Pemberdayaan Masyarakat Untuk Melawan Paham Teroris

Pemberdayaan Masyarakat Untuk Melawan Paham Teroris

Reporter  M. Rizza Nur Fauzi; Editor Taufik Akbar Harefa

Asep Usman, Ahli Paham Teroris UIN Jakarta menyampaikan materinya dalam webinar nasional secara virtual, Rabu (5/5).

Pusat Studi Pemberdayaan dan Perdamaian UIN Jakarta mengadakan Webinar Nasional dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Untuk Melawan Paham Teroris” secara virtual, pada Rabu (5/5).

Dihadiri Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, Peneliti Center Daya Damai Rasid, Ahli Paham Teroris UIN Jakarta Asep Usman, dan Wakil Dekan Fpsi UIN Jakarta Gazi.

Acara ini bertujuan untuk mendiskusikan bagaimana kita mendekati isu radikalisme, terorisme, dan violence dengan lebih memanusiakan mereka yang terlibat dalam kelompok ini.

Dalam sambutannya, Dekan Fdikom UIN Jakarta, Suparto menyampaikan, pendekatan-pendekatan agama sebagai dasar nilai-nilai pengembangan keilmuan di Fakultas Dakwah menjadi penting, bagaimana agama Islam bisa menjadi katalisator pembentukan pribadi baru.

“Pemberdayaan pada hakikatnya adalah bagaimana individu atau komunitas kemudian membangun kesadaran dirinya untuk berubah. Maka dalam diskusi ini, aspek-aspek itulah yang akan dianalisis dan didiskusikandidiskusikan, ” ujar Dekan Fdikom Suparto.

Selanjutnya Ahli Paham Teroris UIN Jakarta, Asep Usman menjelaskan, radikalisme menjadi fenomena tidak hanya pada agama tertentu, namun juga pada setiap agama apa pun. Radikalisme agama berbasis pada doktrin keagamaan berdasarkan pemahaman literal terhadap sumber ajaran agama. Menumbuhkan konflik sosial, kekerasan horizontal dan vertikal.

Ia juga menjelaskan, bahwasanya terorisme merupakan kejahatan yang merugikan masyarakat secara materi, fisik dan psikologis. Baik dilakukan secara individu, atau pun kelompok. Baik terstruktur atau pun tidak terstruktur. Tindakan ini bertentangan dengan perasaan dan moral masyarakat.

“Radikalisme agama berbasis pada doktrin yang dibentuk lewat kajian-kajian dengan panduan secara liberal, yang akhirnya akan melahirkan suatu kekerasan atas nama agama dan kemudian lahirlah aksi terorisme,” tambahnya.

Gazi, Wakil Dekan Fpsi UIN Jakarta menyampaikan materinya dalam webinar nasional secara virtual, Rabu (5/5).

Kemudian Wakil Dekan Fpsi UIN Jakarta, Gazi menambahkan, radikalisme dan terorisme terjadi karena 3N, yaitu need (kebutuhan), networks (jaringan) dan narratives (narasi). Adapun cara mecegahnya dalam segi need adalah dengan pemenuhan kebutuhan, network dengan cara memutus jaringan sosial, sdeangkan dalam segi narration dengan cara kontra narasi, kontra wacana dan lain-lain.

Need, networks dan narratives. Tiga hal inilah yang dapat menyebabkan terjadinya radikalisme dan terorisme di seluruh belahan dunia. Adapun cara mencegahnya yaitu dengan pemenuhan kebutuhan, memutus jaringan sosial, kontra narasi, kontra wacana dan lain-lain,” ujar Gazi.