Dampak Kenaikan PPN, Mahasiswa Harap Pelayanan Publik Lebih Baik

Dampak Kenaikan PPN, Mahasiswa Harap Pelayanan Publik Lebih Baik

Reporter Annisa Nahwan; Editor Syaifa Zuhrina

Businesspeople working in finance and accounting analyze financi Free Photo
Ilustrasi Kenaikan PPN. (Freepik/@our-team)

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melonjak naik 11 persen mulai Jumat (1/4), sebagai bentuk pengoptimalan pajak pendapatan negara setelah sempat menurun akibat pandemi Covid-19.

Namun, hal tersebut justru berdampak pada sejumlah layanan maupun barang di Indonesia, mulai dari biaya token yang berdaya di atas 7.700 VA, harga pulsa, kuota internet, transaksi saham, sampai penjualan mie dan minyak goreng.

Dilansir dari Kumparan, salah satu pemilik perusahaan di bidang seluler juga memberikan informasi kenaikan harga pulsa, kuota internet, dan layanan yang lain kepada pelanggan agar bisa menyesuaikan terhadap dampak kenaikan PPN tersebut.

“XL Axiata juga telah menginformasikan kepada seluruh pelanggan dan mitra bisnis bahwa terhitung efektif mulai tanggal 1 April 2022 tersebut, seluruh aktivitas transaksi bisnis yang dilakukan XL Axiata akan memberlakukan nilai PPN sebesar 11 persen sesuai dengan ketentuan dan aturan yang baru tersebut,” ujar Head Coorporate Communication XL Axiata, Kamis (31/3).

Man at gas station with the car close up Free Photo
PPN juga berdampak pada harga BBM. (Freepik/@freepik)

Bukan hanya itu, kenaikan PPN berdampak pula pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Pertamax menjadi Rp. 12.500 per liternya.

Menanggapi kabar ini, salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Ari Subagyo memaparkan bahwa ini merupakan hal yang wajar, namun waktunya saja yang belum tepat.

“Hal yang wajar apabila negara membuat kebijakan kenaikan PPN ke 11 persen, berdasarkan adanya UU HPP yang baru. Hanya saja, rasanya timing begitu tidak tepat. Belum pulihnya pandemi di dalam negeri, perang yang masih berlangsung di luar negeri, tentu masih banyak faktor penyebab ketidakstabilan terutama dalam hal perekonomian.”

“Mungkin kebijakan ini akan lebih cocok dilaksanakan entah sebelum pandemi ini berlangsung, atau setelah pandemi berakhir dan kondisi kembali pulih,” sambung Ari saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (5/4).

Ia juga menambahkan bahwa hal yang perlu diperhatikan adalah daya beli masyarakat, khususnya kalangan muda seperti mahasiswa yang masih bisa terjaga. Jangan sampai kenaikan PPN justru menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Berbahaya apabila inflasi terus beranjak naik.

Ari berharap kebijakan yang sudah disahkan ini, dapat membuat masyarakat memperoleh pelayanan publik yang lebih baik.

“Pada akhirnya, karena kebijakannya telah disahkan, semoga memang bisa berdampak baik dengan keuangan negara. Juga, dari masyarakat sendiri, semoga proses transisi menuju PPN 12 persen ini berlangsung baik tanpa harus ada pertikaian, dan kembali berdampak kepada pelayanan publik yang lebih baik lagi, ” jelasnya.

Benarkah Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19 di Indonesia Pasca Lebaran?

Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19 di Indonesia Pasca Lebaran?

Reporter Kevin Philips; Editor Tiara De Silvanita dan Nur Arisyah Syafani

Ilustrasi mudik
Sumber: Korlantas Polri

Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia mengalami kenaikan pada libur panjang khususnya, H+7 perayaan lebaran. Menurut Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 telah terjadi penambahan kasus sebanyak 5.797 pada Kamis (20/5).

Pemerintah mengatakan bahwa nyatanya terdapat 1,1  persen warga Indonesia yang memilih pulang ke kampung halaman selama larangan mudik, pada 6 – 17 Mei 2021.

“Memang 1,1 (persen) kelihatannya kecil sekali, tetapi kalau dijumlah ternyata masih gede sekali, 1,4 sekian, 1,5 juta orang yang masih mudik,” ujar  Presiden  Jokowi.

Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengingatkan bahwa akan ada potensi kenaikan kasus positif Covid-19  pada dua minggu setelah libur panjang lebaran 2021. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kanaikan kasus positif tersebut. Salah satunya yaitu kasus positif yang terus naik tetapi pemeriksaan yang turun akibat libur lebaran.

Positivity rate naik, pemeriksaan turun. Sehingga pekan depan pasti akan terjadi potensi kenaikan kasus (Covid-19). Kita ingin pastikan penyekatan dan screening yang dilalukan dalam arus balik nanti benar-benar efektif sehingga kita bisa menekan potensi kenaikan kasus Covid-19 secara lebih baik lagi,” ujar Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19  Wiku Adisasmito.

Libur panjang menjadi penyebab berkurang nya pemeriksaan. Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, jumlah pemeriksaan spesimen menurun pada beberapa hari terakhir. Menurut Dewi pemeriksaan perhari turun di angka 56.000 spesimen.

“Kemungkinan besar disebabkan karena libur panjang. Jumlah orang yang diperiksa pada beberapa hari terakhir juga terjadi penurunan cukup signifikan. Saat ini rata-rata jumlah orang yang diperiksa 37.000 per hari,” ujar Dewi Nur Aisyah

Menurut Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19  kasus harian terus mengalami peningkatan Pada  16 Mei ditemukan 3.080 kasus, 17 Mei ada 4.295 kasus, 18 Mei ada 4.185 kasus, dan 19 Mei ada 4.871 kasus. Jumalah kumulatif yang diperiksa pada periode 13-20 Mei terdapat 277.708 orang. Pemerikasaan tersebut mengalami penurunan dari pekan sebelumnya yaitu  338.580 orang.

Wiku mengungkapkan bahwa akibat dari libur Idulfitri dan mudik lebaran akan bisa terlihat pada dua atau tiga minggu setelahnya. Perkembangan kasus pada minggu lalu masih belum dapat menunjukan akibat dari libur idulfitri dan mudik lebaran.

Salah seorang masyarakat, Nadhia berpendapat bahwa melonjaknya kasus ini disebabkan oleh dua pihak yang dalam hal ini masyarakat dan pemerintah.

“Menurut saya emang salah keduanya, masyarakat yang tidak mematuhi kebijakan pemerintah, tapi pemerintah juga menurut saya kurang sigap dalam penanggulangannya. Jadi memang bisa dikatakan ini tidak disebabkan oleh fitrinya perayaan lebaran itu sendiri, tapi dari oknum-oknum yang belum bisa cukup bertanggungjawab”