Menghargai Perbedaan dan Toleransi

Menghargai Perbedaan dan Toleransi

Oleh Farah Nur Azizah; Editor Farhan Mukhatami

Ilustrasi Toleransi
Sumber: Shutterstock.com

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi sikap egaliter, serta tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan strata sosial, harta benda, maupun perbedaan ras.

Salah satu sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap umat islam adalah sikap saling menghormati dan menghargai. Dalam kehidupan bersosial masyarakat, seringkali masyarakat diminta mengerti terhadap aktivitas keagamaan tertentu.

Namun pada video yang beredar, salah satu dosen UIN Jakarta, Zubair menuai kritik terhadap organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama (NU) yang dinilai menghina organisasi tersebut. Menurutnya, pernyataan itu disampaikan dalam forum perkuliahan guna memancing nalar kritis mahasiswa untuk berdiskusi, bukan bertujuan untuk menghina. Lantas, Zubair tetap meminta maaf karena telah berbuat gaduh.

Kritik keras yang dilontarkan oleh Zubair terkait NU yang dinilai kolot karena memegang mazhab akidah Asy’ariyah, dimana menurutnya hal itu menyebabkan NU sulit maju.

“Asy’ariyah itu membingungkan dan tidak produktif, tidak progresif, tidak inovatif, tidak kreatif bikin orang bodoh dan terbelakang itulah Asy’ariyah, makanya NU tidak maju-maju,” ujar Zubair dalam rekaman video yang beredar.

Namun begitu, Zubair sudah memberikan klarifikasi dan permintaan maafnya.

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Ini kejadiannya dalam kelas kuliah Studi Islam sebagai tempat mengekspresikan kebebasan akademik. Maksud saya sama sekali bukan untuk menyinggung perasaan, tetapi cara saya mengajak mahasiswa berfikir kritis. Mohon maaf jika metode saya kurang bijak.”

Lambang Ukiran Nahdatul Ulama
Sumber: Twitter-@FullUkir

Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia, harusnya sudah baik dalam menerapkan toleransi. Sebab sebagai seorang muslim kita harus menghargai perbedaan pendapat antar satu dengan yang lainnya.

Sementara itu Kepala Laboratorium sekaligus Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Zakaria beranggapan bahwa sebuah kritik dalam ranah akademik itu hal biasa. Karena kritik yang dilontarkan untuk membangun perbaikan di masa depan. Kritik yang seimbang bisa dibenarkan, sedangkan kritik yang menghakimi itu harus dihindari.

“Kritik konstruktif dalam ranah akademik adalah hal biasa. Kritik membangun untuk perbaikan dimasa depan harus terus dihidupkan. Kritik yang elegan, seimbang, berdasarkan fakta dan data bisa dibenarkan. Namun kritik yang menghakimi, tidak seimbang, melecehkan dan menjatuhkan harus dihindari. Apalagi kritik terhadap dua ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah, dan disampaikan di ranah publik harus benar-benar objektif, seimbang dan konstruktif,” paparnya.

Sementara itu, mahasiswa UIN Jakarta, Nurul Hilaliyah beranggapan bahwa Islam datang sebagai agama yang rahmatan lil‘alamin atau membawa rahmat bagi semesta alam. Walaupun berbeda golongan organisasi tetap harus menghargai pendapat dan perbedaan. Bukan dengan menyudutkan bahkan membuat argumen yang mengarah pada provokasi.

“Kita kembali lagi pada asas Islam yaitu rahmatan lil’alamin dimana Islam datang dengan menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan memberi kedamaian kepada kita semua, maka dari itu walaupun berbeda golongan organisasinya kita tetap harus menghargai pendapat dan perbedaan, bukan malah menyudutkan atau bahkan membuat statement yg mengarah ke provokasi”, ungkap Nurul.

Maka dalam berpendapat perlu diterapkannya berpikir sebelum berbicara. Berpikir bagaimana efek kedepannya, jangan sampai terjadi provokasi dan kita harus bisa menghargai perbedaan yang ada bukan saling menyudutkan satu dengan yang lainnya.

Perspektif Islam mengenai Pernikahan Dini

Perspektif Islam mengenai Pernikahan Dini

Reporter Annisa Nahwan; Editor Ainun Kusumaningrum

Visualisasi pernikahan dini
Sumber: Instagram-@aboutsragen

Pernikahan dini siswi SMP Negeri 1 Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Maluku, dinikahkan oleh orang tuanya yang merupakan ketua MUI. NK yang masih berusia 15 tahun 9 hari diketahui dinikahkan oleh orang tuanya dengan sang Ustadz sekitar dua pekan yang lalu.

Mengenai hal ini Dosen UIN Jakarta, Lily Musfirah Nurlaili menjelaskan pandangan Islam mengenai hal ini sesungguhnya tidak ada batasan pasti terkait usia pernikahan wanita.

“Nabi menikahi Aisyah usia 6 tahun, usia 9 tahun baru memulai kehidupan keluarga (bercampur) karena pada masa lalu seperti pada masa Nabi hidup kondisi sosial tertentu membuat mereka secara psikologis sudah matang jiwa dan emosinya sekalipun masih di usia dini.”

Lily menyambung tentang pernikahan dini dalam pertimbangan kematangan jiwa dan emosi.

“Islam membatasi di usia 18 tahun itu hanya semata-semata karena pertimbangan kematangan jiwa dan emosi dimana memang sangat dibutuhkan bagi wanita yg kelak jadi Ibu Rumah Tangga. Pada umumnya usia dini memang masih labil dan belum siap jiwa dan emosinya untuk menikah, karena dikhawatirkan nanti akan muncul kecenderungan banyak mudarat saat menjalani rumah tangga.”

“Sementara dari aspek hukum, pernikahan dini tidak ada masalah sepanjang syarat dan rukunnya terpenuhi. Hanya saja dari aspek kepribadian, kematangan, jiwa, dan emosi patut menjadi pertimbangan agar tujuan pernikahan dapat tercapai. Dengan kata lain pernikahan usia dini sebaiknya dihindari karena alasan di atas tadi.” pungkasnya.

Ilustrasi pertengkaran akibat pernikahan dini 
Sumber: pixabay.com

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Tesla Fikriyyah menyebutkan akibat yang memengaruhi psikis korban karena pernikahan dini, di antaranya:

  1. Mental down, karena kesiapan psikis nya belum matang secara keseluruhan, sehingga merasa tertekan ketika berumah tangga.
  2. Self-esteem rendah. Kepercayaan diri yang rendah dikarenakan mayoritas teman-teman nya masih mengemban pendidikan sekolah sedangkan si “anak” sudah diberikan tanggung jawab untuk membina rumah tangga.
  3. Stres dan depresi, dikarenakan faktor kurang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pasangan yang tidak saling mengerti satu sama lain, tidak bisa memecahkan masalah dalam rumah tangga, pihak istri/suami terlalu egois.
  4. Pengelolaan emosi rendah karena masih belum bisa mengontrol emosi secara baik dikarenakan belum dewasa secara matang.

Menilik Pekerja Sosial dan Hubungannya dengan Islam

Menilik Pekerja Sosial dan Hubungannya dengan Islam

Reporter Laode M. Akbar; Editor Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah Bersama Siti Napsiyah dengan tema “Islam dan Pekerjaan Sosial”,Kamis (10/06)

UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co menyelenggarakan Bincang Hikmah dengan tema “Islam dan Pekerjaan Sosial” melalui virtual Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal YouTube Akuratco, pada Kamis (10/6).

Acara ini dimoderatori oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta Tantan Hermansyah dengan narasumbernya yaitu Wakil Dekan Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta Siti Napsiyah. Turut hadir Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta Ahmad Zaky, Pimpinan Umum Akurat.co Afriadi, serta peserta dari berbagai kalangan.

Dalam pemaparannya, Siti Napsiyah menjelaskan terkait pekerja sosial atau social work. Pekerja sosial merupakan “both activity and profession” yang berarti pekerja sosial diartikan sebagai aktivitas dan profesi. Aktivitas yang dilakukan oleh pekerja sosial non profesional merupakan aktivitas pekerja sosial biasa yang dilakukan di dalam masyarakat.

Dalam pandemi Covid-19, pekerja sosial dapat berkontribusi di semua permasalahan sosial baik itu di tingkat mikro, mezzo, maupun makro. Misalnya pertolongan kepada klien terkait psiko-sosial, psiko-terapi, rehabilitasi, serta pekerjaan-pekerjaan yang bersifat pengarahan.

“Jadi  mind streaming-nya itu, raising awareness-nya itu peran kami (dalam protokol kesehatan), misalnya dukungan-dukungan psiko-sosial dengan poster-poster, dengan kampanye, dengan diskusi, bahkan ada teman saya banyak membuat tulisan-tulisan, bahkan membuat video yang sifatnya adalah tidak hanya berhenti di edukasi, tapi sudah refleksi dan kampanye untuk mind streaming,” ujarnya.

Siti Napsiyah dalam pemaparannya di Bincang Hikmah dengan Tema “Islam dan Pekerjaan Sosial”
Sumber: DNK TV_Laode

Dalam hubungannya dengan Islam, Siti Napsiyah mengatakan bahwa pekerja sosial atau kesejahteraan sosial bukan dianggap relasi lagi, tetapi merupakan dua hal yang sama. Nilai-nilai yang diajarkan dalam kesejahteraan sosial seperti menyantuni orang miskin dan anak yatim piatu, mewujudkan kemakmuran dan hidup layak, itu juga sejalan dengan nilai-nilai dalam Islam.

“Tinggal dalam praktek nyata kita kontekskan, kita bumikan keduanya dalam praktek yang lebih profesional,” tambahnya.

Terkait tantangan terbesar bagi pekerja sosial, ia menganggap tantangan sebagai peluang. Ia mengatakan bahwa profesi ini memiliki peluang banyak untuk hadir dengan profesi penolong lainnya. Seperti pada masa pandemi ini, di mana profesi tenaga kesehatan sangat diperlukan saat ini, namun pekerja sosial juga sangat berperan untuk mendukung tenaga kesehatan seperti di bidang psiko-sosial.

Tantangan selanjutnya yaitu di era digital 5.0, pekerja sosial harus memiliki kecepatan, ketepatan, dan kebenaran. Jika tidak bisa, maka pekerja sosial akan kesulitan dalam mengerjakan tugasnya sebagai penolong.

Kemudian, terkait pelayanan pekerja sosial, di era sekarang ini tidak hanya melalui panti dan rehabilitasi namun juga bisa dilakukan melalui online dengan catatan dan ketentuan berlaku.

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Reporter Cut Raudhatul Zahbi; Editor Tiara de Silvanita

Bincang Hikmah yang diselenggarakan oleh Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co

Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co menyelenggarakan Bincang Hikmah secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal youtube Akurat.co pada Jum’at (28/5) pukul 10.00 WIB.

Topik perbincangannya mengenai “Islam di Turki” yang dipandu oleh Ketua Program Magister KPI, Tantan Hermansyah dan narasumber Dosen Fdikom UIN Jakarta, Deden Mauli Darajat.

Deden menjelaskan bahwa Turki merupakan negara berbentuk republik dimana sebelumnya berbentuk kesultanan. Negara Ini berpaham sekuler modern yaitu terdapat pemisahan antara pemerintahan dan agama.

Dengan adanya perubahan bentuk negara, Deden menjelaskan bahwa terdapat perubahan sosial budaya, seperti bahasa yang digunakan sebelumnya bahasa Arab menjadi bahasa Turki dan sebagainya.

“Dulu menggunakan peci sekarang berubah menjadi topi. Orang-orang dulu mengenakan jubah sekarang menjadi jas,” ujar Deden.

Karena berpaham sekuler, ekspresi keislaman di negara yang sebagian besar menganut agama Islam itu tidak boleh ditampakkan di area pemerintahan seperti pada tahun 2009, yaitu  para mahasiswa dan dosen harus melepas hijab jika sudah berada di lingkungan universitas dan mengenakannya kembali ketika sudah tidak berada di lingkungan universitas. Hal tersebut juga terjadi di tempat-tempat sakral pemerintah seperti gedung pemerintah dan lainnya.

Namun, pada tahun 2012 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan merevisi aturan tersebut sehingga hijab boleh digunakan di lingkungan Universitas.

Deden Mauli Darajat sebagai pembicara memaparkan materinya.

Walaupun demikian, ekspresi tentang Islam di Turki tetap ada seperti gemar bersedekah,  menjamu  tamu atau organisasi relawan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Deden juga menjelaskan bahwa terdapat organisasi masyarakat (ormas) Islam di Turki walau tidak terlalu nampak.

“ormas-ormas Islam di sana tetap hadir meski diawasi oleh pemerintah. Namun , ketika Endorgan berkuasa Ormas islam sudah mulai terlihat”.

Tradisi Islam di Turki sangat berbeda di Indonesia melihat bahwa di Turki hanya berlaku satu mazhab saja yaitu mazhab hanafi, sedangkan di Indonesia mempunyai mazhab yang berbeda-beda.

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Reporter Ariqah Alifia;  Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah dengan tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual (5/5).

Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) bekerja sama dengan Akurat.co kembali menggelar program Bincang Hikmah mengusung tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual melalui Zoom Meeting dan Streaming Youtube Akurat co pada Rabu, (5/5).

Materi kegiatan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta sekaligus Pakar Sosiologi Pendidikan, Suparto dan dimoderatori oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta, Tantan Hermansah.

Dalam materinya, Dekan Fdikom Suparto memaparkan bahwa pendidikan merupakan tradisi tertua dalam proses sosialisasi manusia yang mewariskan nilai, norma, dan sikap kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Pendidikan dibangun berdasarkan realitas apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini, berbasis realitas dan kepentingan” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan terdapat minimum 3 aspek yang harus ditegakkan dalam pembangunan pendidikan, yakni pancasila, budaya, dan agama. Aspek Pancasila digunakan sebagai sumber nilai yang diambil dari tradisi dan norma, sedangkan budaya ialah yang mewarnai keberagaman dan kekayaan kehidupan bangsa.

Kontribusi budaya pada sistem pendidikan di Indonesia berbentuk local genius atau local wisdom yang dikembangkan berdasarkan lingkungan atau tradisi daerah tersebut. Aspek budaya merupakan wadah pengenalan siswa terhadap kebhinekaan bangsa Indonesia dan pemahaman menghormati sikap keberagaman itu, karena hakikatnya belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan sesungguhnya.

Dekan Suparto menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (5/5).

Narasumber juga menerangkan tiga teori Ki Hajar Dewantara yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, Trikon (Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris).

Kecemasan akan hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan diakibatkan adanya aspek kelembagaan dan agensi yang semakin berkembang. Transformasi aspek kelembagaan diibaratkan etalase, contohnya pesantren yang awalnya hanya sebagai tempat mengaji, kini terdapat sekolah formalnya, seperti SMA, SMK bahkan universitas. Itu sama dengan merubah kultur Islam pada sisi orientasi, tetapi disamping itu sebagai bukti modernisasi Islam dalam pendidikan sudah terlaksana.

Selain itu, aspek agensi para pengajar menggunakan perangkat-perangkat modern, pendekatan-pendekatan kekinian dalam pembelajarannya.

“Kita sebenarnya digiring untuk melupakan kesejarahan, bahwa ulama-ulama adalah orang-orang berilmu, yang selama keilmuan itu membesarkan nama Tuhan, lalu kemudian meninggikan hakikat Tuhan yang begitu mulia, itulah yang dinamakan ilmuwan. Begitu sebaliknya, siapa pun yang mendustakan kalam-kalam Tuhan, menistakan ajaran-ajaran agama sepintar apapun mereka bukan ulama.” tuturnya.

Akhlak mulia merupakan satu terma berbau agama yang dimunculkan, merupakan ajaran agama dan cerminan watak-watak Tuhan, berbeda dengan moralitas yang hanya berbasis keindahan. Di dalam pendidikan formal sendiri terdapat nilai kompetensi satu dan dua sebagai kompetensi sikap keagamaan dan sosial.

“Secara pribadi, peta jalan pendidikan nasional tentu bertentangan. Pertama dengan Pasal 31 UUD 1445, UUD Sisdiknas 2003, lalu bertentangan juga visi pendidikan Indonesia 2035, kalau boleh saya mengutip, visi pendidikan Indonesia 2035 itu adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, berkembang terus, sejahtera, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia menumbuhkan nilai-nilai agama, budaya Indonesia, dan Pancasila,” tegasnya.