Pro Kontra Ormas Khilafatul Muslimin, Ingin Tegakkan Pemerintahan Islam

Pro Kontra Ormas Khilafatul Muslimin, Ingin Tegakkan Pemerintahan Islam

Reporter Tubagus Muhamad Bintang Lazuardi; Editor Ahmad Haetami

Penyebaran Paham Radikalisme Berbungkus Agama Masih jadi Ancaman. (Pinterest)

Khilafatul Muslimin, organisasi yang memiliki ide mendirikan negara Islam dengan sistem khilafah berdiri sejak 1997 baru-baru ini ramai diperbincangkan warga Indonesia.

Organisasi ini menjadi kontroversial karena memiliki lembaga pendidikan sendiri yang mendoktrinasi khilafah sejak usia dini. Para siswa juga tidak pernah diajarkan pancasila dan UUD 1945, hanya diajarkan untuk hormat pada bendera Khilafatul Muslimin.

Pendiri organisasi ini adalah Abdul Qadir Baraja, ia pernah terlibat dalam teror Waman tahun 1979, kasus bom Jawa Timur dan Candi Borobudur tahun 1985.

Pusat “kekhilafahan” organisasi ini terletak di Lampung dan telah memiliki banyak cabang di beberapa wilayah di Indonesia. Pada 2016, mereka mengklaim telah memiliki 16 wilayah (setingkat provinsi), 68 ummul quro (setingkat kabupaten/kota), dan 310 kemas’ulan di Indonesia.

Dalam laman resmi Khilafatul Muslimin, disebutkan bahwa organisasi ini bertujuan mewujudkan cita-cita (sebagian) umat Islam, yakni menegaknya kembali pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah).

ى 
س: هي «ر
Ilustrasi anti radikalisme. (Pinterest)

Terkait hal ini Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Wakil Menteri Agama (Wamenag) minta agar anggota Khilafatul Muslimin dirangkul dengan harapan membuat anggota Khilafatul Muslimin sadar dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Atas sikap tersebut, Pengkaji Ilmu Hadis dan Dosen UIN Jakarta, Helmi Rustandi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap organisasi ini.

“Saya tidak setuju karena bisa menjadi ancaman bagi NKRI,” ujarnya.

Mahasiswa UIN Jakarta, Dimas juga turut menanggapi hal ini.

“Ormas tersebut tetap dirangkul tetapi terhadap pemikiran-pemikiran atau program-program ormas tersebut yang sifatnya radikal bisa ditindak dengan tegas oleh pihak yang berwenang agar pemikiran-pemikiran dan program tersebut tidak diterapkan karena dikhawatirkan akan memecah belah bangsa. Jadi terhadap segala sesuatu yang memecah belah bangsa harus bisa dicegah,” ujarnya.

Dosen dan Mahasiswa Tanggapi Pembatasan Penggunaan Pengeras Suara Masjid

Dosen dan Mahasiswa Tanggapi Pembatasan Penggunaan Pengeras Suara Masjid 

Reporter Putri Anjeli; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi Orang Sholat. (Freepik.com/@rawpixel.com)

Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 terkait aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Kabar tersebut menjadi hangat diperbincangkan belakangan ini. Di dalamnya tertulis bahwa ibadah tarawih ataupun tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan dilarang menggunakan pengeras suara luar masjid, akan tetapi diperbolehkan dengan suara dalam. 

“Penggunaan pengeras suara di bulan Ramadhan baik dalam pelaksanaan salat tarawih, ceramah/kajian Ramadhan, dan tadarus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam,” bunyi aturan tersebut. 

Peraturan tersebut juga berisi bahwa pengeras suara dalam merupakan perangkat pengeras suara yang difungsikan atau diarahkan ke dalam ruangan masjid dan musala, sedangkan pengeras suara luar berfungsi sebaliknya. Hal ini sebagai upaya syiar Islam, seperti waktu salat, pengajian maupun dakwah lainnya. 

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Instagram/@qusyaqut)

Karena masyarakat Indonesia memiliki keberagaman agama, keyakinan dan lainnya,Yaqut memaparkan hal ini sebagai upaya untuk merawat persaudaraan dan harmoni sosial.

“Pedoman ini agar menjadi pedoman dalam penggunaan pengeras suara di masjid dan musala bagi pengelola (takmir) masjid dan musala dan pihak terkait lainnya,” ujar Yaqut dalam lansiran kompas.com pada Kamis (3/3).

Salah satu Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Syahirul Alim memaparkan bahwa peraturan ini merupakan bentuk implikasi dari misi Kemenag dalan menyuarakan moderasi beragama dan toleransi.

“Menurut Saya hal ini Implikasi dari misi Kemenag menyuarakan moderasi bergama dan toleransi sehingga tercipta kerukunan diantara umat beragama. Namun, perlu diperhatikan masyarakat muslim di tanah air sudah toleran sejak lama dan toleransi di negeri ini memiliki akar sejarahnya sejak masa lampau. Jadi, tanpa terbitnya SE sekalipun umat muslim sudah hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lainnya, kesepakatan kita sudah diikat oleh nilai-nilai kebangsaan sehingga sekat-sekat mayoritas minoritas hampir tidak ada,” ucapnya.

“Saya berharap keberadaan SE Menag ini tidak dipahami secara keliru, bukan membatasi syiar agama Islam tetapi mengatur bunyi pengeras suara untuk hal-hal yang tidak bersifat ta’abudiyah,” sambungnya saat dihubungi reporter DNK TV via telepon pada Kamis (3/3).

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Hanafi Yardha menanggapi bahwa pembatasan tersebut tidak efisien untuk saat ini.

“Jika dipandang dari segi hukum syariatnya sah saja kalo azan dan tadarusan itu dilakukan tanpa pengeras suara, dan bahkan dulu di zaman Nabi pun pengeras suara tidak ada, tetapi jika dibawakan ke zaman sekarang tidak ada penanda untuk masyarakat. Fungsi dari pengeras suara itu sendiri efisien digunakan pada saat sekarang ini,” ujar Hanafi.

“Kemudian terkait aturan Menteri Agama itu sendiri, seakan-akan agama Islam saat ini tengah disudutkan, Negara yang mayoritasnya beragama Islam tetapi malah umat muslim itu sendiri merasa disudutkan dengan aturan-aturan yang bisa dikatakan nyeleneh untuk saat ini. Ada sekian banyaknya umat beragama di Indonesia, mengapa hanya pada saat momentum umat Islam saja adanya peraturan-peraturan yang tidak logis ini,” jelasnya.

Hari Amal Bakti Kemenag: Tingkatkan Layanan Umat

Hari Amal Bakti Kemenag: Tingkatkan Layanan Umat

Reporter Putri Anjeli; Editor Fauzah Thabibah

Sambutan Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis dalam acara tasyakuran dan santunan
Sumber: DNKTV-Fauzah Thabibah

Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-76 Kementerian Agama (Kemenag) RI, UIN Jakarta mengadakan tasyakuran dan santunan yang bertempat di Masjid Student Center Kampus 1 UIN Jakarta pada Senin (03/01).

Acara dilakukan secara online melalui Zoom Meeting. Dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Ketua Senat UIN Jakarta, Abudin Nata, Sekretaris Senat Universitas, Armai Arief, Para Wakil Rektor, Para Dekan, jajaran Dosen, dan seluruh civitas academica UIN Jakarta serta partisipan.

Dalam rangkaian acara ini juga memberikan penghargaan kepada para mahasiswa berprestasi UIN Jakarta. Pada sambutannya, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis turut mengapresiasi kegiatan ini dalam upaya memperingati HAB Kemenag RI dan penganugerahan kepada mahasiswa tersebut.

“Hari ini tanggal 3 Januari 2022 adalah hari kelahiran Kementerian Agama RI ke-76. Setiap tanggal 3 dinobatkan sebagai Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag RI. Artinya menjadikan semua yang ada di Kementerian Agama untuk berbakti kepada Nusa, Bangsa, dan Agama serta mengembangkan kelembagaan di Kementerian Agama termasuk kampus UIN Jakarta ke depannya,” ujar Amany.

“Dalam rangka meningkatkan pelayanan keumatan dan kepedulian sosial, maka UIN Jakarta memberikan santunan kepada 100 anak. Dan Khusus untuk mahasiswa yang mendapat penghargaan dalam prestasi di berbagai bidang, saya sangat mengapresiasi sedalam-dalamnya dan terima kasih kepada semua yang selalu mengembangkan minat, bakat, kemampuan, dan telah mengharumkan nama UIN Jakarta,” imbuhnya.

Sambutan Ketua Penyelenggara, Kamarusdiana
Sumber: DNKTV-Putri Anjeli

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Penyelenggara, Kamarusdiana memaparkan bahwa rangkaian acara peringatan HAB Kemenag RI di UIN Jakarta berjalan dengan baik.

“Dalam rangkaian Acara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag dalam lingkup UIN Jakarta terlaksana dengan baik, dan berakhir dengan mengadakan acara santunan anak yatim piatu sebanyak 100 anak. Dan hari ini juga memberikan penghargaan kepada Mahasiswa berprestasi UIN Jakarta sebanyak 302 Mahasiswa dalam 5 kategori,” ucap Kamarusdiana.

Dengan adanya peringatan HAB Kemenag ini semoga kita selalu melakukan perbaikan, terus berinovasi, dan meningkatkan daya kreativitas sesuai dengan tema peringatan HAB Kemenag tahun ini yaitu Transformasi Layanan Umat.

UIN Jakarta Menyabet Anugerah ADIKTIS 2021 Terbanyak

UIN Jakarta Menyabet Anugerah ADIKTIS 2021 Terbanyak

Reporter Wafa Thuroya Balqis; Editor Taufik Akbar Harefa

Malam Anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS)
Sumber: kemenag.go.id

UIN Jakarta berhasil menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang meraih terbanyak anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS) ke-2.

Kementerian Agama (Kemenag) melalui  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengumumkan Madrasah Award dan Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS) 2021 yang digelar Mercure Hotel Ancol, Jakarta. Acara ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dan disiarkan secara langsung melalui kanal youtube DIKTIS TV, Jumat (10/12).

Gelaran ini juga dihadiri  Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Pendidikan Tinggi Keislaman (DIKTIS) Suyitno.

UIN Jakarta menyabet lima penghargaan dari 16 kategori prestasi PTKI melalui seleksi tim Pendidikan Tinggi Kemenag. Kategori prestasi PTKI yang diraih diantaranya PTKI dengan Jumlah Akreditasi Program Studi A atau Unggul Terbanyak, PTKI dengan Jumlah Profesor Terbanyak, PTKIN dengan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Internasional Terbanyak, PTKI dengan Pemilik Paten Terbanyak, dan PTKI dengan Jurnal Terindeks Scopus Terbanyak.

Dirjen Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani mengungkapkan bahwa untuk pelaku  pendidikan terus mencari inspirasi, memiliki kekuatan daya tanding dan sanding juga mampu melakukan upaya extraordinary, “Apabila kita melakukan sesuatu hanya rata-rata maka kita akan habis ditelan masa, maka kita harus melakukan upaya extraordinary. Saat ini kita tidak hanya harus berpikir out of the box, tetapi harus without the box.” ungkapnya.

Sambutan Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani dalam malam anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS).
Sumber: kemenag.go.id

Berkenaan dengan itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keislaman (DIKTIS) Suyitno berharap kampus PTKI yang berhasil mencetak prestasi mampu menginspirasi PTKI lainnya.

”Teruslah menginspirasi, bekerja keras, bekerja cerdas, dan selalu bekerja mengedepankan nilai-nilai ketangguhan, kekuatan dan nilai keunggulan.” terang Suyitno.

Mendengar hal ini, Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Hafidz Ramadhan berharap UIN Jakarta tetap mampu memaksimalkan kualitasnya. “Congratulations untuk UIN Jakarta atas 5 penghargaan yang diterima, UIN Jakarta berhasil menciptakan konstruksi sosial masyarakat dengan nilai yang luar biasa atas apresiasi tersebut. Hal itu tentu menjadi kelebihan sekaligus tantangan, dimana harus memaksimalkan kuantitas yang dimiliki menjadi kualitas untuk menyejahterakan masyarakat. Teruslah menjadi role model untuk pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.

Sejalan dengan Hafidz, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Annisa Permatasari juga mengungkapkan selamat kepada UIN Jakarta dan berharap agar hak mahasiswa kembali diperhatikan. 

“Selamat untuk UIN Jakarta atas pencapaiannya selama ini, semoga terus maju menjadi kampus yang terintegrasi, karena dengan pencapaian ini tidak lepas dari mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, maka lebih perhatikan hak-hak untuk mahasiswa demi menyongsong kampus yang lebih maju,” pungkasnya.

Kemenag: Sidang Isbat Awal Ramadhan Digelar 12 April Mendatang

Kemenag: Sidang Isbat Awal Ramadhan Digelar 12 April Mendatang

Ilustrasi : Petugas lembaga Falakiyah pondok pesantren Al-Hidayah Basmol, melakukan pemantauan hilal di Masjid Al-Musariin di Jalan Al Hidayah Basmol, Jakarta Barat.
Sumber: Kompas.com

Reporter Farhan  Mukhatami; Editor Elsa Azzahraita

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) akan menyelenggarakan sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadan 1442 H pada 12 April 2021 mendatang secara daring dan luring di gedung Kemenag, Thamrin, Jakarta.

Insya Allah, sidang Isbat awal Ramadan digelar 12 April 2021,” tutur Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin dalam keterangan tertulisnya saat memimpin rapat persiapan Sidang Isbat Awal Ramadan 1442 H di Gedung Kemenag Thamrin, Jakarta, Kamis (1/4).

Karena masih dalam masa pandemi Covid-19, Kamaruddin juga menuturkan sidang akan dilaksanakan secara daring serta luring dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Menurutnya,  penyelenggaraan sidang Isbat selalu digelar pada tanggal 29 bulan sebelumnya pada kalender Hijriyah. Hal ini sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.

Lebih lanjut, Kamaruddin menerangkan nantinya rangkaian sidang Isbat akan di awali dengan seminar mengenai penjelasan posisi Hilal awal Ramadan 1442 H dan pelaksanaan Rukyatul Hilal. Menurutnya, penetapan awal Ramadan secara hisab posisi hilal awal Ramadan 1442 H sudah di atas ufuk berkisar antara 2 derajat 37 menit sampai 3 derajat 36 menit. Hasil hisab ini kemudian dikonfirmasi melalui Rukyatul Hilal yang akan dipantau melalui 86 titik di seluruh Indonesia.

“Di Jakarta, Rukyatul Hilal antara lain akan dilaksanakan di gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Kepulauan Seribu, Masjid K.H Hasyim Asy’ari dan Masjid Al Musyari’in Basmol,” ujarnya.

Dalam pelaksanaanya sidang Isbat akan melibatkan Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kementerian Agama, Dubes negara sahabat, perwakilan Organisasi Masyarakat (Ormas), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan undangan lainnya.

“Sidang Isbat akan dipimpin oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Kami juga mengundang pimpinan MUI dan Komisi VIII untuk hadir dalam sidang,” jelas Kamaruddin.

“Sidang Isbat akan disiarkan oleh TVRI dan media sosial Kementerian Agama,” tutur Direktur Urusan Agama Islam Agus Salim.

Agus juga menambahkan, sidang isbat akan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1442 H oleh anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kementerian Agama. Sesi ini akan dimulai pukul 16.45 WIB dan disiarkan langsung.

“Tahap kedua, sidang Isbat awal Ramadan akan digelar setelah Salat Magrib. Tahap ini digelar secara tertutup. Tahap ketiga, konferensi pers hasil sidang Isbat oleh Menteri Agama yang akan disiarkan TVRI dan Medsos Kemenag,” sambungnya.