Pemerintah Denial, Nyawa Rakyat Diobral

Pemerintah Denial, Nyawa Rakyat Diobral

Oleh Andika Ramadhan; Editor Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi masyarakat di #RumahAja

Masih ingat bagaimana respons para pejabat publik saat awal pandemi? Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menunjukkan banyak blunder, soal masker yang tak perlu dipakai bagi yang sehat, soal kekuatan doa, soal Covid-19 yang akan sembuh sendiri, dan berbagai pernyataan lainnya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi soal nasi kucing membuat orang Indonesia kebal, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD soal Covid tidak masuk ke Indonesia karena perizinan susah, Wakil Presiden Maruf Amin soal kekuatan doa qunut, dan masih ada sederet pernyataan pejabat yang meremehkan Covid-19.

Tentu pernyataan itu tak hilang begitu saja, dampaknya bisa dirasakan hingga kini. Bila Anda Googling “jrx kawalcorona.com” akan menemukan kepedulian Jerinx terhadap Corona, termasuk ikut mengkampanyekan #dirumahaja. Tapi saat itu Pemerintah berkelakar, alhasil mereka yang peduli pun membalik pola pikirnya seperti Jerinx yang saat ini lebih dikenal sebagai tokoh utama yang menggaungkan konspirasi Covid-19.

Jerinx adalah satu dari sekian banyak yang masih tidak percaya Corona. Bahkan belakangan muncul dr. Lois, dengan argumen seolah ilmiah yang semakin menguatkan orang-orang yang yang tak percaya Covid.

Dianggap hanya sebatas konspirasi atas dalang yang diuntungkan, lalu kasus yang melonjak karena “di-covid-kan”, atau bahkan perihal propaganda vaksin yang akan mengubah wujud kita menjadi makhluk yang ada di cerita fiksi, dan akhir-akhir ini disebut sebagai cairan yang mengandung chip dan bahan berbahaya.

Krisis kepercayaan oleh masyarakat atas Covid seolah menggambarkan bagaimana lemahnya komunikasi Pemerintah Indonesia. Jangankan untuk menangani, perihal edukasi yang efektif dan merata saja masih belum terasa.

Kini hampir satu setengah tahun Indonesia sejak kasus pertama diumumkan, komunikasi pejabat publik masih saja belum beres.

Saran para pakar yang menganjurkan Indonesia agar lebih berwaspada saat kasus di India melonjak tajam, direspons oleh pejabat dengan program Work from Bali, membuka pariwisata dan pelarangan mudik yang setengah hati.

Kini terlihat dampaknya, kasus meningkat tajam, varian baru mendominasi, rumah sakit kolaps, ratusan orang yang meninggal dunia saat isolasi mandiri, antrean oksigen mengular tajam dan sederet masalah yang terlihat sakit sekaligus nyata di sekitar kita.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Sumber: Youtube-Deddy Corbuzier

Di saat kritis seperti ini, masih saja pernyataan pejabat publik Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahwa pandemi terkendali.

Pemerintah harus benahi komunikasi risiko, mengakui kondisi tidak baik-baik saja, meminta maaf, dan berhenti memberikan lip service juga harapan omong kosong.

Benar memang mulutmu harimaumu, apalagi ini mulut pejabat, mereka yang harusnya diteladani dan dipercaya mengurus negara, malah berkelakar dan nyawa masyarakat terus berguguran.

Ini baru soal komunikasi pemerintah yang amburadul, belum lagi sisi lain yang harusnya bisa lebih maksimal dan diseriuskan.

Pengendalian pandemi gagal total, kehilangan nyawa terasa murah bahkan diobral.