Hari Kesaktian Pancasila : Semangat Bangkit di Masa Pandemi

Hari Kesaktian Pancasila : Semangat Bangkit di Masa Pandemi

Oleh Khalilah Andriani; Editor Tiara Juliyanti Putri

Ucapan Hari Kesaktian Pancasila
Sumber: twitter @jokowi

Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 55 Tahun lalu bersamaan dengan tragedi G30S/PKI tahun 1965 Soeharto resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Nama Kesaktian Pancasila ini dilatar belakangi oleh tragedi G30S/PKI yang berhasil diredam oleh Tentara Nasional Indonesia. Dalam tragedi tersebut  terdapat 6 Jendral serta 1 Pewira TNI yang menjadi korban pembantaian. Sekarang mereka dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, yang dibunuh oleh PKI lalu dibuang kesumur tua berada di kawasan hutan karet Lubang Buaya, Jakarta Timur. tempat tersebut sekarang dikenal sebagai Monumen Kesaktian Pancasila Lubang Buaya.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila mulanya hanya diperingati oleh Tentara Negara Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat bernomor Kep.977/9/1966 tertanggal 17 September 1966.

Surat keputusan tersebut menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang harus diperingati oleh TNI AD. Namun, selang beberapa hari setelah penerbitan surat keputusan tersebut, Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan, menerbitkan kembali surat keputusan nomor Kep/B/134/1966 tertanggal 29 September 1966.

Dalam surat keputusan yang baru terbit tersebut berisikan perintah agar Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya diperingati oleh kalangan TNI AD saja, tetapi Angkatan Bersenjata lainnya serta seluruh masyarakat Indonesia. Untuk pertama kali 1 Oktober 1966 peringatan  Hari Kesaktian Pancasila dilakukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Komandan Upacara Hari Kesaktian Pancasila
Sumber: Youtube KEMENDIKBUD RI

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2021 ini dijadikan momentum untuk kebangkitan masyarakat Indonesia terhadap Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 1,5 tahun lamanya.

Menghadapi pandemi yang sudah berlangsung lama, nilai-nilai Pancasila seharusnya hadir ditengah-tengah masyarakat untuk membangun kesatuan serta persatuan bangsa agar memiliki semangat juang untuk bangkit dari keadaan.

Pancasila menjadi pengikat dalam kehidupan bermasyarakat. Dari segala tantangan dan kesulitan yang terjadi. Nilai-nilai pancasila menjadi pondasi untuk bertahan hidup dalam menghadapi situasi pandemi.

Kecendrungan sikap individualisme yang muncul akibat Pandemi ini menumbuhkan nilai-nilai yang ada pada Pancasila seperti empati, gotong royong, saling menghargai serta merajut kerukunan dalam keberagaman, hal tersebut termasuk bagian usaha kita untuk memaknai kesaktian Pancasila.

Hari Kesaktian Pancasila menjadi salah satu momen untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia yang tangguh.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengatakan dalam pidato hari Kesaktian Pancasila di siaran YouTube Kemendikbud, Jumat (1/10).

  “Setelah 1,5 tahun bersama menghadapi segala tantangan, hari ini kita memperingati hari kesaktian Pancasila di tengah upaya menggalang kekuatan agar bisa bangkit dan pulih kembali. Pancasila juga harus menjadi kekuatan dan pengingat masyarakat Indonesia  di tengah situasi dan kondisi seperti ini, jadi kedaulatan Indonesia berdasarkan keadilan sosial dan persatuan lapisan masyarakat.” Ujarnya.

Lanjutnya, peringatan ini juga dapat dijadikan momentum untuk membuat Indonesia menjadi negara unggul dan tangguh serta dapat merefleksikan, agar bisa menjadikan Indonesia sebagai bangsa tangguh di masa kini dan mendatang yang nantinya Pancasila sebagai titik berangkat. Lalu, Pancasila juga sebagai tujuan pembangunan bangsa dan negara kita.” Ungkapnya.

Peringatan Kesaktian Pancasila tidak hanya mengenang peristiwa kelam yang terjadi di Indonesia, momentum ini juga dapat menumbuhkan semangat bangkit di masa pandemi dan memperkuat kedaulatan negara.

Diskusi Dosen Fdikom: Mewaspadai Kebangkitan Komunis Baru

Diskusi Dosen Fdikom: Mewaspadai Kebangkitan Komunis Baru

Reporter Hasna Nur Azizah; Editor Syaifa Zuhrina

Pemaparan materi oleh Daud Effendy
Sumber: DNK TV-Hasna Nur Azizah

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan diskusi dosen bertajuk “Mewaspadai Kebangkitan Komunis Gaya Baru di Indonesia” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (30/9).

Acara ini dihadiri oleh Dekan Fdikom Suparto, serta menghadirkan tiga narasumber dari kalangan dosen Fdikom, yakni Asep Usman Ismail, Daud Effendy, dan Helmi Hidayat.

Dalam paparannya, Asep Usman Ismail mengatakan ideologi komunisme tidak sesuai dengan ajaran Islam karena terjadi banyak propanganda, konfrontasi, manipulasi, dan lain sebagainya.

 “Jika partai bubar, bukan berarti komunis hilang,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa ideologi komunis di Indonesia tidak akan pernah mati, tetapi bangkit dengan gaya baru, fleksibel dan bisa beradaptasi sehingga bisa terus hidup di pikiran manusia sebagai ideologi.

Kemudian, Daud Effendy menjelaskan mengenai sejarah dalam menetapkan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, proses dan lika-liku yang dilalui bangsa Indonesia, sampai dengan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemaparan Materi oleh Asep Usman Ismail
Sumber: DNK TV-Hasna Nur Azizah

Terakhir, Helmi Hidayat membahas mengenai sosialisme dan komunisme. Ia menjelaskan Islam mendukung ajaran mulia komunisme dengan mengutip salah satu ayat di Al-Quran, yaitu Al-Hasyr ayat 7, serta meyakini bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah hal mustahil.

“PKI itu partai. Komunisme itu ideologi  pikiran. PKI itu sudah menjadi bangkai dan selamanya akan menjadi bangkai. Mari kita nikmati sejarah dengan baik, dengan akal sehat,” katanya.

Menurut salah satu peserta yang juga mahasiwa UIN Jakarta, Muhammad Febriandri menanggapi kegiatan ini sangat menarik dan menambah wawasannya.

“Tentu saja sangat menarik dan menambah wawasan saya dan ilmu pengetahuan kita terhadap komunisme, apakah ada gerakan baru atau bagaimana, dan kita bisa mengambil langkah-langkah untuk mematikan komunisme ini,” ucapnya.

Menilik G30S PKI, Duka Mendalam Bagi Bangsa

Menilik G30S PKI,  Duka Mendalam Bagi Bangsa

Oleh Fajar Khairifais; Editor Farhan Mukhatami

Ilustrasi Partai Komunis Indonesia (PKI)
Sumber: blueframe.com

Isu-isu mengenai kebangkitan komunis hadir setiap tahunnya menjelang tanggal 30 September. Hari ini 56 tahun lalu, tepatnya 30 September 1965 terjadi peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI). Peristiwa ini menjadi sejarah kelam yang harus diingat oleh masyarakat dan bangsa Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi di Jakarta dan Yogyakarta, ketika enam perwira tinggi dan satu perwira menengah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta.

G30S PKI  ini mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target, langsung dibunuh di rumah kediamannya. Sedangkan yang lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya.

Keenam perwira tinggi TNI AD yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jendral Raden Soeprapto, Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jendral Siswondo Parman, Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo.

Keenam jenderal tersebut beserta Lettu Pierre Tendean ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dimulai sejak berlakunya UU No.20 tahun 2009. Gelar tersebut juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Setelah peristiwa itu, rakyat menuntut  Soekarno untuk membubarkan PKI. Soekarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan semua unsur pemerintahan dari pengaruh PKI.

Ilustrasi Peristiwa G30S PKI
Sumber: menara62.com

Asvi Warman Adam selaku ahli sejarah mengatakan, bahwa peristiwa G30S PKI merupakan konspirasi politik dalam dan luar negeri.

“Peristiwa G30S PKI dilakukan karena adanya konspirasi politik dalam dan luar negeri. Kepentingan luar negeri adalah kepentingan Amerika Serikat untuk menahan kekuatan komunis, sedangkan kepentingan dalam negeri adalah konflik internal TNI AD yang ingin menyingkirkan PKI dari pemerintahan Soekarno”, jelasnya.

Terlepas dari kebenaran yang terjadi, hal ini merupakan peristiwa kejam dan membawa luka dalam yang dialami oleh bangsa Indonesia. Korban dari Gerakan G30S PKI dibunuh secara tragis dan tidak berprikemanusiaan.

Seiring berjalannya waktu, peristiwa ini harus terus diingat untuk menjadi pembelajaran bagi generasi yang akan datang mengenai bahaya dan kejamnya peristiwa G30S PKI apabila terulang.

Namun hakikatnya, peristiwa tersebut sangat tidak elok jika saat ini dijadikan sebagai kepentingan politik oleh sebagian oknum atau kelompok. Sungguh kejam apabila hal tersebut kembali terjadi.

Makna Peristiwa G 30 S/PKI bagi Penerus Bangsa

Makna Peristiwa G 30 S/PKI bagi Penerus Bangsa

Oleh Naura Aufani

Salah satu pergolakan setelah Indonesia merdeka adalah peristiwa pemberontakan PKI. Kita biasa mengenalnya dengan G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September/PKI. Peristiwa G30 S/PKI terjadi tahun 1965 di Indonesia. Peristiwa ini telah memberikan dampak besar bagi bangsa, bahkan beberapa dampak itu masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Sebelum membahas dampak pergerakan G 30 S/PKI akan lebih baik jika kita  mengetahui apa itu PKI dan bagaimana latar belakang peristiwanya.

PKI adalah dari Partai Komunis Indonesia. Partai berlambang Palu Arit yang berlandaskan ideologi komunis. Ideologi yang menentang agama. Mereka mengatakan agama adalah candu. Mereka juga menentang konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, yang ada pada Sila Pertama Pancasila, Sebelum peristiwa G 30 S/PKI, PKI merupakan partai berhaluan komunis terbesar nomor tiga di seluruh dunia setelah Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Cina. PKI memiliki pengaruh yang begitu besar. Pengaruh yang besar itu bisa kita lihat dari kemenangan PKI pada pemilu 1955. PKI menduduki posisi keempat dengan pemilih sebanyak enam belas persen atau setara dengan dua juta orang. 

G 30 S/PKI merupakan gerakan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin oleh DN Aidit yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Peristiwa G 30 S/PKI telah memberikan dampak negative dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat. Setelah peristiwa tersebut berakhir, kondisi politik Indonesia masih belum stabil. Situasi Nasional sangat menyedihkan, kehidupan ideologi nasional belum mapan. Sementara itu, kondisi politik juga belum stabil karena sering terjadi konflik antar partai politik. Demokrasi Terpimpin justru mengarah ke sistem pemerintahan diktator.

Di masa sekarang, peristiwa bersejarah ini memberikan banyak pembelajaran bagi generasi muda. Pemutaran ulang film G30S/PKI penting sebagai pengingat sejarah terutama untuk generasi milenial serta tidak menjadi polemik berkepanjangan di masyarakat. Penayangan film ini merupakan hal penting karena peristiwa G30S/PKI sudah menjadi bagian sejarah bagi bangsa, sehingga pemerintah perlu memiliki satu suara dalam menunjukkan bahaya dari komunis, dan gambaran bahwa tidak berlakunya sistem komunis di Indonesia.

Bung Karno pernah berkata “’JasMerah’, jangan sekali kali lupakan sejarah, Karena itu, kita haruslah faham bagaimana penghianatan dan kekejaman yang dilakukan PKI kepada bangsa indonesia, Cegah Pemikiran PKI!”

Dari peristiwa ini kita bisa belajar bahwa “Tuhan tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum Bangsa itu mengubah nasibnya Sendiri”. Generasi muda juga harus belajar bahwa sebagai penerus bangsa jangan pernah melihat masa depan dengan buta, kita harus pergunakan peristiwa masa lampau yang dapat dijadikan kaca bengala dari pada masa yang akan datang, seperti perkataan Presiden Indonesia  “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang” – Bung Karno.

MENGULAS SOSOK DN AIDIT

MENGULAS SOSOK DN AIDIT

By : Sadam Alghifari

Gerakan 30 September 1965, merupakan gerakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) atau biasa dikenal G30SPKI. Gerakan tersebut di inisiasi oleh PKI untuk melakukan pembantaian terhadap para jenderal yang dituduh akan mengkudeta Presiden Soekarno.

DN Aidit  merupakan sosok yang paling  sering dibicarkan ketika, kita berbicara mengenai Partai Komunis Indonesia dan Gerakan 30 september 1965 (G30SPKI). Ia merupakan pemimpin senior PKI di Indonesia.

DN Aidit lahir di Tanjung Pandan, Belitung, tahun 1923, dengan nama Achmad Aidit dan biasa dipanggil ‘’Amat’’ oleh orang-orang yang  akrab denganya. Hingga menjelang dewasa, dengan mendapatkan ijin dari ayahnya, Abdullah Aidit, ia mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.

DN Aidit hijrah dari Belitung ke Jakarta pada tahun 1940. Ia mendirikan perpustakaan ‘’antara’’ di daerah Tanah Tinggi, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Selanjutnya, ia masuk ke sekolah dagang (handelsschol). Ia belajar dan memahami teori politik marxis melalui perhimpunan demokratik sosial Hindia-Belanda, yang kemudian  mengganti nama menjadi partai komunis Indonesia PKI.

Sejak saat itu, DN Aidit mulai berkenalan dan akrab dengan tokoh-tokoh politik di Indonesia. Seperti Chaerul Saleh, Adam Malik, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Mohhammad Hatta pada awalnya menaruh harapan dan kepercayaan kepadanya. Namun, belakangan mereka bersebrangan dari segi ideologi politik.

Meskipun DN Aidit merupakan seorang marxis dan Anggota Komunis Internasional (Komintern), ia menunjukan dukunganya terhadap paham marheanisme Soekarno, yang membuat PKK dipercaya oleh Soekarno, dan membiarkannya tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sebagai balasan terhadap pencapainya tersebut, DN aidit diangkat menjadi sekertaris jendral (Sekjen) lalu kemudian menjadi ketua.

Dibawah kepemimpinanya, DN Aidit berhasil membawa PKI  menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia, setelah Uni Soviet dan Republic Rakyat China (RRC). Tidak sampai disitu, ia juga berhasil membuat dan mengembangkan sejumlah program berbagai kelompok masyarakat, seperti Gerakan Wanita Indonesia, Lembaga Kenudayaan Rakyat, Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia dan lain-lain. Hal itu dibuat untuk memperkuat basis partainya.

Pada kampanye pemilu 1955, DN Aidit dan PKI berhasil mempunyai banyak pengikut dan dukungan karna program-program mereka menyasar dan berpihak kepada rakyat kecil di Indonesia. Pada pemilu tersebut, PKI berhasil menduduki posisi keempat dengan suara terbanyak dengan perolehan 16,36 persen suara dan mendapatkan 39 kursi DPR dan 80 Kursi Konstituante. Dengan hasil tersebut, melalui kekuatan kedekatan  DN  Aidit dengan Presiden Soekarno, membuat PKI menjadi oranisasi yang mempunyai peran dan penting di Indonesia.

Hingga pada tahun 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan semakin berani mempengaruhi Soekarno dalam setiap kebijakan. Bukan hanya itu, ia juga meminta Bung Karno untuk memberengus partai masyumi, dan menuduh para jenderal TNI AD merencanakan upaya kudeta dengan membentuk dewan jenderal.

Sehingga, pada 30 september 1965, terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira. Yang mayatnya dibuang ke sumur di lubang buaya.

Pada pemerintahan orde baru yang dipimpin oleh jenderal Soeharto, mengeluarkan versi resmi, bahwa PKI adalah pelakunya. Sebagai pemimpin partai, DN Aidit dituduh menjadi dalang dari peristiwa  ini. Meskipun tuduhan tersebut tidak terbukti namun, wafatnya Aidit menyisakan berbagi versi. Versi pertama, Aidit ditangkap di Jawa Tengah lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Dia dibawa ke sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Aidit diberikan waktu setengah jam sebelum dieksekusi. Waktu tersebut digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api hingga membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga tidak dapat mengendalikan emosi.  Akibatnya, senjata mereka menyalak dan menembaknya hingga mati.

Versi kedua  mengatakan,  bahwa Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempatnya ditahan. Sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan. Sejak itu, nama dan sosoknya seakan-akan menjadi sesuatu yang haram disebutkan di Indonesia