Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Penulis Abu zar Al Ghifari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Pada masa sekarang tidak sedikit mahasiswa yang mengalami ruminasi dan overthinking. Apasih ruminasi dan overthinking itu? Apa perbedaan di antara keduanya?

Overthinking merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan bercabang karena selalu dihantui oleh rasa cemas, takut, merasa bersalah, dan tidak percaya diri.

Sedangkan ruminasi merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan berulang. Jadi, ruminasi itu merupakan kelanjutan dari overthinking. Mengutip dari physchology today dalam istilah psikologi, ruminasi adalah salah satu kesamaan antara kecemasan dan depresi. Suatu kondisi perenungan atau merenungkan hal yang sama berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung mengalami kesulitan ketika akan melakukan langkah ke depan. Ia akan sulit menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian di masa lalu yang belum usai. Bukan hanya itu, ia juga takut akan terjadi kejadian yang sama di masa depan.

Sedangkan, orang yang mengalami ruminasi cenderung mengalami stressor. Stressor adalah berbagai macam permasalahan hidup yang dialami manusia yang mengakibatkan stres. Seseorang yang mengalami ruminasi cenderung memiliki trauma secara fisik maupun mental. Orang yang mengalami ruminasi ketika menghadapi masalah lebih memilih merenungi masalah tersebut tanpa ada jalan keluar.

Dampak negatif jika seseorang mengalami keduanya, yaitu selalu mengalami kecemasan, kurangnya percaya diri, setiap mencari solusi selalu dengan cara merenung, dan imun tubuh pun mengalami penurunan karena stres.

Setelah mengetahui penjelasan singkat tentang ruminasi dan overthinking dan apa saja dampak buruk yang akan terjadi jika mengalaminya secara terus-menerus, maka ada cara agar dapat menghadapi ruminasi dan overthinking itu sendiri. Berikut langkah-langkah untuk mengatasi keduanya:

1. Evaluasi dalam memecahkan masalah

Cara ini dapat dilakukan pertama kali oleh diri sendiri, yakni dengan mengintropeksi diri dan jujur kepada diri sendiri apa yang sedang dirasakan. Dengan seperti itu dapat berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat.

2. Cari rumah untuk berkeluh kesah

Maksud dari “rumah” di atas ini adalah seseorang yang dijadikan tempat berbagi cerita dan sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita kita. Dengan bercerita, harapannya agar dapat memperluas pandangan seperti itu dan dapat memperluas pikiran serta masalah yang dimiliki.

3. Fokus sama hal yang bisa dikontrol

Fokus terhadap suatu hal yang bisa dilakuin oleh diri sendiri contohnya seperti pemilihan outfit untuk kumpul bersama teman, jangan terlalu memikirkan penilaian orang bagaimana terhadap apa yang sedang kita pakai, bersikaplah bodo amat terhadap penilaian mereka yang tidak membangun

4. Keluar dari lingkungan toxic

Lingkungan sangatlah mempengaruhi kehidupan seseorang, jika orang tersebut berada di lingkungan yang toxic, maka orang tersebut akan selalu mengalami ruminasi dan overthinking karena lingkaran pertemanannya tidak memberikan solusi.

5. Menghadapi masalah satu

Orang yang mengalami ruminasi dan overthinking cenderung sulit untuk menemukan sebuah jalan keluar dalam menyelasaikan permasalahannya secara fokus pada satu permasalahan. Ia sudah memikirkan masalah lain, padahal masalah sebelumnya belum terselesaikan.

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya kebiasaan overthinking ini, salah satu mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia memaparkan tanggapannya terkait kebiasaan overthinking yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang yang positif maupun negatif.

Overthinking merupakan sinyal was-was terhadap sesuatu. Bisa dikatakan overthinking adalah kegiatan yang menjurus ke hal negatif sehingga kebiasaan overthinking akan menciptakan kebiasaan buruk seperti tidak percaya diri, mencari alasan untuk menyerah, menyalahkan orang lain, dan tidak bersyukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bawah kebiasaan overthinking tidak selalu buruk, menurut Syifa Rahma kita juga penting untuk overthinking agar punya sinyal tersendiri. Tapi, tetap hal yang dibiasakan kemudian dilebih-lebihkan tidak akan baik begitu juga dengan overthinking.

Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengalami overthinking dalam menjalani perkuliahannya. Faktor keuangan menjadi salah satu alasan para mahasiswa mengalami overthinking, di mana para mahasiswa banyak yang menginginkan sebuah pekerjaan sambil melaksanakan perkuliahan. Alasan utama mengapa melakukan kuliah sambil kerja yaitu agar meringankan beban orang tua.

Apalagi para mahasiswa yang merantau dan jauh dari orangtua, pastinya akan sering mengalami overthinking. Mengatur keuangan agar tidak boros untuk bertahan hidup merupakan overthinking yang dialami para mahasiswa perantau. Saling mencemaskan keadaan antara orang tua dan anak, apakah baik-baik saja atau tidak dan keduanya memiliki rasa rindu dan segera ingin bertemu.

Tanpa Sadar, Manusia Berisiko Telan 5 Gram Mikroplastik Tiap Minggu

Tanpa Sadar, Manusia Berisiko Telan 5 Gram Mikroplastik Tiap Minggu

Reporter Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi; Editor Latifahtul Jannah

Webinar “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan dan Kesehatan”. (Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi/DNKTV UIN Jakarta)

Mikroplastik saat ini menjadi isu yang harus segera ditangani di Indonesia. Potongan plastik menjadi ancaman bagi kesehatan maupun lingkungan. Laporan yang diterbitkan oleh World Wildlife Fund International, tanpa disadari setiap orang berisiko menelan sekitar 5 gram plastik per minggunya.

Permasalahan mikroplastik ini di bahas pada webinar dengan tema “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan dan Kesehatan” pada Kamis, (16/6) secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.

Peneliti mikroplastik Universitas Katolik Soegijapranata, Inneke Hantoro mengatakan “Mikroplastik ialah substansi padat bentuknya tidak beraturan atau bentuknya regular, kemudian ukuran partikelnya dimulai dari 1 mikrometer sampai 5 milimeter.”

Mikroplastik sendiri memiliki 2 jenis yaitu, mikro primer dan mikro sekunder. Mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia seperti sabun, detergen, kosmetik, dan pakaian. Sedangkan mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Kedua jenis mikroplastik ini dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang lama.

“Masalah pada mikroplastik sendiri ialah persebarannya ada dimana-mana seperti udara, air, tanah, sedimen, dan bahan-bahan pangan yang dikonsumsi,” tambah Inneke.

View 
LLPH_Ammar 
X LLPH_Ammar Luthfi % Fidelis AJI Jakarta 
A zainal 
Inneke 
% Inneke Hantoro. Unika 
eka chlara budi„. 
% eka chlara budiarti 
Kadir Sabilu 
% Kadir Sabilu 
Recording 
on YouTube 
Start Video 
KONDISI SAMPAH INDONESIA 
22% 
DUMPEDTO 
WATERWAYS 
RCYCLE 
48% 
OPEN BURNING 
unmute 
106 
Participants 
LANDFILLS 
Share Screen 
POTENSI PENYEBARAN 
MIKROPLASTIK TINGGI 
Reactions
Kondisi sampah Indonesia. (Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi/DNKTV UIN Jakarta)

Persebaran mikroplastik dapat dikatakan tinggi, 48% dari pembakaran terbuka, 22% dari saluran air, 20% dari tempat pembuangan sampah, dan 10% dari daur ulang.

Mikroplastik juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui 3 cara, pertama pencernaan seperti makanan yang dimakan sehari-hari namun sudah terkontaminasi. Kedua, saluran pernafasan seperti melalui debu yang ada di udara atau bisa juga dari baju yang dibuat dari serat sintetis atau plastik. Ketiga, melalui kulit yang seperti pakaian kita sehari-hari yang terbuat dari serat sintetis.

Tentu mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan pada sel, menyebabkan reaksi alergi, gangguan hormon, kanker, gangguan metabolisme, dan memengaruhi perkembangan janin.

Maka dari itu, hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi bahaya mikroplastik secara signifikan ialah dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik pada makanan maupun minuman. Jika perlu, pilihlah wadah yang dapat digunakan kembali untuk mendukung kebijakan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Kemudian meminimalkan debu rumah tangga.

Dikutip dari The Washington Post, debu rumah tangga umumnya mengandung berbagai partikel dan bahan kimia, termasuk phthalate, polyfluoroalkyl, dan fire retardant yang termasuk dalam golongan mikroplastik. Berbagai partikel tersebut apabila tidak dibersihkan dengan benar maka akan dapat meningkatkan risiko terpapar oleh mikroplastik. Oleh sebab itu, pastikan untuk selalu membersihkan debu secara teratur dengan cara menyedot menggunakan vacuum cleaner.

Tak kalah penting, saat menggunaan kemasan plastik pada makanan maupun minuman akan sangat berbahaya pada kondisi tertentu atau saat dipanaskan. Bahan kimia yang terkandung pada plastik dapat larut pada makanan. Oleh sebab itu, pastikan untuk mengeluarkan makanan dari kemasan plastik sebelum memanaskannya menggunakan microwave.

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Penulis Muhammad Muklas; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi sesorang mengalami depresi. (Pixabay)

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan agar kesehatan mental bisa tetap terjaga. Untuk itu, perlu mengenal kondisi diri yang mungkin dialami seiring berjalannya waktu. Jangan sampai hanya memahami kata ini sebagai kondisi mental yang terguncang hingga layak dimasukan ke dalam rumah sakit.

Gangguan mental memiliki makna yang sangat luas, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, dan lain sebagainya. Beberapa jenis gangguan mental sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Hal ini membuat dampak terhadap kehidupanya jadi tidak terkontrol.

Remaja sekarang mungkin sering pernah merasa tidak percaya diri selalu overthinking dalam hidupnya ataupun kesehariannya. Hal ini mungkin bisa jadi merupakan salah satu pertanda jika seseorang terkena imposter syndrome.

IMPOSTER 
SYNDROME
Ilustrasi animasi imposter syndrome. (Pixabay)

Apa itu imposter syndrome? Bagaimana sesorang mengidapnya dan apa fakta dari sindrom ini?

Istilah imposter syndrome pertama kali digunakan oleh Suzanna Imes dan Pauline Rose Clance pada tahun 1970-an, Singkatnya imposter syndrome merupakan sindrom orang palsu atau ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

Secara umum imposter syndrome adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa tidak pantas mendapatkan pencapaiannya apa pun dalam hidupnya dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, memiliki rasa takut yang terus-menerus terinternalisasi sebagai “penipuan” kondisi ini akan terus menghantui si pengidap imposter syndrome, jika sesorang mengetahui kekurangannya dan membuat si pengidap selalu minder akan pencapaiannya.

Faktanya sebuah penelitian orang yang mengidap syndrome ini adalah orang yang paling sering meraih kesukseskan dan berprestasi hal ini merujuk pada 82% orang di dunia mengalami imposter syndrome dalam hidupnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan imposter syndrome bisa dialami oleh siapa pun tanpa memandang status sosial, latar belakang pekerjaan dan tingkat kealihan tertentu.

Beberapa ciri-ciri dan karakteristik seseorang mengidap imposter syndrome, yaitu :

  • Sering meragukan diri sendiri dengan apa yang diperbuat.
  • Overthinker yang terus-menerus.
  • Ketidakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan diri secara realistis.
  • Mengaitkan kesuksesan diri dengan faktor eksternal.
  • Merasa tidak puas dengan kinerja diri sendiri.
  • Ketakutan bahwa diri tidak bisa memenuhi harapan dan ekspetasinya.
  • Terlalu berprestasi dan bersemangat melakukan kerja keras.
  • Menetapkan tujuan yang sangat menantang dan merasa kecewa saat gagal.

Salah satu pengidap imposter syndrome adalah pemeran Ms. Marvel yaitu Iman Vellani yang mengaku merasa canggung saat wajahnya terpampang di poster iklan film barunya itu.

“Bagi saya, saya adalah satu-satunya orang yang pakai kostum, yang memakai kostum superhero, sedikit menakutkan. Semua orang akan melihatmu saat mengenakan kostum berbahan spandex yang mengilap. Agak terasa sedikit terintimidasi dan merasa tidak nyaman,” ungkap Imam dikutip dari Kompas (8/6).

Beberapa pengidap biasanya mengatasi syndrome ini dengan tahap-tahap jangka lama dengan memulai mengenal diri sendiri dan merasa nyaman akan semua hal tidak terlalu memporsikan diri yang berlebih sehingga merasa diri tertekan jauh-jauh dari hal tersebut.

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Penulis Annisa Nahwan Shafira; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustasi sadfishing. (Pinterest/@healthline)

Tren pada sosial media ternyata dapat menjadi ajang pamer kesedihan, yang mana hal tersebut dibuat menjadi suatu yang berlebihan agar penonton merasa iba, istilah ini disebut sadfishing.

Sadfishing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang dalam menunjukkan masalah emosional mereka secara berlebihan untuk membangkitkan simpati pada orang lain.

Namun, hal ini tidak selalu mendapat respon yang baik dari para pembaca atau pengikut yang melihatnya, bahkan tren ini dapat menimbulkan cyber bullying yang justru membuat orang tersebut menciptakan rasa kurang percaya diri (insecure) terhadap masalahnya dan dapat merugikan kesehatan mental. Oleh karena itu, istilah tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan beberapa opsi lain dalam mencurahkan isi hati, baik itu menceritakannya pada orang tua, sahabat atau ahli psikologi.

Ilustrasi media sosial. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya istilah sadfishing, salah satu Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta, Diva Putri Cahyadi memaparkan perlunya berhati-hati dalam bersosial media terlebih lagi dalam menceritakan kisah pribadi yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang pembaca yang positif maupun negatif.

“Media sosial itu bukan tempat yang baik untuk mencurahkan isi hati atau permasalahan, sebab media sosial itu bersifat umum yang semua orang bisa mengetahuinya, dan takutnya menjadi masalah semakin besar, bukannya mengundang simpati malah menjatuhkan harga diri,” ujarnya saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (7/6).

Namun tidak sedikit yang memiliki perspektif sebaliknya, seperti tanggapan Mahasiswa lain, Fathia Rachmawati yang menganggap bahwa sudah menjadi hak semua orang dalam membagikan apapun di sosial media milik pribadi serta kebebasan dalam mengekspresikan diri.

“Karena curhat di medsos itu juga menjadi hak kita, kita bebas untuk mengekspresikan diri di sana. Kalau ada orang yang berkomentar macam-macam atau menanggapi hal-hal negatif, ya cuekin aja atau kalau memang tidak suka bisa kita blokir akun tersebut,” Imbuh Fathia kepada tim DNK TV.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian orang melontarkan curhatan hanya untuk sekadar berbagi cerita (sharing) bukan untuk mencari perhatian, serta perlunya berhati-hati dan peduli terhadap dampak dari perbuatan yang dilakukan.

Normalkah Mahasiswa Begadang?

Normalkah Mahasiswa Begadang?

Penulis Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi mahasiswa begadang. (Freepik/@freepik)

Mahasiswa yang selalu akrab dengan kata begadang, mengerjakan tugas kuliah maupun organisasi biasanya menjadi alasan. Sudah menjadi suatu kebiasaan yang susah dihilangkan, padahal dapat berdampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.

Banyak stigma mahasiswa menormalisasi begadang, dianggap sudah menjadi rutinitas mahasiswa, dan tidak ada salahnya.

Menurut Mahasiswa UIN Jakarta, Syafitri Nur mengatakan bahwa begadang adalah hal normal sebagai mahasiswa karena memasuki fase pendewasaan.

“Pandangan aku mengenai hal tersebut ya aku menormalisasikannya, karena kita sebagai mahasiswa sudah mulai memasuki fase pendewasaan, dimana istirahat tidak boleh terlalu berlebihan, tokoh-tokoh pemimpin bangsa juga banyak yang tidur hanya 3-4 jam. Jadi menurut saya hal itu tidak apa-apa, asal jangan sama sekali tidak istirahat,” ujar Syafitri kepada Tim DNK TV.

Namun, sayangnya menormalisasi begadang berbahaya, apalagi sampai menjadi habit atau kebiasaan. Dalam penelitian Tel Aviv University mengatakan bahwa seseorang kurang tidur akan mengakibatkan aktivitas sel saraf di otak akan menurun.

Sel saraf atau neuron ini sangat penting untuk kita berpikir. Jadi sel saraf ini bertugas untuk mengantarkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain di otak kita, jika kurang tidur sel saraf ini akan merespon lebih lambat dalam mengantarkan impulse, hal ini akan mengganggu kinerja otak kita. Akhirnya lemot, telat mikir, tidak fokus, dan sebagainya.

Dampak negatif begadang juga dibuktikan oleh CTO dan CEO Spacex, sekaligus arsitek Tesla mengatakan bahwa ketajaman pikirannya berkurang kalau ia kurang istirahat.

Walaupun sudah tau realita, masih banyak mahasiswa yang seolah tidak menerima dan menganggap sepele begadang dengan berbagai alasan, mulai dari tugas organisasi, kebiasaan bahkan juga merasa produktif dan bisa fokus hanya di tengah malam.

“Karena di malam hari saya merasa lebih fokus dalam mengerjakan tugas-tugas saya,saya merupakan orang yang gampang terdistraksi lingkungan atau orang-orang di sekitar yang secara tidak langsung membuat fokus saya buyar dan akhirnya tidak jadi mengerjakan tugas, dan waktu dari pagi hingga sore saya habiskan dengan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya,” ujar Syafitri Nur yang juga merupakan Anggota RDK FM UIN Jakarta.

Berbeda dengan Syafitri, Mahasiwa UIN Jakarta, Nurul Lutfia yang aktif organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) mengatakan, ia terpaksa begadang karena tuntutan rapat dan tugas untuk acara yang akan diadakan dari organisasi.

“Karena pada pagi hingga sore, saya ada kesibukan lain seperti ada kelas, membantu beres-beres rumah, dan masih banyak kegiatan yang dilakukan pada pagi hingga sore hari, sehingga hanya ada waktu pada malam hari untuk rapat dan mengerjakan tugas organisasi sehingga begadang merupakan salah satu jalannya,” ungkap Nurul.

“Tapi dengan begadang menurut saya bisa dibilang kurang efektif. Karena pada malam hari seharusnya digunakan untuk istirahat sehingga dampak yang saya rasakan aktivitas pada pagi hari menjadi tidak fokus dan menjadi tidak produktif,” tutup Nurul.

Ilustrasi mahasiswa begadang. (Freepik/@freepik)

Fatalnya bukan hanya sekedar begadang, ada juga yang mempersiapkan diri bedagang dengan kopi atau makanan cepat saji.

Menurut Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Dzakiyyatul Atiqoh mengatakan dengan begadang membuat kesehatan fisik kurang baik bahkan juga kesehatan mental pun terganggu.

“Pandangan saya mengenai begadang untuk kesehatan fisik, kurang baik, karena kebanyakan mereka yang begadang melakukan sebuah persiapan yakni meminum kopi, jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan penyakit hipertensi atau darah tinggi. Kemudian ketika kita begadang, kita merasa lapar di tengah malam kemudian memilih makan mie instan dan itu kurang sehat, makanan cepat saji tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh, dan menyebabkan naiknya berat badan. Kemudian bagi kesehatan mental, begadang bisa membuat pikiran mudah lelah, sehingga membuat pikiran rentan depresi dan gangguan cemas,”ujar Dzakiyyatul.

Selain itu menurut Dzakiyyatul Atiqoh karena seringnya begadang bisa membuat kita insomnia.

Insomnia adalah gejala awal gangguan tidur di mana selalu sulit bagi seseorang untuk tertidur atau bangun terlalu dini. Salah satu penyebab insomnia adalah stres. Maka dari itu, pemicu stres ini bisa jadi dialami mahasiswa karena tuntutan akademik, penilaian sosial, manajemen waktu, penyelesaian tugas organisasi yang memancing respons terhadap stresor psikososial atau tekanan psikologis.

Begadang atau tidak sebenarnya adalah pilihan, pilihan yang berdampak bukan hanya sekarang tetapi juga di umur senja nanti. Jika ditelusuri secara mendalam tidur sesuai jadwal bukan membuat tidak produktif, malahan nugas ataupun kerja sampai lupa tidur yang malah bikin kita tidak produktif.

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Dandy Aulia mengatakan bahwa tidak ada hubungan batasan tidur dengan cara kita mengerjakan tugas atau belajar.

“Menurutku ini cuma selera, sih. Tidur dibatesin buat apa? Sekalipun data statistik menunjukkan ada hubungan, tapi ini bukan jadi suatu temuan yang harus dijadiin kewajiban. Nyatanya pada beberapa metode belajar efektif (konteks mahasiswa) lain seperti misalnya pomodoro atau Feynmann yang nggak tekankan sisi lama belajar,” ujar Dandy.

Menurut Dandy Aulia, kita tidak bisa meratakan jam tidur pemimpin bangsa dengan kita, karena berbeda dengan kita justru sebagian perkerjaan yang memang mengharuskan ia tidak tidur bahkan menginginkan tidur.

“Saya menolak ini sebagai hal yang normal. Pemimpin bangsa jelas ada di level yang berbeda, dan nggak semua manusia ada punya kecerdasan memimpin yang seperti mereka. Kita belum lagi membahas tentang satpam yang jaga malam atau nelayan yang justru berlayar di malam hari dan mereka justru mengidamkan tidur,” tegas Dandy.

Perlu diketahui, begadang dapat meningkatkan resiko penyakit seperti diabetes, obesitas, hipertensi, bahkan penyakit jantung. Oleh sebab itu, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Menormalisasi begadang bukan suatu jalan yang tepat, karena bagaimanapun secara tidak langsung begadang benar-benar mempengaruhi produktivitas saat pagi dan juga kesehatan. Mungkin dampak besar nya bukan sekarang tetapi nanti. Jadi berhenti sebelum tidak ada pilihan selain berbagai penyakit menghantui.

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Konferensi Suara Kaum Muda : Setop Manipulasi Zat Adiktif Tembakau di Indonesia

Reporter Arsyad; Editor Dani Zahra Anjaswari

Arsyad 2021 
M aya 
Aeshnina Azzahra Aqilani 
% Nabila Tauhida. 
anätasia_Wähyudi 
ula fitria 
abila Nadya 
Sarah Rauzana - GIDKP 
Jordan Vegard Ahar_Forum Aoak Kota Ambon
Konferensi pers online Indonesian Youth Council for Tobacco Control. (DNK TV/Arsyad)

Indonesian Youth Council for Tobacco Control (IYCTC) adalah koalisi kaum muda dari 43 organisasi di 20 kota atau kabupaten dalam upaya menyuarakan pengendalian zat adiktif produk tembakau di Indonesia dengan inklusif dan bermakna. Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2022 dan menghimpun suara kaum muda.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sebagai upaya strategis menyuarakan aspirasi kaum muda yang ditargetkan industri rokok untuk mendapatkan replacement smoker dalam keberlangsungan bisnisnya. Konferensi pers ini merupakan rangkaian acara awal untuk memberikan informasi dan mempromosikan kegiatan IYSTC 2022 yang akan dilaksanakan pada tanggal 21-22 Mei 2022 mendatang.

Dalam acara puncak ini juga akan menyuarakan agar pemerintah membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif. Mereka berharap bisa mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

host 
host 
Aeshnina Azzah... 
Aeshnina Azzahra Aqi.. 
Arsyad 2021 
SlJediatJ 
Start V ideo 
Sarah Rauzana 
• • 26 
Partic i pants 
Salsabila Nadya 
Share Screen 
Jordan Vegard Ahar_ 
Reactions 
Whiteboards
Pemaparan materi oleh Sekretasis Jendral IYTCT. (DNK TV/Arsyad)

Sekretasis Jendral IYCTC, Rama Tantra mengungkapkan bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok sehingga adanya edukasi dan pemahaman terkait permasalahan tembakau atau produk zat aditif tembakau.

“Acara IYSTC akan dihadiri 500 anak muda dari seluruh Indonesia dan 70 organisasi atau komunitas yang mau menyepakati suara bersama bahwa industri rokok menargetkan anak muda untuk terjerat menjadi korban aditif produk rokok dan mereka industri rokok tidak peduli sama sekali dengan masalah kesehatan dan masalah lingkungan yang ditimbulkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa output dari acara ini untuk melakukan advokasi guna mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif yang dapat meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Output acara dari ini adalah melakukan advokasi untuk mendorong adanya sebuah kebijakan yang komprehensif bahwa anak muda dan masyarakat butuh hak kesehatan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan,” kata Rama.

Rokok konvensional sendiri mempunyai partikel-partikel yang terbuat dari plastik seperti pada bungkus rokok maupun pada puntungnya yang dapat berubah menjadi mikro plastik dan bisa mencemari udara sehingga sangat berbahaya ketika kita menghirup udara.

Selanjutnya, rokok elektronik walaupun tidak mengandung partikel plastik tetapi baterainya sangat berbahaya sebab baterai tersebut terbuat dari zat kimia yang sulit untuk diurai sehingga dapat mencemari lingkungan. Liquid pada rokok elektronik juga dapat mempengaruhi kualitas udara, air, dan tanah.

Dengan demikian, pemerintah diharapkan untuk membatasi akses masyarakat untuk bisa mendapatkan zat aditif agar mendapatkan lingkungan yang layak, lingkungan yang terbebas dari zat aditif.

Hari Lupus Sedunia 10 Mei 2022, Kenali dan Cegah Bersama!

Hari Lupus Sedunia 10 Mei 2022, Kenali dan Cegah Bersama!

Reporter Syaifa Zuhrina

Ha ri 
سل م ى S 
Sedunia 
10 Mei 2021
Flyer peringatan Hari Lupus Sedunia. (Instagram/@rst.dompetdhuafa)

Sejak tahun 2004, setiap tanggal 10 Mei diperingati sebagai hari lupus sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit lupus atau autoimun yang berdasarkan data World Health Organization (WHO) terdapat kurang lebih lima juta orang penderita di seluruh dunia.

Lupus merupakan penyakit peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh kesalahan pada sistem kerja imun tubuh. Normalnya imun tubuh seharusnya melindungi tubuh dari serangan virus atau bakteri namun pada penderita lupus imun justru menyerang jaringan tubuh sendiri.

Karena ini merupakan penyakit autoimun, maka penyebab lupus mayoritas karena adanya faktor genetik, hormon dan lingkungan. Selain itu, hal tersebut juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor yakni paparan sinar matahari yang dapat memicu respons internal pada orang yang rentan, faktor infeksi, obat-obatan tekanan darah, anti kejang dan antibiotik serta faktor suku karena lupus sering terjadi pada orang Afrika-Amerika, Hispanik dan Asia-Amerika.

Penderita penyakit lupus. (Instagram/@centrofluminense)

Terdapat tiga gejala utama yang umum dirasakan penderita penyakit lupus yaitu rasa lelah yang ekstrem, dimana seseorang akan merasa sangat lelah yang berkepanjangan meskipun sudah beristirahat. Munculnya ruam atau bercak kemerahan pada kulit batang hidung, pipi, tangan, pergelangan tangan dan lain sebagainya, serta adanya rasa nyeri yang berpindah begitu cepat dari satu sendi ke sendi lainnya.

Kurangnya informasi masyarakat terkait pengenalan penyakit lupus tentu dapat berdampak besar bagi penderita dan keluarganya. Akibatnya tak sedikit penderita yang tak tertolong. Maka dari itu hari lupus sedunia ini ditujukan kepada masyarakat akan pentingnya mencegah penyakit lupus serta memberi semangat dan dukungan sebagai bentuk kontribusi terhadap penderita penyakit lupus.

Berikut hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit lupus yakni dengan menerapkan gaya hidup sehat, tidak merokok, hindari paparan sinar matahari saat siang hari, berolahraga secara teratur, hindari stress dan konsumsi obat-obatan, dan istirahat yang cukup selama kurang lebih 7-9 jam.

Menanggapi hal ini, salah satu Mahasiswi UIN Jakarta, Tika Puspa Asih memaparkan bahwa peringatan ini menjadi salah satu cara meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penyakit lupus.

“Peringatan ini dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penyakit lupus, karena saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang penyakit tersebut. Karena hampir semua orang mempunyai sosial media, hal itu bisa menjangkau lebih banyak masyarakat untuk ikut memperingati hari lupus sedunia, misalnya dengan postingan campaign world lupus day di instagram,” jelasnya saat diwawancarai langsung oleh reporter DNK TV pada Senin (9/5).

Ia juga berharap agar masyarakat lebih peduli terhadap adanya penyakit ini guna melakukan pencegahan sejak dini, serta memberi dukungan sosial kepada penderita karena tentunya ini akan memberikan dampak positif bagi mereka.

WHO Ungkap Ancaman Kesehatan Dunia

WHO Ungkap Ancaman Kesehatan Dunia

Reporter Diatma Lutfi; Editor Dani Zahra Anjaswari

Tema Hari Kesehatan Sedunia 2022. (who.int)

World Health Organization (WHO) menetapkan tanggal 7 April setiap tahunnya sebagai Hari Kesehatan Sedunia yang dikenal dengan sebutan World Health Day (WHD). Tujuan diadakannya Hari Kesehatan Sedunia adalah untuk menciptakan kesadaran tentang tema kesehatan tertentu dan menyoroti bidang prioritas yang menjadi perhatian WHO.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, planet yang tercemar, dan meningkatnya insiden penyakit, tema Hari Kesehatan Dunia 2022 adalah “Planet Kita, Kesehatan Kita”. Tema ini menyerukan pemulihan dari pandemi Covid-19, yang menempatkan kesehatan individu dan planet ini sebagai pusat kebijakan dan fokus pada kesejahteraan.

WHO mengungkapkan bahwa lebih dari 13 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun disebabkan oleh lingkungan. Polusi udara, air yang terkontaminasi, sanitasi yang tidak memadai termasuk pengelolaan limbah padat, risiko yang terkait dengan bahan kimia berbahaya tertentu, dan dampak negatif dari perubahan iklim adalah ancaman kesehatan masyarakat lingkungan yang paling mendesak.

Melansir dari laman WHO pada Kamis (7/4), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa saat ini krisis iklim sama dengan krisis kesehatan yang dapat membunuh planet dan manusia di dalamnya.

“Krisis iklim adalah krisis kesehatan: pilihan tidak berkelanjutan yang sama yang membunuh planet kita adalah membunuh orang,” katanya.

Ia juga memaparkan bahwa perlu adanya solusi transformatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Kita membutuhkan solusi transformatif untuk menghentikan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil, untuk menata kembali ekonomi dan masyarakat yang berfokus pada kesejahteraan, dan untuk menjaga kesehatan planet yang menjadi sandaran kesehatan manusia.”

Ilustrasi Covid-19. (Pexels/@CDC)

Covid-19 muncul sejak Oktober 2019 yang telah menginfeksi lebih dari 180 juta orang dan menyebabkan empat juta kematian secara global setelah diumumkan sebagai pandemi oleh WHO.

Menurut WHO, pada masa pandemi 2 tahun ke belakang telah menghantam semua negara, ada beberapa kelompok masyarakat yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dengan sedikit pendapatan harian, memiliki kondisi perumahan dan pendidikan yang lebih buruk, lebih sedikit peluang kerja, mengalami ketidaksetaraan gender yang lebih besar, serta memiliki sedikit atau tidak ada akses ke lingkungan yang aman, air dan udara bersih, ketahanan pangan dan layanan kesehatan.

Pada laman resminya, WHO juga menuturkan bahwa mereka berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang, di mana pun, dapat mewujudkan hak atas kesehatan yang baik. Covid-19 menuntut untuk melakukan perubahan, baik dalam hal cara berpikir, cara berperilaku, dan cara bekerja. Tantangan selanjutnya adalah cara berpikir dan cara berperilaku yang dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan tangguh terhadap ancaman penyakit termasuk dari penyakit hari esok.

Semakin baik keadaan bumi, semakin tinggi juga angka kesehatan manusia di seluruh dunia. Selamat Hari Kesehatan Dunia 2022!

Rayakan Hari Kanker Anak Sedunia 2022 #Troughyourhands

Rayakan Hari Kanker Anak Sedunia 2022 #Troughyourhands

Penulis Anggita Fitri Chairunisa; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi anak penderita kanker. (istockphoto.com)

15 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Anak Sedunia atau International Childhood Cancer Day (ICCD). Hari tersebut diperingati untuk meningkatkan kesadaran kita terhadap kanker anak dan sebagai dukungan bagi anak-anak dan remaja yang mengidap kanker.

Kanker adalah penyebab utama kematian pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 300.000 anak di bawah 20 tahun didiagnosis menderita kanker setiap tahunnya. Setiap 3 menit, seorang anak meninggal akibat penyakit kanker.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, lebih dari 80% anak-anak penderita kanker sembuh. Namun, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, angka kesembuhannya hanya 20%.

Oleh karena itu, untuk membantu lebih banyak anak bertahan dari penyakit kanker, WHO telah menciptakan Inisiatif Global untuk Kanker Anak atau Global Initiative for Childhood Cancer (GICC).

Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk mencapai tingkat kelangsungan hidup 60% untuk anak-anak penderita kanker pada tahun 2030.

Ini merupakan hal yang sangat besar, yakni akan menyelamatkan satu juta nyawa anak-anak. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan dorongan yang sangat besar, baik dari pelayanan kesehatan yang berkualitas ataupun aspek pendukung lainnya. Karenanya, Hari Kanker Anak Sedunia 2022 melibatkan berbagai pihak agar dapat berkolaborasi sekaligus memberikan dukungan kepada anak-anak.

Kampanye Hari Kanker Anak Sedunia 2022 difokuskan untuk kampanye dan branding WHO Global Initiative for Childhood Cancer.

Simbol kesadaran kanker masa kanak-kanak. (istockphoto.com)

Adapun tema Hari Kanker Anak Sedunia 2022 adalah “Kelangsungan Hidup yang Lebih Baik” dan bisa dicapai melalui tagar #throughyourhands. Hal ini bertujuan memberikan penghargaan kepada tim medis dan petugas kesehatan untuk membawa dampak positif bagi kehidupan anak-anak serta remaja penderita kanker, dan sebaliknya.

Tidak hanya tenaga kesehatan saja, semua pihak pun bisa berpartisipasi guna memberikan dukungan dan semangat kepada anak-anak pengidap kanker.

Kita bisa ikut merayakan Hari Kanker Anak Sedunia 2022 ini dengan melakukan berbagai aksi sederhana namun bermanfaat di antaranya, meningkatkan wawasan diri mengenai penyakit kanker dengan membuat acara, seminar atau workshop online yang mengangkat tema seputar kanker, seperti bagaimana gaya hidup yang rentan mengakibatkan kanker atau soal bagaimana cara berdamai dengan kanker bagi mereka yang sedang berjuang sembuh dari kanker, dan membagikan informasi tersebut di media sosial maupun kepada orang sekitar kita.

Selanjutnya kita juga bisa berbagi kisah mengenai perjuangan dan bagaimana menghadapi setiap masalah yang timbul karena penyakit kanker. Kisah-kisah itu bisa menginspirasi dan saling menguatkan orang lain yang saat ini mungkin sedang berjuang melawan kanker.

Hari Kanker Sedunia juga bisa dirayakan dengan cara melakukan penggalangan dana. Dana yang terkumpul bisa disalurkan melalui lembaga-lembaga terpercaya yang sedang melakukan penelitian terkait kanker.

Selain melakukan penggalangan dana untuk mendukung penelitian kanker, Anda juga bisa memberikan donasi kepada mereka yang menderita kanker atau lembaga yang menyediakan tempat singgah bagi para penderita kanker di beberapa daerah di Indonesia.

Cara terakhir dalam merayakan Hari Kanker Anak Sedunia adalah dengan menjaga diri, adik, keluarga, atau teman-teman kita agar tetap sehat. Caranya dengan menjauhkan diri dari sejumlah faktor risiko yang dapat memicu penyakit kanker.

Darurat Literasi Nutrition Fact dan Si Manis yang Diam-diam Berbahaya

Darurat Literasi Nutrition Fact dan Si Manis yang Diam-diam Berbahaya

Oleh Fadlil Chairillah; Editor Nur Arisyah Syafani

Aneka makanan yang mengandung gula
Sumber : loveicecream.com

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi manusia. Karena dengan kondisi tubuh yang sehat, manusia bisa melakukan berbagai aktivitas. Berbicara tentang kesehatan, tak lepas kaitannya dengan pembahasan soal makanan. Jika konsisten mengkonsumsi makanan yang sehat dengan gizi yang seimbang maka tubuh juga akan sehat, dan risiko terjangkit penyakit akan sangat kecil. Salah satu unsur makanan yang sangat  berpengaruh terhadap kesehatan adalah gula. Gula aman dikonsumsi jika tidak berlebihan dan berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.

Bahaya konsumsi gula berlebihan

Makanan atau minuman yang kita konsumsi sehari-hari tidak terlepas dari yang namanya gula. Gula terbagi menjadi dua, yaitu gula alami dan buatan. Gula alami didapat dari buah-buahan, nasi dan lainnya. Sedangkan gula buatan itu berasal dari makanan kemasan atau makanan olahan. Sebut saja makanan yang sering kita konsumsi, kopi instan, aneka kue, makanan ringan hingga makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia yaitu nasi mengandung gula. Ini berarti jika dikaitkan dengan kesehatan maka gula sangat berperan penting untuk memengaruhi kesehatan manusia.

Dikutip dari video The Secret of Sugar, Dr. Robert Lustig seorang Medical Professor mengatakan “Mana yang lebih berbahaya, Gula atau Lemak ? Gula 1000 kali lipat lebih berbahaya daripada lemak. Hal itu menunjukan kepada kita bahwa gula adalah sesuatu yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum mengonsumsinya. Diabetes, obesitas dan penyakit berbahaya lainnya disebabkan oleh gula salah satunya.

Menurut Kementerian Kesehatan di Indonesia, batas konsumsi gula perhari adalah 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan. Makanan yang kita konsumsi perhari mulai dari sarapan, makan siang, makan malam sampai camilan harus cermat dalam menelisik kandungan gula di dalamnya, jangan sampai melewati batas yang dianjurkan. Jika melewati batas konsumsi yang dianjurkan dan secara terus-menerus maka semakin besar peluang untuk terkena obesitas bahkan parahnya terkena diabetes yang mematikan.  

Jika kita berbicara lebih spesifik lagi terhadap salah satu makanan pokok sehari-hari kita yaitu nasi. Nasi memiliki indeks glikemik yang tinggi. Dilansir dari Kompas Health, indeks glikemik adalah ukuran seberapa cepat tubuh mengubah karbohidrat menjadi gula yang dapat diserap ke dalam aliran darah. Indeks glikemik tergolong rendah jika berada di bawah 55 dan tergolong tinggi jika berada diatas 70. Tapi bukan berarti kita harus menghindari nasi sama sekali, lebih tepatnya jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat dan tidak berlebihan maka aman-aman saja.

Minimnya Membaca Nutrition Fact pada Makanan dan Minuman

Nutrition Fact
Sumber : Food.ndtv.com

Banyak makanan atau minuman yang dijual di supermarket atau warung di sekitar rumah kita. Kebanyakan di setiap produknya tertera nutrition fact yang mayoritas dari kita sering kali enggan untuk membacanya. Padahal hal itu sangat penting untuk diperhatikan jika kita ingin menerapkan prinsip hidup sehat. Dicantumkannya nutrition fact agar konsumen mengetahui kandungan gizi yang terdapat di masing-masing produk. Dengan mengetahui kandungan gizinya maka kita dapat mempertimbangkan untuk mengonsumsinya atau tidak.

Kita ambil contoh produk yang mayoritas masyarakat menganggap produk tersebut sehat, sebut saja susu kemasan yang mengandung rasa coklat, strawberry dan beragam rasa lainnya, jika diperhatikan nutrition factnya maka kandungan gulanya bisa dibilang tidak sedikit. Karena itulah menurut pakar kesehatan, kita disarankan untuk membeli susu rendah gula atau less sugar. Contoh lainnya seperti minuman Vitamin C jika kita lihat nutrition factnya maka ada beberapa produk yang mengandung gula 20-25 gram atau setara dengan setengah dari konsumsi gula yang dianjurkan perhari.

Dengan adanya fakta tersebut menjadi bukti bahwa makanan atau minuman yang dinilai sehat, belum tentu sepenuhnya sehat. Kita bisa menimbang sehat tidaknya suatu makanan atau minuman tanpa membaca Nutrition Fact yang ada dibalik kemasan terlebih dahulu. Jika lebih teliti membacanya maka ada hal yang bisa kita renungkan. Di nutrition fact, sajian lemak atau fat itu diletakkan di baris paling atas, yang membuat kita berfikir kalau lemak merupakan zat yang paling jahat untuk tubuh kita, padahal lemak itu bukan yang paling jahat. Yang paling berbahaya sebenarnya ada di baris paling bawah yaitu gula. Gula adalah zat yang paling berbahaya dari semua zat lainnya. Kenapa diletakkan di bawah? Karena peluang untuk tidak terlalu memperhatikan jumlah kandungan gula lebih besar.

Jadi kesimpulannya, penting bagi kita semua untuk mulai mempertimbangkan atau mengukur kandungan pada makanan minuman yang kita konsumsi. Sehat atau tidaknya suatu makanan minuman tergantung dari kandungan tiap komposisi makanan atau minuman yang kita konsumsi, berlebihan atau tidak. Sehat jika porsinya tepat, dan sebaliknya akan menjadi tidak sehat jika berlebihan.