Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Reporter Ahmad Haetami

Sambutan Opening Safari Dakwah oleh Panitia Pelaksana.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Opening Safari Dakwah (Safdak), peresmian sebuah program tahunan rutin yang diikuti oleh mahasiswa BPI, di Desa Cibitung, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Selasa (18/1).

Peresmian Safdak yang dilaksanakan tahun ke-26 dengan tema “Melangkah dengan Cita untuk Merajut Ukhuwah dalam Bingkai Keberagaman” ini dilakukan setelah berjalannya kegiatan pelepasan di UIN Jakarta dan anjangsana, yakni kunjungan peserta ke rumah warga untuk bersilaturahmi dan menginformasikan kegiatan acara yang akan dilakukan nanti.

Sebelum pembukaan simbolis dengan pemukulan gong, Kepala Desa Cibitung mengatakan bahwa Safdak ini menjadi tantangan mahasiswa.

“Melihat tema yang diusung, konteks keberagamaan itu tidak bisa dipisahkan oleh konteks sosial, karena manusia hanya punya dua tujuan persoalan dalam hidup, yaitu agama dan sosial. Oleh karena itu, peran dari Safdak harapannya mahasiswa bisa menyukseskan dua tujuan hidup manusia tersebut. Ini tantangan bagi mahasiswa. Selesai Safari Dakwah, kualitas masyarakat bisa meningkat dari sebelumnya.”

Peresmian Safdak oleh Kepala Desa Cibitung.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Setelah acara Opening Safdak ini, ada banyak kegiatan yang nantinya akan dilakukan oleh mahasiswa. Di antaranya seminar sosial tentang pemilahan sampah, seminar agama yang dikemas melalui talk show, serta seminar kesehatan tentang pencegahan narkotika dan HIV. Selain seminar-seminar, ada juga cek kesehatan, pengobatan gratis, dan donor darah.

Selain hal-hal tersebut, akan dilaksanakan juga Safdak Champion Day, pembuatan saung baca, homestay, keputrian, dan akan ditutup dengan tablig akbar.

Ketua Pelaksana Safdak, Achmad Perdiansyah mengatakan acara Safdak merupakan bentuk peningkatan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Safdak ini memiliki tujuan guna meningkatkan mutu aplikatif dari Tri Dharma Perguruan Tinggi poin ke-3, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat, di mana pengabdian ini menjadi wadah kita untuk belajar dalam memberikan suatu problem solving di bidang sosial, pendidikan, agama, dan berbagai kegiatan lainnya. Kami berharap Safdak ke-26 ini mampu mendorong masyarakat untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Reporter Anggita Fitri Chairunisa

Pembacaan Surat Keputusan Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fdikom, Selasa (18/1).
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Lembaga Otonom (LO) Komunitas Edukasi dan Seni Tari Saman (Sketsa) dan Komunitas Kreasi dan Seni Musik (Kontras Musik) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan pelantikan pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik masa bakti 2022 secara hybrid, Selasa (18/1).

Dihadiri oleh Dekan Fdikom, Suparto, Wakil Dekan (Wadek) Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, pengurus LO SKETSA dan Kontras Musik, serta para tamu undangan.

Surat Keputusan dan Ikrar Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik dibacakan langsung oleh Wadek Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya.

Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, berharap anggota LO Sketsa dan Kontras Musik menjadi mahasiswa yang terus aktif, kreatif, dan produktif dalam menciptakan suatu karya seni.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Kontras Musik periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Kontras Musik periode 2021, Danu menyerahkan jabatannya kepada ketua terpilih periode 2022, Allendro Ghauti Najwati. Dalam sambutannya, Danu berpesan kepada pengurus LO Kontras Musik masa bakti 2022 untuk terus memberikan karya terbaik.

“Kepada pengurus baru 2022 saya ucapkan selamat, teruslah berkarya dan memberikan yang terbaik untuk fakultas. Menjadi pengurus pasti lelah, namun nikmati saja prosesnya karena nantinya banyak hal yang akan kalian dapatkan dan kalian rasakan manfaatnya,” ujarnya.

Sebagai ketua LO Kontras Musik periode 2022, Allendro mengaku senang dengan amanah yang diberikan dan ini juga menjadi kesempatan baginya untuk melatih jiwa kepemimpinannya.

“Karena ini merupakan pengalaman pertama saya dalam memimpin sebuah organisasi, pastinya dipercaya dan diberikan amanah sebagai ketua LO Kontras Musik ini menjadi sebuah tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar dalam memimpin sebuah organisasi yang baik,” tuturnya.

Allendro berharap agar ke depannya LO Kontras Musik dapat mempertahankan integritas, meningkatkan kreatifitas, dan memperkuat solidaritas.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Sketsa periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Sketsa periode 2021, Pitri Amalia mengatakan pandemi tidak menjadi penghalang untuk tetap berkarya dan mencetak prestasi yang membanggakan.

“Tahun 2021 kita terhalang oleh pandemi, semuanya menjadi serba online. Semoga di tahun 2022 menjadi titik terang bagi kita, bisa bertemu secara tatap muka. Banyak belajar dari pandemi, menjadi gebrakan baru untuk melakukan proker secara online. Semoga menjadi semangat yang lebih besar untuk meneruskan visi misi dan membawa nama baik fakultas dakwah,” ucapnya.

Sarah Nabila Muklis, Ketua LO Sketsa Periode 2022 sendiri berharap pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa yang sempat terhenti akibat pandemi.

“Saya berharap, saya dan seluruh pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa, karena sempat terhenti untuk kegiatan-kegiatan secara offline akibat pandemi,” ujarnya.

Nabila juga menyampaikan inovasi yang akan dilakukan oleh LO Sketsa di tahun 2022 demi memperbesar sinergi dan mengharumkan nama Fdikom melalui prestasi-prestasi yang diraih.

“Dengan memulai kegiatan-kegiatan baik secara offline maupun online, seperti latihan rutin, live class melalui media sosial seputar perempuan, kecantikan, public speaking, dan terjun untuk tampil dan mengikuti perlombaan-perlombaan baik dalam kampus maupun di luar kampus,” imbuh Nabila.

Tahap Interview MDP 12 DNK TV: Mampu Melahirkan Insan Adaptif

Tahap Interview MDP 12 DNK TV: Mampu Melahirkan Insan Adaptif

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Fauzah Thabibah

Proses Interview calon anggota DNK TV oleh anggota penuh DNK TV
Sumber: Divisi Publikasi MDP 12-DNK TV

Dakwah dan Komunikasi Televisi atau biasa dikenal dengan sebutan DNK TV merupakan lembaga penyiaran komunitas dibawah nauangan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta yang bergerak dibidang broadcasting.

Salah satu acara tahunan DNK TV ialah menyelenggrakan perekrutan anggota baru atau biasa disebut Media Development Program (MDP) 12, diperuntukan bagi mahasiswa Fdikom semester 1 dan 3 yang memiliki minat didunia broadcasting.

Saat ini, rangkaian acara MDP 12 telah memasuk tahap wawancara, yang dilakukan setelah penutupan Open Recruitment pada (27/11) sampai (18/12). Adapun jumlah peserta MDP 12 terdaftar sebanyak 115 yang terdiri dari mahasiswa Fdikom.

Tahapan wawancara ini dilaksanakan selama dua hari secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting mengingat situasi yang masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Wawancara ini dilakukan secara virtual melalui zoom meeting karena mengingat kegiatan kita dilaksanakan pada saat pandemi. Namun, alasan lain pula kita membuat wawancara via onlien untuk tetap menjaga kualitas dari interview tersebut. Dimana kita juga ingin menilai secara objektif pada saat interview,” papar Organizing Committe MDP 12, Muhammad Nazar Gunawan.

Pada hari pertama proses wawancara, sebanyak 75 peserta yang diwawancarai. Selanjutnya pada hari kedua berjumlah 40 peserta, yang dimulai pada pukul 09.30-14.00 WIB.

Saat proses interview berlangsung melalui Zoom Cloud Meeting pada Senin (20/12)
Sumber: Divisi Publikasi MDP 12-DNK TV

Station Manager DNK TV 2021, Rian Fahardhi Risyad mengatakan MDP 12 tahun ini terdapat banyak perbedaan mengenai kriteria penerimaan anggota baru. Terutama di era saat ini yang dituntut untuk dapat adaptif dengan teknologi. Maka kriteria yang diharapkan bagi calon anggota DNK TV ialah adaptif yaitu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kita mau anggota DNK yang baru ini bisa beradaptasi dengan semua soft skill ataupun kemampuan yang ada. Jadi yang benar-benar kita terima kualitas-kualitas mahasiswa Fdikom yang memang punya kemauan untuk belajar, menerima, dan tentunya menghasilkan pemikiran yang kritis, kreatif, dan membawa marwah sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Nazar menambahkan bahwa kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan DNK TV yaitu mahasiswa yang penuh semangat aktif dalam belajar mengenai dunia penyiaran.

“SDM yang dibutuhkan di DNK TV itu ya militan, karena di DNK TV membutuhkan orang-orang yang penuh semangat aktif dan penuh gairah. Dalam artian bisa menciptakan kreatifitas dalam bidang broadcasting guna menghadirkan generasi yang lebih berkualitas.”

Adapun tanggapan dari peserta MDP 12, Qois Ali Humam merasa dengan adanya tahap interview ini sangat baik guna melihat sejauh mana niat dan kesiapan sebagai peserta dalam mengikuti pelatihan MDP 12.

“Pertanyaan yang diberikan ketika interview tadi seputar pengetahuan kita dalam dunia broadcasting, tanggapan kita seputar DNK TV, seberapa besar kesiapan dan komitmen kita ketika tergabung menjadi anggota DNK TV, dan pertanyaan lainnya. Menurut saya Interview yang tadi saya jalani sangat baik untuk kita sebagai peserta MDP 12. Untuk melihat sejauh mana niat dan kesiapan kita dalam mengikuti pelatihan MDP 12 ini,” ucap Qois.

Maka dengan adanya pelatihan MDP 12 ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih baik, berkomitmen, bertanggung jawab, serta menghasilkan pemikiran yang kreatif dan kritis. Sebab di DNK TV kita akan belajar banyak bagaimana profesionalitas itu diterapkan ketika melaksanakan tugas.

Virtual Blind Date: Tren Temukan Pasangan di Era Pandemi

Virtual Blind Date: Tren Temukan Pasangan di Era Pandemi

Oleh M. Rizza Nur Fauzi; Editor Taufik Akbar Harefa

Ilustrasi Virtual Blind Date.
Sumber: Freepik

Semenjak pandemi Covid-19 melanda, banyak sekali aktivitas yang terpaksa harus dilakukan secara daring, yang menjadikan ponsel dan laptop sebuah benda yang tak bisa lepas dari tangan masyarakat usia remaja hingga dewasa, bahkan media sosial pun menjadi kebutuhan primer bagi mereka.

Salah satunya dengan adanya tren yang baru-baru ini ramai di kalangan remaja khususnya mahasiswa, yaitu kencan virtual atau sering disebut dengan istilah virtual blind date.

Virtual blind date merupakan sebuah ajang yang mempertemukan dua orang yang tak saling kenal, dilakukan secara virtual melalui fitur breakout room di Zoom Meeting, dengan harapan bisa mendapatkan kekasih. Hal ini merupakan inisiatif anak muda sebagai jalan untuk menemukan kenalan atau bahkan pasangan hidup.

Dilansir situs web berita Inggris Express, kencan virtual selama pandemi meningkat 36% secara akurat pada Oktober 2020. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat di dunia hanya melakukan aktivitas di rumah. Cilesta Van Doorn dari Virgin Media mengatakan bahwa meskipun Internet telah menjadi inti dari pembangunan hubungan selama bertahun-tahun, dengan munculnya new normal, kencan virtual memberikan peluang bagi mereka yang mencari cinta dan koneksi secara virtual.

Menurut penyelidikan, alasan virtual blind date dilakukan oleh mahasiswa dan publik adalah karena kesepian selama pandemi. Kondisi pandemi yang menciptakan pembatasan sosial telah membatasi aktivitas mereka di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah di depan laptop mereka.

Dengan adanya virtual blind date ini, mahasiswa merasa bebas dari rasa kejenuhan, karena dapat terhibur dengan komunikasi yang dilakukan dengan temannya secara bebas, tanpa mengetahui latar belakangnya masing-masing. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri di acara ini.

Ilustrasi Virtual Blind Date
Sumber: Freepik

Dilansir dari Jawa Pos Radar Semarang, Psikolog RS St. Petersburg. Elisabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro mengatakan bahwa pada saat ini kasih sayang sangat diperlukan oleh para mahasiswa. Mereka sedang melalui masa-masa rindu untuk dicintai, diperhatikan dan disayangi.

Di sisi lain, saat ini aktivitas di media sosial sudah menjadi kebutuhan utama sebagian besar mahasiswa. Virtual blind date juga merupakan pilihan yang cocok bagi siswa untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Namun, acara ini sebenarnya hanya untuk bersenang-senang, dan saya berharap semua orang tidak terlalu berharap kepada para peserta. Ketakutan bisa menjadi kontraproduktif.

“Kalau just for fun, itu tidak masalah. Yang menjadi masalah ketika salah satunya menganggap serius. Makanya kalau ini memang kebutuhan ya harus hati-hati,” ujar Probowati, dikutip dari Jawapos Radar Semarang.

Probowati menjelaskan, bahwa dari sisi psikologis, usia remaja memang senang jika menerima perilaku kasih sayang atau pujian dari lawan jenisnya. Namun mereka tetap harus waspada dan lebih prepare dalam mengikuti virtual blind date ini. Pastikan bahwa mereka ini tidak tertipu oleh lawan bicaranya masing-masing.

 “Karena virtual blind date itu kan penjajakan. Jadi, jangan menganggap serius dulu. Kalau mau serius ya diajak bertemu. Karena kita tidak tahu, rayuan di media itu memang benar-benar serius atau hanya omong kosong,” sambungnya.

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Jakarta, Apip Tabah menjelaskan, bahwa virtual blind date ini memiliki dampak positif dan juga negatifnya. Jika dilihat dari sisi positif, VBD ini memiliki keuntungan dari segi waktu dan lokasi.

Setiap pengguna bisa menemukan pasangannya secara instan. Dengan hanya bermodal aplikasi kencan virtual yang diunduh melalui ponsel, mereka bisa menemukan pasangan dari mana saja yang mereka inginkan dengan cepat.

“Setiap pengguna pasti pengennya kan ketemu sama si jodoh dengan cara yang instan kan, nah si aplikasi ini udah keren banget soalnya dia virtual dan bisa menjamah daerah mana saja”, jelas Apip.

Sedangkan dari sisi negatifnya, virtual blind date ini memiliki kekurangan di orientasi penggunanya. Secara mereka tidak tahu latar belakang dan tujuan pasangannya mengikuti virtual blind date ini. Tak jarang orang-orang menjadi korban penipuan dari kegiatan virtual blind date ini.

“Terkait orientasi, kalau di VBD sering juga tuh terjadi penipuan. Kaya kita diajak jalan tiba-tiba kehilangan barang. Kedua, kalau mengikuti virtual blind date, hati-hati banget sama foto profil yang mereka gunakan. Kebanyakan mereka itu filternya oke banget, selain mereka menipu dari segi penampilan juga akan menipu dari segi hati”, sambungnya.

Apip juga berpendapat, jika dilihat dari perspektif keislamannya, virtual blind date ini dapat mempermudah kita dalam menemukan pasangan. Menurutnya, selama perkenalan yang dilakukan masih dalam batas wajar dan dengan tujuan yang jelas, maka sah-sah saja.

“Setahu saya, tidak ada larangan bagi kita untuk kenalan dengan orang lain dan lawan jenis, selagi masih dalam batas wajar dan tujuan yang jelas. Kedua, ini perkembangan teknologi udah pesat jadi penyesuaian-penyesuaian juga harus digalakkan, dan tetap harus mengedepankan nilai-nilai Islami yang luwes dan tidak terlalu kaku”, ujarnya.

Milad Dakwah: Wisdom, Freedom, Creativity

Milad Dakwah: Wisdom, Freedom, Creativity

Reporter Jahra Nur Fauziah; Editor Fauzah Thabibah

Enau sedang menyanyikan lagunya untuk meriahkan acara Milad Dakwah 2021
Sumber: DNK TV – Muhammad Nazar Gunawan

Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Dema Fdikom) menggelar rangkaian acara terakhir pada Sabtu (4/12).

Acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, yaitu Webinar dan Olimpiade Dakwah, acara ini di hadiri oleh Enau, Putra Selora, dan Remember of Today sebagai guest star, dengan bertemakan Wisdom, Freedom, Creativity.

Acara ini dibuka dengan penampilan dari LSO Fdikom yaitu Kontras dan dimeriahkan oleh Syndicate Karaoke. Juga sambutan sambutan yang dibawakan oleh Ketua Pelaksana dan Ketua Umum Dema Fdikom.

“Segala rangkaian yang ada di Milad Dakwah ini diharapkan dapat menimbulkan rasa kepercayaan diri dan minat bakat masing-masing mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi,” ujar Muhammad Fachrurozi selaku Ketua Pelaksana Milad Dakwah 2021.

Para penonton acara terakhir Milad Dakwah 2021
Sumber: DNK TV – Muhammad Nazar Gunawan

Salah satu penonton dari mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Semester 1, Siti Masrifah mengatakan acara ini sangat menghibur dan juga berdampak positif.

“Acara ini sangat menarik dan bisa menjadi tempat refreshing kita karena banyak hiburan hiburan didalamnya, dan juga bernilai positif karena didalam Milad Dakwah ini juga ada rangkaian santunanya.”

Ketua Umum Dema Fdikom, Aji Juasal Mahendra berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang temu kangen antara para demisioner, alumni bahkan mahasiswa baru di Fdikom.

Kriminalisasi Kebebasan Pers, Mahasiswa Sebut Perlunya UUD Baru

Kriminalisasi Kebebasan Pers, Mahasiswa Sebut Perlunya UUD Baru

Reporter Ani Nur Iqrimah; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi Buruknya Kebebasan Pers
Sumber: istockphoto.com

Seorang jurnalis asal Sulawesi Selatan Muhammad Asrul divonis hukuman tiga bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Palopo pada Selasa (23/11). Hal ini disebabkan terkait pemberitaan dugaan kasus korupsi yang terjadi di Sulawesi Selatan.

Majelis Hakim PN Palopo menyatakan korban terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 45 ayat 1 juncto pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Kasus ini berawal saat ia dituduh melanggar pasal pencemaran nama baik terkait kasus korupsi anak Wali Kota Palopo yang diunggah dalam artikelnya pada Mei 2019. Dimana hal tersebut dapat menjadi pukulan bagi kebebasan pers di Indonesia.

Kuasa Hukum Muhammad Asrul, Abdul Aziz Dumpa memaparkan bahwa putusan hakim dianggap bukan bagian untuk membungkam jurnalis melainkan sebagai cambuk profesionalitas.

Namun berbeda pendapat dengan Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh melalui Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) Dewan Pers Nomor 187/DP-K/III/2020 menyimpulkan artikel tersebut merupakan produk jurnalistik.

Undang-Undang Pers, Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers
Sumber: Dewanpers.or.id

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta sekaligus Anggota dari Lembaga Pers Mahasiswa, Fayza Rasya menilai kasus ini tidak layak disidangkan karena bukan kewenangan pengadilan, tetapi Dewan Pers.

“Tentang kelayakan, justru tidak layak karena seharusnya jurnalis tersebut tidak dibui. Melihat jurnalis sebagai profesi yang mengedepankan kebenaran. Masalah kritik yang ditulis itu benar adanya, mengapa sesibuk itu untuk memenjarakannya? Jurnalis juga tahu etika yang harus dikedepankan dan pastinya tulisan itu sudah dipertimbangkan secara matang oleh redaksinya,” jelasnya.

Sama halnya dengan Mahasiswa UIN Jakarta, Rian Fahardhi Risyad sangat menyayangkan adanya kasus tersebut. Ia sangat memprihatinkan, karena kasus kriminalisasi ini erat kaitannya dengan kebebasan pers.

“Agak disayangkan saja si, meskipun praktik atau hal seperti ini belakangan sudah banyak terjadi, hanya menurut saya di tahun 2021 lebih tinggi angkanya, makanya sangat memperihatinkan kalau kita lihat indeks kebebasan pers yang sedang terjadi, karena kriminalisasi ini erat kaitannya dengan kebebasan pers,” ujarnya.

Adanya hal tersebut, membuktikan bahwa kebebasan pers Nasional belum sepenuhnya bebas. Produk pemberitaan yang salah perlu diselesaikan di dewan pers, bukan di pengadilan umum. Sebab itu merupakan kesalahan etik, bukan tindak kriminal.

Ia juga menambahkan Indonesia perlu mengadakan edukasi terkait alur pelaporan jurnalis ataupun produknya.

“Kan dalam amanat Undang-Undang Pers untuk produk pemberitaan harus diselesaikan di Dewan Pers bukan di Pengadilan Umum. Meskipun beberapa mungkin terjadi hal-hal seperti ini, karena menyinggung orang-orang yang punyai power, orang-orang yang punya kekuasaan. Padahalkan ada yang namanya hak jawab dan mediasi, seharusnya bisa diselesaikan lewat itu. Sekali lagi agak menyayangkan adanya praktik seperti ini,” pungkasnya.

Rian juga berharap perlunya undang-undang baru, tegas dan tentunya kerjasama dari banyak elemen, aparat dan pengadilan. Hal ini guna mengurangi tindak kriminalisasi terhadap wartawan, jurnalis maupun media.

Momentum Hari Guru, Mahasiswa : Implementasi Pendidikan dalam Kehidupan

Momentum Hari Guru, Mahasiswa : Implementasi Pendidikan dalam Kehidupan

Reporter Putri Anjeli; Editor Syaifa Zuhrina

Sambutan Kepala Sekolah MAN 4 Jakarta, Aceng Solihin dalam acara Konser Virtual Hari Guru Nasional.
Sumber: Dokumentasi Panitia

Dalam rangka merayakan Hari Guru Nasional, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta menyelenggarakan kegiatan Konser Virtual Hari Guru Nasional bertajuk “Kita dan Sejuta Rindu” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (25/11).

Dihadiri oleh Kepala Sekolah MAN 4 Jakarta, Aceng Solihin, jajaran guru dan siswa MAN 4 Jakarta serta partisipan. Acara ini menghadirkan kreativitas dalam bentuk konser virtual kolosal yang diprakarsai oleh Ama Gusti Azis.

Dalam sambutannya, Kepala MAN 4 Jakarta Aceng Solihin turut mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh segenap siswa akhir MAN 4 Jakarta. Ini merupakan bentuk rasa terima kasih kepada jajaran guru.

“Tidak ada satupun di bumi ini yang tumbuh besar tanpa kehadiran sosok guru ,peran guru begitu besar untuk kita semua, saya ucapkan terima kasih kepada OSIS MAN 4 Jakarta yang begitu luar biasa mengapresiasi guru-guru dengan berbagai cara dan kreativitas dengan menghadirkan salah satunya kolosal, tentu hal ini membanggakan dan suatu kehormatan bagi kami nendapatkan apresiasi dari siswa kami semua,” ucapnya.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Kolosal Hari Guru MAN 4 Jakarta Haridi Waid memaparkan bahwa peringatan Hari Guru perlu dimeriahkan.

“Hari ini adalah hari dimana kita dapat mengingat jasa guru bagi kita dan bangsa ini, Tanpa mereka kita tidak akan menjadi apa-apa, oleh karena itu sudah sepantasnya kita menyampaikan terima kasih yang sebesarnya kepada pahlawan tanpa tanda jasa lewat konser virtual Hari Guru Nasional 2021,” pungkasnya.

Sambutan Ketua Pelaksana Kolosal Hari Guru MAN 4 Jakarta, Haridi Waid.
Sumber: Dokumentasi Panitia

Salah satu Alumni MAN 4 Jakarta yang merupakan Mahasiswa UIN Jakarta, Dwi Putranto Priyono sangat mengapresiasi acara ini.

“Acara ini sangat bagus, konsepnya juga seru dan terbarukan serta euforianya juga dapat dirasakan,” ujar Dwi.

“Semoga acara ini dapat terus berlanjut di tahun yang akan datang dan sebagai Alumni yang mendampingi acara ini saya berharap apapun yang diajarkan dan didapatkan dalam acara ini bisa di implementasikan dengan baik,” tambahnya.

Liga dan Olimpiade Dakwah: Ajang Silaturahmi Mahasiswa Fdikom

Liga dan Olimpiade Dakwah: Ajang Silaturahmi Mahasiswa Fdikom

Reporter M. Rizza Nur Fauzi; Editor Ainun Kusumaningrum

Peserta Liga Dakwah Milad Fdikom 2021
Sumber: Instagram @miladfdikom

Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Dema Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan kegiatan Liga Dakwah dan Olimpiade Dakwah sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi dan menjunjung sportivitas antar-jurusan yang ada di Fdikom UIN Jakarta.

Keduanya merupakan rangkaian kegiatan Milad Fdikom ke-31 tahun 2021 yang telah diresmikan oleh Wakil Dekan Fdikom Bidang Administrasi Umum, Sihabudin Noor pada Kamis (8/11).

Liga Dakwah hadir dengan membawa salah satu cabang olahraga paling banyak digemari yaitu Futsal yang telah berlangsung pada Jumat (19/11) sampai dengan Minggu (21/11) kemarin.

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Sayyid Syafiq yang juga merupakan salah satu panitia Milad Fdikom mengaku antusias atas kegiatan Liga Dakwah yang telah sukses diselenggarakan sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi antar-jurusan yang ada di Fdikom.

“Pendapat saya tentang Liga Dakwah ini sangatlah baik karena untuk menjalin silaturahmi antar-jurusan di Fdikom yang jarang berjumpa karena pandemi ini. Kesannya menyenangkan dan keren sih, karena bisa membuat acara dengan baik dan mengandung banyak nilai. Entah dari silaturahmi, kesehatan, produktif, dan lain-lain,” jelas Syafiq.

Sementara itu, Olimpiade Dakwah akan dilaksanakan pada Selasa (23/11) sampai dengan Jumat (26/11) dengan berbagai cabang lomba yang disediakan, yaitu Catur, Estafet, Mobile Legend, Badminton, Debat, dan MTQ dengan diikuti oleh beberapa peserta dari setiap jurusan yang ada di Fdikom.

Cuplikan opening acara Milad Dakwah 2021
Sumber: Panitia Milad Dakwah

Harapannya, Liga Dakwah dan Olimpiade Dakwah tahun ini dapat menjadi salah satu acara yang dapat membuat kekompakkan dan kebersamaan antar-jurusan yang ada di Fdikom.

“Harapan saya semoga Liga Dakwah dan Olimpiade Dakwah tahun ini menjadi salah satu acara yang membuat kekompakkan dan kebersamaan antar jurusan juga untuk panitia terimakasih telah berikan yang terbaik di liga dakwah ini. Tetap jaga kesehatan dan semangat selalu,” ujar Syafiq.

Selaku salah satu panitia, Syafiq berpesan untuk mahasiswa Fdikom untuk tetap menjaga kekompakan.

“Pesan saya semangat terus buat para panitia dan teman-teman yang lain. Tetap jaga kekompakkan antar jurusan di Fdikom, karena ini kompetisi persahabatan untuk menjaga dan menjalin silaturahmi antar jurusan.”

Jaga Kebersihan Lingkungan, Mahasiswa Perlu Ciptakan Kesadaran

Jaga Kebersihan Lingkungan, Mahasiswa Perlu Ciptakan Kesadaran

Reporter Siti Nur Khofifah Putri; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi menjaga kebersihan lingkungan
Sumber: Freepik.com

Kehidupan manusia dengan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Lingkungan dapat mempengaruhi aktifitas kehidupan manusia, mulai dari gaya hidup, sampai kepribadian manusia itu sendiri. Lingkungan yang sehat tentu akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, begitupun sebaliknya.

Maka dari itu, sebagai masyarakat yang baik khususnya sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab moral baik pada kehidupan sosial, tentu sudah menjadi kewajiban untuk terjun langsung dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.

Seperti yang dilakukan salah satu warga Purbalingga, Raden Roro Hendarti yang memupuk kesadaran tentang kebersihan lingkungan dengan mendatangi anak-anak di desa untuk meminjamkan buku. Uniknya hal tersebut memiliki syarat menukarkan buku dengan sampah terlebih dahulu seperti gelas plastik, kantong plastik, serta sampah lainnya.

“Mari bersama-sama kita menanamkan budaya baca sejak dini, kemudian kita harus bertanggung jawab dengan sampah yang kita kelola untuk mengurangi pemanasan global dan menyelamatkan bumi dari sampah,” jelas Roro.

Maka dari itu, mahasiswa sebagai agent of change tentunya harus sadar bahwa mereka memiliki peran penting dalam hal ini, mereka seharusnya menjadi contoh baik untuk masyarakat guna mendukung dan menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, nyaman dan menyenangkan.

Salah satu Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Hendry Hermawan berpendapat bahwa kesadaran mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan belum maksimal.

“Sebagai mahasiswa seharusnya tidak hanya berteori tapi juga memberikan nilai praktik yang dapat mempengaruhi perubahan dilingkungan dan masyarakat. Kesadaran mahasiswa saat ini sangat tinggi sebetulnya, ia paham bahwa lingkungan sangat penting baginya, ia paham bahwa pencemaran lingkungan sangat berbahaya tetapi dalam implementasinya tidak kurang dan juga tidak terlalu tinggi,” ucapnya.

Membuang sampah pada tempatnya
Sumber: Lifebuoy.co.id

Begitu banyak upaya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa guna menjaga kebersihan lingkungan, dalam hal kecil contohnya menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kampus. Hal tersebut merupakan langkah awal yang dapat dilakukan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih.

Selain itu Hendry berharap mahasiswa dapat menanamkan kesadaran di dalam dirinya untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan serta dapat mengimplementasikannya.

“Harapan saya adalah yang pertama tadi bisa menanamkan kesadaran dalam dirinya untuk sama-sama menjaga lingkungan hidup, kemudia yang kedua setelah sadar dia mampu mempraktikan apa yang sekiranya ada didalam teori tersebut. Dan yang ketiga, mampu memberikan kepedulian serta edukasi kepada masyarakat untuk Bersama-sama menjaga lingkungan dan yang paling penting ialah mahasiswa harsus dapat menentang segala kebijakan-kebijakan yang dapat merusak lingkungan,” pungkas Hendry.

Job Fair Tangerang, Peluang Pekerjaan serta Pengalaman

Job Fair Tangerang, Peluang Pekerjaan serta Pengalaman

Reporter Udkhiya Navidza Zahra; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi Orang Bekerja
Sumber: freepik.com

Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap para pekerja, mulai dari kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sampai perusahaan yang gulung tikar. Berdasarkan hasil data dari Badan Pusat Statistika (BPS) kota Tangerang, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun ini meningkat pada angka kurang lebih seribu orang.

Menanggapi hal tersebut, Wali kota Tangerang Arief R. Wismansyah terus berupaya menekan angka pengangguran akibat adanya pandemi, dengan menyediakan program kerja dalam jangka panjang.

Melalui Dinas Ketenagakerjaan Pemerintah Kota (Pemkot) menyelenggarakan Job Fair di setiap kelurahan.

“Teknisnya, tiap kelurahan akan mendata perusahaan apa saja yang ada, yang menyediakan lapangan pekerjaan. Lalu dijembatani dengan para pencari kerja di kelurahan tersebut ada berapa banyak, nanti akan ketemu di sana,” ujarnya.

Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah
Sumber: Instagram-@ariefwismansyah

Melihat kondisi yang masih te rhalang pandemi program ini dilaksanakan secara hybrid pada setiap bulannya, ketersediaan lapangan kerja tersebut akan diupload ke aplikasi Tangerang Live.

Pemerintah berharap adanya kegiatan ini dapat memberi keuntungan bagi masyarakat pengangguran serta para mahasiswa yang ingin memanfaatkan waktunya untuk melakukan kerja paruh waktu.

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Adinda Maisya menyetujui adanya hal tersebut.

“Saya setuju banget sama program job fair yang dilakukan oleh pemerintah dengan harapan dilakukan secara adil bagi semua kalangan masyarakat. Di sisi lain di dalam kondisi pandemi serta perkuliahan yang masih online kita sebagai mahasiswa memiliki waktu lebih fleksibel, yang dimana hal tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencari suatu kegiatan yang bermanfaat serta menambah pengalaman untuk tambahan uang saku,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat diperluas ke daerah-daerah lainnya sebagai wadah untuk para pencari kerja.

“Mungkin kedepannya job fair ini bisa di sosialisasikan lagi secara mendetil terkait apa-apa saja yang perlu diperhatikan untuk bisa mengikutinya. Karena tidak semua masyarakat memiliki gadget dan pandai dalam mengelola internet, terkhusus masyarakat yang jauh dari kata mampu,” pungkasnya.