Bahas Edukasi Seks, Guru Lumajang Kena Tegur Disdik

Bahas Edukasi Seks, Guru Lumajang Kena Tegur Disdik

Reporter M. Rizza Nur Fauzi; Editor Belva Carolina

Ilustrasi pendidikan seksual. (Freepik/@vectorjuice)

Sebagian masyarakat di Indonesia masih menganggap bahwa edukasi seksual merupakan hal yang tabu.

Durex Indonesia telah melakukan riset mengenai kesehatan reproduksi dan seksual dengan hasil menunjukkan 84% remaja berusia 12-17 tahun belum mendapatkan edukasi seksual.

Riset tersebut menjelaskan bahwa edukasi seksual mulai diperkenalkan pada usia 14-18 tahun. Padahal para ahli mengatakan, bahwa anak-anak usia dini sudah perlu diajarkan tentang edukasi seksual, tidak harus menunggu sampai mereka pubertas.

“Dari kecil (diajarkan), sehingga orang tua dibiasakan open-minded. Nanti kalau sudah besar tidak concern lagi. Agar tidak gelagapan (kalau ditanyai),” kata Rita Damayanti, Ketua Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, dilansir dari Detik.com pada Senin (28/03).

Salah satu kasus yang menunjukkan bahwa edukasi seksual masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia adalah adanya berita mengenai video pembelajaran seorang guru SD asal Lumajang yang akhir-akhir ini sempat ramai di media sosial.

Dalam potongan video tersebut, guru yang dipanggil Pak Ribut terlihat sedang menerangkan kepada murid-muridnya perihal perilaku penyimpangan seksual yang dilakukan kaum Sodom pada zaman Nabi Luth.

Sontak video itu ramai diperbincangkan di media sosial, membuat Ribut dipanggil oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, Kamis (24/3) untuk dimintai keterangan.

Video Pak Ribut yang menerangkan kepada murid-muridnya mengenai kaum Sodom pada zaman Nabi Luth. (TikTok/@R_DancerManagement)

Ribut memberikan klarifikasi bahwa ia merekam video tersebut setelah menjaga ujian Penilaian Tengah Semester (PTS) mata pelajaran Agama. Ia mengatakan bahwa sebenarnya video tersebut berdurasi 5 menit, dan dirasa tidak ada kejanggalan di dalamnya.

Ribut menjelaskan bahwa ia hanya menjawab muridnya yang bertanya mengenai kaum sodom kepadanya, dan semua yang telah diterangkan itu sudah ada di soal ujian dan juga buku paket siswa.

Usai dimintai keterangan, Ribut diberikan nasihat oleh Dinas Pendidikan untuk lebih berhati-hati lagi saat mengajar.

Terkait hal ini, Ade Masturi, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta memberikan tanggapan bahwa memang pendidikan seksual perlu diajarkan kepada murid-murid di sekolah, salah satunya di mata pelajaran biologi.

“Terkait pendidikan seks di sekolah, saya kira itu bisa saja ada kurikulumnya, dan saya kira di pelajaran Biologi secara umum ada disinggung, tapi tidak harus spesifik dan detail”, ujarnya kepada DNK TV pada Senin (28/03).

Ade juga memberikan tanggapan mengenai pembelajaran yang disampaikan Ribut mengenai kaum sodom kepada muridnya yang sempat kena teguran oleh Dinas Pendidikan.

“Kalau misal hanya menjelaskan sejarah bahwa dulu di zaman Nabi Luth ada kaum sodom yang memang itu perilaku menyimpang dan mendapatkan teguran dari Allah melalui Nabi Luth, tentu saja hal seperti ini tidak masalah dijelaskan, kecuali menjelaskan hal-hal yang sifatnya spesifik tentang sodomi atau memberikan contoh dan sebagainya itu baru tidak pantas,” jelasnya lagi.

Fadlil Chairillah, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta juga berpendapat bahwa apa yang telah Ribut sampaikan dalam video itu tidak ada masalahnya sama sekali. Bahkan jika Ribut tidak menjawab pertanyaannya, akan timbul rasa penasaran dalam benak siswa dan membawanya kepada hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dalam situasi tersebut, Pak Ribut menjawab pertanyaan dari seorang murid tentang kaum sodom, lantas Pak Ribut menjawab dengan gaya komunikasi yg sesuai. Sebagai seorang guru, kalau semisal pak Ribut tidak menjawab, maka akan timbul rasa penasaran dalam benak siswa dan kemudian hal itu bisa membawa dia untuk mencari informasi yg tidak sesuai.”

Fadlil menjelaskan bahwa pendidikan seksual memang sangat penting dan perlu diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, namun tetap harus menggunakan gaya komunikasi yang sesuai.

“Kesimpulannya, edukasi seks sejak dini memang hal yang urgent. Diperlukan komunikasi interaktif dan juga sesuai ketika menyampaikan pendidikan seks ke anak”, sambungnya.

Kasus di atas menunjukkan bahwa pendidikan seksual di Indonesia masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Di sini guru sangat berperan penting, terutama orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anak.

Diharapkan guru dan para orang tua memiliki pikiran yang terbuka, memperbaiki cara mendidik, dan mengkomunikasikan hal-hal seperti ini dengan cara yang sesuai dengan usia mereka.