Implementasi Kemerdekaan Pers 76 Tahun Kemerdekaan RI

Implementasi Kemerdekaan Pers 76 Tahun Kemerdekaan RI

Reporter Amanda Agnes Kasfillah; Editor Fauzah Thabibah

Majelis Pertimbangan Organisasi AJI Jakarta, Asnil Bambani sebagai salah satu narasumber, Sabtu (21/8).

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Jurnalistik  UIN  Jakata menggelar webinar pada Sabtu (21/8) secara virtual melalui video teleconference yang bertajuk ‘Implementasi Kemerdekaan Pers 76 Tahun Indonesia Merdeka’.

Webinar ini dihadiri oleh Kaprodi Jurnalistik yaitu Kholis Ridho dan kedua narasumber yakni, Dosen Jurnalistik UIN Jakarta, Asrori S Karni dan Majelis Pertimbangan Organisasi AJI Jakarta, Asnil Bambani.

Masih dalam rangka perayaan HUT ke-76 RI, webinar ini banyak membahas mengenai perjalanan pers dari masa reformasi hingga saat ini. Tak hanya itu, kedua narasumber juga banyak membahas mengenai kekerasan-kekerasan yang masih marak terjadi pada jurnalis-jurnalis di Indonesia.

Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik dengan visi misi untuk memenuhi hak publik untuk mendapatkan informasi, menegakkan nilai dasar demokrasi, supremasi hukum, HAM dan menghormati kebhinekaan serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Dalam menjalankan tugasnya, tak jarang para jurnalis mengalami kekerasan. Asnil Bambani menyebutkan, bentuk kekerasan itu berupa mobilisasi massa/penyerangan kantor redaksi (30%), kekerasan fisik (20%), perusakan, perampasan alat kerja saat liputan (18%), dan ancaman kekerasan/teror (10%).

“Kekerasan pada jurnalis bukan hanya berupa kekerasan fisik, melainkan juga bisa berupa peretasan media dan juga akun media sosial, email, gojek dan akun pribadi jurnalis,” ujar Asnil Bambani.

Di era digital saat ini, seorang jurnalis  sangat memerlukan digital security untuk menghindari kekerasan tersebut.

Peserta webinar “Implementasi Kemerdekaan Pers 76 Tahun Indonesia Merdeka”.

Tak hanya itu, menurut Asrori, tantangan seorang Jurnalis menjadi bertamah dengan adanya iklim kebebasan yang menjadi ancaman tersendiri bagi pers di Indonesia.

“Problematika kebebasan pers masih menjadi hal yang serius, maka perlindungan hukum terhadap kebebasan pers ekosistemnya harus dibenahi secara khusus. Upaya mewujudkan kebebasan pers itu perlu diusahakan, karena kita seorang jurnalis perlu memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi sebaik-baiknya,” jelas Asrori.

Kebebasan pers merupakan agenda perjuangan bersama berbagai pihak dalam sebuah ekosistem: Pers, Negara, dan Masyarakat. Semoga para jurnalis bisa menjalankan tugas dengan aman tanpa perlu takut terjadi lagi kekerasan dalam bentuk apapun.

HUT RI ke-76, Mensekneg: Hentikan Kegiatan Tiga Menit Saja

HUT RI ke-76, Mensekneg:  Hentikan Kegiatan Tiga Menit Saja

Reporter Naura Aufani Zalfa; Editor Aulia Gusma Hendra

Mahasiswa yang ikut serta dalam menghentikas aktivitas dan melakukan sikap sempurna selama 3 menit pada tanggan 17 Agustus 2021 pukul 10.17 WIB.
Foto: Sulthon Naquein

Kini sudah tahun ke-2 Indonesia memperingati hari kemerdekaan ditengah pandemi Covid-19. Masih dalam suasana pandemi Covid-19, upacara bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 harus diselenggarakan secara terbatas.

Meski demikian, untuk memeriahkan HUT RI ke-76, pemerintah memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam Upacara 17 Agustus 2021 secara daring bersama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

“Upacara Virtual HUT ke-76 RI bisa diikuti hingga 40.000 peserta. Pendaftaran akan ditutup bila kuota maksimal sudah terpenuhi.” Ujar Pranata Humas Ahli Pertama Kemensetneg, Bayu Gialucca Vialli yang dilansir melalui Kompas Tren.

Dalam Upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka yang telah selesai digelar pada Kamis (17/8/2021), Presiden Joko Widodo bersama istrinya Iriana Joko Widodo mengenakan pakaian adat Lampung. Berbeda dengan Jokowi, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin bersama Istri Wury Estu Handayani mengenakan pakaian adat asal Sukabumi, Jawa Barat.

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo tiba dengan mengenakan pakaian adat Lampung, sementara Ibu Negara mengenakan busana nasional kain songket.
Sumber: Antara Foto

Berbeda dari tahun sebelumnya, pada Upacara HUT RI ke-76 di Istana Negara, Ketua DPR Puan Maharani bertugas membacakan naskah proklamasi. Dan saat dibacakan, naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno pun ditampilkan.

Keikutsertaan Mahasiswa dalam menyemarakkan HUT RI ke-76 melalui Upacara Virtual dengan Presiden dan Wakil Presiden.

Selain itu, Formasi pesawat tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) ikut memeriahkan peringatan HUT ke-76 RI. Dipantau dari siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden, formasi pesawat temput TNI AU itu disebut sebagai “Garuda Flight” yang terdiri dari delapan pesawat F-16 Figting Falcon.

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, selaku Ketua Panitia Negara Perayaan hari-hari Nasional dan Penerimaan Kepala Negara/Pemerintah Asing/Pimpinan Organisasi Internasional menyampaikan agar seluruh masyarakat dapat menghentikan kegiatan sejenak dan mengambil sikap sempurna pada 17 Agustus 2021 pada pukul 10.17 WIB.

“Hentikan semua kegiatan dan aktivitas Saudara selama tiga menit saja pada tanggal 17 Agustus 2021 pukul 10 lewat 17 menit Waktu Indonesia Bagian Barat,”

“Ambil sikap sempurna, berdiri tegak, untuk menghormati Peringatan Detik-Detik Proklamasi” Ujarnya dalam video yang ditayangkan pada Minggu, 15 Agustus 2021.

Dalam menanggapi imbauan ini, mahasiswa pun tergerak untuk ikut serta menghentikan segala aktivitas dan melakukan sikap sempurna selama 3 menit pada pukul 10.17 WIB. Salah satunya Sulthon Naquein, Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Padang. Ia menjelaskan, Mahasiswa sebagai agen perubahan dan penerus bangsa harus ikut serta dan mengenang sejarah dengan baik.

“Peran Mahasiswa sebagai agen perubahan dan juga penerus bangsa sangat diperlukan khususnya bagi kemajemukan dan juga kemajuan dari negara ini dengan menghargai jasa pahlawan yaitu dengan mengikuti sikap sempurna selama 3 Menit, yang artinya kita mengenang sejarah dengan baik.” Ujarnya.

Mahasiswa yang ikut serta dalam menghentikas aktivitas dan melakukan sikap sempurna selama 3 menit pada tanggan 17 Agustus 2021 pukul 10.17 WIB.
Foto: Sulthon Naquein

Selain itu, Sulthon berpendapat dengan mengikuti anjuran tersebut kita dapat menumbuhkan rasa Nasionalisme dan Patriotisme.

“Kita harus mengikuti anjuran untuk melakukan sikap sempurna pada 10.17 agar kita dapat menghargai jasa para pahlawan dan menumbuhkan rasa nasionalisme serta patriotisme bagi seluruh masyarakat.” Tambahnya.

Pemuda dan Makna Kemerdekaan Saat Ini

Pemuda dan Makna Kemerdekaan Saat Ini

Reporter Siti Nurhalizah; Editor Aulia Gusma

Peristiwa pembacaan naskah Proklamasi oleh Soekarno.

Pada 16 Agustus 1945, Soekarno-Hatta yang sedang diamankan di Rengasdengklok, Karawang dipaksa oleh golongan muda untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, kemudian perumusan naskah Proklamasi dilakukan di tempat tinggal Laksamana Maeda. Lalu, ditanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 pagi,
pembacaan teks Proklamasi berlangsung di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Sejak saat itu, Indonesia menjadi negara yang merdeka. Kini usia tanah air tercinta kita sudah menginjak 76 tahun. Dahulu, kemerdekaan dimaknai dengan bebasnya segala pengaruh penjajah atas tanah air kita. Kemerdekaan yang dimaksud adalah ketika para penjajah angkat kaki dari tanah ibu Pertiwi, ketika Indonesia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Lalu, bagaimana kemerdekaan dimaknai saat ini?

Dikutip dari KBBI, kata merdeka sendiri berarti bebas (dari perhambatan, penjajahan, dan lainnya), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, dan tidak bergantung kepada pihak tertentu.

Kemerdekaan bagi setiap insan bisa memiliki makna yang berbeda.  Ada yang memaknai kemerdekaan ketika ia berhasil melawan dirinya sendiri untuk maju dan keluar dari zona nyamannya, ada pula yang memaknai kemerdekaan ketika ia bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas. Bagi rakyat kecil, merdeka itu disaat perut terasa kenyang.

Visualisasi Naskah Proklamasi dalam sebuah bangunan
Sumber : Instagram_@kiwir

Bagi sebuah negara, kemerdekaan adalah saat dimana rakyatnya sejahtera, makmur dan bahagia hidup di tanah kelahirannya. Negara merdeka adalah negara yang rakyatnya bahagia.

“Jika kita kaji merdeka berdasarkan katanya saja, makna kemerdekaan saat ini itu adalah bagaimana cara kita merdeka untuk berfikir dan menyampaikan pendapat.” Ujar Firda Azil Mahasiswa UIN Jakarta. Ia mengatakan semua orang bisa dengan mudah dan bebas menyampaikan pendapatnya di era digital saat ini, inilah bentuk dari kemerdekaan.

Menurut Wakil Ketua Himpunan Program Studi Jurnalistik UIN Jakarta, Sulthony menjelaskan bahwa mayoritas pemangku kebijakan negara hingga masyarakat dibuat terlena oleh kata “kemerdekaan”, sehingga kemerdekaan hari ini berjalan stagnan. Ia berpendapat kini semangat kemerdekaan hanya sebatas formalitas perayaan, bukan perjuangan membangun bangsa.

Biasanya perayaan hari Kemerdekaan RI diperingati dengan berbagai acara perlombaan yang diadakan oleh rakyat di Indonesia dari Sabang-Merauke. Mulai dari lomba panjat pinang, makan kerupuk, hingga sepak bola durian di Kebumen  tak pernah absen dalam menghiasi warna-warni kemeriahan hari kemerdekaan Indonesia.

Di masa saat ini, peran para pemuda sangat dibutuhkan dalam mengisi kemerdekaan, bukan hanya dengan sekedar seremoni saja, tapi negara ini butuh kontribusi yang lebih dari pemudanya.

“Jika memang pendahulu kita yang membuat stagnasi ini terjadi, maka pemuda harus memulai pergerakan yang tulus untuk membangun bangsa, dan melawan stagnasi generasi pendahulu yang sedang menjadi pemangku kebijakan.” Ujar Sulthony.

Sebagai anak muda, cara kita mengisi dan menyikapi kemerdekaan saat ini tidak lagi dilakukan hanya dengan selebrasi-selebrasi biasa saja, melainkan pemuda Indonesia harus bisa menjadi pionir dalam membangun bangsa. Hal itu bisa melalui prestasi yang ditorehkan, pengabdian pada masyarakat, hingga cara kita sebagai pemuda mengenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia.

“Cara yang tepat untuk mengisi momen kemerdekaan saat ini adalah dengan mengkaji kembali sejarah-sejarah pendiri bangsa kita. Karena banyak pemimpin yang gagal karena ia tidak mengenal sejarah, kita sebagai anak muda yang nantinya akan menjadi pemimpin negara ini, sangat penting untuk benar-benar memahami sejarah perjuangan dan bagaimana Indonesia itu berproses.” Ucap Firda Azil.