Longsor di Desa Cibunian Bogor, Ranita UIN Jakarta Turunkan Personil

Longsor di Desa Cibunian Bogor, Ranita UIN Jakarta Turunkan Personil

Reporter Ahmad Haetami

Persiapan Relawan Ranita bersama Tim Respon Erupsi Gunung. Ranita mendelegasikan dua orang tim relawan tanggap darurat pada Senin, (6/12/21).
Sumber: Dok. KMPLHK Ranita

6 kampung di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, mengalami bencana tanah longsor akibat hujan deras dan peluapan sungai, pada Rabu (22/6). Bersamaan dengan itu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ranita UIN Jakarta mendelegasikan 4 personil sebagai tim evakuasi dan assessment, di antaranya Yogi Handika, Elang Ilham, Nida Luthfyana, dan Desra Putri, pada Kamis (23/6).

“Sebagai organisasi yang memiliki identitas tangggap terhadap isu kemanusiaan, kami perlu secara responsif menanggapi bencana yang terjadi, khususnya lokasi kejadian tak terlalu jauh dari kampus sehingga kami bisa menjangkau lokasi terdampak lebih cepat, tim Ranita bisa membantu dalam proses evakuasi dan assessment. Kondisi di sana masih berstatus siaga dan saya berharap semua warga terdampak dan relawan yang sedang bertugas dalam kondisi aman,” ujar Ketua Umum Ranita, Ammar Abdul.

Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Jakarta, Ikhwan, memvalidasi keberangkatan personil Ranita untuk aktif membantu dan mengabdi pada warga Cibunian. Pihak UIN Jakarta memberikan dukungan dan doa selalu bagi warga terdampak dan tim relawan yang sedang bertugas.

“Terima kasih Ranita UIN Jakarta yang dengan semangat, tulus, dan spontanitas cepat beraksi untuk membantu sesama yang terkena musibah longsor di Cibunian Bogor. Ranita memang selalu terdepan dalam bereaksi terhadap peristiwa musibah di negeri ini, bahkan daerah terjauh sekalipun,” tuturnya.

Tim assessement lapangan Ranita mengidentifikasi ada 85 Kepala Keluarga yang terdampak bencana tanah longsor di wilayah Desa Cibunian. Adapun kebutuhan mendesak bagi warga Cibunian di antaranya makanan, air mineral, perlengkapan bayi, hygiene kit, selimut, pembalut wanita, obat-obatan, alat penerangan, makanan dan susu bayi, alat kebersihan, mi instan, dan pakaian.

UKM Ranita juga sedang membuka donasi untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana tanah longsor di Desa Cibunian, Kabupaten Bogor. Donasi dapat disalurkan melalui informasi yang tertera pada akun instagram @ranita_uin.

Jakarta Esok Hari, Akan Jadi Seperti Apa?

Jakarta Esok Hari, Akan Jadi Seperti Apa?

Reporter Riyasti Cahya Rabbani; Editor Belva Carolina

Extinction Rebellion menyelenggarakan Special Artwork dan Perfomance dalam Jakarta Esok Hari yang mengusung tema “Isu Perubahan Iklim”. (DNK TV/Syahrul Rachmat)

Jakarta Esok Hari Exhibition melangsungkan Special Artwork & Perfomance yang diselenggarakan oleh Extinction Rebellion dengan mengangkat tema “Isu Perubahan Iklim”. Acara yang berlangsung pada Senin (20/6) bertujuan memberi kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya permasalahan lingkungan dan krisis iklim yang ada di Jakarta.

Project Manager Jakarta Esok Hari, Joselyn Halim menyebut tema Jakarta Esok Hari ini diambil sebagai pertanyaan akan jadi seperti apa Kota Jakarta di kemudian hari yang nantinya akan dibahas dalam Round Table Discussion pada Minggu (26/6).

“Sebenernya Jakarta Esok Hari ini menjadi sebuah pertanyaan. Dan yang menentukan ya mungkin pengunjung-pengunjung yang hadir di sini. Entah mereka mau menyelamatkan kotanya atau membiarkannya jadi tetep kaya gini aja,” ujar Joselyn dalam wawancara bersama DNK TV.

j PETİSİ 
DEKLARASI 
DARURAT IKLIM
Special Perfomance Art bersama Edi Bonetski. (DNK TV/Syahrul Rachmat)

Pameran ini menghadirkan karya dari kolektif seni Perempuan Pengkaji Seni dan Special Perfomance Art dari seniman asal Tangerang, Edi Bonetski.

“Yang digambarkan itu adalah motif lingkungannya, motif prinsip ekonomi. Sebenarnya hari ini kita butuh keinginan dari hati untuk merubah diri dan merubah lingkungan. Karena begitu hastagnya darurat iklim gausah liat ke laut gausah liat ke sawah (tidak perlu melihat yang jauh) liat saja rumah kita, permukaan tanahnya sudah mulai menurun,” jelas Edi saat diwawancarai oleh pihak DNK TV.

Edi mengatakan karya yang ia buat di Perfomance Art kali ini ingin mengajak para penikmat karya untuk mengubah diri lebih peduli lingkungan.

“Saya juga mengajak tubuh saya secara gembira hari ini untuk merayakan kebahagiaan di bulan Juni melalui karya seni yang saya gambarkan,” tambahnya.

Extinction Rebellion selaku pihak penyelenggara juga membawa tiga tuntutan dalam pameran ini yaitu sebarkan kebenaran (Tell The Truth), bertindak sekarang (Act Now), dan melampaui politik (Beyond Politics).

Penyelenggara pameran, Ary berharap dengan adanya event ini masyarakat sadar dan memahami apa yang terjadi dengan kota mereka dan tindakan seperti apa yang dapat mereka ambil.

Tanpa Sadar, Manusia Berisiko Telan 5 Gram Mikroplastik Tiap Minggu

Tanpa Sadar, Manusia Berisiko Telan 5 Gram Mikroplastik Tiap Minggu

Reporter Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi; Editor Latifahtul Jannah

Webinar “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan dan Kesehatan”. (Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi/DNKTV UIN Jakarta)

Mikroplastik saat ini menjadi isu yang harus segera ditangani di Indonesia. Potongan plastik menjadi ancaman bagi kesehatan maupun lingkungan. Laporan yang diterbitkan oleh World Wildlife Fund International, tanpa disadari setiap orang berisiko menelan sekitar 5 gram plastik per minggunya.

Permasalahan mikroplastik ini di bahas pada webinar dengan tema “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan dan Kesehatan” pada Kamis, (16/6) secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.

Peneliti mikroplastik Universitas Katolik Soegijapranata, Inneke Hantoro mengatakan “Mikroplastik ialah substansi padat bentuknya tidak beraturan atau bentuknya regular, kemudian ukuran partikelnya dimulai dari 1 mikrometer sampai 5 milimeter.”

Mikroplastik sendiri memiliki 2 jenis yaitu, mikro primer dan mikro sekunder. Mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia seperti sabun, detergen, kosmetik, dan pakaian. Sedangkan mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Kedua jenis mikroplastik ini dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang lama.

“Masalah pada mikroplastik sendiri ialah persebarannya ada dimana-mana seperti udara, air, tanah, sedimen, dan bahan-bahan pangan yang dikonsumsi,” tambah Inneke.

View 
LLPH_Ammar 
X LLPH_Ammar Luthfi % Fidelis AJI Jakarta 
A zainal 
Inneke 
% Inneke Hantoro. Unika 
eka chlara budi„. 
% eka chlara budiarti 
Kadir Sabilu 
% Kadir Sabilu 
Recording 
on YouTube 
Start Video 
KONDISI SAMPAH INDONESIA 
22% 
DUMPEDTO 
WATERWAYS 
RCYCLE 
48% 
OPEN BURNING 
unmute 
106 
Participants 
LANDFILLS 
Share Screen 
POTENSI PENYEBARAN 
MIKROPLASTIK TINGGI 
Reactions
Kondisi sampah Indonesia. (Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi/DNKTV UIN Jakarta)

Persebaran mikroplastik dapat dikatakan tinggi, 48% dari pembakaran terbuka, 22% dari saluran air, 20% dari tempat pembuangan sampah, dan 10% dari daur ulang.

Mikroplastik juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui 3 cara, pertama pencernaan seperti makanan yang dimakan sehari-hari namun sudah terkontaminasi. Kedua, saluran pernafasan seperti melalui debu yang ada di udara atau bisa juga dari baju yang dibuat dari serat sintetis atau plastik. Ketiga, melalui kulit yang seperti pakaian kita sehari-hari yang terbuat dari serat sintetis.

Tentu mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan pada sel, menyebabkan reaksi alergi, gangguan hormon, kanker, gangguan metabolisme, dan memengaruhi perkembangan janin.

Maka dari itu, hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi bahaya mikroplastik secara signifikan ialah dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik pada makanan maupun minuman. Jika perlu, pilihlah wadah yang dapat digunakan kembali untuk mendukung kebijakan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Kemudian meminimalkan debu rumah tangga.

Dikutip dari The Washington Post, debu rumah tangga umumnya mengandung berbagai partikel dan bahan kimia, termasuk phthalate, polyfluoroalkyl, dan fire retardant yang termasuk dalam golongan mikroplastik. Berbagai partikel tersebut apabila tidak dibersihkan dengan benar maka akan dapat meningkatkan risiko terpapar oleh mikroplastik. Oleh sebab itu, pastikan untuk selalu membersihkan debu secara teratur dengan cara menyedot menggunakan vacuum cleaner.

Tak kalah penting, saat menggunaan kemasan plastik pada makanan maupun minuman akan sangat berbahaya pada kondisi tertentu atau saat dipanaskan. Bahan kimia yang terkandung pada plastik dapat larut pada makanan. Oleh sebab itu, pastikan untuk mengeluarkan makanan dari kemasan plastik sebelum memanaskannya menggunakan microwave.

Jumat Bersih jadi Upaya UIN Jakarta Ciptakan Green Campus

Jumat Bersih jadi Upaya UIN Jakarta Ciptakan Green Campus

Reporter Adellia Prameswari; Editor Syaifa Zuhrina

Aksi Jumat Bersih di UIN Jakarta. (uinjkt.ac.id)

Sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi, UIN Jakarta kembali menggelar aksi Jumat Bersih pada Jumat (10/6).

Aksi ini serentak dilaksanakan satu bulan sekali di penjuru lingkungan kampus dengan melibatkan hampir seluruh pegawai dan dosen untuk membersihkan rumput serta sampah.

“Gerakan bersih-bersih kampus harus menjadi budaya warga sivitas akademika, sehingga kampus menjadi indah, sehat, dan nyaman. Hal itu sesuai perintah agama bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman,” ucap Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis pada lansiran website UIN Jakarta.

Amany Lubis yang didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Ahmad Rodoni bahkan turut serta membersihkan halaman di lingkungan Gedung Rektorat.

Amany Lubis dan Ahmad Rodoni dalam Aksi Jumat Bersih. (uinjkt.ac.id)

Menurutnya, UIN Jakarta perlu menjadi contoh yang baik dalam kebersihan. Oleh karenanya, seluruh warga kampus harus ikut berpartisipasi dalam program kebersihan yang diadakan oleh kampus tersebut.

Salah satu mahasiswi UIN Jakarta, Attanya Diva ikut angkat suara terkait aksi Jumat Bersih ini. Baginya kegiatan ini butuh partisipasi seluruh warga kampus khususnya mahasiswa.

“Hal seperti ini justru harus mengikutsertakan mahasiswa, baik untuk terlibat langsung maupun tidak langsung. Karena mahasiswa juga bertanggung jawab atas kebersihan dan kenyamanan lingkungan di kampus,” tuturnya saat diwawancarai via Whatsapp pada Selasa (14/6).

Hal tersebut sehubungan dengan pernyataan salah satu Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta, Syahirul Alim berpendapat bahwa keterlibatan mahasiswa dalam menjaga kebersihan lingkungan harus diperhatikan.

“Mahasiswa juga perlu disadarkan tentang kebersihan lingkungan, terutama bagaimana mereka menjaga dan memelihara kenyamanan lingkungan dalam konteks belajar di kampus. Hanya saja, bentuknya tidak harus gerakan jumat bersih tapi gerakan-gerakan lain yang diinisiasi oleh pimpinan kampus,” ujarnya pada Selasa (14/6).

Ia berharap dengan diadakannya Jumat Bersih ini seluruh elemen kampus dapat menikmati lingkungan dan udara yang bersih dengan menjaga serta menyediakan ruang terbuka hijau yang lebih bermanfaat bagi seluruh civitas akademika di UIN Jakarta.

Buruknya Dampak Lingkungan, Industri Rokok Dimintai Pertanggungjawaban

Buruknya Dampak Lingkungan, Industri Rokok Dimintai Pertanggung Jawaban

Reporter Belva Carolina

Lentera Anak, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Ecoton Indonesia dan World Clean-up Day Indonesia menyelenggarakan webinar bertema “Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau: Antara Solusi Palsu dan Tanggung Jawab yang Seharusnya” melalui Zoom Cloud Meeting, pada Jum’at (27/05) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2022.

Dalam hal ini industri tembakau diimbau bertanggung jawab atas segala dampak yang ditimbulkan dan menghentikan segala bentuk manipulasi seolah-olah peduli terhadap lingkungan (kegiatan greenwashing) atas limbah produknya yang termasuk sampah B3 (bahan berbahaya beracun) hingga menimbulkan dampak lingkungan dan merusak ekosistem.

Ilustrasi pencemaran puntung rokok. (www.mongabay.co.id)

National Profesional Officer for Policy and Legislation, Dina Kania menyatakan bahwa semua proses pembuatan rokok konvensional berkontribusi terhadap perubahan iklim dan mengurangi ketahanan iklim dan berkontribusi sebesar 5% terhadap kerusakan hutan global dan tidak memungkinkan peremajaan tanah atau perbaikan komponen ekosistem pertanian lainnya baik dari pembudidayaan, produksi, distribusi, dan limbah produk tembakau.

Tak hanya itu, akibat harga rokok yang murah dan dijual batangan, strategi distribusi dan pemasaran industri rokok yang massif dengan menyasar anak dan remaja, dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya rokok, dalam 30 tahun terakhir konsumsi tembakau di Indonesia meningkat pesat.

“Setiap produsen wajib bertanggungjawab terhadap sampah kemasan, produk, dan kemasan produknya, atau biasa kita kenal dengan istilah Extended Producer Responsibility (EPR). Alih-alih membuat sistem yang tepat untuk mengelola produk mereka, yakni sampah rokok konvensional dan rokok elektrik beserta kemasannya, industri tembakau malah berinvestasi melakukan greenwashing untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerugian lingkungan yang mereka timbulkan,” kata Rahyang Nusantara, Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP).

Penghijauan yang dilakukan tidak sepadan dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Justru yang digencarkan adalah produk daur ulang dari olahan sampah puntung rokok. Namun, masih dipertanyakan keamanannya.

“Usaha penghijauan yang mereka lakukan tidak sepadan dengan kerusakan lingkungan yang mereka timbulkan. Yang sedang mereka gencarkan adalah mengolah sampah puntung rokok menjadi produk daur ulang lain yang masih dipertanyakan keamanannya, baik dari segi proses maupun produk jadinya. Ini seharusnya disiapkan dulu baku mutunya sehingga dapat memitigasi dari potensi racun yang dapat tersebar ke lingkungan,” tambah Rahyang.

Fakta menunjukkan Indonesia menjadi negara nomor dua penyumbang sampah di laut setelah China dengan 187,2 juta ton sampah di laut Indonesia. Ditambah dengan 4,5 triliun puntung rokok dibuang setiap tahun di seluruh dunia, yang menyumbangkan 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, serta dua juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok.

Ilustrasi manusia mengonsumsi rokok. (Adobestock)

Peneliti Ecoton, Eka Chlara Budiarti menerangkan bahwa banyaknya temuan pencemaran limbah puntung rokok baik di daratan maupun lingkungan perairan tidak dapat di daur ulang bahkan butuh 30 tahun terurai di alam. Terdapat sekitar 5.6 triliun puntung rokok atau setara dengan 845 ribu ton puntung rokok di seluruh dunia yang dibuang per tahunnya. Peneliti dari Spanyol pada tahun 2021 melaporkan, setidaknya dalam satu puntung rokok memiliki 15,6 ribu helai fiber.

“Temuan di pesisir mediterania menemukan ada setidaknya 2 juta punting rokok, dan ini lebih banyak daripada sampah jenis lainnya, seperti kantong plastik, tutup botol maupun sachet,” lanjutnya.

Ketua Dewan Pembina Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri Bebassari menegaskan bahwa tanggung jawab produsen industri rokok sesungguhnya sudah diatur dalam UU No.18 Tahun 2008 yang mewajibkan produsen mempunyai kendali dalam limbah hasil produksinya.

“Industri rokok harus memastikan bahwa produk yang mereka pasarkan sudah memperhitungkan dampak lingkungan, yakni bagaimana setelah produk dikonsumsi industri rokok harus mempertanggungjawabkannya dari segi EPR kemana sampahnya harus dibuang, atau bagaimana sampah itu harus diperlakukan, dan bukan sebagai CSR” tegas Sri.

Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari menyatakan bahwa dalam UU  Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan, penggunaan rokok harus dilakukan pengamanan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan serta lingkungan. UU Cukai juga mengatur karena berdampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup.

“Mengingat dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan industri rokok, kami meminta Pemerintah membuat kebijakan yang kuat dan tegas untuk menangani dampak lingkungan yang disebabkan industri tembakau dan mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau sebagai bentuk kepedulian lingkungan dan Kesehatan,” pungkasnya.

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Reporter Arsyad; Editor Dani Zahra Anjaswari

Arsyad 2021 
M aya 
Aeshnina Azzahra Aqilani 
% Nabila Tauhida. 
anätasia_Wähyudi 
ula fitria 
abila Nadya 
Sarah Rauzana - GIDKP 
Jordan Vegard Ahar_Forum Aoak Kota Ambon
Konferensi pers online Indonesian Youth Council for Tobacco Control. (DNK TV/Arsyad)

Indonesian Youth Council for Tobacco Control (IYCTC) adalah koalisi kaum muda dari 43 organisasi di 20 kota atau kabupaten dalam upaya menyuarakan pengendalian zat adiktif produk tembakau di Indonesia dengan inklusif dan bermakna. Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2022 dan menghimpun suara kaum muda.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sebagai upaya strategis menyuarakan aspirasi kaum muda yang ditargetkan industri rokok untuk mendapatkan replacement smoker dalam keberlangsungan bisnisnya. Konferensi pers ini merupakan rangkaian acara awal untuk memberikan informasi dan mempromosikan kegiatan IYSTC 2022 yang akan dilaksanakan pada tanggal 21-22 Mei 2022 mendatang.

Dalam acara puncak ini juga akan menyuarakan agar pemerintah membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif. Mereka berharap bisa mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

host 
host 
Aeshnina Azzah... 
Aeshnina Azzahra Aqi.. 
Arsyad 2021 
SlJediatJ 
Start V ideo 
Sarah Rauzana 
• • 26 
Partic i pants 
Salsabila Nadya 
Share Screen 
Jordan Vegard Ahar_ 
Reactions 
Whiteboards
Pemaparan materi oleh Sekretasis Jendral IYTCT. (DNK TV/Arsyad)

Sekretasis Jendral IYCTC, Rama Tantra mengungkapkan bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok sehingga adanya edukasi dan pemahaman terkait permasalahan tembakau atau produk zat aditif tembakau.

“Acara IYSTC akan dihadiri 500 anak muda dari seluruh Indonesia dan 70 organisasi atau komunitas yang mau menyepakati suara bersama bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok dan mereka industri rokok tidak peduli sama sekali dengan masalah kesehatan dan masalah lingkungan yang ditimbulkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa output dari acara ini untuk melakukan advokasi guna mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif yang dapat meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Output acara dari ini adalah melakukan advokasi untuk mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif bahwa anak muda dan masyarakat butuh hak kesehatan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan,” kata Rama.

Rokok konvensional sendiri mempunyai partikel-partikel yang terbuat dari plastik seperti pada bungkus rokok maupun pada puntungnya yang dapat berubah menjadi mikro plastik dan bisa mencemari udara sehingga sangat berbahaya ketika kita menghirup udara.

Selanjutnya, rokok elektronik walaupun tidak mengandung partikel plastik tetapi baterainya sangat berbahaya sebab baterai tersebut terbuat dari zat kimia yang sulit untuk diurai sehingga dapat mencemari lingkungan. Liquid pada rokok elektronik juga dapat mempengaruhi kualitas udara, air, dan tanah.

Dengan demikian, pemerintah diharapkan untuk membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif agar mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau

Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau

Reporter Qo’is Ali Humam; Editor Latifahtul Jannah

Flayer Media Briefing : Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau. (Dok. Istimewa)

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Dimulai dari tahun 1987, ketika dunia mulai menyadari bahaya rokok terhadap kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menginisasi Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dunia sebab adanya ancaman bahaya penggunaan tembakau yang memicu penyakit dan kematian. Bahkan di Indonesia sendiri merokok menjadi penyebab angka kematian terbesar kedua setelah hipertensi.

Di tahun 2022 ini, WHO menetapkan tema HTTS adalah “Tobacco : Threat to our environtment“. Tema ini sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia, dimana adiksi masyarakat terhadap penggunaan rokok dan peran industri tembakau telah menimbulkan dampak pada lingkungan dan dapat merusak ekosistem dalam semua prosesnya, mulai dari pembudidayaan, produksi, distribusi, bahkan limbah produk tembakau atau rokok tersebut sangat berpengaruh pada kerusakan lingkungan.

Dalam rangka menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Anak Foundation bersama Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Organisasi Konservasi Lingkungan Ecoton Indonesia, dan World Cleanup Day Indonesia berkolaborasi dalam mengadakan Media Briefieng dengan tema “Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau” pada Kamis (12/5) bertempat di Bakoel Koffie, Cikini Raya, Jakarta Pusat. Dengan mengundang puluhan media massa dalam acaranya, mereka berharap media ikut andil dalam mengangkat isu pencemaran lingkungan yang salah satunya disebabkan oleh industri tembakau.

Dihadiri para narasumber perwakilan dari beberapa organisasi konservasi lingkungan. (DNK TV/Rizky Faturrahman)

Kolaborasi ini tentunya bertujuan untuk sama-sama memberikan pemahaman mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat industri tembakau, mulai dari proses produksi hingga menjadi sisa konsumsi atau sampah produk. Serta pemahaman tentang siasat industri tembakau yang menghindari tanggung jawab penyelamatan lingkungan yang disebabkan produk industri rokok, melalui program Greenwashing yang dianggap hanya bersifat pencintraan.

Para narasumber yang hadir dalam Media Briefing ini menyampaikan data yang ditunjukkan oleh STOP (exposetobacco.org) yang merupakan kelompok kemitraan yang fokus dalam penelitian pengendalian tembakau di University of Bath Inggris mengungkap bahwa prouduksi rokok mengakibatkan 5% penggundulan hutan global, 30% penggundulan hutan di negara penanam tembakau, dan keruskan 200.000 hektar biomassa kayu setiap tahunnya. Konsumsi rokok juga mengakibatkan 4,5 trilliun puntung rokok dibuang setiap tahun di seluruh dunia, menyumbang 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, 2 juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok, dan 19-38% sampah yang dikumpulkan dari pembersihan laut secara global berasal dari puntung rokok.

Temuan banyaknya sampah produk tembakau atau rokok di lingkungan bebas menunjukkan abainya tanggung jawab industri tembakau akan sampah hasil produksi mereka, padahal sebagai produsen seharusnya industri tembakau bertanggungjawab mengelola sampah produk mereka. Namun, dengan dalih membuat sistem untuk mengelola sampah produknya, industri tembakau malah berinvestasi dengan melakukan greenwashing untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerugian lingkungan yang mereka timbulkan.

Bahkan dalam hal ini Koordinator Nasional GIDKP, Rahyang Nusantara menyampaikan bahwa pencemaran lingkungan ini tidak hanya berasal dari rokok tembakau biasa melainkan juga berasal dari limbah rokok elektrik, karena selain berbentuk sampah pelastik yang sangat sulit terurai rokok elektrik ini juga termasuk dalam sampah elektronik dan dikategorikan ke dalam sampah B3 (bahan, berbahaya, dan beracun).

Peneliti senior Ecoton Indonesia Eka Chlara Budiarti, juga menyatakan hal yang sama bahwa limbah puntung rokok ini tak dapat disepelekan karena di dalamnya mengandung mikroplastik dan berbagai macam zat kimia.

“Nyatanya pada tahun 2021 ada beberapa penilitian bahwa limbah dari puntung juga berpengaruh dan berdampak pada kesehatan tubuh kita, melalui degradasi limbah puntung rokok itu sendiri. Selain dari limbah kemasan berupa pelastik yang dinyatakan hanya dapat terurai sekitar 30 tahun di alam, di penghujung 2021 terdapat penilitan bahwa setidaknya dalam satu limbah puntung roko ini memiliki 15.600 helai fiber sintetis dan kandungan satu puntung rokok ini bahkan dapat mencemari 1000 liter air dan pastinya mengganggu lingkungan makhluk hidup yang ada di dalamnya” ujarnya.

Atas dasar itu semua, Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari yang juga sebagai penyelenggara sangat berharap masyarakat dapat memahami dan ikut peduli terhadap isu pencemaran lingkungan ini.

“Ya saya berharap dengan adanya Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi event dan kesempatan untuk kita meluaskan edukasi dan kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi, media, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat, untuk terus mengajak masyarakat lainnya agar mulai peduli terhadap kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan solusi yang tepat ialah kita harus sadar dan memulai, walaupun tidak dapat berhenti sepenuhnya, setidaknya mengurangi, jika tidak dapat teratasi seutuhnya, setidaknya tetap berusaha sedikit demi sedikit.

Barisan Pasca Kiamat Layangkan Pesan ‘Kematian’ untuk Jokowi

Barisan Pasca Kiamat Layangkan Pesan ‘Kematian’ untuk Jokowi

Reporter Siti Nur Khofifah; Editor Ahmad Haetami

Long march dengan membawa poster protes dan kostum zombie (Instagram/@dhikaarz)

Indonesia darurat krisis iklim. Itulah pernyataan yang terus digaungkan aktivis untuk menyuarakan keresehan terhadap krisis iklim yang terjadi di bumi. Berbagai elemen masyarakat mengadakan Aksi Global Climate Strike 2022 yang dilaksanakan di Taman Skate Park Dukuh Atas Sudirman, Jumat (25/3).

Para aktivis ini melakukan long march dari depan Sudirman Plaza hingga akhirnya berkumpul di Taman Dukuh Atas untuk melakukan berbagai orasi dan pertunjukan seni.

Krisis iklim ini menjadi permasalahan yang tak kunjung usai, banyaknya solusi-solusi yang dihadirkan pemerintah namun hasilnya nihil. Selain itu khalayak masyarakat juga masih belum begitu sadar bahwa krisis iklim ini semakin buruk. Seperti yang diorasikan oleh Novita dari Jeda Iklim.

“Tapi balik lagi masih ada di antara kita yang belum aware, karena mungkin kita punya privilese. Masalahnya jauh lebih besar dari itu dan dampak kerusakannya akan jauh lebih besar dari itu,” ungkap Novita.

Unjuk aksi ini berlangsung dengan tertib, satu hal yang menarik perhatian adalah para aktivis yang menggunakan kostum unik. Peserta aksi mengenakan kostum dengan warna merah yang melambangkan darah dan mereka juga berpenampilan seperti zombie atau mayat.

Tentu hal ini memiliki filosofi tersendiri, selayaknya yang dijelaskan oleh Extinction Rebellion Indonesia, Melisa Kowara, bahwa kostum ini mendeskripsikan pembangunan ekosistem sosial sudah diambang pintu kehancuran. 

“Jadi memang arah pembangunan negara yang sekarang itu membawa kita ke kehancuran ekosistem dan keruntuhan sosial. Sering kita dengar 2045 emas, tapi itu omong kosong semua. Jadi kita datang hari ini, seakan-akan kita mati, kita menyadarkan mereka bahwa kebijakan sekarang yang dilakukan akan membunuh kita semua,” jelas Melisa. 

Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Wino juga turut menjelaskan makna filosofi kostum zombie berlumuran darah yang ia pakai.

“Tema dari kostum ini adalah barisan pasca kiamat, jadi kita udah saatnya berpikir bahwa kita mempunyai peran masing-masing untuk mengantisipasi dalam menahan perubahan iklim,” ungkap Wino.

AKSI 
SEKARANG 
v extincti 
re e ion.id 
'eAdilLestati
Para masa aksi kostum zombie dan membawa poster krisis iklim (Sumber: DNK TV/Moch Rayhan Alwi)

Aksi ini memiliki beberapa tuntutan yang dilayangkan kepada para pemimpin atau pemerintah terutama untuk Presiden Indonesia, Joko Widodo untuk segera mendeklarasikan Indonesia darurat krisis iklim. Sejalan dengan yang disampaikan oleh Koordinator Lapangan, Abrory Ben Barka bahwa ada empat tuntutan yang dilayangkan dan disuarakan. 

“Pertama adalah mendorong pemerintah untuk mendeklarasikan darurat krisis iklim, selain itu kita juga mendorong pemerintah untuk membangun infrastruktur yang berketahanan iklim.”

“Mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang ambisius sesuai dengan kebijakan/perjanjian paris, lalu yang terakhir kita mendorong pemerintah untuk tidak lagi mengkriminalisasi aktivis lingkungan hidup dan menjamin kebebasan kita untuk berpendapat dalam menjaga lingkungan hidup,” sambung Ben.

Ben juga menyampaikan harapannya untuk pemerintah agar serius dalam menghadapi krisis iklim, karena saat ini kita sudah berada di krisis iklim. Selain itu Ben juga berharap kepada masyarakat diharapkan dapat bergandeng tangan untuk menjaga lingkungan hidup.

Imbas dari Bangunan di Atas Fasilitas Saluran Air

Imbas dari Bangunan di Atas Fasilitas Saluran Air

Oleh Annisa Nahwan; Editor Ainun Kusumaningrum

Limbah sampah yang disebabkan pendirian bangunan di sekitar sungai.
Sumber: Instagram-@dinaslhdki

Mendirikan bangunan di atas aliran air atau di atas kali bukanlah hal yang baru untuk diperbincangkan di Indonesia, pasalnya banyak dari warga Indonesia yang mendirikan bangunan untuk lahan kerja maupun sebagai tempat tinggal dengan alasan tidak adanya lahan kosong lagi. Padahal, pembangunan tersebut termasuk salah satu pemicu banjir di Ibu kota ini. Contohnya cafe di Kemang Utara yang akan dibongkar oleh camat setempat karena berdiri persis di atas aliran air. Untuk bangunan lain juga akan ditindak secara bertahap guna meminimalisasi penyebab banjir yang terus menghantuin ibu kota.

Menurut Dirjen Sumber Daya Air, Basoeki Hadimoeljono, bencana alam disebabkan oleh 2 faktor yaitu: bencana yang benar-benar disebabkan oleh bencana alam seperti longsor dan bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti banjir. Pasalnya pendirian bangunan tempat tinggal dan tempat bekerja di atas aliran air itu terkadang tidak memperhatikan dampak besar yang akan terjadi kedepannya. Banyak perusahaan industri yang berdiri di sekitar kali tidak menjaga kebersihan, seperti masih membuang limbah-limbah pabrik ke kali dan menjadikan aliran kali sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah atau limbah-limbah pabrik tersebut.

Dampak dari didirikannya bangunan di atas aliran air juga tidak hanya merusak ekosistem air tapi juga berbahaya bagi orang yang tinggal atau mendirikan bangunan tersebut. Hal ini dikarenakan semakin lama bangunan tersebut akan terkikis oleh air, terhantam oleh banjir, bahkan rusak karena terhantam kerasnya aliran air.

Lingkungan di sekitar kali jika tidak adanya bangunan terlihat lebih asri.
Sumber: Instagram-@dinaslhdki

Saat ini pemerintah sedang mengupayakan untuk mengosongkan bangunan-bangunan yang berdiri di belantaran sungai agar tercipta lingkungan yang rapih, bersih, nyaman, aman, dan sehat. Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan Kontruksi Jaringan Orang Miskin Kota untuk menangani kali-kali di kota besar dengan tujuan mengatur pemukiman di area bantaran tersebut agar tidak menggangu aliran sungai yang dampaknya juga akan dirasakan oleh warga yang tinggal disekitar area tersebut.

Harapan sebagai masyarakat umum, ke depannya Indonesia memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar dan saling peduli terhadap sesama. Karena apa yang kita lakukan sebagai warga Indonesia memiliki dampak tersendiri bagi lingkungan hidup. Semoga pembangunan di atas fasilitas aliran air yang memberikan dampak buruk bisa teratasi dengan baik oleh pemerintah. Upaya ini tentunya tidak luput dari dukungan kita sebagai warga Indonesia. Karena lingkungan alam yang bersih, indah, dan terjaga merupakan aset dari kita untuk anak cucu ke depannya

Jaga Kebersihan Lingkungan, Mahasiswa Perlu Ciptakan Kesadaran

Jaga Kebersihan Lingkungan, Mahasiswa Perlu Ciptakan Kesadaran

Reporter Siti Nur Khofifah Putri; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi menjaga kebersihan lingkungan
Sumber: Freepik.com

Kehidupan manusia dengan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Lingkungan dapat mempengaruhi aktifitas kehidupan manusia, mulai dari gaya hidup, sampai kepribadian manusia itu sendiri. Lingkungan yang sehat tentu akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, begitupun sebaliknya.

Maka dari itu, sebagai masyarakat yang baik khususnya sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab moral baik pada kehidupan sosial, tentu sudah menjadi kewajiban untuk terjun langsung dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.

Seperti yang dilakukan salah satu warga Purbalingga, Raden Roro Hendarti yang memupuk kesadaran tentang kebersihan lingkungan dengan mendatangi anak-anak di desa untuk meminjamkan buku. Uniknya hal tersebut memiliki syarat menukarkan buku dengan sampah terlebih dahulu seperti gelas plastik, kantong plastik, serta sampah lainnya.

“Mari bersama-sama kita menanamkan budaya baca sejak dini, kemudian kita harus bertanggung jawab dengan sampah yang kita kelola untuk mengurangi pemanasan global dan menyelamatkan bumi dari sampah,” jelas Roro.

Maka dari itu, mahasiswa sebagai agent of change tentunya harus sadar bahwa mereka memiliki peran penting dalam hal ini, mereka seharusnya menjadi contoh baik untuk masyarakat guna mendukung dan menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, nyaman dan menyenangkan.

Salah satu Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Hendry Hermawan berpendapat bahwa kesadaran mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan belum maksimal.

“Sebagai mahasiswa seharusnya tidak hanya berteori tapi juga memberikan nilai praktik yang dapat mempengaruhi perubahan dilingkungan dan masyarakat. Kesadaran mahasiswa saat ini sangat tinggi sebetulnya, ia paham bahwa lingkungan sangat penting baginya, ia paham bahwa pencemaran lingkungan sangat berbahaya tetapi dalam implementasinya tidak kurang dan juga tidak terlalu tinggi,” ucapnya.

Membuang sampah pada tempatnya
Sumber: Lifebuoy.co.id

Begitu banyak upaya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa guna menjaga kebersihan lingkungan, dalam hal kecil contohnya menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kampus. Hal tersebut merupakan langkah awal yang dapat dilakukan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih.

Selain itu Hendry berharap mahasiswa dapat menanamkan kesadaran di dalam dirinya untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan serta dapat mengimplementasikannya.

“Harapan saya adalah yang pertama tadi bisa menanamkan kesadaran dalam dirinya untuk sama-sama menjaga lingkungan hidup, kemudia yang kedua setelah sadar dia mampu mempraktikan apa yang sekiranya ada didalam teori tersebut. Dan yang ketiga, mampu memberikan kepedulian serta edukasi kepada masyarakat untuk Bersama-sama menjaga lingkungan dan yang paling penting ialah mahasiswa harsus dapat menentang segala kebijakan-kebijakan yang dapat merusak lingkungan,” pungkas Hendry.