Citayam Fashion Week, Bentuk Perlawanan dan Representasi Kota Multikultural?

Citayam Fashion Week, Bentuk Perlawanan dan Representasi Kota Multikultural?

Reporter Muhammad Rizza Nur Fauzi; Editor Belva Carolina

Suasana Citayam Fashion Week. (Instagram/@dhuwdhuwdhuw)

Belakangan ini, istilah Citayam Fashion Week kerap ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas, khususnya di media sosial. Panggung ini diciptakan oleh para remaja Citayam, Depok, dan Bojong Gede, Bogor yang sering berkumpul di Jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, dan Jakarta Pusat dengan memakai pakaian street style yang cukup modis.

Tak hanya remaja Citayam dan Bojong Gede, remaja lain dari Bekasi hingga penjuru DKI Jakarta pun kerap berkumpul di kawasan tersebut, menjadikan Terowongan Kendal, Stasiun Dukuh Atas, dan Jalan Jenderal Sudirman sebagai tempat untuk jalan-jalan dan bermain.

Dilihat dari akun Instagram @dhuwdhuwdhuw pada Senin (18/7), terdapat beberapa postingan yang memotret wilayah Jalan Jenderal Sudirman penuh dengan remaja berkumpul dengan kelompoknya masing-masing dengan pakaian street style yang cukup menarik perhatian. Ada yang memakai hoodie, ikat kepala, topi, jeans dengan bordiran besar, kemeja yang dilipat, dan juga kacamata.

Tak sedikit fotografer yang sengaja datang ke wilayah tersebut untuk berlomba memotret gaya mereka. Mereka meminta para remaja SCBD untuk bergaya seperti menyebrangi zebra cross, berjalan di trotoar, atau bergaya ekspresif dengan latar belakang gedung yang tinggi.

Ramainya fenomena ini di media sosial mengundang berbagai macam komentar dari netizen Indonesia, salah satunya pemilik akun TikTok bernama @varesasenio yang memberikan komentar positif atas unggahan video yang menayangkan aksi Citayam Fashion Week pada akun TikTok bernama @syaslash yang diunggah pada Minggu (17/7).

“Gapapa dah daripada tawuran, balap liar, mending gini dah asal gak merugikan orang lain,” ungkapnya.

Selain itu, tak sedikit pula netizen yang memberikan komentar negatif atas fenomena tersebut, salah satunya pemilik akun TikTok bernama @telurpuyuhoriginal pada video yang diunggah oleh akun TikTok @tempo.co pada Senin (18/7).

“Bikin macet saja di negara sendiri”, ujarnya.

Namun disadari atau tidak, apa yang telah dilakukan oleh para remaja SCBD tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap narasi kemapanan dan standar kelayakan masyarakat yang disampaikan melalui fashion. Mereka datang ke tempat yang dicitrakan sebagai metropolitan dan selama ini dikesankan milik high class.

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Asep Suryana menilai bahwa remaja-remaja tersebut merupakan anak-anak generasi kedua. Orang tuanya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga kurang mampu untuk membeli rumah di Jakarta, dan terpaksa memilih untuk tinggal di daerah pinggiran seperti Citayam.

Saat menempuh Program Pascasarjana Sosiologi di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia tahun 2006, Asep membahas Citayam dalam tesisnya yang berjudul “Suburbanisasi dan Kontestasi Ruang Sosial di Citayam, Depok”.

Asep menjelaskan bahwa remaja Citayam ini merupakan kaum bawah yang berasal dari pelosok dan harus diterima di Dukuh Atas, tempat yang didominasi dengan stigma modern dan bersih. Namun, Asep meminta agar masyarakat tidak memberikan stigma buruk kepada mereka, melainkan memfasilitasinya dengan baik karena mereka juga memerlukan masa depan.

Stigma negatif yang diberikan kepada remaja-remaja tersebut seharusnya direkayasa supaya bergeser. Mereka harus mengakomodasi dari tempat mainnya, kegiatan, dan lainnya. Mereka butuh pengembangan diri, kalau gagal, kemungkinan mereka bisa jadi calon preman.

Sejumlah remaja pada ajang Citayam Fashion Week. (Instagram/@dhuwdhuwdhuw)

Sementara itu, fenomena ini juga dapat dinilai memiliki keunikan sebagai hal positif untuk membawa Jakarta sebagai kota multikultural. Layaknya kota elit di dunia, keberagaman fashion, bahasa, hingga tempat berekspresi sepatutnya ada di Jakarta.

Menurut pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, Jakarta sudah seharusnya memiliki ruang publik untuk berekspresi, khususnya bagi generasi muda. Fenomena SCBD juga tidak sebatas remaja datang dan menikmati suasana Ibu Kota. Hal ini juga dapat mendorong Pemrov DKI Jakarta untuk memaksimalkan potensi dari generasi muda. Misalnya, mengadakan pentas skala kecil.

Terdapat tiga faktor dalam fenomena remaja SCBD, yaitu faktor penarik, pendorong dan mobilitas. Faktor penariknya adalah Jakarta sedang berbenah, mulai banyak memiliki public space. Hal itu menjadi daya tarik banyak orang, termasuk generasi muda dari pinggiran Ibu Kota.

Lalu, faktor pendorong lebih ke ekspektasi anak muda untuk menjadi bagian dari wilayah Ibu Kota. Seperti, bekerja atau menjadi warga Jakarta. Menurutnya, permasalahannya adalah banyak remaja SCBD yang tidak mempunyai karakteristik budaya yang sama dengan warga perkotaan.

Sementara itu, menyoroti faktor mobilitas, Rissalwan mengapresiasi perhatian Pemprov DKI terhadap akses transportasi yang semakin mudah dan murah. Namun, faktor yang membuat viral fasilitas tersebut ialah momentum libur sekolah.

Melansir dari Antara News, Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta memberikan tanggapan bahwa fenomena Citayam Fashion Week tersebut memerlukan pembinaan agar lebih terarah. Alasannya, kawasan Dukuh Atas atau yang berada dekat Stasiun Sudirman City itu merupakan kawasan lalu lintas yang juga banyak kendaraan lalu lalang.

“Pemberian edukasi, pemberian pemahaman bahwa ruang ketiga harus dibuat sedemikian rupa sehingga mereka nyaman”, kata Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana, dilansir dari Antara News pada Selasa (19/7).

Ia menilai peragaan busana atau dikenal “Citayam Fashion Week” itu merupakan sebuah fenomena baru dari aktivitas generasi muda dalam pengembangan ekspresi dari sisi kesenian. Untuk itu, ia tidak ingin kegiatan ekspresi anak muda itu ditindak.

Mengenai fenomena ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun memberikan tanggapan. Ia menjelaskan bahwa ruang ketiga yang sudah dibangun tersebut memang disediakan sebagai ruang yang menstaterkan.

Jalan Sudirman dengan trotoar selebar itu tidak hanya diperuntukkan kepada masyarakat menengah ke atas dan pekerja wilayah itu saja, melainkan siapa pun, termasuk warga Jabodetabek lainnya bisa menikmati wilayah tersebut dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang ada. Bahkan Anies berujar, demokrasi itu terjadi di tempat ini, siapa saja bisa menikmati, dan ketika membangun dikerjakan tidak sendiri, tapi berkolaborasi.

Bonge dan Diskriminasi Kelas Terhadapnya

Bonge dan Diskriminasi Kelas Terhadapnya

Penulis Tia Kamilla; Editor Ahmad Haetami

Potret Bonge dan Kurma di Sudirman (TikTok/@KutipanX)

Belakangan ini ramai konten TikTok yang mewawancarai para remaja yang berasal dari berbagai daerah seperti Citayem, Bojong Gede, Bogor, yang sedang bermain di kawasan Dukuh Atas dan Sudirman. Content creator menanyakan kisah percintaan, harga pakaian, sampai uang jajan. Pada awalnya, tren tersebut tampak biasa saja, namun reaksi yang ditimbulkan oleh warganet, justru membuat kelas sosial di masyarakat tampaklah nyata.

Jakarta dengan transportasi umumnya yang sudah terintegrasi dengan kota lain di Jabodetabek mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi oleh masyarakat, terutama anak-anak muda. Salah satunya adalah kawasan Sudirman dengan Sudirman Central Business District (SCBD) yang terdiri atas kantor dari perusahaan-perusahaan ternama.

Namun, sejak Anak Baru Gede (ABG) dari luar kota terus berdatangan ke kawasan Sudirman yang dianggap elit dan hanya untuk orang-orang dari kelas atas saja itu membuat warganet merasa jika keberadaan mereka merusak citra kota yang penuh dengan kemewahan dan estetik.

Adanya Diskriminasi Kelas Sosial

Piramida stratifikasi sosial (sumberbelajar.kemdikbud.go.id)

Warganet menilai jika gaya berpakaian dan tingkah laku orang-orang luar Jakarta yang datang ke Jakarta sangat kontras dengan citra kawasan elit. Warganet terus melakukan komentar-komentar yang mengarah pada diskriminasi kelas sosial di masyarakat. Warganet beranggapan jika orang-orang dari kelas atas (upper class) saja yang mempunyai peran dan fungsi yang penting di dalam masyarakat.

Istilah kelas sosial terbentuk karena adanya masyarakat yang beragam. Masyarakat yang beragam ini, nantinya akan terbagi menjadi kelas-kelas sosial tertentu. Mulai dari kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Masing-masing kelas sosial mempunyai peran dan fungsi berbeda di dalam masyarakat.

Faktor yang membentuk adanya kelas sosial ini yaitu di tingkat ekonomi, pendidikan, status sosial, kekuasaaan dan lainnya, yang akan memengaruhi jenjang kelas sosial seseorang di masa depan. Namun, adanya kelas sosial ini, seharusnya tidak membuat kita menghakimi dan menilai rendah satu sama lain.

Mengecap “Jamet” sebagai Tanda Merendahkan

Tidak ada yang salah dengan orang luar Jakarta mengekspresikan diri mereka sendiri lewat gaya pakaian atau tingkah laku, tetapi banyak warganet yang merasa terusik dengan mereka. Warganet banyak yang melabeli mereka dengan istilah “jamet”.

Tanpa disadari, penggunaan kata “jamet” tentu bentuk merendahkan individu yang bersangkutan, karena biasanya kata “jamet” ini hanya diberikan kepada mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Seolah ibu kota hanya boleh dinikmati oleh orang-orang yang berasal dari kota dan kelas atas saja.

Penilaian ini tidak bisa dibiarkan karena ibu kota tidak hanya diisi oleh kelas menengah atas saja. Masih banyak perkampungan di sekitar pinggiran Jalan Sudirman yang saat ini masih berdiri. Kita tidak boleh menutup mata kita terhadap kesenjangan sosial tersebut dan bisa hidup saling menghormati tanpa perlu membandingkan tentang perbedaan kelas sosial yang terjadi.

Kekuatan Radio dalam Berteman dengan Pendengarnya

Kekuatan Radio dalam Berteman dengan Pendengarnya

Reporter Mazaya Riskia Shabrina; Editor Dani Zahra Anjaswari

000 
Talking: Raditya Hardanto 
sing Power of Radio 
n 
ON AIR 
84 
Partic i pants 
america 
"RADI 
U n mute 
Start V ideo 
Share Screen 
Record 
Live Transcript 
Reactions
Diskusi oleh Atamerica dengan tajuk “The Surprising Power of Radio”. (DNK TV/Mazaya Riskia Shabrina)

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengadakan diskusi virtual dengan tema “The Surprising Power of Radio” melalui Zoom Meeting Cloud dan siaran langsung di seluruh media sosial Atamerica pada Rabu (6/4).

Tujuan diadakan kegiatan ini untuk berbagi cerita mengenai kekuatan radio yang belum diketahui oleh banyak orang dalam menyatukan para pendengarnya. Kegiatan ini dihadiri oleh Jurnalis Multimedia Voice Of America (VOA), Rivan Dwiastono, Radio Host Media Nusantara Citra (MNC) Trijaya FM, Riri Artakusuma, dan Group Head Content Mahaka Radio Integra (MARI), Raditya Hardanto.

“Sejak awal abad ke-20 berarti kurang lebih sudah satu abad lamanya radio masih ada dengan misi yang sama untuk memberikan hiburan, berita, dan informasi bagi pendengarnya. Bahkan berdasarkan data Statistik tahun 2021, sebanyak 82,5% penduduk di Amerika Serikat lebih sering mengakses radio dibanding platform lainnya,” tuturnya.

Rivan juga menambahkan bahwa radio mempunyai banyak keistimewaan yang belum tentu dimiliki oleh platform lainnya dalam menjangkau audiens.

“Radio itu menjangkau semua, dalam artian radio merupakan satu-satunya media yang bisa dinikmati oleh orang yang buta aksara selama masih memiliki indra pendengaran,” ujarnya.

Narasumber lainnya Radio Host MNC Trijaya FM, Riri Artakusuma juga menyetujui pernyataan yang dipaparkan oleh Rivan. Riri merasa radio tidak akan tertinggal oleh berbagai perubahan yang hadir dalam platform digital selama manusia memiliki imajinasi.

“Radio itu nggak ada matinya. Ada beberapa hal yang nggak bisa mengganti keberadaan radio itu sendiri. Sepanjang manusia punya imajinasi, radio itu nggak akan mati,” tutur Riri.

You are viewing Raditya Hardanto'sscreen 
View Options v 
Recording 
Makes me fee to 
Helps where 
M*es ave cmnected to my cannunity 
Wkes 
Makes me É•el less stressed 
feel less concernedlpnided 
Source: Nielsen Study March 2020 
• Sebanyak 53% orang merasa radio menjadi sumber Segala informasi yang 
dibutuhkan. 
• Sedangkan sebanyak 46% menganggap radio sebagai sumber informasi tempat 
belanja. 
Radio host 
menjadi teman 
favorit selama 
menghabiskan 
waktu di masa 
pandemi, 
khususnya ketika 
lockdown. 
View 
Your network bandwidth is low 
I (Saditya 
U n mute 
Start V ideo 
133 
Partic i pants 
Share Screen 
Record 
Live Transcript 
Reactions
Data frekuensi pendengar radio yang diperoleh oleh Nielsen pada bulan Maret 2020. (DNK TV/Mazaya Riskia Shabrina)

Selanjutnya Group Head Content MARI, Raditya Hardanto juga memaparkan bahwa radio adalah teman bagi masyarakat. Berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View pada bulan Maret 2020 lalu tepatnya ketika kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di Indonesia, penyiar radio adalah teman favorit selama menghabiskan waktu di masa pandemi.

Hal tersebut dipastikan dari adanya peningkatan jumlah pendengar radio, terutama pendengar yang ingin mendapatkan informasi mengenai krisis bencana alam atau pandemi.

Raditya beranggapan bahwa apa pun kondisi yang terjadi, bahkan di tengah krisis sekalipun pengiklan harus tetap mempromosikan produk yang dihasilkan oleh brand yang bersangkutan. Keadaan seperti ini dapat menjadi jembatan penghubung supaya radio tetap berkembang bagaimana pun keadaannya.

“Bagaimana radio masih eksis sampai sekarang karena dua hal. Pendengar yang selalu setia mendengarkan dan pengiklan yang mau beriklan di radio karena suka dengan konten yang disajikan,” tutur Raditya.

Tiba di penghujung acara, moderator dari acara tersebut, Agatha Theodora menutup diskusi dengan menyimpulkan bahwa radio itu tidak akan pernah mati. Radio adaptif sebab dapat mengikuti perubahan dan selalu dekat dengan para pendengarnya.

Webinar Komunitas Kejar Mimpi Jakarta Bertajuk “Toxic Relationship”

Webinar Komunitas Kejar Mimpi Jakarta Bertajuk “Toxic Relationship”

Reporter Syaifa Zuhrina

ISTILAH TOXIC 
Segala hal yang merugikan dan 
membuat diri tidak berkembang, 
bisa sebuah pemikiran, perilaku, 
atau Tindakan tertentu. 
Toxic Positivity 
Toxic Masculinity 
Toxic Environment 
Toxic Behavior 
Toxic Productivity 
Toxic Relationship
Materi yang dipaparkan saat kegiatan. (Dokumentasi Istimewa)

Komunitas Kejar Mimpi Jakarta bersama CSR Cimb Niaga menyelenggarakan webinar bertajuk “Toxic Relationship” secara virtual melalui Zoom Meeting pada Minggu (27/3).

Acara ini dihadiri oleh narasumber yang merupakan Psikolog dan Supervisor Mentor Satu Persen, Muhammad Syibbli, ratusan peserta, dan didukung oleh beberapa media patner.

Salah satu project leader, Shinta merasa bersyukur dan tidak menyangka terhadap antusias peserta pada kegiatan ini.

“Tentu saya sangat berterimakasih kepada rekan-rekan panitia yang turut saling membantu menyukseskan acara ini, begitu singkat waktu kita dalam menyebarkan flyer acara, namun peserta yang mendaftar dapat memenuhi target, hal itu membuat saya merasa senang dan bersyukur sekali,” ujar Shinta.

Zccm Meeting 
Recording. n 
manic 
momc 
% yuliani 
Viet,' 
nibras Aulia 
X ABEY 
Dini Safira 
X Dini Safira 
Syibbli Zainbrin 
r Ina Fanduwinata 
Sintan 
% Febiola Stefani 
panitia_Andina Fitriana 
Suzielia 
Suzielia 
Arlin liliana Alma 
aprivia maulin Arlin liliana Alma 
68 
% Modérator_lkbal A muddin 
ALVI SEFTI','AWAN 
yuliani 
Ulul Muzayyanah 
% ulul Muzayyanah 
Pan itia_Aminah... 
Panitia_Aminah Puji Antika 
ROSSY ANDELI 
ROSSV ANOELI 
X Farra Hurul Aini 
Activate Windows 
Stop Video 
Share Screen pause/StopReco•rding Breakout Rooms 
Reactions 
to Settings to activate Windo 
Apps 
Q)) ENG 
3/27/2022
Foto bersama peserta. (Dokumentasi Istimewa)

Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB yang dipandu oleh salah satu member Kejar Mimpi Jakarta, Ikbal Alimuddin.

Pada kegiatan tersebut, Leader Kejar Mimpi Jakarta, Revin Ananda juga memaparkan bahwa ini merupakan event perdana mereka di tahun 2022 yang antusias pesertanya berasal dari eksternal komunitas, setelah sebelumnya sudah diadakan event pengembangan skill untuk pihak internal saja.

“Alhamdulillah juga melalui tim panitia kami yang begitu solid, kami pun mampu menjalin kerja sama dengan 12 media partner dari berbagai bidang dan mampu memenuhi target peserta yang kami rencanakan dalam waktu yang begitu singkat,” tuturnya.

Ia juga berharap kedepannya komunitas Kerja Mimpi yang ada di seluruh Indonesia khususnya Jakarta, mampu senantiasa menciptakan event-event bermanfaat lainnya.

Vandalisme Tugu Sepatu, Mahasiswa: Tolong Lebih Cerdas Berkarya

Vandalisme Tugu Sepatu, Mahasiswa: Tolong Lebih Cerdas Berkarya

Reporter Syaifa Zuhrina; Editor Ainun Kusumaningrum

Tugu Sepatu di depan Stasiun BNI City
Sumber : Instagram-@fritzdby

Tugu sepatu yang tepatnya berada di depan Stasiun BNI City, Jakarta Pusat mulai dipamerkan sejak Rabu (15/9). Namun sayangnya baru beberapa hari dipamerkan, tugu tersebut sudah menjadi sasaran aksi vandalisme.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengaku prihatin dengan adanya aksi tersebut. Menurutnya, pencoretan itu tidak pada tempatnya.

“Tentu kami prihatin. Kreativitas itu baik dan penting, kami berikan kesempatan seluas luasnya bagi generasi muda khususnya untuk meningkatkan kreativitas. Namun demikian harus tahu tempatnya.”

Ia pun menambahkan, tugu tersebut merupakan bagian dari ikon Jakarta, maka dari itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan segera mengusut  tuntas pelaku pencoretan tersebut.

“Ya, tentu nanti aparat akan mengusut tuntas siapa yang melakukannya,” tegas Riza.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria
Sumber : Instagram-@kontributorjakarta

Menanggapi kabar tersebut, salah satu mahasiswa UIN Jakarta yang berdomisili di sekitar Jakarta Pusat, Sayyid Syafiq sangat menyayangkan adanya kejadian ini.

“Sangat disayangkan karena tujuan membuat patung sepatu tersebut antara lain untuk memperindah wilayah itu dan membuat orang lain pun kagum ketika melihatnya. Membuatnya pun menggunakan dana yang tidak sedikit.Tetapi malah di coret-coret dengan kegiatan vandalisme yang tidak jelas tujuan dan motifnya, “ucapnya.

Sayyid juga berharap agar pemuda lebih cerdas lagi dalam menciptakan karya, bukan malah merusak karya.

“Lebih cerdas lagi dalam berkarya. Dari mulai memilih tempat, motifnya seperti apa, tujuannya untuk apa, dan lainnya. Agar karya yang kalian buat tidak sia-sia dan mendapatkan apresiasi dari banyak orang.”

Uji Coba Sekolah Tatap Muka Pertama Kali di Jakarta

Uji Coba Sekolah Tatap Muka Pertama Kali di Jakarta

Reporter Diva Raisa; Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Uji coba sekolah tatap muka SDN Petojo Utara 05, Gambir
Sumber: Instagram-dkijakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi melakukan uji coba belajar tatap muka di 85 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMK, SMA, mulai hari ini hingga 29 April 2021 mendatang.

Tercatat 85 sekolah dianggap aman oleh pemerintah dari segi tenaga pendidik, fasilitas, dan protokol kesehatan yang lengkap, dikarenakan telah lolos penilaian oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Dari setiap jenjang pendidikan tidak masuk sekolah secara bersamaan. Mereka melaksanakan sekolah tatap muka secara bergantian pada hari yang sudah ditentukan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, mengatakan dengan diselenggarakannya pembelajaran tatap muka, para peserta didik diharapkan bisa memperoleh layanan pendidikan yang lebih optimal.

“Melalui ini kita harapkan anak-anak bisa terpenuhi hak-haknya dalam memperoleh pendidikan. Kita harus akui PJJ selama ini tidak dapat disamakan dengan pembelajaran tatap muka,” ujar Menko PMK seperti dikutip dalam keterangan yang dirilis pada situs resmi Kemenko PMK.

Uji coba tatap muka ini sudah disetujui oleh para orang tua, serta mempunyai hak penuh untuk memutuskan anak nya tetap belajar daring atau tatap muka. Salah satunya SMK Budi Mulia Jakarta Timur.

Kegiatan belajar mengajar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan
Sumber: Instagram-dkijakarta

Seorang siswi kelas 12 SMK Budi Mulia Jakarta Timur, Febri Liyanti mengatakan bahwa tatap muka lebih efektif daripada daring.

“Menurut aku lebih enak tatap muka, karena apa yang dijelaskan guru bisa lebih dimengerti, lebih mudah juga kalau mau sharing sama teman tanpa harus adanya keterbatasan internet, juga lebih leluasa kalau mau bertanya ke guru,” ujarnya kepada tim DNK TV.

Beberapa mata pelajaran dan kegiatan sekolah ditiadakan seperti olahraga, kantin, dan berbagai macam ekstrakurikuler. Sebab aktivitas tersebut dikhawatirkan akan melanggar protokol kesehatan.

Ia juga menambahkan, uji coba ini dinilai aman, selama para siswa menerapkan protokol kesehatan.

“Kalo menurut aku si aman, kalau kita menaati protokol kesehatan, menjaga jarak dan memakai masker, serta membawa alat tulis masing-masing yang tidak dipinjam,” tambah Febri.

Harapannya dengan diadakan uji coba ini, dapat mendukung pendidikan dan karakter secara intensif, sehingga dapat diukur tingkat keberhasilannya sesuai nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh institusi pendidikan.