Menumpuk Email Memperburuk Kesehatan Bumi, Emang Benar?

Menumpuk Email Memperburuk Kesehatan Bumi, Emang Benar?

Penulis Hasna Nur Azizah; Editor Ahmad Haetami

Saat ini, kita semua hidup di era modern yang serba digital. Kemajuan teknologi yang makin berkembang pesat menawarkan kemudahan untuk kita melakukan kegiatan sehari-hari. Apalagi semenjak adanya pandemi Covid-19, intensitas dalam menggunakan teknologi makin bertambah.

Salah satunya adalah mengirim dan menerima dokumen maupun pesan melalui e-mail. Jika dilihat sekilas, kemajuan teknologi tersebut memang bermanfaat bagi manusia. Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencetak dokumen dan mengurangi polusi kertas. Namun, tahukah kamu kebiasaan kita dalam bertukar pesan melalui e-mail, lalu menumpuknya begitu saja ternyata berdampak pada kesehatan bumi?

Dalam sebuah penelitian, penggunaan e-mail dapat mengancam dan memperburuk pemanasan global di Bumi. Pasalnya, mengirim e-mail dapat dikatakan menambah karbon dioksida (CO2) beracun. Mengapa demikian? Umumnya, e-mail yang kamu biarkan di kotak masuk disimpan di cloud atau komputasi awan. Kegiatan penyimpanan ini ternyata membutuhkan energi listrik dalam jumlah yang cukup signifikan, yang sebagian besar masih dihasilkan oleh bahan bakar fosil.

Seberapa Banyak Listrik yang Dibutuhkan E-mail?

Makin banyak energi listrik yang digunakan, makin banyak pula emisi CO2 yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada pembangkit listrik. Melansir The Good Planet pada 2019, tercatat ada lebih dari 2,3 miliar pengguna e-mail di seluruh dunia. Diprakirakan sekitar 293,6 miliar e-mail yang dikirimkan setiap harinya. Angka yang cukup fantastis, ya.

Menurut penelitian McAfee, 78 persen dari semua e-mail yang masuk adalah spam. Terdapat sekitar 62 triliun pesan spam dikirim setiap tahun yang membutuhkan penggunaan listrik sebesar 33 miliar kilowatt jam (KWh) dan menyebabkan sekitar 20 juta ton CO2 per tahun.

Untuk setiap 1 GB data yang disimpan di data center, penyedia layanan e-mail menggunakan pasokan listrik sekitar 32 kWh. Jika semua pengguna rutin menghapus sepuluh email per hari, ternyata dapat menghemat ruang penyimpanan 1,7 juta GB atau setara dengan 55,2 juta kWh listrik yang digunakan data center, loh! Alhasil, diprakirakan penyedia data center dapat mengurangi konsumsi 19.356 ton karbon atau setara dengan 39.035 ton emisi karbon.

El acuerdo par E ha f 
REVOLUCIÓN CLTHÁT 
on
Aksi dari Scientist Rebellion memperingkatkan suhu iklim bumi (Instagram.com/scientistrebellion)

Tapi Enggak Sesimpel Menghapus E-Mail Aja!

Faktanya, bukan hanya penggunaan e-mail yang dapat meningkatkan emisi karbon. Kegiatan-kegiatan seperti streaming video, menonton televisi, bermain video gim, streaming musik, dan bermain sosial media juga dapat meningkatkan emisi karbon. Lantas, apakah kita harus mulai mengurangi kebiasaan-kebiasaan tersebut? Jawabannya, boleh saja. Meskipun sebenarnya tidak memiliki dampak besar untuk bumi, tetapi hal tersebut lebih baik daripada kita tidak melakukan apapun.

Agar memiliki dampak yang lebih signifikan, kita dianjurkan untuk berhenti menggunakan listrik berbahan bakar fosil. Sebagai contoh, Google telah memproklamirkan diri carbon-neutral dengan mendanai proyek-proyek lingkungan untuk mengurangi dampak emisi karbon yang dihasilkan dari layanan mereka, seperti e-mail ataupun YouTube.

Selain Google, perusahaan teknologi raksasa lainnya juga berjanji untuk menghapus “semua karbon” dari lingkungannya yang dipancarkan sejak 1975. Perusahaan tersebut adalah Microsoft. Untuk melakukannya, perusahaan bertujuan untuk menjadi carbon-negative pada tahun 2030. Agar menjadi carbon-negative, perusahaan tersebut menyarankan sejumlah cara untuk menghilangkan karbon dari atmosfer, seperti menciptakan hutan baru dan memperluas yang sudah ada, mengembalikan karbon ke dalam tanah, dan menyedot CO2 keluar dari atmosfer dengan menggunakan kipas besar untuk memindahkan udara melalui filter yang dapat menghilangkan gas.

Sebenarnya, apa perbedaan carbon-neutral dan carbon-negative? Singkatnya, carbon-neutral adalah seluruh aktivitas yang tidak memengaruhi kadar emisi karbon di atmosfer (Ilmastopaneeli, 2014). Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, seperti penanaman pohon, bersepeda, dan kegiatan lainnya yang ramah lingkungan. Sedangkan, carbon-negative adalah usaha-usaha untuk mengurangi kadar karbon di atmosfer.

Nah, setelah mengetahui bahwa karbon memiliki dampak yang besar bagi lingkungan, sebaiknya Indonesia segera mengganti energi listrik berbahan bakar fosil ke energi alternatif lainnya, seperti energi matahari, angin, air, dan lainnya. Hal tersebut tentu saja tidak dapat dicapai jika kurangnya dukungan dari pemerintah.