Urgensi Kurikulum Iklim di Lembaga Pendidikan

Urgensi Kurikulum Iklim di Lembaga Pendidikan

Oleh Nurdiannisya Rahmasar; Editor Tiara De Silvanita

Ilustrasi perubahan iklim
Sumber: Google Picture

Krisis iklim atau climate crisis terus menjadi masalah dunia saat ini. Pada sidang umum PBB 2020 lalu, para pemimpin dunia diminta untuk menetapkan status darurat iklim di semua negara hingga tercapai netralitas karbon.

Berdasarkan studi terbaru, krisis iklim diperkirakan akan memperburuk pemanasan global pada dua puluh tahun mendatang. Hal ini seperti dilansir dari Science Alert, Jumat (20/08) lonjakan dalam klorofluorokarbon (CFC) akan meruntuhkan lapizan ozon dunia pada tahun 2040-an.

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Indonesia adalah salah satu negara yang akan mengalami dampak luar biasa dari krisis iklim, mulai dari pemanasan global, kebakaran hutan, hingga kenaikan permukaan laut. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang berpotensi mengalami ancaman nyata.

Oleh karenanya, urgensi terhadap kesadaran krisis iklim perlu digiatkan agar masyarakat terutama para pelajar peduli dan mampu secara kolektif untuk melawan dan keluar dari kondisi ini. Sayangnya, Indonesia memiliki persentase penyangkal iklim atau climate denier tertinggi dalam survei tahun 2020 di 26 negara.

Ini menunjukkan bahwa penyebaran informasi mengenai penyebab, dampak, dan langkah untuk menghadapi perubahan iklim perlu segera digencarkan karena kondisi iklim sudah semakin darurat.

Upaya penyadaran akan dampak krisis iklim kepada kaum muda (pelajar/mahasiswa) dapat dilakukan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan Kementerian Agama (Kemenag) dengan menyebarluaskan informasi melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah maupun perguruan tinggi.

Program Pendidikan Iklim perlu dicanangkan oleh lembaga penyelenggara pendidikan negara, dikarenakan program ini memiliki tujuan utama yaitu untuk membangun masa depan yang berkelanjutan, menginspirasi untuk bertindak, dan mempraktikkan keterampilan yang memengaruhi di tingkat sosial dan pribadi.

Mahasiswa UIN Jakarta Antari Fitra Devi menanggapi petisi tersebut dapat mengusahakan anak-anak dan remaja menjadi lebih peka terhadap dampak perubahan iklim melalui pendidikan.

“Misalnya peningkatan kesadaran mengenai mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan dampak serta peringatan dini kepada anak-anak. Mitigasi perubahan iklim misalnya pengelolaan sampah, limbah padat dan cair, penggunaan hemat energi yang terbarukan, mencegah terjadinya penggundulan lahan atau penebangan dan kebakaran hutan,” terangnya, Minggu (22/08).

Generasi mendatang perlu dilengkapi dengan pemahaman dan keterampilan untuk proses adaptasi terhadap kondisi kehidupan dan pekerjaan ramah lingkungan di masa depan. Pendidikan Iklim ini akan memberikan kemampuan kepada setiap anak muda untuk berkontribusi pada masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan.