BMKG Luncurkan Sistem Informasi Gempa Berbasis Radio

BMKG Luncurkan Sistem Informasi Gempa Berbasis Radio

Reporter Dani Zahra Anjaswari; Editor Ainun Kusumaningrum

Infomasi mengenai gempa bumi
Sumber: Instagram-@infobmkg

Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi luncurkan sistem informasi peringatan dini gempa yang berpotensi terjadi tsunami dengan basis radio atau handy talky (HT) dan android. Peluncuran sistem ini dilakukan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (04/10).

Sistem informasi tsunami sebagai backup sistem peringatan dini dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD ke masyarakat. Dimana sistem ini menggunakan frekuensi radio HT guna mengantisipasi putusnya aliran listrik maupun sinyal telepon seluler atau internet akibat adanya gempa bumi.

Inisiator sistem informasi peringatan dini, Setyoajie Prayoedhie
Sumber: twitter-@SetyoajieP

Inisiator dari sistem ini ialah Setyoajie Prayoedhie. Ia mengatakan sistem informasi berbasis radio (radio broadcaster) merupakan salah satu media diseminasi info gempa bumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG.

Radio broadcaster ini, informasi disampaikan dalam bentuk suara, tidak berbasis teks atau grafis, sehingga harapannya bisa menjangkau kelompok masyarakat rentan khususnya yang mengalami kendala dalam melihat atau membaca. Oleh karena informasinya dalam bentuk suara, harapan kami info tersebut lebih mudah oleh masyarakat,” jelasnya.

Sementara untuk sistem peringatan dini berbasis Android berupa aplikasi Sirita (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert), kata dia, hal itu sebagai alternatif dari keterbatasan jumlah sirine yang terpasang.

“Karena keterbatasan jumlah sirine yang terpasang, otomatis kita harus punya solusi alternatif. Jadi, kami kembangkan aplikasi sirine tsunami berbasis telepon seluler, namanya Sirita.”

Setyoajie juga mengatakan pengguna telepon pintar yang telah memasang aplikasi Sirita secara otomatis akan menerima sirine ketika BPBD mengaktifkan fitur peringatan dini tsunami meskipun teleponnya dalam posisi hening atau getar.

Mahasiswa UIN Jakarta, Salsabila Musidah memberikan tanggapannya mengenai peluncuran sistem informasi berbasis radio dan android dari BMKG. Menurutnya, hal ini sangat baik dalam perkembangan teknologi saat ini yang harus dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.

“Sistem informasi yang diluncurkan oleh BMKG di Cilacap akan sangat bermanfaat lantaran menjadi cadangan sistem peringatan dini dari Pusdalops BPBD ke masyarakat. Sistem peringatannya pun memakai teknologi yang relatif sederhana karena masyarakat cukup mendengarkan dari frekuensi radio yang digunakan oleh BPBD, sehingga ketika terjadi gempa bumi masyarakat secara otomatis akan dengar informasi tersebut,” ucapnya.

Gempa 8,1 Magnitudo Guncang Alaska, Adakah Dampak bagi Indonesia?

Gempa 8,1 Magnitudo Guncang Alaska, Adakah Dampak bagi Indonesia?

Reporter Nisrina Fathin; Editor Elsa Azzahraita

Ilustrasi mengukur besarnya gempa.
Sumber : Instagram @raspishake

Pantai Alaska diguncang gempa tektonik  dengan kekuatan 8,1 pada Kamis (29/7) pukul 13:15 WIB berdasarkan hasil laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Indonesia.

Titik pusat gempa ini terjadi di koordinat 55,325° dan LU 157,841° BB, tepatnya di laut dengan jarak 104 km arah tenggara Perryville, Alaska, dengan sumber gempa di kedalaman 36 km.

Dilihat dari lokasi titik pusat gempa dan sumber kedalaman, gempa bumi ini  merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas pada lempeng Alaska. Hasil analisis mekanisme sumber ini menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik.

Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) memberikan informasi bahwa gempa bumi ini berpotensi menimbulkan tsunami kurang dari 0,3 meter di wilayah Indonesia.

Merespon hal ini, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, berdasarkan hasil pemodelan BMKG, untuk wilayah Indonesia  tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami sebab tidak adanya potensi tsunami di Indonesia.

Daryono mengatakan gempa ini sempat memicu dikeluarkannya peringatan dini tsunami yang akibat terjadinya aktivitas gempa bumi susulan lebih dari 25 kali dengan magnitudo kurang dari 6,0 sejak siang hingga pukul 16.00 WIB. Hal ini mengakibatkan  beberapa sirine perintah evakuasi sempat dibunyikan.

Namun, hasil monitoring muka laut hanya mencatat perubahan yang tidak akan berdampak, sehingga peringatan dini tsunami diakhiri. “Berdasarkan hasil pemodelan ini BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia, untuk itu masyarakat dihimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya kepada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tandas Daryono.