beberapa delegasi untuk empat cabang perlombaan dan berhasil meraih juara, di antaranya juara 1 Navigasi Darat, juara 1 Vertical Rescue, juara 1 Managemen Bencana, dan juara terbaik 2 Water Rescue.

Tentunya hal ini merupakan tambahan prestasi terbaik yang diperoleh Ranita UIN Jakarta, pasalnya Ranita pun sering kali mengikuti perlombaan baik di kancah nasional maupun internasional.

Banyaknya prestasi yang di raih Ranita menjadi sebuah eksistensi tersendiri dan menjadi sorotan dalam aksi nyata yang mereka lakukan. Lantas aksi nyata terbaik apa yang telah dilakukan Ranita untuk kesejahteraan lingkungan hidup dan kemanusiaan?

“Untuk aksi terdekat yang telah dilakukan oleh Ranita adalah penanaman pohon di wilayah Leuwi Pangaduan, Sentul, Bogor yang diadakan pada tanggal 21-22 Maret 2022. Ini bertepatan dengan hari ulang tahun Ranita dan juga hari air sedunia. Kegiatan tersebut untuk melakukan penghijauan, menjaga kelestarian lingkungan, dan menolak terjadinya krisis air bersih bagi masyarakat di sekitar wilayah Leuwi Pangaduan.” Kata salah satu delegasi kejuaraan nasional Distater Management Center (DMC) dan Dompet Dhuafa di Hopeland Camp, Desra Putri.

KMPLHK RANITA RAIH PRESTASI INTERNASIONAL
Potret kejuaraan internasional Ranita, Desember 2021. (kmplhkranita.org)

Tidak sampai di situ saja, Ranita juga kerap mengirim relawan yang terjun langsung dalam peristiwa bencana lokal maupun nasional, seperti bencana erupsi gunung Semeru, banjir bandang Masamba, banjir bandang NTT, gempa Lombok, gempa Palu, banjir Jabodetabek dan masih banyak lagi.

Sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terfokus pada lingkungan hidup dan kemanusiaan, tentu anggota Ranita diberikan beberapa pelatihan khusus serta pemahaman untuk menghadapi berbagai situasi yang ada, terlebih di bidang lingkungan hidup dan kemanusiaan.

“Kita melakukan pelatihan-pelatihan, seperti di lingkungan hidup kita melakukan pelatihan keadaan lingkungan dan manajemen aksi. Begitu pun pada kemanusiaan kita melakukan pelatihan kesiapsiagaan bencana dan mitigasi bencana,” ujar Mantan Ketua Umum Ranita Periode 2021-2022, Elpiana pada Kamis (7/4).

“Untuk aksinya sendiri pada saat sebelum turun ke lapangan kita terlebih dahulu melakukan kajian diskusi di berbagai aspek terkait isu yang kita fokuskan. Kita juga melakukan kaji cepat, yaitu menganalisis seluruh aspek yang ada,” sambungnya.

Elpiana berharap, setiap anggota Ranita baik yang ikut terjun langsung ke lapangan maupun yang telah meraih prestasi agar dapat terus meningkatkan kualitas diri dan ilmu baru. Sehingga nantinya daat diterapkan dan bermanfaat untuk banyak orang.

Kuliah dan Berorganisasi, Fauzi Nurdin : Nikmatilah Proses Belajarmu!

Kuliah dan Berorganisasi, Fauzi Nurdin : Nikmatilah Proses Belajarmu!

Reporter Hasna Nur Azizah; Editor Syaifa Zuhrina 

Muhammad Fauzi Nurdin, salah satu lulusan terbaik Fdikom. (Instagram.com/@fauzinoerdin) 

Bagi sebagian mahasiswa mungkin merasa dilema antara fokus kuliah atau berkecimpung dalam organisasi. Seakan mahasiswa hanya dapat memilih satu di antara keduanya saja. Namun lain halnya dengan Muhammad Fauzi Nurdin, ia merupakan salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta yang berhasil untuk menyeimbangkan antara kegiatan kuliah dan organisasinya, serta tetap bisa berprestasi pada dua bidang tersebut. 

Semasa kuliah, ia mengikuti banyak kegiatan di antaranya menjadi anggota dari Dakwah dan Komunikasi Televisi (DNK TV), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) KPI, dan saat ini masih aktif mengikuti Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Dema Fdikom) UIN Jakarta. Sedangkan, kesibukan lain di luar kampus yakni mengelola akun YouTube pribadi yang telah mencapai 7 ribu pengikut. 

Dari banyaknya kegiatan tersebut, tentu tidak menghalangi Fauzi untuk tetap bisa menorehkan prestasi. Beberapa prestasinya yaitu: Peserta Terbaik Media Development Program (MDP) 9 DNK TV, Juara Pertama Pekan Olahraga KPI 2018, Mentor Terbaik Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fdikom 2018-2020 tingkat jurusan KPI serta dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Fdikom UIN Jakarta dengan Indeks Prestasi 3,94. 

MUHAMMAD FAUZINURDIN 
MM: 11180510000119 
Jurusan/Prodi : Komunikasi dan Penyiaran Islam 
Indeks Prestasi: 3,94 
Yudisium: Cumlaude 
Sebagai 
Lulusan Terbaik Fakultas Dakwah dan 11mu Komunikasi 
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 
Wisuda ke-123 
Jakarta, 26 Februari 2022 
n 
parto, Ph.D 
IP. 197103301998031004
Piagam penghargaan Lulusan Terbaik Fdikom. (Dokumentasi/Fauzi Nurdin) 

Fauzi sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan prestasi tersebut. Namun, ia mengaku bahwa dirinya memang mempunyai target akademik yang ditulis agar selalu teringat dan tidak terlena sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan capaian akademik pada tiap semesternya. 

“Gunakan waktu yang masih ada untuk terus belajar karena waktu itu cepat dan tidak mungkin terulang lagi. Sering-sering bertanya di dalam forum kelas maupun diskusi di luar kelas sesama teman, kenali dosen dengan baik dan carilah referensi ilmiah tugas kuliah bisa dengan di perpustakaan atau internet,” ucapnya. 

Menurutnya, cara untuk membagi waktu antara kuliah dan organisasi adalah mengetahui skala prioritas. Jika dirasa kuliah paling penting, maka fokus dan tuntaskanlah hal-hal yang berkaitan dengan akademik serta menyampingi kegiatan lainnya untuk sementara. 

Ia juga berpesan kepada para mahasiswa agar tidak mudah merasa puas dan menikmati semua proses belajar, karena suatu saat nanti hasil yang akan dicapai itulah yang akan kita rasakan. 

“Semoga yang diharapkan nantinya bisa tercapai, membanggakan bagi diri sendiri, kedua orang tua, dan almamater tercinta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” tutup Fauzi. 

Mahasiswa UIN Jakarta Juara 3 Duta Bahasa DKI Jakarta

Mahasiswa UIN Jakarta Juara 3 Duta Bahasa DKI Jakarta

Reporter Nisrina Fathin; Editor Ahmad Haetami dan Taufik Akbar Harefa

M. Firda Azil Pemenang Terbaik III Duta Bahasa DKI Jakarta 2021
Sumber: Instagram-@dutabahasadkijakarta

Pandemi bukan menjadi penghalang bagi mahasiswa program studi Jurnalistik UIN Jakarta Muhammad Firda Azil, yang berhasil memboyong kemenangan sebagai  terbaik III duta bahasa DKI Jakarta 2021.

Sebagai mahasiswa Jurnalistik, Azil memiliki ketertarikan terhadap isu-isu kebahasaan dan menjadikan perkuliahannya sebagai wadah untuk memperdalam tata bahasanya dalam berbahasa dan berkomunikasi.

Banyak anak muda yang menganggap  bahwa bahasa asing lebih keren dibandingkan dengan bahasa Indonesia sendiri pun turut  melatarbelakangi Azil mengikuti lomba ini.

“Terkadang ada stigma mengatakan bahwa ketika seseorang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing  terdengar lebih cerdas ketimbang dia menggunakan bahasa Indonesia. Menurut aku hal tersebut cukup menarik karena harusnya kemampuan dan kapabilitas tidak bisa disekat oleh sebuah bahasa,” jelas Azil.

Sertifikat Peserta Terbaik III Putra Pemilihan Duta Bahasa Tingkat DKI Jakarta 2021
Sumber: Istimewa

Azil pertama kali mengetahui informasi Duta Bahasa yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini pada tahun 2016. Dia tertarik dan penasaran akan sejauh apa keterlibatannya jika dapat menanggapi dan mengarahkan isu-isu kebahasaan.

Dengan mendapatkan prestasi ini, dia ingin mencotohkan bahasa Indonesia yang baik dan   benar sesuai konteksnya, serta ingin memaksimalkan ruang diskusi dan terlibat aktif dalam program-program yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Azil berharap makin banyak orang yang sadar terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan tidak melanggengkan stigma menggunakan bahasa asing lebih keren dibandingkan bahasa Indonesia. Bahasa asing memang penting untuk dikuasai tetapi bukan berarti bisa untuk merendahkan bahasa tanah air sendiri.