Closing Comfest 2021, Peranan Mahasiswa Komunikasi Menuju Era 5.0

Closing Comfest 2021, Peranan Mahasiswa Komunikasi Menuju Era 5.0

Reporter Putri Anjeli; Editor Syaifa Zuhrina

Pembukaan Closing Ceremony Communication Festival (Comfest) 2021
Sumber: DNK TV-Syaifa Zuhrina

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta menggelar Closing Ceremony acara tahunan Communication Festival (Comfest) dengan mengadakan Diskusi Komunikasi (Disko) yang bertajuk “Peranan Mahasiswa Jurusan Komunikasi di Era Industri 4.0 Menuju Era 5.0” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (7/10).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Cecep Castrawijaya, Kepala Program Studi KPI, Armawati Arbi, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, Dosen Jurusan KPI UIN Jakarta, Fita Fathurokhmah, Jurnalis sekaligus Alumni Jurusan KPI UIN Jakarta, Sabir Laluha dan partisipan.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah (Fdikom) Cecep Castrawijaya turut mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Mahasiswa.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa dan banyaknya event yang ada di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fidkom) walaupun masih di masa pandemi tetapi mahasiswa masih tetap produktif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.

Dalam paparannya, Gun Gun Heryanto mengatakan di era disrupsi perlunya mendalami kompetensi karena sekarang bukan lagi di era generalis tetapi spesialis.

“Kita perlu mendalami kompetensi lebih mendalam apakah itu mendalami media sosial, marketing communication, komunikasi internasional, komunikasi politik, broadcasting, dll. Ini merupakan kedalaman kompetensi berjejaring yang bisa mengantarkan kita pada satu eksistensi karena teknologi banyak menimbulkan perubahan yang fundamental di ragam aspek kehidupan manusia,” ucapnya.

Penyampaian Materi oleh Gun Gun Heryanto
Sumber: DNK TV-Syaifa Zuhrina

Selain itu, Fita Fathurokhmah juga menyampaikan materi tentang bagaimana mahasiswa harus kreatif dalam menggunakan media dengan baik.

“Mari kita perbanyak menulis di berbagai media, mari kita perbanyak konten yang bermanfaat di youtube dan platform media yang lain agar eksistensi masyarakat komunikasi UIN Jakarta itu diakui oleh hipereality media digital in the word,” jelasnya.

Salah satu peserta sekaligus Mahasiswa UIN Jakarta, Gelvi Anes sangat mengapresiasi acara ini.

“Acara ini sangat bermanfaat dan menginspirasi saya terutama sebagai mahasiswa jurusan Komunikasi, acara ini memberikan motivasi serta ilmu-ilmu baru yang dapat meng-upgrade pengetahuan dan wawasan, dan sebagai persiapan untuk kita dalam menghadapi era 5.0 sehingga kita siap menjadi subjek dalam revolusi teknologi bukan hanya sebagai objek saja,” tutur Gelvi.

Communication Festival (Comfest) 2021: Media and Youth Collaboration

Communication Festival (Comfest) 2021: Media and Youth Collaboration

Reporter Siti Nurhalizah; Editor Syaifa Zuhrina

Pembukaan Webinar Nasional Communication (Comfest) Festival 2021
Sumber: DNK TV-M.Zidane Murtado

Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta menyelenggarakan acara tahunan Communication Festival (Comfest) yang dibuka melalui webinar nasional bertajuk “Media and Youth Collaboration” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (30/9).

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 350 peserta. Dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Cecep Castrawijaya, dan dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Armawati Arbi.

Turut hadir beberapa narasumber, diantaranya, Ketua KPI Pusat Yuliandre Darwis, Wakil Presiden Marketing Public Relation Trans 7 Anita Prasojo, Social Media Strategist Eno Bening serta Koordinator Audio Visual dan Media Sosial Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Dimas Aditya Nugraha.

Moderator Webinar Nasional Communication (Comfest) Festival 2021
Sumber: DNK TV-M.Zidane Murtado

Dalam paparannya, Yuliandre Darwis mengatakan industri penyiaran saat ini membutuhkan konten-konten yang dinamis serta ide berlian.

“Apa gunanya infrastruktur begitu canggih, teman-teman khususnya di Comfest hanya merasakan menggunakan sebagai konsumtif, tidak pernah membuat konten yang lebih kreatif, yang lebih menarik. Ini menjadi salah satu tantangan ke depan bahwa ada platform baru, industri penyiaran membutuhkan konten-konten yang dinamis dan ide-ide berlian seperti drama Korea,” ujarnya.

Selain itu, Anita Prasojo juga menyampaikan materi yang berfokus pada bagaimana media menjadi teman bagi generasi milenial saat ini.

“Kita jangan hanya sampai konsumtif menggunakan media, tetapi kita juga bagaimana kita kreatif dalam memanfaatkan media,” ujarnya.

Webinar ini disambut baik dengan antusiasme peserta yang terbilang cukup banyak, karena fokus utama pada acara ini memang untuk mengedukasi para generasi milenial khususnya mahasiswa dalam memanfaatkan media dan teknologi sebagai wadah untuk berkreasi dan berinovasi.

Salah satu peserta sekaligus Mahasiswa UIN Jakarta Nafilah Putri Samhah sangat mengapresiasi acara ini.

“Acaranya sangat menarik, narasumbernya juga keren-keren banget. Setelah mengikuti webinar ini, saya jadi lebih mengetahui bahwa teknologi sangat berperan penting saat ini. Namun perlu diingat, kita harus bijak mengendalikan diri bersosial media, manfaatkan sebaik-baiknya contohnya dengan membuat konten menarik dan bermanfaat,” jelasnya.

Literasi Bukan Hanya Bicara Tulisan, Tetapi Paham Realitas

Literasi Bukan Hanya Bicara Tulisan, Tetapi Paham Realitas

Reporter Ahmad Haetami; Editor Elsa Azzahraita

Gelar Wicara Pekan Literasi (Pelita) yang dihadiri Sherly Annavita Rahmi, Minggu (12/9)
Sumber: DNK TV-Ahmad Haetami

“Bicara literasi itu bukan hanya sekadar bicara kegunaan untuk diri kita sendiri, tetapi bagaimana kita memaknai realitas, membangun kesadaran, dan menggunakannya untuk menyebarkan kesadaran lain, termasuk untuk mengkritik kebijakan dari pemerintah yang kita rasa tidak benar,” ujar Okky Madasari, pemateri Gelar Wicara Pekan Literasi (Pelita) pada Minggu (12/9).

Gelar Wicara Pelita yang mengusung tema “Gairah menjadi Generasi Kritis dalam Merawat dan Membumikan Literasi Visual di Era Pandemi” ini diselenggarakan secara virtual oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (HMPS KPI).

Dihadiri oleh penulis Okky Madasari  dan kreator konten digital Sherly Annavita Rahmi, gelar wicara ini merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian sebelumnya, di antaranya bantuan sosial dan kompetisi esai. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya.

Okky menyampaikan materi mengenai  “Budaya Literasi di Era Pandemi”. Menurutnya, anak muda atau mahasiswa yang mempelajari realitas dalam masyarakat, seharusnya bisa kritis dan berpikir lebih jauh.

Penyampaian materi oleh Okky Puspa Madasari pada Pekan Literasi (Pelita)
Sumber: DNK TV-Ahmad Haetami

“Kita harus kritis, yang artinya mempertanyakan segala hal. Segala hal yang tampak normal-normal saja, kita harus mencari tahu ada apa di baliknya, apa benar seperti itu.” ujar Okky.

Selain itu, Okky juga menyampaikan bahwa anak muda harus mengerti dan paham atas kondisi realitas yang terjadi pada masa pandemi.

“Anak muda harus pahami realitas yang ada pada masa pandemi dan kemudian kita bisa olah dalam karya kreatif dengan upaya untuk membangun literasi. Karena literasi itu artinya berbicara pemahaman terhadap masalah,” pungkasnya.

Senada dengan Okky, Sherly yang menyampaikan materi “Literasi Visual untuk Menstimulasi Kemampuan Berpikir Generasi Milenial di Era Masyarakat”,  juga berpandangan bahwa anak muda harus berani melakukan tiga hal, di antaranya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja cepat.

 “Kita sekarang hidup di industri 5.0 yang salah satu indikatornya adalah kecepatan. Sekarang zaman bukan hanya terbuka bagi yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat akan mengalahkan yang besar. Yang cepat punya ide, gagasan, yang kreatif seterusnya cepat mengeksekusi maka cepat juga tahu formulasi yang paling tepat untuk sama-sama kita besarkan,” ujarnya.

“Makin ke sini sumbu fokus anak muda itu makin kecil atau pendek, sangat wajar karena kita mudah sekali menerima informasi. Mungkin hari ini kita menerima informasi A lalu besok sudah tertimpa oleh informasi penting lain,” pungkasnya.

Ketua Pannitia Pelita Juva Salma Chotika berharap, “Pekan Literasi ini dapat memotivasi para generasi muda untuk menumbuhkan minat baca dalam dunia literasi visual maupun digital,”.

Gelar wicara ini ditutup oleh pengumuman pemenang kompetisi esai yang sudah dilaksanakan sebelumnya.

Dinamika Media Massa dan Demokrasi di Indonesia

Dinamika Media Massa dan Demokrasi di Indonesia

Reporter Ariqah Alifia;  Editor Taufik Akbar Harefa

Seminar Nasional dengan tema Dinamika Media Massa dan Demokrasi di Indonesia secara virtual (1/9).

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta bekerja sama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) kembali mengadakan Seminar Nasional bertajuk Dinamika Media Massa dan Demokrasi di Indonesia secara virtual pada Rabu, (1/9).

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, Para Kepala Kasubag Fdikom, Ketua Umum Aspikom Muhammad Sulhan, Para ketua dan sekretaris program studi, para dosen, juga Ketua Program Studi KPI, Armawati Arbi. Dan lebih dari 100 peserta dari berbagai aliansi dan institusi se-Indonesia ikut menghadiri.

Sekretasi Prodi KPI Edi Amin, bertindak sebagai moderator pada sesi Penyampaian materi bersama Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Ibnu Hamad, Pengamat Politik Ekonomi Indonesia Ichsanuddin Noorsy, Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titik Angraini, Guru besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta Masykuri Abdillah, dan Dekan Fidikom UIN Sunan Ampel Surabaya Abdul Halim, ikut memaparkan materi.

Adapun tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah berangkat dari penelitian mahasiswa terhadap problematika Demokrasi Pancasila  semakin bertambah wawasannya dan semakin mendalam wawasan dalam membahas  Media Massa, Pancasila, dan Demokrasi di Indonesia. Serta diharapkan agar meningkatkan kualitas penelitian komunikasi di level dosen dan mahasiswa Prodi KPI.

Ibnu Hamad menyampaikan materinya tentang Quo Vadis Peran Media Massa dalam Proses Demokrasi secara virtual (1/9).

Dalam paparan materinya Ibnu Hamad, membahas Quo Vadis Peran Media Massa dalam Proses Demokrasi yang merupakan Refleksi dari Masa Pemilu 1999.

Ia mengatakan, media massa sempat disebut kekuatan keempat demokrasi, yakni eksekutif, yudikatif, legislatif, dan pers dan pernah mewarnai demokrasi sebelum adanya media sosial.

Dalam bahasan tentang Pemilu Presiden 2004  oleh Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titik Angraini, ia menyampaikan bahwa Pemilu demokratis tanpa kebebasan media akan menjadi kontradiksi.

“Media sangat penting untuk pelaksanaan pemilu yang demokratis. Pemilihan umum yang bebas dan adil bukan hanya tentang memberikan suara dalam kondisi yang layak, tetapi juga tentang memiliki informasi yang memadai tentang partai, kebijakan, kandidat, dan proses pemilihan itu sendiri sehingga pemilih dapat membuat pilihan yang tepat. Pemilu demokratis tanpa kebebasan media akan menjadi kontradiksi,” ujar Titik Angraini.

Abdul Halim menyampaikan materinya tentang Kepemimpinan Islam dan Demokrasi di Indonesia (1/9).

Di sisi lain, Abdul Halim menyampaikan materi yang bertema Kepemimpinan Islam dan Demokrasi di Indonesia. Media massa yang berpihak pada dakwah yang berpijak pada empat karakteristik kepemimpinan nabi, Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathahanah.

Sebagaimana kepemimpinan yang digunakan Rasulullah ialah Nubuwah dan demokrasi saat ini menggunakan sistem musyawarah.

Ia juga menyampaikan Indikator Keberhasilan dan Kontribusi Partai Politik dalam Pembangunan adalah terwujudnya Tertib Sosial yang ditandai dengan Penegakan Hukum, Peningkatan Kesejahteran dan Penurunan Tingkat Kemiskinan.

Dipenghujung diskusi Titik Angraini berharap, elit politik bisa mengedepankan kepentingan bersama dalam pemerintahan ke depannya.

Gegap Gempita PBAK Program Studi di Tengah Pandemi

Gegap Gempita PBAK Program Studi di Tengah Pandemi

Reporter Ahmad Haetami; Editor Tiara De Silvanita

Pengenalan Budaya Akademik (PBAK) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi secara daring pada Jumat, 27 Agustus 2021.
Sumber : DNK_Kevin Phillips

Hari keempat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Jakarta tahun akademik 2021/2022 yang merupakan hari terakhir PBAK diisi dengan pengenalan program studi (prodi) secara virtual, pada Jumat (27/8).

Pengenalan Progam Studi tersebut dilaksanakan oleh masing-masing Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di UIN Jakarta, tak terkecuali Program Studi di bawah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom).

Meskipun dilaksanakan secara virtual panitia PBAK berupaya mempersiapkan acara dengan matang untuk meminimalisir kesalahan teknis. Salah satunya, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mengusung tema “Meneguhkan Prestasi Akademik Mahasiswa yang Berintegritas dalam Moderasi Beragama di Era Transformasi Digital”

 “Berbicara  PBAK online ini harus butuh persiapan yang lebih karena situasinya tidak bisa diperkirakan, seperti kendala jaringan maupun permasalahan teknis,” tutur Ketua HMPS KPI, Mochamad Farhan Nasrudin.

Di sisi lain, PBAK prodi Kesejahteraan Sosial (Kessos) tahun ini mengusung tema “Merancang Mahasiswa Kesejahteraan Sosial yang Memiliki Integritas, Intelektual, dan Semangat Jiwa Sosial”. Dalam rangkaian acaranya menghadirkan pembicara Co-Founder PT Jakarsa Mandiri Internasional, Reza Dwi Pangestu.

Pelaksanaan PBAK oleh Prodi Kesejahteraan Sosial
Sumber: DNK TV_Kevin Phillips

Prodi Kessos juga mengusung inovasi yang memikat banyak antusiasme mahasiswa baru, yaitu dengan menghadirkan video tur kampus.

“Kita juga punya video tur kampus agar mahasiswa baru angkatan 2021 tahu keadaan kampus seperti apa. Para mahasiswa baru antusias sekali, mereka mau tanya dan tahu apa itu PBAK dan apa saja yang ada di UIN Jakarta, terutama di prodi Kessos. Kami berharap mahasiswa baru tetap semangat karena bakal ada hal-hal keren lainnya dari Kessos,” tutur Ayunda Putri selaku Panitia PBAK prodi Kessos

Salah satu peserta PBAK prodi Jurnalistik, Muhammad Damar Ramadhan, mengungkapkan kesenangannya mengikuti PBAK Jurnalistik.

“Tadi ada sesinya, ada sesi pemateri public speaking dan kewartawanan. Narasumber dengan kita (mahasiswa baru) tek-toknya asyik dan tidak bikin ngantuk dan ada lucunya juga,” tuturnya.

Kegiatan PBAK pada hari ini menutup rangkaian yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru UIN Jakarta sebelum mengikuti perkuliahan. Para panitia PBAK berharap mahasiswa baru dapat mengenal kampusnya dengan baik.

Dinamika Perfilman dan Media di Indonesia

Dinamika Perfilman dan Media di Indonesia

Reporter Fajar Khairifais; Editor Tiara De Silvanita

Kuliah Umum: Kritikus Film / Sinetron dan Advokasi Media, Jumat (13/8).
Sumber: DNK TV-Fajar Khairifais

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menggelar kuliah umum dengan tema “Kritikus Film / Sinetron dan Advokasi Media” secara virtual melalui pada Jumat (13/8). Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis dan Komisioner KPI Pusat Yuliandre Darwis serta para produser film dan mahasiswa UIN Jakarta

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Armawati Arbi yang menyatakan bahwa tujuan dari kuliah umum dapat memberikan inspirasi kepada mahasiswa dan diharapkan dapat menumbuhkan karya-karya baru kedepannya.

“Kuliah umum ini bertujuan memberikan inspirasi kepada mahasiswa KPI, dan semoga dengan adanya perfilman ini dan penyiaran nanti semakin menumbuhkan karya-karya” Ujar Kaprodi Armawati Arbi.

Saat acara berlangsung, Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menyampaikan pengalamannya ketika menonton siaran TV di Mesir. Ia menyampaikan film dan sinetron di Mesir sebagai sarana pendidikan dan dakwah.

“Yang saya kenang dari film di mesir dan sinetronnya itu sebagai sarana Pendidikan dan dakwah” Ujar Rektor Amany Lubis

Pemaparan Materi oleh Produser Mizan Pictures Putut Widjanarko
Sumber: DNK TV – Fajar

Berbeda dengan Amany yang menceritakan pengalamannya, Helvy Tiana Rosa selaku Sastrawan dan Produser Film justru menjelaskan bahwa industri film nasional mencapai pertumbuhan tertinggi terutama pada tahun 2019.

Namun ia juga menyangkan industri perfilman tahun ini yang menurun drastis akibat pandemi

“Kasihan banget tahun 2021 nyungsep karena memang pandemi, sehingga film-film kita jatuh,” Ujar Helvy Tiana Rosa.

Helvy menjelaskan bahwa inisiatif produksi film pada saat ini diambil alih oleh pengelola Over The Top (OTT) dan Video On Demand (VOD) yang membutuhkan konten orisinal dan lokal dengan tujuan untuk terus bersaing tapi dengan model bisnis yang berbeda.

Sementara itu peminat film yang ada di Indonesia cukup besar terutama sebelum pandemi. Dari segi market share Indonesia menempati 35%, di mana Indonesia menempati posisi kelima di Asia setelah China, India, Korea, dan Jepang. Hal ini disampaikan langsung oleh Produser Mizan Pictures Putut Widjanarko.

Komisioner KPI Pusat Yuliandre Darwis menyatakan bahwa Indonesia begitu lambat, di mana teknologi sudah cepat namun pihaknya tidak dapat meregulasi media baru.

Ia dan juga pihaknya saat ini sudah mengeluarkan izin rekomendasi kelayakan sebanyak 1106 televisi di Indonesia, 379 diantaranya TV langganan seperti First Media dan sebagainya.  

Ia juga mengatakan siaran TV digital yang sebelumnya direncanakan pada 17 Agustus tahun ini harus diundur ke tahun berikutnya akibat pandemi.

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Reporter Cut Raudhatul Zahbi; Editor Tiara de Silvanita

Bincang Hikmah yang diselenggarakan oleh Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co

Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co menyelenggarakan Bincang Hikmah secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal youtube Akurat.co pada Jum’at (28/5) pukul 10.00 WIB.

Topik perbincangannya mengenai “Islam di Turki” yang dipandu oleh Ketua Program Magister KPI, Tantan Hermansyah dan narasumber Dosen Fdikom UIN Jakarta, Deden Mauli Darajat.

Deden menjelaskan bahwa Turki merupakan negara berbentuk republik dimana sebelumnya berbentuk kesultanan. Negara Ini berpaham sekuler modern yaitu terdapat pemisahan antara pemerintahan dan agama.

Dengan adanya perubahan bentuk negara, Deden menjelaskan bahwa terdapat perubahan sosial budaya, seperti bahasa yang digunakan sebelumnya bahasa Arab menjadi bahasa Turki dan sebagainya.

“Dulu menggunakan peci sekarang berubah menjadi topi. Orang-orang dulu mengenakan jubah sekarang menjadi jas,” ujar Deden.

Karena berpaham sekuler, ekspresi keislaman di negara yang sebagian besar menganut agama Islam itu tidak boleh ditampakkan di area pemerintahan seperti pada tahun 2009, yaitu  para mahasiswa dan dosen harus melepas hijab jika sudah berada di lingkungan universitas dan mengenakannya kembali ketika sudah tidak berada di lingkungan universitas. Hal tersebut juga terjadi di tempat-tempat sakral pemerintah seperti gedung pemerintah dan lainnya.

Namun, pada tahun 2012 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan merevisi aturan tersebut sehingga hijab boleh digunakan di lingkungan Universitas.

Deden Mauli Darajat sebagai pembicara memaparkan materinya.

Walaupun demikian, ekspresi tentang Islam di Turki tetap ada seperti gemar bersedekah,  menjamu  tamu atau organisasi relawan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Deden juga menjelaskan bahwa terdapat organisasi masyarakat (ormas) Islam di Turki walau tidak terlalu nampak.

“ormas-ormas Islam di sana tetap hadir meski diawasi oleh pemerintah. Namun , ketika Endorgan berkuasa Ormas islam sudah mulai terlihat”.

Tradisi Islam di Turki sangat berbeda di Indonesia melihat bahwa di Turki hanya berlaku satu mazhab saja yaitu mazhab hanafi, sedangkan di Indonesia mempunyai mazhab yang berbeda-beda.

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Reporter Ariqah Alifia;  Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah dengan tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual (5/5).

Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) bekerja sama dengan Akurat.co kembali menggelar program Bincang Hikmah mengusung tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual melalui Zoom Meeting dan Streaming Youtube Akurat co pada Rabu, (5/5).

Materi kegiatan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta sekaligus Pakar Sosiologi Pendidikan, Suparto dan dimoderatori oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta, Tantan Hermansah.

Dalam materinya, Dekan Fdikom Suparto memaparkan bahwa pendidikan merupakan tradisi tertua dalam proses sosialisasi manusia yang mewariskan nilai, norma, dan sikap kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Pendidikan dibangun berdasarkan realitas apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini, berbasis realitas dan kepentingan” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan terdapat minimum 3 aspek yang harus ditegakkan dalam pembangunan pendidikan, yakni pancasila, budaya, dan agama. Aspek Pancasila digunakan sebagai sumber nilai yang diambil dari tradisi dan norma, sedangkan budaya ialah yang mewarnai keberagaman dan kekayaan kehidupan bangsa.

Kontribusi budaya pada sistem pendidikan di Indonesia berbentuk local genius atau local wisdom yang dikembangkan berdasarkan lingkungan atau tradisi daerah tersebut. Aspek budaya merupakan wadah pengenalan siswa terhadap kebhinekaan bangsa Indonesia dan pemahaman menghormati sikap keberagaman itu, karena hakikatnya belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan sesungguhnya.

Dekan Suparto menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (5/5).

Narasumber juga menerangkan tiga teori Ki Hajar Dewantara yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, Trikon (Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris).

Kecemasan akan hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan diakibatkan adanya aspek kelembagaan dan agensi yang semakin berkembang. Transformasi aspek kelembagaan diibaratkan etalase, contohnya pesantren yang awalnya hanya sebagai tempat mengaji, kini terdapat sekolah formalnya, seperti SMA, SMK bahkan universitas. Itu sama dengan merubah kultur Islam pada sisi orientasi, tetapi disamping itu sebagai bukti modernisasi Islam dalam pendidikan sudah terlaksana.

Selain itu, aspek agensi para pengajar menggunakan perangkat-perangkat modern, pendekatan-pendekatan kekinian dalam pembelajarannya.

“Kita sebenarnya digiring untuk melupakan kesejarahan, bahwa ulama-ulama adalah orang-orang berilmu, yang selama keilmuan itu membesarkan nama Tuhan, lalu kemudian meninggikan hakikat Tuhan yang begitu mulia, itulah yang dinamakan ilmuwan. Begitu sebaliknya, siapa pun yang mendustakan kalam-kalam Tuhan, menistakan ajaran-ajaran agama sepintar apapun mereka bukan ulama.” tuturnya.

Akhlak mulia merupakan satu terma berbau agama yang dimunculkan, merupakan ajaran agama dan cerminan watak-watak Tuhan, berbeda dengan moralitas yang hanya berbasis keindahan. Di dalam pendidikan formal sendiri terdapat nilai kompetensi satu dan dua sebagai kompetensi sikap keagamaan dan sosial.

“Secara pribadi, peta jalan pendidikan nasional tentu bertentangan. Pertama dengan Pasal 31 UUD 1445, UUD Sisdiknas 2003, lalu bertentangan juga visi pendidikan Indonesia 2035, kalau boleh saya mengutip, visi pendidikan Indonesia 2035 itu adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, berkembang terus, sejahtera, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia menumbuhkan nilai-nilai agama, budaya Indonesia, dan Pancasila,” tegasnya.

Bincang Hikmah: Refleksi Realitas Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

Bincang Hikmah: Refleksi Realitas Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

Reporter Ahmad Haetami;  Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah dengan tema “Islam, Disabilitas, dan Perempuan” secara virtual (21/4).

Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) bekerja sama dengan Akurat.co kembali menggelar program Bincang Hikmah mengusung tema “Islam, Disabilitas, dan Perempuan” secara virtual melalui Zoom Meeting pada Rabu, (4/21).

Kegiatan ini dipandu oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta Tantan Hermansah, bersama narasumber  Arief Subhan selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta sekaligus Pendiri Pusat Layanan Mahasiswa Penyandang Disabilitas, atau Center for Students with Special Needs (CSSN) UIN Jakarta.

Dalam pemaparannya, Arief Subhan menekankan bahwa Islam tidak membedakan perlakuan terhadap kaum disabilitas sesuai dengan tiga misi Islam yaitu Monoteisme, Egalitariansime, dan Keadilan.

“Islam tidak pandang kaum disabilitas sesuai 3 misinya yaitu Monoteisme, sebagai upaya membebaskan manusia dari ikatan-ikatan duniawi yang sifatnya membelenggu, kemudian Egalitariansime, yaitu mendudukkan manusia secara sederajat, dan keadilan, aspek sangat penting dipandang dalam Islam” Ujar Wakil Rektor Arif Subhan.

Lanjutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aspek pendidikan, perhatian terhadap penyandang disabilitas ini terbilang rendah. Akses sudah banyak diberi tetapi fasilitas belum memadai..

“Tercatat kelompok disabilitas yang diterima di UIN Jakarta tahun lalu hanya 2 orang pun menjadi pertanda bahwa perlunya peningkatan perhatian terhadap kelompok disabilitas, baik dari akses dan juga fasilitas. Adapun untuk kelompok disabilitas mental, seperti misalnya autism, UIN Jakarta dinilai belum siap untuk memberikan pendampingan pendidikan yang baik kepada mereka,” ujarnya.

Arief Subhan menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (21/4).

Ia juga menuturkan perlu adanya kerja keras untuk para penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan yang setara. Padahal, mereka juga mempunyai kapasitas yang sama seperti manusia lainnya.

“Parahnya, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok disabilitas masih sering didapati tindakan diskriminasi. Terlebih, jika orang disabilitas itu adalah perempuan. Mereka rawan mendapatkan dobel diskriminasi,” tambahnya.

Bincang Hikmah yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Kartini ini pun menyampaikan pesan untuk menyampingkan pemikiran terbelakang yang menganggap perempuan hanya untuk di ranah privat dan tidak bisa berkarya di publik, karena Islam sendiri pun sama sekali tidak membeda-bedakan perempuan dengan laki-laki.

Arief Subhan pun berharap untuk terus mendorong kesadaran yang tinggi bahwa kelompok disabilitas sebenarnya adalah makhluk tuhan yang mempunyai hak yang sama dan jika mereka diberi kesempatan, bahkan bisa melampaui manusia biasa.

Perkuat Silaturahmi di Masa Pandemi, HMPS KPI Gelar Ramfair dan Milad KPI

Perkuat Silaturahmi di Masa Pandemi, HMPS KPI Gelar Ramfair dan Milad KPI

Reporter Diva Raisa; Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Tausiah oleh ustad Fauzan Hidayatullah dalam acara Ramadan Fair dan Milad HMPS KPI (21/04).
Sumber: DNK TV-Nazar

Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menggelar Ramadan Fair (Ramfair) bertajuk “Light Up Your Ramadhan! Semangat Silaturahmi di Masa Pandemi dengan Menguatkan Keimanan dan Ketakwaan”. sekaligus memperingati milad KPI ke-30, bertempat di taman Situ Gintung pada Rabu,(21/04).

Kegiatan ini merupakan puncak acara Ramadan Fair yang diselenggarakan sejak 19 April 2021, dengan berbagai rangkaian acara diantaranya lomba pidato, lomba solo musik religi, lomba MTQ, ditutup dengan santunan anak yatim dan berbuka puasa bersama.

Dihadiri oleh anggota HMPS KPI, anak yatim,  Organisasi mahasiswa (Ormawa) Fdikom, dan ustad Fauzan Hidayatullah, sebagai penceramah tunggal.

Ketua Ramadan Fair Muhammad Zaky Permana mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi mahasiswa KPI dan Ormawa Fdikom, mencari minat bakat di lingkungan mahasiswa KPI, serta memperluas wawasan tentang agama Islam. Ia pun berharap agar kegiatan ini diadakan setiap tahunnya.

“Harapan saya untuk pengurus departemen keislaman di masa bakti selanjutnya, berharap acara ini diadakan setiap tahunnya, karena banyak manfaat di dalam acara ini dan semoga kedepannya mahasiswa KPI dan ormawas sefakultas dakwah bisa memegang tali silaturahmi di masa pandemi,” ujar Zaky.

Salah satu penampilan aggota HMPS KPI dalam dalam acara Ramadan Fair HMPS KPI (21/04). Sumber: DNK TV-Nazar

Wakil ketua umum Prodi KPI Faieq Haidar mengatakan acara ini berbeda dari tahun sebelumnya, ia juga berharap melalui kegiatan ini dapat menebar kemanfaatan untuk lingkungan sekitar.

“Ramadan Fair tahun ini berbeda dari Ramadan Fair pada tahun-tahun sebelumnya, Ramadan Fair tahun ini diselenggarakan bersamaan dengan milad KPI, ya harapannya lebih berkualitas dan lebih menebar kemanfaatan di lingkungan sekitar, dan juga bisa menjadi generasi penerus yang berlandaskan keislaman,” ujar Faieq.