Mindfulness : Metode Pengendalian Diri untuk Mental yang Lebih Sehat

Mindfulness : Metode Pengendalian Diri untuk Mental yang Lebih Sehat

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Dani Zahra Anjaswari

MINDFULNESS
Ilustrasi tulisan mindfulness. (Freepik/@freepik)

Dalam kehidupan, kita kerap kali dihantui dengan bayang-bayang kekhawatiran, kecemasan, stres, depresi, putus asa, dan masalah mental lainnya.

Tubuh kita sebenarnya ingin istirahat, tetapi pikiran sulit bekerja sama. Selalu ada hal yang tiba-tiba terpikirkan. Entah perasaan trauma di masa lalu, khawatir soal masa depan, atau mungkin hal yang jauh di luar kendali kita.

Oleh karena itu, kita perlu belajar cara untuk mengendalikan diri dan pikiran. Salah satu metode pengendalian diri yang bisa kita lakukan adalah mindfulness.

Mindfulness adalah istilah dari kesadaran penuh. Metode ini merupakan cara kita melatih diri untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi dengan melibatkan kesadaran dan ketidakberpihakan. Pengimplementasian mindfulness dilakukan dengan tujuan untuk menenangkan pikiran.

Singkatnya, mindfulness adalah konsep di mana kita fokus untuk hidup di saat itu (living in the moment). Tanpa khawatir berlebihan akan masa depan dan tanpa memikirkan yang apa sudah lewat.

Ilustrasi orang yang sedang mengerjakan aktivitas. (Freepik/@freepik)

Cara Menerapkan Mindfulness

1. Memulai Hari dengan Tujuan

Menciptakan suatu tujuan dapat mengubah hari kita serta memengaruhi perkataan dan tindakan, juga respons yang kita lakukan terutama pada saat-saat sulit menjadi lebih hati-hati dan sadar.

Alam bawah sadar bertanggung jawab atas sebagian besar pengambilan keputusan dan perilaku. Oleh karena itu, praktik ini dapat membantu menyelaraskan pemikiran bawah sadar dengan dorongan emosional.

2. Menikmati Makan

Menerapkan mindfulness pada saat sedang makan dapat mengubah pengalaman makan menjadi jauh lebih menyenangkan. Ini dikarenakan ketika kita mengarahkan fokus seluruhnya kepada tubuh dan alasan mengapa kita perlu makan, kita dapat menghilangkan kelaparan yang sedang dialami.

Penerapan mindfulness saat makan ini bisa dilakukan dengan bernapas sebelum makan, makan sesuai kebutuhan, tidak terburu-buru, dan mengonsumsi makanan yang kita sukai. Hindari pula gangguan, seperti menonton TV atau main game saat sedang makan agar bisa fokus terhadap makanan.

3. Menyeimbangkan Otak

Metode mindfulness kerap membuat otak kita bekerja dengan sangat keras. Hal tersebut tentu tidak baik jika dilakukan terus-menerus. Maka kita perlu memberi jeda pada otak untuk melakukan keseimbangan.

Meski hal ini tidak mudah untuk dilakukan, ada beberapa cara untuk memulainya seperti jalani apa yang diinginkan, perbarui motivasi, dan buatlah pengingat harian. Setiap tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan mindfulness otomatis akan memperkuat otak.

4. Melatih Pikiran dan Otot

Apa pun aktivitasnya kita diharuskan untuk bergerak dan bernapas dengan cara yang tidak hanya membuat darah mengalir dengan lancar dan menguatkan setiap sel di tubuh, tetapi juga menyinkronkan tubuh, pikiran, serta sistem saraf.

Melatih pikiran dan otot dapat dilakukan dengan cara -cara sederhana yang biasa kita lakukan seperti bersepeda, mengangkat beban, latihan di atas treadmill, dan lain sebagainya.

Manfaat Penerapan Mindfulness.

Ketika kita menerapkan metode mindfulness, kita dapat menguraikan pernyataan ke tingkat pemahaman yang lebih terarah terhadap memori otak. Hal ini akan membuat apa yang kita mulai memiliki tujuan untuk dicapai.

Bukan hanya kesehatan fisik, namun kesehatan mental pun perlu dijaga. Metode mindfulness dapat mengurangi cemas yang berlebih melalui meditasi, sehingga memunculkan hormon endorfin yang berguna untuk mengurangi pikiran negatif, juga membantu agar tidur lebih nyenyak dan stres semakin berkurang.

Metode mindfulness juga berfungsi mengendalikan emosi dalam diri, dimana tubuh akan lebih rileks ketika mendapatkan masalah baru. Hal ini karena mindfulness dapat menstimulasi pikiran positif yang meningkatkan kinerja otak dalam proses daya ingat dan konsentrasi lebih utuh daripada sebelumnya.

UIN Jakarta Tergabung dalam GNRM, Mahasiswa: Kampus Dapat Junjung Integritas

UIN Jakarta Tergabung dalam GNRM, Mahasiswa: Kampus Dapat Junjung Integritas

Reporter Indi Azizi; Editor Syaifa Zuhrina

Revolnsi 
GERAKAN 
NASIONALMental 
integritas•etos kerja•gotong royong 
#AYOBERUBAH
Poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (revolusimental.go.id) 

Maraknya kasus krisis mental kultural yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia, UIN Jakarta berkomitmen mendukung adanya Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang diinisiasi pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Hal ini dilakukan dengan menginternalisasikan dukungan-dukungan dalam program akademik dan pengabdian masyarakat di universitas.

Terdapat 35 perguruan tinggi yang ditetapkan Kemenko PMK lolos seleksi sebagai penerima dana swakelola Program GNRM 2022 seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Fatah Palembang, juga perguruan tinggi lainnya seperti IPB University, ISBI Bandung, ISI Yogyakarta, dan Universitas Kristen Duta Wacana.

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis mengatakan bahwa UIN Jakarta telah menyiapkan beberapa program yang efektif guna mendorong tercapainya tujuan GNRM. Seperti melalui program pengabdian masyarakat, pengarusutamaan moderasi beragama, pemberdayaan dan penguatan ekonomi masyarakat, dan yang lainnya.

Salah satu Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Ahmadi Rojali mengartikan Gerakan Nasional Revolusi Mental ini merupakan cara kita merubah sikap dengan melakukan gerakan atau aktivitas yang dapat memberikan satu nilai nasionalisme ke dalam kehidupan masyarakat.

“Maka Gerakan Nasional Revolusi Mental dapat diartikan dengan bagaimana kita merubah dengan melakukan gerakan atau aktivitas kita dengan memberikan satu nilai nasional revolusi mental yang baik dalam bermasyarakat,” ucap Rojali.

Ahmadi Rojali juga menambahkan bahwa peran perguruan tinggi dalam menyukseskan gerakan ini adalah memberikan satu pengawasan serta pengetahuan mendalam kepada mahasiswa.

“Perguruan tinggi secara institusi pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan langkah dan evaluasi dengan apa yang terjadi di perubahan, caranya dengan memberikan wawasan dan pengetahuan yang mendalam dan komperhensif kepada mahasiswa,” jelasnya saat diwawancarai pada Selasa (26/7).

Ilustrasi anak muda yang memiliki semangat baru dalam mengahadapi revolusi mental. (Freepik/@freepik)

Melansir dari website resmi UIN Jakarta Menko PMK, Muhadjir Effendy memaparkan terkait pelibatan universitas dalam program ini dikarenakan pentingnya peran dalam memperkuat sumber daya manusia di Indonesia. Ia juga meminta agar perguruan tinggi yang terpilih dapat dengan sungguh-sungguh melaksanakan perannya setelah ditunjuk sebagai penerima hibah program GNRM, dan harapannya hal ini dapat terlihat nyata dan bisa diukur dampaknya bagi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Alfina Nur Istiqomah berpendapat bahwa GNRM ini merupakan sebuah gerakan menuju kehidupan baru bangsa Indonesia yang bertujuan untuk mengubah cara pandang, perilaku dan pola pikir guna menciptakan Indonesia yang berkepribadian nasionalisme.

“Gerakan Nasional Revolusi Mental bisa diartikan sebagai gerakan hidup baru bangsa Indonesia yang dilakukan secara nasional untuk mengubah cara pandang, pola pikir, perilaku dan nilai bangsa agar menjadi Indonesia yang berkepribadian dengan bertumpu pada tiga nilai dasar yakni integritas, etos kerja dan gotong royong,” ujar Alfina.

Ia juga berharap program ini dapat menjadikan UIN Jakarta kampus yang lebih maju dari segi dosen maupun mahasiswanya.

“Untuk harapan ke depannya dengan terpilihnya UIN Jakarta dalam program GNRM ini semoga UIN Jakarta dapat menjadi kampus yang lebih maju lagi baik dari dosen maupun para mahasiswanya, dan tentunya dapat lebih menjunjung tinggi nilai integritas,” harapnya.

Catcalling, Berawal dari Candaan Berakhir Sebagai Pelecehan

Catcalling, Berawal dari Candaan Berakhir Sebagai Pelecehan

Reporter Zharfan Zahir; Editor Dani Zahra Anjaswari

ERL 
L00
Ilustrasi catcalling. (Pinterets/@Odyssey)

Berbagai kriminalitas terjadi setiap harinya di jalanan. Salah satunya merupakan pelecehan seksual yang biasanya sering didapatkan terjadi di jalan raya. Biasanya terjadi secara verbal atau yang sering disebut dengan istilah catcalling.

Peristiwa catcalling sekarang menjadi hal yang cukup familiar, terutama di kota besar seperti Jakarta yang penduduknya dipadati oleh berbagai macam kalangan. Catcalling adalah suatu bentuk pelecehan seksual yang biasa terjadi di tempat umum dan dilakukan oleh orang asing yang tidak saling kenal.

Pelecehan ini berjenis Street Harassment, yaitu mengucapkan suatu perkataan sensual dan tidak senonoh, ekspresi secara verbal dan non-verbal yang bersifat menggoda seseorang di tempat publik. Pelaku catcalling biasa disebut dengan julukan catcaller. Kejadian ini sering dialami oleh wanita, namun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga mengalami hal tersebut.

Pemahaman mengenai catcalling di masyarakat masih sangat rendah karena adanya pewajaran. Masih adanya anggapan bahwa catcalling adalah hal yang biasa atau merupakan bentuk dari candaan dan pujian menyebabkan hal ini terus terjadi berulang-ulang.

Aku bener bener muak sama yang 
namanyaCATCALLlNG 
aku ngetik ini sampai gemeter!!!! 
Sore ini aku keluar pakai baju 
formal, ada lengan, panjang rok 
selutut. Sangat sopan! Tapi badan 
aku tinggi mgkn cenderung nyita 
perhatian. 
Aku jalan keluar apartemen 
karena males nunggu taksi mesti 
masuk dulu dan muter dulu, kalo 
mobilnya udah deket, aku 
langsung jalan dan ketemu 
didepan. 
Ketika lagi jalan, ada mobil CRV ABU 
yg tiba tiba kasih klakson kecil (reflek 
nengok karena ngerasa ga ngalangin 
jalan) ketika aku nengok yang nyetir 
itu bapak2 botak pake kacamata 
terus dia pasang muka CIUM CIUM 
SAMBIL MEREM! Sumpah jijik banget 
aku digituin! ! ! 
Aku langsung teriak "HEH GA SOPAN 
YA SAVA GA TAKUT SAMA KAMU!!" 
Dia langsung tutup kaca! Dikata aku 
takut. Aku Igsg samperin karena mN 
dia berenti antri bayar parkin aku 
ketok2 suruh buka suruh turun kalo 
berani. Dia cuma diem pura pura gak 
Dan yang bikin gedek lagi adalah 
SATPAM CUMA DIEM NGELIATIN 
KEBINGUNGAN SAMBIL 
- -v JALAN LANGKAH KECIL
Pengalaman catcalling Miss International 2017, Kevin Lilliana, disekitar apartemennya pada 2019 lalu. (Instagram/@kevinlln)

Catcaller melakukan aksinya bisa sendiri ataupun berkelompok. Ia melakukannya dengan nada bicara yang menggoda korban. Berikut ini adalah bentuk-bentuk catcalling yang harus diketahui :

  • Melakukan gerakan vulgar seperti, bersiul, berkedip, menjulurkan lidah, melambaikan tangan, memberikan tatapan penuh nafsu, menggigit bibir bawah, atau mengeluarkan suara kecupan.
  • Mengucapkan kalimat yang bersifat memuji, seperti “Neng, cantik banget sih” atau “Mau kemana Neng? Rapih banget sih.”
  • Mengucapkan kalimat yang bersifat sensual, seperti “Nengok dong, badannya bagus banget sih.”
  • Membuntuti atau menghalangi perjalanan.

Menanggapi hal ini, salah satu mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Daffa Putra Pratama menjelaskan pelecehan ini terjadi bukan karena penampilan atau apa yang dipakai korban, tetapi memang kultur dari pelaku pelecehan.

“Jika banyak orang yang berpendapat catcalling terjadi karena kesalahan berpakaian wanita, saya sangat tidak setuju. Karena ini semua bukan salah gaya berpakaian namun ke pola pikir para pelaku. Saya rasa, hanya sikap bodo amat yang dapat diambil untuk sekarang sampai waktu yang tidak ditetapkan,” jelasnya.

Tindakan seperti ini tidak bisa dibenarkan karena pada tingkatan tertentu, dampak catcalling dapat menimbulkan trauma berkepanjangan terhadap korbannya. Korban jadi membatasi mobilitasnya jika tidak ditemani saat keluar rumah, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup dan menghambat perkembangan pribadinya.

Lebih lanjut, Mahasiswa UIN Jakarta, Syalaisa Amara mengatakan bahwa peristiwa tersebut menjadi hal yang tidak nyaman dan catcalling menjadi sebuah kebiasaan.

“Di-catcalling tuh risih dan nggak nyaman. Sekarang tuh catcalling udah jadi kebiasaan, bahkan anak kecil aja ada yang ngelakuin itu. Nggak nyaman, sih. Jadi kalau mau keluar kitanya jadi males gitu,” aku Syalaisa.

Di beberapa negara, tindakan catcalling ini termasuk perbuatan yang melanggar hukum dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman, mulai dari denda yang cukup tinggi hingga ancaman kurungan. Namun, meskipun sudah diberlakukan undang-undang tentang pelecehan, kejadian-kejadian semacam itu kemungkinan akan tetap ada.

Peran aktif masyarakat untuk bertindak menyadarkan para pelaku sangat dibutuhkan, agar semakin banyak orang yang menyadari bahwa catcalling ini sangat berbahaya dan mendorong terjadinya pelecehan seksual.

Hiruk Pikuk Prospek Kerja di Tahun 2030. Mental Kamu Aman, Nggak?

Hiruk Pikuk Prospek Kerja di Tahun 2030. Mental Kamu Aman, Nggak?

Penulis Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi overthinking terkait masa depan (Freepik/@freepik)

Penyataan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut akan ada sembilan jenis pekerjaan yang akan ‘lenyap’ pada 2030 mendatang. Erick tohir mengingatkan Perguruan Tinggi untuk mewaspadai dampak digitalisasi terhadap sektor ketenagakerjaan. Antara lain berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan akibat pemanfaatan teknologi canggih.

“Perguruan Tinggi harus bersiap diri, menghadapi kondisi pekerjaan yang diprediksi akan hilang dalam beberapa waktu ke depan,” tegasnya saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Selasa (21/6).

Pernyataan tersebut menuai berbagai tanggapan dan reaksi dari masyarakat hingga mahasiswa. Ada beberapa yang sudah mempersiapkan diri namun banyak juga yang mengalami kecemasan berlebih akan masa depan. Sebab itu, melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pikiran kita menjadi rumit.

“Nanti 5-20 tahun kedepan aku akan seperti apa ya? Apakah nanti aku bisa sukses? Apakah bisa aku mengurangi beban untuk orang sekitarku? Apakah aku memiliki kemampuan untuk menghadapi masa depan?”.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Michigan di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 52% dari masyarakat berusia 45-55 tahun memikirkan suatu problem secara berlebihan atau mengalami overthinking. Dan juga sekitar 73% dari usia 25-35 tahun terjebak di masalah yang sama.

Bukan hanya studi namun realitanya juga terjadi hampir pada setiap mahasiswa. Menurut mahasiswa Universitas Bina Nusantara (BINUS), Kania hampir setiap malam overthinking karena berbagai pemikiran yang terlintas sehingga menjadi alasan untuk mengkhawatirkan masa depan.

“Alasan saya overthinking tiap malam, karena takut di masa depan saya tidak bisa mendapatkan perkerjaan, sebagai anak pertama dan cucu pertama membuat ekspektasi keluarga kepada saya sangat besar sehingga saya takut mengecewakan mereka. Serta saya takut tidak bisa bersaing dengan dunia globalisasi yang semakin canggih,” ujar Kania.

Erick mengakui meskipun ada sejumlah pekerjaan yang akan hilang, namun di masa depan akan ada pekerjaan lain yang dibutuhkan. Namun, Erick menggarisbawahi bahwa pekerjaan yang dimaksud membutuhkan keahlian khusus. Misalnya, seperti data scientist and analyst, artificial intelligence expert, software and game developer, analis big data, block chain developer, market research, digital marketing, biotechnology, hingga digital content.

Selain berat untuk masyarakat dan mahasiswa, tentu juga menjadi pekerjaan kompleks bagi pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja, khususnya usia muda, agar bisa menjadi pemain utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi dari overthinking. (Freepik/@freepik)

Takut akan masa depan memang wajar, tetapi jika berlebihan itu akan membuang banyak waktu serta bisa berbahaya dari sisi psikologi dan fisik. Melansir dari The Health Site, beberapa masalah yang kerap muncul akibat overthinking antara lain berupa terganggunya metabolisme tubuh, masalah pencernaan, berpotensi merusak organ jantung, hingga merusak kesehatan kulit.

Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabrina Alya, setiap malam overthinking akan masa depan nya, berdampak pusing hingga sakit lambung.

“Dampaknya secara fisik aku merasa pusing biasanya hingga sakit lambung kambuh, secara pikiran aku tersiksa karena tidak bisa menemukan ujung kesimpulan dari hal-hal yang aku pikirkan,” ujar Sabrina Alya.

Menurut mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN), Radhita Pratama mengatakan bahwa dampak dari overthinking serta rasa takut berlebihan akan masa depan memberikan dampak negatif terhadap kognitif dan menimbulkan kecemasan sendiri.

“Jiwa dan tubuh itu saling berkaitan sehingga jika pikiran kita sakit maka tubuh kita akan ikut sakit itu respon nya terhadap kecemasan yang dirasakan, jika berlebih bisa menyebabkan gangguan kecemasan atau disebut juga anxiety disorder,” ungkap Radhita Pratama.

Radhita Pratama juga memberikan solusi, ”Untuk mengatasi overthinking yang berlebih yaitu filter pikiran kita, melatih pernapasan hingga pikiran tenang, ceritakan apa yang sedang dikhawatirkan kepada orang yang dipercaya sehingga beban menjadi lebih ringan, serta jika overthinking sudah berlebihan banget maka datanglah ke psikolog (atau ahli).”

Manusia itu selalu menempatkan ekspetasi pada posisi teratas, sehingga jika tidak sesuai dapat menimbulkan depresi. Kita harus bisa membedakan goals dan goals yang abstrak. Ingatlah bahwa “Some things are up to us, some things are not up to us“.

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Penulis Abu zar Al Ghifari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Pada masa sekarang tidak sedikit mahasiswa yang mengalami ruminasi dan overthinking. Apasih ruminasi dan overthinking itu? Apa perbedaan di antara keduanya?

Overthinking merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan bercabang karena selalu dihantui oleh rasa cemas, takut, merasa bersalah, dan tidak percaya diri.

Sedangkan ruminasi merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan berulang. Jadi, ruminasi itu merupakan kelanjutan dari overthinking. Mengutip dari physchology today dalam istilah psikologi, ruminasi adalah salah satu kesamaan antara kecemasan dan depresi. Suatu kondisi perenungan atau merenungkan hal yang sama berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung mengalami kesulitan ketika akan melakukan langkah ke depan. Ia akan sulit menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian di masa lalu yang belum usai. Bukan hanya itu, ia juga takut akan terjadi kejadian yang sama di masa depan.

Sedangkan, orang yang mengalami ruminasi cenderung mengalami stressor. Stressor adalah berbagai macam permasalahan hidup yang dialami manusia yang mengakibatkan stres. Seseorang yang mengalami ruminasi cenderung memiliki trauma secara fisik maupun mental. Orang yang mengalami ruminasi ketika menghadapi masalah lebih memilih merenungi masalah tersebut tanpa ada jalan keluar.

Dampak negatif jika seseorang mengalami keduanya, yaitu selalu mengalami kecemasan, kurangnya percaya diri, setiap mencari solusi selalu dengan cara merenung, dan imun tubuh pun mengalami penurunan karena stres.

Setelah mengetahui penjelasan singkat tentang ruminasi dan overthinking dan apa saja dampak buruk yang akan terjadi jika mengalaminya secara terus-menerus, maka ada cara agar dapat menghadapi ruminasi dan overthinking itu sendiri. Berikut langkah-langkah untuk mengatasi keduanya:

1. Evaluasi dalam memecahkan masalah

Cara ini dapat dilakukan pertama kali oleh diri sendiri, yakni dengan mengintropeksi diri dan jujur kepada diri sendiri apa yang sedang dirasakan. Dengan seperti itu dapat berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat.

2. Cari rumah untuk berkeluh kesah

Maksud dari “rumah” di atas ini adalah seseorang yang dijadikan tempat berbagi cerita dan sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita kita. Dengan bercerita, harapannya agar dapat memperluas pandangan seperti itu dan dapat memperluas pikiran serta masalah yang dimiliki.

3. Fokus sama hal yang bisa dikontrol

Fokus terhadap suatu hal yang bisa dilakuin oleh diri sendiri contohnya seperti pemilihan outfit untuk kumpul bersama teman, jangan terlalu memikirkan penilaian orang bagaimana terhadap apa yang sedang kita pakai, bersikaplah bodo amat terhadap penilaian mereka yang tidak membangun

4. Keluar dari lingkungan toxic

Lingkungan sangatlah mempengaruhi kehidupan seseorang, jika orang tersebut berada di lingkungan yang toxic, maka orang tersebut akan selalu mengalami ruminasi dan overthinking karena lingkaran pertemanannya tidak memberikan solusi.

5. Menghadapi masalah satu

Orang yang mengalami ruminasi dan overthinking cenderung sulit untuk menemukan sebuah jalan keluar dalam menyelasaikan permasalahannya secara fokus pada satu permasalahan. Ia sudah memikirkan masalah lain, padahal masalah sebelumnya belum terselesaikan.

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya kebiasaan overthinking ini, salah satu mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia memaparkan tanggapannya terkait kebiasaan overthinking yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang yang positif maupun negatif.

Overthinking merupakan sinyal was-was terhadap sesuatu. Bisa dikatakan overthinking adalah kegiatan yang menjurus ke hal negatif sehingga kebiasaan overthinking akan menciptakan kebiasaan buruk seperti tidak percaya diri, mencari alasan untuk menyerah, menyalahkan orang lain, dan tidak bersyukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bawah kebiasaan overthinking tidak selalu buruk, menurut Syifa Rahma kita juga penting untuk overthinking agar punya sinyal tersendiri. Tapi, tetap hal yang dibiasakan kemudian dilebih-lebihkan tidak akan baik begitu juga dengan overthinking.

Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengalami overthinking dalam menjalani perkuliahannya. Faktor keuangan menjadi salah satu alasan para mahasiswa mengalami overthinking, di mana para mahasiswa banyak yang menginginkan sebuah pekerjaan sambil melaksanakan perkuliahan. Alasan utama mengapa melakukan kuliah sambil kerja yaitu agar meringankan beban orang tua.

Apalagi para mahasiswa yang merantau dan jauh dari orangtua, pastinya akan sering mengalami overthinking. Mengatur keuangan agar tidak boros untuk bertahan hidup merupakan overthinking yang dialami para mahasiswa perantau. Saling mencemaskan keadaan antara orang tua dan anak, apakah baik-baik saja atau tidak dan keduanya memiliki rasa rindu dan segera ingin bertemu.

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Penulis Muhammad Muklas; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi sesorang mengalami depresi. (Pixabay)

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan agar kesehatan mental bisa tetap terjaga. Untuk itu, perlu mengenal kondisi diri yang mungkin dialami seiring berjalannya waktu. Jangan sampai hanya memahami kata ini sebagai kondisi mental yang terguncang hingga layak dimasukan ke dalam rumah sakit.

Gangguan mental memiliki makna yang sangat luas, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, dan lain sebagainya. Beberapa jenis gangguan mental sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Hal ini membuat dampak terhadap kehidupanya jadi tidak terkontrol.

Remaja sekarang mungkin sering pernah merasa tidak percaya diri selalu overthinking dalam hidupnya ataupun kesehariannya. Hal ini mungkin bisa jadi merupakan salah satu pertanda jika seseorang terkena imposter syndrome.

IMPOSTER 
SYNDROME
Ilustrasi animasi imposter syndrome. (Pixabay)

Apa itu imposter syndrome? Bagaimana sesorang mengidapnya dan apa fakta dari sindrom ini?

Istilah imposter syndrome pertama kali digunakan oleh Suzanna Imes dan Pauline Rose Clance pada tahun 1970-an, Singkatnya imposter syndrome merupakan sindrom orang palsu atau ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

Secara umum imposter syndrome adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa tidak pantas mendapatkan pencapaiannya apa pun dalam hidupnya dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, memiliki rasa takut yang terus-menerus terinternalisasi sebagai “penipuan” kondisi ini akan terus menghantui si pengidap imposter syndrome, jika sesorang mengetahui kekurangannya dan membuat si pengidap selalu minder akan pencapaiannya.

Faktanya sebuah penelitian orang yang mengidap syndrome ini adalah orang yang paling sering meraih kesukseskan dan berprestasi hal ini merujuk pada 82% orang di dunia mengalami imposter syndrome dalam hidupnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan imposter syndrome bisa dialami oleh siapa pun tanpa memandang status sosial, latar belakang pekerjaan dan tingkat kealihan tertentu.

Beberapa ciri-ciri dan karakteristik seseorang mengidap imposter syndrome, yaitu :

  • Sering meragukan diri sendiri dengan apa yang diperbuat.
  • Overthinker yang terus-menerus.
  • Ketidakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan diri secara realistis.
  • Mengaitkan kesuksesan diri dengan faktor eksternal.
  • Merasa tidak puas dengan kinerja diri sendiri.
  • Ketakutan bahwa diri tidak bisa memenuhi harapan dan ekspetasinya.
  • Terlalu berprestasi dan bersemangat melakukan kerja keras.
  • Menetapkan tujuan yang sangat menantang dan merasa kecewa saat gagal.

Salah satu pengidap imposter syndrome adalah pemeran Ms. Marvel yaitu Iman Vellani yang mengaku merasa canggung saat wajahnya terpampang di poster iklan film barunya itu.

“Bagi saya, saya adalah satu-satunya orang yang pakai kostum, yang memakai kostum superhero, sedikit menakutkan. Semua orang akan melihatmu saat mengenakan kostum berbahan spandex yang mengilap. Agak terasa sedikit terintimidasi dan merasa tidak nyaman,” ungkap Imam dikutip dari Kompas (8/6).

Beberapa pengidap biasanya mengatasi syndrome ini dengan tahap-tahap jangka lama dengan memulai mengenal diri sendiri dan merasa nyaman akan semua hal tidak terlalu memporsikan diri yang berlebih sehingga merasa diri tertekan jauh-jauh dari hal tersebut.

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Penulis Annisa Nahwan Shafira; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustasi sadfishing. (Pinterest/@healthline)

Tren pada sosial media ternyata dapat menjadi ajang pamer kesedihan, yang mana hal tersebut dibuat menjadi suatu yang berlebihan agar penonton merasa iba, istilah ini disebut sadfishing.

Sadfishing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang dalam menunjukkan masalah emosional mereka secara berlebihan untuk membangkitkan simpati pada orang lain.

Namun, hal ini tidak selalu mendapat respon yang baik dari para pembaca atau pengikut yang melihatnya, bahkan tren ini dapat menimbulkan cyber bullying yang justru membuat orang tersebut menciptakan rasa kurang percaya diri (insecure) terhadap masalahnya dan dapat merugikan kesehatan mental. Oleh karena itu, istilah tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan beberapa opsi lain dalam mencurahkan isi hati, baik itu menceritakannya pada orang tua, sahabat atau ahli psikologi.

Ilustrasi media sosial. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya istilah sadfishing, salah satu Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta, Diva Putri Cahyadi memaparkan perlunya berhati-hati dalam bersosial media terlebih lagi dalam menceritakan kisah pribadi yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang pembaca yang positif maupun negatif.

“Media sosial itu bukan tempat yang baik untuk mencurahkan isi hati atau permasalahan, sebab media sosial itu bersifat umum yang semua orang bisa mengetahuinya, dan takutnya menjadi masalah semakin besar, bukannya mengundang simpati malah menjatuhkan harga diri,” ujarnya saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (7/6).

Namun tidak sedikit yang memiliki perspektif sebaliknya, seperti tanggapan Mahasiswa lain, Fathia Rachmawati yang menganggap bahwa sudah menjadi hak semua orang dalam membagikan apapun di sosial media milik pribadi serta kebebasan dalam mengekspresikan diri.

“Karena curhat di medsos itu juga menjadi hak kita, kita bebas untuk mengekspresikan diri di sana. Kalau ada orang yang berkomentar macam-macam atau menanggapi hal-hal negatif, ya cuekin aja atau kalau memang tidak suka bisa kita blokir akun tersebut,” Imbuh Fathia kepada tim DNK TV.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian orang melontarkan curhatan hanya untuk sekadar berbagi cerita (sharing) bukan untuk mencari perhatian, serta perlunya berhati-hati dan peduli terhadap dampak dari perbuatan yang dilakukan.

Kenali Konsep Diri Ketika Kamu Mulai Benci Diri Sendiri

Kenali Konsep Diri Ketika Kamu Mulai Benci Diri Sendiri

Penulis Latifahtul Jannah; Editor Fauzah Thabibah

Ilustrasi orang gangguan mental. (Freepik/@freepik)

Cara kita memandang hidup sebenarnya adalah akumulasi dari peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi, ketika kehidupan penuh keceriaan mungkin mayoritas pandangan hidup akan penuh keceriaan, tetapi bagaimana jika kita hidup berfokus pada kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, hidup dengan perasaan tertekan, hidup dengan membenci diri sendiri.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Salah satu mahasiswa UIN Jakarta berinisial D, melalui DNK TV mengatakan perasaan insecure dan tidak ada progres atau kemajuan dalam diri sering muncul secara bersamaan di dalam diri.

“Saya sering merasa sendirian, merasa sangat insecure, merasa teman-teman saya sudah sukses di bidang masing-masing, namun saya masih stuck dan tidak ada progres diri sama sekali.”

Kita harus dipaksa mengimbangi dunia bahkan ketika merasa tidak mampu, tantangan malah menjadi suatu kesempatan untuk ditekan.

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Dandy Aulya menegaskan manusia adalah keberadaan yang mendahului esensi, sehingga tujuan ke depannya ditentukan oleh diri sendiri.

“Kita dapat mengacu kepada filsafat eksistensialisme dimana manusia itu adalah keberadaan yang mendahului esensi. Kita bukan seperti meja, kursi, dan handphone yang ada karena sudah ada tujuan tercipta terlebih dahulu. Tetapi manusia itu unik. Manusia adalah keberadaan yang ada duluan, tetapi kitalah yang membuat dan menentukan tujuan kita sendiri,” ucap Dandy.

“Maka untuk orang-orang yang dihadapkan pada kesempurnaan, standar-standar yang mereka sendiri tidak suka, lebih baik menyadari akan kapabilitasnya sebagai manusia yang eksistensialisme, bahwa manusia punya hak untuk memilih mengenai hidupnya sendiri,” sambung Dandy.

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, kita dengan segala ketidaksempurnaan dihadapkan pada dunia yang menginginkan kesempurnaan. Lalu bagaimana cara kita bertahan?

Dandy menambahkan permasalahan bukan pada self love tetapi pada self concept,

“Akar permasalahan bukan pada self love tetapi pada self concept. Dalam psikologi, self love itu salah satu teori turunan self concept atau konsep diri. Hal pertama yang perlu kita pelajari sebelum self love adalah konsep diri. Karena dari konsep diri itu akan banyak konsep turunan lain yang akan berhubungan seperti self love, self reward, self healing, dan lainnya,” ujar Dandy.

“Banyak fakta di lapangan menunjukkan generasi muda belum memiliki konsep diri, padahal secara teori seharusnya sudah mempunyai konsep diri yang matang sebelum umur 18 tahun,” imbuhnya.

Ilustrasi seseorang yang tidak memiliki konsep diri. (Freepik/@dashu83)

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Fidiansjah menguatkan jika setiap orang harus memiliki konsep diri untuk bertahan di era perkembangan teknologi.

“Berbagai gangguan mental merupakan satu lingkaran yang saling terkait. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki konsep diri atau jati diri. Konsep diri tidak bisa didapatkan dengan pendidikan formal, karena ini terbentuk melalui bimbingan, pola asuh keluarga, lingkungan, peristiwa, dan pengalaman yang terjadi di dalam hidup. Ketika konsep diri seseorang itu sudah matang mereka tidak akan gamang ataupun galau dengan keadaan apapun,” ungkap Fidi.

Fidiansjah menambahkan setiap orang punya potensi, namun terkadang tokoh otoriter yang malah menjadikan seseorang kehilangan jati diri.

“Sebenarnya yang sering terjadi, orang itu memiliki potensi lain namun dipaksakan oleh tokoh-tokoh otoriter (seperti keluarga, lingkungan, guru, bahkan media sosial) untuk menjadikan dirinya bukan diri sendiri tetapi diri orang lain.”

Kita sering menambah permasalahan dengan marah kepada diri sendiri ketika tidak bisa menjadi apa yang diinginkan orang lain. Bahkan dengan sadar sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Oleh karena itu kita perlu konsep diri.

“Ketika seseorang memiliki konsep diri, walaupun berada di kondisi atau keadaan yang tidak ideal seperti miskin, cacat, fisik yang kurang, dia tidak akan melihat itu sebagai sesuatu yang menghambat dirinya karena dia masih melihat, sesuatu yang lain yang ada pada dirinya. Pemikiran seperti ini memang tidak muncul begitu saja, tanpa sebuah terpaan, bimbingan, dan arahan. Jika ditelusuri lebih dalam, bisa melihat saja sudah suatu kelebihan dari orang buta, bisa berjalan saja sudah suatu kelebihan dari orang lumpuh,” tutup Fidi.

Hargai proses diri, maknai perjalanan hidup, karena apapun yang terjadi akan menjadi pembentuk karakter diri.

Dandy menambahkan, pelan-pelan sambil menikmati dan menghargai proses tersebut secara umum menjadi hal yang penting untuk kesehatan mental.

“Menurut saya kesuksesan dibangun pelan-pelan dari awal, mulai dari pencapaian sederhana sampai akhirnya pencapaian besar. Di sela-sela menikmati proses diperlukan apresiasi ke diri sendiri, misalnya setelah menyelesaikan tugas apresiasi diri dengan cokelat. Itu salah satu self reward yang secara tidak sadar akan membantu kita untuk tetap konsisten, walaupun sebenarnya kecil tetapi jika perilaku itu terus berulang apalagi berprogres maka akan tumbuh perasaan puas, konsistensi, dan ketenangan.”

Buatlah standar prestasi ataupun sukses versi diri sendiri, terkadang begitu melelahkan ketika tidak bisa menjadi diri sendiri, jangan buat penjara dengan mindset harus diakui, karena sejatinya bagaimanapun kita, orang lain tidak boleh intimidasi apalagi soal konsep diri.

Maslow's 
hierarchy 
of needs 
Self- 
actualization 
esteem 
oqe 
safety 
? h yswxogicai
Gambar Hirarki Kebutuhan menurut Abraham H. Maslow. (Freepik/macrovector)

Hirarki Kebutuhan menurut Abraham H. Maslow berbentuk piramida yakni aktualisasi diri, kebutuhan akan akan penghargaan, kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan rasa aman (keselamatan), dan kebutuhan fisiologi. Dimana untuk mencapai puncak yakni aktualsiasi diri, empat kebutuhan lainnya harus dahulu dipenuhi, mulai dari yang paling dasar (fisiologi), hingga aktualisasi diri.

Seorang Psikolog terkenal asal Amerika, Carl Rogers menyimpulkan bahwa manusia memiliki kapasitas dan terdorong untuk mencapai potensi maksimalnya.

Jadi berhenti membanding-bandingkan diri sendiri karena perubahan dan progres diri tidak akan terjadi jika hanya berdiam diri tetapi mulailah eksekusi dari saat ini.

Dalam person centered theory yang dikemukakan Rogers, konsep diri atau self concept adalah persepsi dan keyakinan terhadap diri sendiri yang konsisten serta terorganisir.

Self concept menjadi acuan kita untuk melihat dunia dan diri sendiri.

Satu hal yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri apakah perasaan tidak enak, cemas, dan stres membuat kita menjadi lebih baik atau tidak? Jika ternyata menjadi lebih baik, itu berarti kita sedang berkembang dan sudah ada di jalan yang tepat.

Manusia tidak ada yang sempurna, cobalah untuk mengakui ketidaksempurnaan dan terus berusaha mengembangkan diri.

Mencintai diri sendiri apa adanya, bukan dari apanya, karena self concept yang baik dihasilkan oleh penerimaan tanpa syarat. Tidak apa sesekali menertawakan kesalahan diri sendiri, tidak masalah sesekali merasa lelah dan ingin menyerah, boleh-boleh saja sesekali merasa malas dan memanjakan diri. Terima keadaan itu, peluk dan berterima kasih kepada diri yang sudah mau berjuang dan bertahan walaupun sudah diambang kehancuran. Tetapi hancur sekarang bukan berarti juga hancur nanti, pastikan diri bangkit dan berjuang kembali.

Merasa Senang dan Sedih Berlebihan? Waspada Kamu Bipolar!

Merasa Senang dan Sedih Berlebihan? Waspada Kamu Bipolar!

Reporter Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi bipolar. (Freepik/@storyset)

Dunia memperingati Hari Bipolar Sedunia setiap tahun pada 30 Maret. Tentu hari tersebut diharapkan dapat menjadi momen sekaligus penyadaran kepada masyarakat akan bipolar, salah satu masalah kesehatan mental yang tak dapat diabaikan.

Di Indonesia kasus bipolar dapat dikatakan cukup tinggi. Menurut data dari Bipolar Care Indonesia (BCI) pada tahun 2021, sebanyak 72.860 orang Indonesia menderita gangguan ini.

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Fidiansjah Mursjid Ahmad mendefinisikan bahwa bipolar sebagai gangguan alam perasaan yaitu depresi sedih atau manik (senang) yang berlebihan.

“Bipolar adalah gangguan alam perasaan, ketika seseorang mengalami dua perasaan yang bergejolak baik depresi sedih maupun manik secara berlebihan dengan kurun waktu yang tak menentu. Orang normal memang memiliki perasaan senang dan sedih namun bedanya ia bisa menempatkan posisi senang dan sedih sesuai porsinya masing-masing sedangkan bipolar jika sedih sangat mendalam dan senang pun sangat mendalam,” ujarnya kepada DNK TV pada Kamis (31/03).

Fidiansjah juga menambahkan, gejala dari bipolar dapat dilihat dari suasana perasaannya.

“Gejala dalam Bipolar yaitu yang menonjol suasana perasaannya. Ketika depresi maka ia akan mengurung diri, tidak ada semangat, bahkan merasa tidak berguna, ketika sedang mengalami hal tersebut dinamakan kutub pertama yaitu sedih. Maka sebaliknya, ketika ia sedang manik dia akan menampilkan ekspresi kebahagiaannya hingga ekstrem, terlalu berlebihan tanpa berpikir logis dan proporsional,” sambung Firdiansjah.

Ilustrasi ketika seseorang depresi. (Freepik/@storyset)

Salah satu penderita bipolar berinisial H menceritakan melalui DNK TV bagaimana gejala bipolar yang dirasakannya.

“Ketika sedang depresi beberapa gejala yang saya rasakan seperti rasa malas yang berlebihan, rasa ingin nangis tanpa tahu apa penyebabnya, bahkan ketika rasa sedih itu datang biasanya melukai diri sendiri agar (merasa) puas, lega, dan tenang karena saya telah meluapkan rasa emosi tersebut. Namun, perasaan puas dan tenang itu hanyalah sementara karena setelah saya melukai diri sendiri, akan timbul perasaan bersalah pada diri saya sendiri,” ungkap H.

Fidiansjah menegaskan jika bipolar dan depresi itu berbeda.

“Depresi dan gangguan bipolar adalah dua gangguan kesehatan mental yang berbeda. Jika dilihat dari gejalanya, seseorang yang mengalami depresi mengalami kesedihan terus-menerus tanpa sebab yang pasti. Ketika pulih pun ia hanya merasakan perasaan yang biasa tanpa rasa sedih maupun senang. Sedangkan pengidap bipolar mengalami kesedihan dan kesenangan bergantian tanpa jeda yang panjang.”

Fidiansjah Mursjid juga menanggapi, bahaya bagi self-diagnosis karena membuat seseorang bisa salah diagnosis.

“Self diagnosis bahaya bagi seseorang jika ia sudah menyamakan dan menyimpulkan dirinya dengan hasil yang ia temukan di internet dan self diagnosis ini juga membuat suatu keyakinan yang tidak ada sehingga menyebabkan gangguan tersebut ada pada dirinya. Sebab itu, pengetahuan atau informasi tersebut harus ditanyakan lagi ke ahlinya seperti psikolog, psikiater, dokter, dan sebagainya,” tutupnya.

Jika kamu merasa mengalami gejala seperti ciri-ciri di atas, ada baiknya tidak melakukan self-diagnosis. Sebagai solusi, kamu dapat menceritakan apa yang kamu rasakan pada orang terdekat yang kamu percaya.

Jika dirasa tidak cukup, jangan malu untuk segera berkonsultasi ke ahli.

Masalah Gangguan Mental Meningkat Sejak 2 Tahun Covid-19

Masalah Gangguan Mental Meningkat Sejak 2 Tahun Covid-19

Reporter Khalilah Andriani; Editor Latifahtul Jannah 

Ilustrasi gangguan mental. (Freepik.com)

Dua tahun pandemi Covid-19 berlangsung, World Health Organization (WHO) mengatakan permasalahan gangguan mental kini meningkat hingga 25 persen dibandingkan dengan tahun pertama. Salah satu penyebab terbesar adalah adanya kegiatan isolasi.

Peringatan terbaru dari WHO mengenai potensi kecemasan dan depresi menjadi ancaman terbaru pasca pandemi.

Hasil riset menunjukan penyintas Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dibandingkan dengan pasien non-Covid. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan keadaan mental penyintas Covid-19 usai mengalami isolasi sosial, ketakutan, dan kecemasan yang berlebih akibat kehilangan orang yang dicintai maupun penurunan finansial.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mencatat masalah kesehatan mental di Indonesia cukup tinggi dan meningkat akibat pandemi. Data menunjukkan 20 persen dari 250 jiwa secara keseluruhan berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes, Celestinus Eigya Munthe mengatakan situasi pandemi Covid-19 menyebabkan peningkatan gangguan kesehatan mental berupa depresi hingga sembilan persen.

Ilustrasi Mental health. (Freepik.com) 

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Yuminah menilai bahwa gangguan mental muncul karena adanya faktor fisik dan emosional saat pandemi berlangsung.

“Wajar jika ada peningkatan gangguan mental pasca Covid-19, setelah mengalami Covid-19 penyintas akan mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang menimbulkan stres, ketakutan, dan kecemasan berlebih,” ungkap Yuminah.

Yuminah juga menambahkan langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi gangguan mental.

“Untuk dapat menghadapi gangguan mental pertama, kita harus berdamai pada diri sendiri, kita dapat menghilangkan pikiran-pikiran negatif pada kejadian-kejadian yang mana kejadian tersebut belum terjadi. Kedua, kita harus berpikiran positif karena dengan adanya pikiran tenang atau positif thinking akan meminimalisir PTSD bagi penyintas covid, selanjutnya sibukan diri dengan hal-hal positif dan bermanfaat,” jelasnya.

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Radita Pramata Putri mengatakan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental seharusnya lebih diperhatikan.

“Peningkatan gangguan mental ini seharusnya dapat menyadarkan masyarakat, bahwa tidak hanya fisik saja yang bisa sakit melainkan mental pun bisa.”

“Salah satu cara mencegah gangguan mental ialah jangan malu untuk ke psikolog jika dibutuhkan atau bisa cari support system yang tepat,” sambung Radita.