Sarasehan Humas MPR RI dalam Pekan Legislatif

Sarasehan Humas MPR RI dalam Pekan Legislatif

Reporter Ariqah Alifia; Editor Ainun Kusumaningrum

Sarasehan Kehumasan RI bertemakan “Pekan Mahasiswa sebagai Tonggak Pemersatu dalam Kebhinekaan”. Sumber: DNKTV-Ainun Kusumaningrum

Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Sema Fdikom) UIN Jakarta menggelar acara Sarasehan Kehumasan RI bertemakan “Pekan Mahasiswa sebagai Tonggak Pemersatu dalam Kebhinekaan” di lantai 2 Aula Madya UIN Jakarta pada Senin (29/11), dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Kerja sama antara Senat Fdikom dengan Humas Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) untuk menyapa sahabat kebangsaan di pekan legislatif ini dihadiri oleh kurang lebih 60 peserta.

Acara ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga Setjen MPR, Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Fdikom, organisasi legislatif fakultas serta mahasiswa UIN Jakarta.

Acara yang berlangsung dengan khidmat ini diawali dengan sambutan Wakil Dekan Fdikom, Cecep Castrawijaya dan Ketua Senat, Syafira Febby Ayu. Syafira berharap kerja sama ini dapat terjalin lebih erat ke depannya.

Berlangsungnya sarasehan bersama Humas MPR RI.
Sumber: DNKTV-Ariqah Alifia

Dilanjut dengan seminar yang dipandu oleh Rifqi Ramdani, diisi oleh Wakil Dekan 3 Fdikom, Cecep Castrawijaya dan Kepala Humas MPR RI, Budi Mulyawan.

Cecep menyampaikan tujuan kebhinekaan adalah untuk mengisi kenegaraan yang rukun, makmur, dan bersatu. Selain itu, Cecep juga berpesan dalam strategi perwujudan kebhinekaan tersebut, “Kita sebagai mahasiswa juga harus memiliki kecerdasan. Dengan kecerdasan, segala sesuatu dapat diselesaikan.”

Budi menegaskan semua elemen masyarakat adalah sahabat MPR, termasuk mahasiswa. Maka dari itu, sangat penting diadakannya acara sebagai pengingat mahasiswa agar dapat menjadi role model dan mengambil peran pada masyarakat luas.

Budi juga berharap fungsi mahasiswa sebagai iron stock, agent of change, pengabdi masyarakat dapat teraktualisasikan sebagaimana mestinya, dan bisa mewujudkan eksistensi nilai pancasila.

Pesan terakhir yang disampaikan oleh Budi ialah, “Sebagai mahasiswa boleh salah, tapi jangan berbohong,” ucapnya.

Acara ini diakhiri dengan harapan dari kedua narasumber. Mereka berharap, kelak Indonesia bisa menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun ghaffur, negeri yang baik dengan Tuhan yang Maha Pengampun.