Mengenal Jurnalistik melalui Media

Mengenal Jurnalistik melalui Media

Reporter Jenni Rosmi Aryanti; Editor Elsa Azzahraita

Penyampaian materi oleh Pepih Nugraha pada Webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Jurnalistik UIN Jakarta menggelar Webinar Jurnalistik Expo (J-Expo) bertajuk “Cultural Odyssey Through Unexplored Realm of Journalism” pada Sabtu (2/10) secara virtual melalui zoom meeting.  

Webinar diisi oleh dua narasumber yang berkecimpung di dunia jurnalistik yaitu Founder Kompasiana, Pepih Nugraha dan Reporter Kompas TV, Isye Naisila Zulmi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya.

Dalam materinya, Pepih memaparkan perkembangan media jurnalistik mulai dari media cetak hingga media sosial.

“Perkembangan media tentu dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya internet. Seperti yang kita ketahui bahwa konvergensi media menggabungkan berbagai jenis media yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda ke dalam media tunggal menggunakan jaringan internet,” pungkas Pepih.

Menurut Pepih, untuk menggabungkan komputasi, komunikasi, dan konten pada zaman sekarang masyarakat cukup  menggunakan smartphone.

“Ada tiga tipe penggunaan media sosial yang perlu diperhatikan. pertama, open social yaitu menggunakan tombol berbagi melalui situs web. Kedua, close social yaitu menggunakan tombol berbagi pesan pribadi, dan yang perlu diwaspadai ialah dark social, yaitu menyalin dan mem-paste tautan ke media tertutup seperti WhatsApp.” jelas Pepih.

Tidak hanya materi mengenai media, ada juga pengenalan Program Studi (Prodi) Jurnalistik yang dipaparkan oleh Isye yang merupakan alumni Prodi Jurnalistik mulai dari sejarah hingga prospek kerja.

“Pada awalnya konsentrasi jurnalistik berada di bawah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KI). Namun, pada tahun 2015 mulai diajukan menjadi program studi. Adapun mata kuliah yang didapat pada semester awal biasanya tentang ilmu keislaman. Tapi, tenang saja tentu kita diajarkan dasar-dasar dan praktek jurnalistik juga.” jelas Isye.

Penyampaian materi oleh Isye Naisila Zulmi pada webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Webinar J-Expo merupakan kegiatan pertama dari rangkaian acara Jurnalistik Fair (J-Fair) 2021. Ridho Hatmanto selaku panitia menjelaskan tujuan diselenggarakannya webinar ini.

“Jurnalistik itu merupakan bidang yang luas dan menarik untuk didalami tentunya memiliki prospek yang baik kedepannya. Adapun sasaran peserta yaitu anak-anak SMA sederajat terutama tahun terakhir yang sedang memutuskan untuk memilih jurusan ke jenjang selanjutnya (perguruan tinggi).” ujar Ridho.

Ridho berharap dari kegiatan ini dunia jurnalistik dapat lebih dikenal secara dekat oleh para pelajar maupun umum, agar terciptanya minat atau ketertarikan pada dunia industri kreatif khususnya jurnalistik.

Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik

Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik

Oleh : Arista Wardani; Editor : Elsa Azzahraita

Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Prodi KPI Universitas Azzahra (UA) Jakarta dan Askopis bekerjasama menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Asyiknya Berkarier di Dunia Jurnalistik Bagi Mahasiswa dan Alumni KPI” secara virtual, pada Kamis (25/2).

Dihadiri oleh Ketua DPP Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Perguruan Tinggi  Keagamaan Islam Negeri dan Swasta Se Indonesia (Askopis), Muhammad Zamroni, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Dr. Sihabudin Noor, Wapimred Republika Nur Hasan Murtiaji, Kaprodi KPI UIC Retna, Dwi Estuningtyas, dan dimoderatori oleh Kaprodi KPI UA, Kristopo.

Nur Hasan Murtiaji, Wapimred Republika, Kamis (25/2)

Nur Hasan menyampaikan menjadi seorang jurnalistik itu tidak hanya dibutuhkan orang yang cerdas atau orang yang pintar saja disamping itu seorang jurnalistik harus bisa bersosialisasi, ketika kita terjun di dunia jurnalistik kita akan mengalami rotasi bidang liputan

“Kita ingin pers itu bisa menjadi industri yang sehat yang memang profesional, tidak sedikit yang memanfaatkan pers bukan dalam rangka untuk independen pers itu sendiri, tapi untuk kepentingan kepentingan lain,” Ujarnya.

Sihabudin Noor, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Kamis (25/2)

Dalam webinar ini, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten, Sihabudin Noor mengatakan bahwa mahasiswa sekarang harus mempersiapkan beberapa aspek penting, diantaranya keluar dari zona nyaman, bekerja dengan target atau capaian yang jelas, fokus memberikan aktivitas yang bermakna dan berdampak, menerima dan memberikan feedback berkualitas, membentuk mental model seorang expert.

“Anda harus fokus dengan aktivias yang bermakna, bergabung dengan komunitas yang ada di kampus dan jadikan itu sebagai media latihan anda untuk menjadi seorang jurnalism.” Ujar Sihabudin Noor.

Dalam dunia jurnalistik, fotografi merupakan aspek penting guna memberikan informasi yang lebih valid dan juga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat

Wapimred Republika Nur Hasan Murtiaji, Kaprodi KPI UIC Retna, Dwi Estuningtyas menjelaskan tentang peran fotografi dalam jurnalistik, dimana foto juga merupakan pendukung lengkap dari adanya suatu berita.

“Sekarang dunianya sudah digital, dalam dunia jurnalis fotografi kita harus bisa mendiskripsikan lewat gambar, gambar itu tentunya harus bisa dipahami oleh siapapun, bahasa gambar itu adalah bahasa yang universal, bahasa yang bisa dipahami oleh siapapun hanya dengan melihat gambar, gambar juga sebagai pendukung dari tulisan yang ditulis oleh seorang wartawan.” Ungkap Dwi Estuningtyas.

Menebar Kebaikan Lewat Karya Jurnalistik Bersama KJB

Menebar Kebaikan Lewat Karya Jurnalistik Bersama KJB

Mitha Theana

Balques Manisang , narasumber dalam Webinar Nasional: Menebar Kebaikan Melalui Karya Jurnalisitik (Dok: DNKTV )

Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) mengadakan webinar mengusung tema “Menebar Kebaikan Lewat Karya Jurnalistik” Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian dari perayaan milad kedelapan KJB, Minggu (13/12).

Dalam acara tersebut, KJB menghadirkan pemimpin redaksi Metro TV, Arif Suditomo, News Produser dan Host TVONE, Balques Manisang dan News Produser Metro TV sekaligus anggota KJB, Lalita Gandaputri.

Balques mengungkapkan, jurnalis yang idealis adalah jurnalis yang dapat menebar kebaikan kepada masyarakat lewat tulisannya. Karena tugas jurnalis sebagai informan untuk masyarakat. Ia membeberkan langkah yang harus ditempuh jurnalis agar dapat melaksanakan tugasnya.

“Pertama harus tetap meluruskan niat kita, bahwa kehidupan jurnalis itu ingin menjadi pilar keempat demokrasi, jadi kita harus pertahankan pilar demokrasi tersebut, jadi buat semua partisipan yang ingin menjadi jurnalis, diselami dan dinikmati saja prosesnya, ibaratnya naik tangganya satu-satu, jangan langsung loncat ke atas,” ujarnya.

Lanjutnya,  langkah kedua ialah stay humble selama menjadi jurnalis, karena hal itu bukan merupakan sebuah kekuatan, namun kehormatan bagi jurnalis. Ia juga berharap, agar KJB dapat terus melebarkan sayapnya, karena dirinya masih masih ingin melihat ulang tahun KJB sampai 20 hingga 30 tahun kedepan.

Senada dengan Balques, Lalita mengungkapkan, jurnalis harus menginformasikan berita benar, dan harus memeriksakebenaran suatu informasi.

“Ketika mendapat berita yang dirasa kurang akurat atau berpeluang menjadi berita bohong, kita harus cek dulu kebenarannya dilihat dari cover both side,” tuturnya.

Lalita menambahkan, jurnalis jangan khawatir akan hambatan apapun, karena jurnalis dilindungi oleh hukumyang ada di Indonesia.

Arif Suditomo salah satu dari tiga narasumber  juga turut menceritakan pengalamannya,sebagai seseorang yang sudah mengabadikan 22 tahun hidupnya di bidang jurnalisme, bahkan sempat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) namun kembali lagi ke bidang  jurnalistik.

“Balik lagi di bidang jurnalistik, mengaku journalism itu adalah jalan hidup saya, saya tidak bisa jauh-jauh dari itu dan saya pikir, kontribusi sayabuat masyarakat essens nya ada disitu, dan saya piker ini merupakan salah satu hal yang akan saya tekuni terus hingga akhir hayat saya.” Ungkapnya.

Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : “Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19″

Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : “Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19″

Gun Gun Heryanto, Dewan Pembina P2KM & Dosen Komunikasi Politik Fidikom UIN Jakarta dalam “Bedah Buku Jungkir Balik Pers

Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan diskusi ketiga bertajuk “Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19” pada Kamis, (7/10/2020). Webinar ini dihadiri oleh tiga narasumber diantaranya Penulis Buku & Pemimpin Redaksi Republika 2010-2016, Nasihin Masha, Pakar Komunikasi Politik, Dewan Pembina P2KM & Dosen FIDIKOM UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto , Presiden KJB Indonesia & Public Speaker, Nikmatus Sholikah. Juga ada sambutan dari Guru Besar Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Jakarta, Andi Faisal Bakti, Dekan Fidikom UIN Jakarta, Suparto, dan General Manager Republika Penerbit, Syahruddin El Fikri yang dipandu oleh host Deden Mauli Drajat serta moderator Dedi Fahrudin.

Syahrudin El Fikri mengatakan bahwa buku Jungkir Balik Pers ini sudah terbit sejak bulan September kemarin. Konten di dalamnya sangat memberikan gambaran bagaimana perjalanan jurnalis dan pers di Indonesia.

Selanjutnya, Andi Faisal Bakti sangat merekomendasikan buku ini kepada mahasiswa komunikasi. Dimana buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah untuk dipahami.

“…Agaknya buku ini mencoba untuk menelusuri perjalanan pers utamanya di Indonesia. Pers sebagai sumber informasi, kemudian pada masa disrupsi, masa informasi pers digital, kemudian ada transformasi dalam mencari informasi di kalangan publik yang lalu berlangganan koran sebagai sumber informasi, kemudian berubah orang untuk mencari sumber informasi selain koran. Saya pikir ini juga mewarnai jungkir balik pers.” Ungkap Suparto

Selanjutnya, masuk pada sesi diskusi bedah buku yang di awali oleh Penulis Buku & Pemimpin Redaksi Republika 2010-2016, Nasihin Masha mengatakan bahwa tema pada diskusi ini menjadi sebuah perspektif dari salah satu sisi dalam buku ini.

“Pers pada masa corona ini setidaknya ada empat isu yang bisa di diskusikan oleh mahasiswa. Dari sisi konten itu sendiri bagaimana pers melihat corona ini menulis apa saja atau meliput apa saja, lalu bagaimana sudut pandang politik pemberitaannya, lalu isu yang diangkat itu jelas antara  economy first  atau public safety first , bagaimana dampak pandemik terhadap isu-isu pers tersebut secara ekonomi…” Ungkap Nasihin

Selanjutnya, Dewan Pembina P2KM & Dosen Fidikom UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto mengungkapkan dalam buku ini menyodorkan bahwa media itu bukan ruang hampa, memberikan perspektif ruang pergulatan wacana media yang kompleks. “Konteks dinamis pers dalam membaca tema kali ini menurut saya ada empat, demokrasi semakin terbuka yang kemudian setiap orang memanfaatkan freedom ini dengan caranya

masing-masing, kemudian yang kedua konvergensi media multi-platform yang kemudian sangat signifikan pengaruhnya, kemudian konsentrasi media terutama adanya konglomerasi, kemudian yang terakhir ada persoalan yang berkaitan dengan bencana non alam yaitu pandemi.” Ungkap Gun Gun.

Media itu turut memberikan sosialisasi nilai, peradaban, kemudian dalam beberapa hal menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat. Di sisi lain media berperan sebagai aktor politik, yang mana media adalah infrastruktur. Salah satu yang menjadi penggerak perubahan di dunia adalah media.

“…Tradisi membaca koran mulai tergerus, melihat time per day spent using internet Indonesia hampir 7 jam, yang sangat mengubah banyak hal dalam proses konsumsi informasi, Jangan sampai di tengah pandemi ini media sebagai bagian mata rantai sumber hoax. Peran pers harus menjadi partisipan demokratis..” Ujar Gun Gun.

Selanjutnya, Presiden KJB Indonesia & Public Speaker, Nikmatus Sholikah mengungkapkan di tengah pandemi ini jurnalis sebagai titik nadi informasi publik.

Permasalahan yang terjadi pada jurnalis di masa Covid-19 ini adanya tekanan psikologis jurnalis. Dilansir dari Center of Economy Development Study (CEDS) 45,92% wartawan mengalami gejala depresi dan 57,14% wartawan mengalami kejenuhan umum, Angle berita yang monoton, ketimpangan informasi, dan ancaman PHK.

“… Jadi jurnalis ini sebuah pekerjaan sekaligus amanah yang luar biasa dengan berbagai kondisi mereka tetap harus melakukan peliputan, garda terdepan bukan hanya seorang di bidang kesehatan, jurnalis juga perlu diberi atensi di mana pentingnya jurnalis di masa pandemi.” Ungkap Nikmatus

Pers sebagai pihak yang penting dalam memberi suara, yang memberi penerang dalam proses kehidupan masyarakat. Posisi pers menjadi sangat signifikan dalam kondisi saat ini melawan banyaknya berita hoax. Diharapkan Pers tetap harus memegang teguh sebagai teman dalam perjalanan peradaban manusia.

Repoter: Safitri Handayani

Pelatihan Jurnalistik Perspektif Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

Pelatihan Jurnalistik Perspektif Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

Pelatihan Jurnalistik Perspektif Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (6/7)

CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Imu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Jakarta,   menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Perspektif Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Yang bertajuk “Implementasi Moderasi Beragama di Kampus Melalui Media”. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Guru Besar bidang Pemikiran Islam Fakulas Usuluddin Ridwan Lubis, dan Badan Litbang Kementerian Agama RI/FISIP UIN Jakarta        M. Adlin Sila, dengan dimoderatori oleh koordinator Penelitian dan Pengembangan CSRC UIN Jakarta, Muchtadlirin serta sambutan Direktur CSRC UIN Jakarta, Idris Hemay. Acara ini dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Senin (06/07/20), dengan jumlah peserta lebih dari 30 orang yang terdiri dari para jurnalis kampus yang aktif baik di media online maupun offline kampus. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menguatkan peran media kampus dalam pengarusutamaan moderasi beragama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nantinya akan dilanjutkan dengan pelatihan Jurnalistik Perspektif Moderasi Beragama, yang akan berlangsung mulai dari tanggal 6-20 Juli 2020 mendatang dalam kurun waktu yang tentatif. 

Adlin Sila menjelaskan tentang pentingnya kesamaan presepsi tentang moderasi beragama. Walaupun dalam profesi yang berbeda-beda, cara implementasiannya yang harus diperhatikan. Diantaranya bagaimana memperkuat wawasan kebangsaan, agar masyarakat memiliki pemahaman bahwa agama Islam datang ke Indonesia itu bersifat damai, memperkuat penerimaan terhadap keragaman atau kemajemukan, serta melestarikan pandangan dan tradisi keagamaan yang ramah dengan budaya lokal.

Moderasi beragama merupakan upaya menghadirkan jalan tengah atas dua kelompok ekstrem antara liberalisasi dan konservatisme dalam memahami agama. Tujuannya tak lain untuk menghadirkan keharmonisan di dalam kehidupan kita sebagai sesama anak bangsa, dan  terciptanya kerukunan antar umat beragama.

“Masyarakat kita yang memiliki kecendrungan ekstrem ke kanan dan ekstrem ke kiri disinilah peran moderasi untuk mengajak masyarakat dari kecendrungan-kecendrungan itu untuk ke tengah, yaitu bersifat adil dan tidak memihak” Ungkap Adlin.

Selanjutnya, Amany Lubis berpesan agar dapat menjadi jurnalis islami yang kuat, agar tidak mudah terpengaruh dengan berita yang negatif serta menjadi jurnalis yang kuat, dan punya identitas.

“Jurnalis yang kuat yaitu yang bisa membentengi dirinya, punya identitas dan mengeluarkan suara yang seperlunya bahkan positif. Jangan terbawa-bawa oleh berita yang viral namun negatif. Jurnalis juga Jangan hanya menggunakan kata-kata namun juga menyebarkan manfaat dan seluk beluk ciptaan Allah SWT” Ujar Amany.

Ridwan Lubis menambahkan, perlunya dirancang keberadaan media penyiaran yang mampu mendorong kembalinya citra Islam yang ramah baik kepada sersama muslim maupun bukan muslim. Sikap ramah terhadap sesama muslim adalah dengan mendorong agar umat Islam mulai melakukan transformasi dari pola pemahaman keislaman yang simbolistik kepada yang Substantif.  Ia berharap, “keberadaan FIDKOM dan CSCR akan berperan sebagai payung yang melakukan pengayoman dan koordinasi terhadap semua keragaman orientasi dan program keislaman”.

Ridwan menilai, perlu diadaknnya penelitian suatu masalah secara bersistem, guna mengetahui fakta yang jelas dan lebih baik.

“Melakukan studi banding terhadap organisasi keislaman yang telah memiliki pengalaman mendayagunakan media massa guna mengetahui keberhasilan dan kegagalan mereka,termasuk media massa elektronik Islam yang sekarang sudah banyak berkembang guna mengetahui efektifitas dari kegiatan mereka” Ungkap Ridwan.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan memperoleh dukungan baik moril maupun materil yang bersumber dari seluruh civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan adanya kebijakan afirmatif, promotif,dan protektifdari seluruh komunitas lembaga PTKIN ini, maka secara terintegrasi akan menjadikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai juru bicara dan pelaku aktif gerakan moderasi beragama di Indonesia.

Reporter: Taufik Akbar Harefa