Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Diskusi Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 (5/8)

Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam atau KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Web Seminar (Webinar) Nasional dengan tema “Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 di Era New Normal. Apakah Bisa Mengubah Perilaku Masyarakat?”. Melalui aplikasi Zoom, Rabu (5/8), acara ini diselenggarakan guna mengetahui pentingnya peran komunikasi publik dalam penanganan Covid-19 bagi perubahan perilaku masyarakat.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., dengan dimoderatori oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia, Jojo S. Nugroho. Materi yang dibahas pada acara ini disampaikan oleh 3 pembicara, yaitu Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Dr. Gun Gun Heryanto M.Si., Anggota Komisi III DPR RI, Johan Sapto Pribowo, dan Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati.

Topik utama dalam diskusi webinar ini terkait masalah komunikasi publik yang selama ini dilakukan, terutama oleh pemerintah guna menginformasikan kepada masyarakat mengenai kebijakan-kebijakan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Serta bagaimana komunikasi publik yang diterima masyarakat tersebut, baik melalui media massa atau sosial dapat berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat dalam menanggapi pandemi Covid-19 ini.

Menurut Johan Budi, komunikasi publik yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya maksimal karena sering terjadinya kendala berupa miskomunikasi yang terjadi di dalam pemerintahan saat menginformasikan mengenai Covid-19, seperti beberapa perbedaan pernyataan dan data oleh Juru Bicara Covid-19 dengan beberapa gurbernur dan Menteri Kesehatan. Hal ini pun menimbulkan keraguan pada persepsi masyarakat dalam menanggapi dan bertindak saat pandemi Covid-19 ini.

Ia pun menjelaskan mengenai manajemen komunikasi krisis yang harus dilakukan pemerintah agar masyarakat dapat menerima dengan baik dan tepat mengenai informasi Covid-19, seperti mengidentifikasikan penyebab dan dampak Covid-19 agar di dalam masyarakat tidak memunculkan hal negatif dan lelucon mengenai Covid-19, memberikan informasi dengan jelas dan merata, membangun persepsi publik melalui media massa dan sosial, mampu me-recovery keadaan krisis, mengumpulkan sumber daya, serta cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Dalam bertindak, pemerintah pun tidak hanya bekerja di depan layar namun juga giat bekerja di balik layar.

Dalam penjelasan Adita sebagai perwakilan Kementerian Perhubungan, pemerintah telah berupaya melakukan strategi komunikasi publik dalam penanganan pandemi Covid-19. Melalui arahan Presiden, pemerintah melakukan komunikasi yang partisipatif, membangun kepercayaan yang berbasis ilmu pengetahuan dan data sains guna membangkitkan partisipasi masyarakat dan memastikan kembali gerakan nasional disiplin protokol kesehatan. Pemerintah pun melibatkan berbagai pihak seperti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK serta penyebarluasan komunikasi dalam berbagai bentuk setiap harinya di program relawan, media center (TV dan radio), media sosial, SMS blast, dll.

Mengenai tingkat pengetahuan masyarakat, Adita memaparkan data dari berbagai survei yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Covid-19 cukup tinggi. Namun hal itu berbanding terbalik dengan perilaku yang dilakukan masyarakat lebih banyak melanggar aturan. Melihat hal ini, ia pun menyarankan agar semua unsur harus bergerak bersama-sama dengan berkolaborasi dan saling mendukung agar penyebaran Covid-19 dapat terselesaikan.

Ia pun menjelaskan mengenai diksi new normal yang sudah pemerintah gantikan dengan diksi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini dikarenakan penggunaan istilah new normal dapat membingungkan masyarakat yang justru diartikan masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Dalam hal ini, menurut Gun Gun Heryanto menilai perubahan diksi new normal juga penting karena pemahaman mengenai diksi ini mengakibatkan polemik di masyarakat hingga sekarang.

Gun Gun Heryanto, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta

Dalam kesimpulannya, Gun Gun Heriyanto menyarankan agar pemerintah memperkuat kebijakan dan komunikasi kebijakan terkait dengan adaptasi kebijakan baru dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi, menguatkan narasi komunikasi publik: kata-kata dan tindakan simbolik, handling isu media dan media sosial, dan memperkuat strategi kolaborasi.

Reporter: Laode M. Akbar H.