Webinar Internasional KPI UIN Jakarta: Ada 3 kajian baru dalam kurikulum

Webinar Internasional KPI UIN Jakarta: Ada 3 kajian baru dalam kurikulum

Reporter Cut Soraya Dewi


Peserta Webinar Internasional “Profile of Public Speaker and Broadcaster Curriculum 2022” pada Selasa (25/01).
Sumber: DNK TV-Natasya Ardya Garini

Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mengadakan Webinar Internasional dengan tema “Profile of Public Speaker and Broadcaster Curriculum 2022” pada Selasa (25/01).

Acara dilakukan secara daring melalui Zoom Cloud Meetings. Dihadiri oleh Kepala Prodi KPI UIN Jakarta, Armawati Arbi, Kepala Prodi KPI UIN Yogyakarta, Nanang Mizwar Hasyim, Pendakwah Internasional, M. Ali Aziz, Penyiar BBC London dan Radio Australia, Nuim Khaiyath, Dekan Fdikom, Suparto, para dosen prodi KPI, dan partisipan.

Acara ini bertujuan guna menyosialisasikan kurikulum terbaru prodi KPI UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Dalam menyampaikan pengalamannya sebagai seorang penyiar, Nuim Khaiyath mengatakan ada dua hal penting yang perlu diterapkan sebagai penyiar radio, yaitu perlunya keakraban dan pengetahuan.

“Dalam menjadi seorang penyiar, pertama, kalian perlu memiliki kesadaran bahwa kalian harus menjadi sangat intimasi/akrab, ramah, sehingga kalian menggunakan suara yang ramah, bukan sebagai seorang penyiar yang formal tetapi sebagai teman agar pendengar merasa bahwa penyiar hanya berbicara dengan mereka, bukan dengan orang lain”, ucapnya.

“Kedua, kalian perlu memiliki latar belakang pengetahuan, jadi bagaimana kalian memperoleh latar belakang pengetahuan ini, hal yang terpenting adalah kalian harus membaca buku. Cobalah untuk memiliki pengetahuan sebanyak mungkin”, imbuhnya.

Pendakwah Internasional, Ali Aziz mengungkapkan bahwa hal terpenting menjadi seorang pendakwah adalah kemampuan membaca Al-Quran.

“Kepercayaan masyarakat kepada pendakwah adalah satu, yaitu bacaan Al-Quran itu tidak boleh salah. Oleh karena itu, teman-teman mahasiswa KPI setiap hari harus belajar Al-Quran dengan nada, sebab itu merupakan bagian dari dai agar mendapat kepercayaan dari masyarakat”, ungkapnya.

Pendakwah Internasional, M. Ali Aziz yang menjadi salah satu narasumber.
Sumber: DNK TV-Natasya Ardya Garini

Selain itu, dalam rangka perumusan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Kepala Prodi KPI UIN Yogyakarta, Nanang Mizwar Hakim menjelaskan, ada tiga acuan yang mempu membentuk kompetensi penyiar.

“Dalam penyusunan KKNI ada beberapa hal yang menjadi acuan, salah satunya adalah keahlian, sikap, dan pengetahuan. Inilah faktor yang menjadi terbentuknya kompetensi penyiar,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Kepala Prodi KPI UIN Jakarta, Armawati Arbi menjelaskan ada tiga kajian dalam kurikulum terbaru KPI UIN Jakarta.

“Kami sepakat bahwa kajian dari prodi KPI UIN Jakarta yaitu studi Public Speaking, Penyiaran, dan Media. Adapun profil public speaking itu yaitu menjadi pengkaji dakwah di media, pencipta konten dakwah, pengkaji media sosial, dan pengkaji hubungan masyarakat. Adapun profil broadcasting (penyiaran), praktisinya adalah pengkaji penyiaran islam radio dan televisi, serta film dokumenter.”

“Adapun kajian studi media, kami rinci menjadi asisten peneliti, praktisi advokasi media, praktisi media dan gender,” tambah Armawati.

Ia juga mengatakan bahwa dalam kurikulum baru akan ada mata kuliah Media dan Gender yang sebelumnya tidak ada.

“Jadi, kami mencoba di kurikulum baru itu ada mata kuliah Media dan Gender,” ucapnya.

Studium General: Kurikulum MD Berbasis Kewirausahaan

Studium General: Kurikulum MD Berbasis Kewirausahaan

Reporter Shafina Madanisa; Editor Elsa Azzahraita

Studium General dari program studi Manajemen Dakwah secara virtual, pada Kamis (27/5).
Sumber : DNKTV_Shafina

Program studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Studium General melalui virtual Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal Youtube Manajemen Pelatihan Dakwah pada Kamis (27/5).

Acara yang mengangkat tema “Kurikulum Prodi Manajemen Dakwah Berbasis Kewirausahaan” ini menghadirkan tiga narasumber, diantaranya Guru Besar Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Jakarta Dedi Purwana, Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Hanapi Noekman dan Muhammad Zen.

Dalam pemaparannya, Dedi Purwanba menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi menjadi 5 negara dengan pendapatan tertinggi dan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045. Namun sebelum itu, kita harus menjawab beberapa tantangan seperti mengembangkan infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM).

SDM Indonesia di masa depan diharapkan berkarakter kuat, inovatif dan entrepreneur, kewargaan global, memiliki berbagai keterampilan abad 21 dan bersertifikat, elastis serta pembelajar sepanjang hayat.        

Terkait kurikulum program studi, setidaknya ada empat syarat yang perlu dipenuhi. Pertama, berorientasi Outcome Based Education (OBE), mengakomodir program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM), mengakomodir kompetensi abad 21, dan memperkuat literasi data, literasi digital, literasi kemanusiaan serta literasi kewirausahaan.

Materi pertama dengan Dedi Purwana sebagai narasumbernya.

“Yang paling penting, kurikulum yang nantinya mau diarahkan berbasis kewirausahaan, pastikan komponen mana yang termasuk kategori hard skill, mana yang soft skill. Bagaimana prodi menciptakan atmosfir supaya anak-anak kita itu punya kemampuan memimpin, berani mengambil risiko, kreatif dan inovatif, kemudian fleksibiliti, dan jangan lupa kalau tidak ada itu ya percuma.” ungkapnya.

Selanjutnya, Erwin Hanapi Noekman menjelaskan terkait “Prospek dan Peluang Asuransi Syariah”. Erwin mengatakan perkembangan asuransi Syariah di Indonesia pada tahun 2020 sampai 2021 terjadi perbaikan dan pertumbuhan yang cukup baik, walaupun situasi saat ini sedang dilanda Covid-19.

“Sebenarnya ada benang merah antara jurusan Manajemen Dakwah dengan etika berbisnis. Salah satunya dari sisi tabligh. Bahwa seseorang harus bisa menyampaikan  kebenaran, bukan berarti membohongi.” ujar Erwin.

Terakhir, materi mengenai peran da’i dalam kewirausahaan dibawakan oleh Muhammad Zen. Menurutnya, seorang da’i harus berwirausaha dan berkerja, agar ikhlas tak mengharapkan imbalan dalam berdakwah dan dakwahnya bisa berjalan optimal.

“Peran dai adalah memotivasi manusia menuju kepada kebaikan dan petunjuk.  Prinsipnya mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyatukan bukan memisahkan” tambah Zen.

Pancasila dan Bahasa Indonesia Hilang dari Kurikulum

Pancasila dan Bahasa Indonesia Hilang dari Kurikulum

Reporter Aulia Gusma Hendra; Editor Elsa Azzahraita

Koordinator P2G Satriwan Salim
Sumber : Yt BNPB Indonesia

Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti PP No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). P2G menyayangkan PP SNP tersebut tidak lagi memuat Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran atau mata kuliah wajib khususnya di Perguruan Tinggi.

Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim.

“Dalam PP SNP baru ini jelas menghilangkan Pancasila dan bahasa Indonesia,” ujar Satriawan dalam keterangan resminya, Kamis (15/4).

Satriwan menuturkan, pajak pada UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah agama, pancasila, kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia.

Ia menduga, hilangnya Pancasila dan bahasa Indonesia pada PP SNP merupakan kesalahan tim penyusun baik secara prosedural, formal, maupun substansial.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UIN Jakarta,  Astari Ainunnisa berpendapat tidak setuju jika di perguruan tinggi mata kuliah Pancasila dan bahasa Indonesia dihilangkan. 

“Menurut saya, bahasa Indonesia dan Pancasila adalah identitas bangsa. sehingga, ilmu tersebut sepatutnya bertahan. Saya rasa semua orang Indonesia akan terus belajar bahasa Indonesia dan Pancasila agar tidak dengan mudah melupakan identitas bangsa.” ungkapnya saat diwawancarai oleh Tim DNK TV (20/4).

Menurut Kepala Bidang P2G Fauzi Abdillah, untuk struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah juga seolah-olah menghilangkan istilah Pancasila dan bahasa Indonesia. Pasalnya, pada PP SNP hanya tertulis “Pendidikan Kewarganegaraan” dan “Bahasa”.

Fauzi menambahkan dalam struktur dan implementasi kurikulum di pendidikan dasar dan menengah, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sudah diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

“Setidaknya inilah yang termuat dalam struktur Kurikulum 2013 di sekolah atau madrasah,” ujarnya

Ilustrasi murid sedang belajar bahasa Indonesia.
Sumber : Yt Mwira Albarizi

Pelajar SMPN 1 Denpasar, Chaitanya turut memberikan pendapatnya mengenai hal ini. Menurutnya, perlu dilakukannya penyederhanaan kurikulum di Indonesia.

“Menurut saya tidak masalah jika pelajaran Pancasila dan Bahasa Indonesia dihilangkan, karena terlalu banyak mata pelajaran yang ada di sekolah, yang menuntut pelajar untuk menghafal dan memahami semua mata pelajaran. Saya sangat setuju apabila dilakukan penyederhanaan kurikulum di Indonesia” ujarnya.