IPCC : Kode Merah untuk Umat Manusia, Kok Bisa?

IPCC : Kode Merah untuk Umat Manusia, Kok Bisa?

Reporter Ani Nur Iqrimah; Editor Ahmad Haetami

Menyuarakan krisis iklim ditengah ramainya kendaraan dengan membawa poster tuntutan. (DNKTV/Ridho Fadillah)

Di tengah guyuran hujan dan ramainya kendaraan, dalam memperingati Hari Bumi Sedunia sejumlah aktivis terus menyuarakan keresahan terhadap krisis iklim yang terjadi di bumi yang dilaksanakan di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, pada Jum’at (22/4).

Perubahan cuaca secara signifikan dari panas terik lalu tiba-tiba hujan petir yang sering terjadi pada akhir-akhir ini, semata bukan karena perubahan iklim biasa, namun semua perubahan itu adalah akibat krisis iklim dan pemanasan rata-rata 1,1 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

“Jika kita tidak bergerak cepat, kita cuma punya waktu 30 bulan untuk bisa menekan kenaikan suhu bumi itu tidak lebih dari 1,5 derajat celcius, kalau misalnya tidak segera, itu suhu bumi akan naik sampai ke 2 derajat dan itu efeknya sangat banyak” ucap Aktivis Aksi For Gender, Social, and Ecological Justice, Kinanti Munggareni.

Laporan ini juga menunjukkan meskipun kita sudah mengambil langkah-langkah pengurangi emisi secara tegas, pemanasan iklim sudah terlanjur masuk ke dalam sistem iklim. Hal tersebut menimbulkan peristiwa cuaca ekstrem yang lebih berbahaya dan merusak dari yang kita lihat hari ini.

“Memang usaha-usaha untuk menekan emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global di bumi ini sudah banyak dilakukan, begitupun proyek-proyek yang merespon krisis iklim itu sudah banyak, tapi proyek-proyek ini juga kita lihat ternyata solusi palsu false climate solution, dan itu terus digaungkan,” ungkap Kinanti.

Salah satu tuntutan pada aksi Hari Bumi yaitu G20 stop funding our extinction. (DNTV/Ridho Fadillah)

Kinan dan seluruh aktivis peduli iklim berharap agar pemerintah bisa membuka mata dan lebih serius dalam menangani kasus krisis iklim yang sedang terjadi, karena krisis iklim sudah berdampak terlalu besar bagi seluruh kehidupan makhluk di dunia. Kinan juga berharap untuk masyarakat ikut membersamai gaungkan krisis iklim dan bebenah mulai dari hal kecil.

Akankah kita bisa membatasi pemanasan di tingkat ini dan mencegah dampak krisis iklim lebih buruk? Jawabannya tergantung dari tindakan yang ambil umat manusia dalam dekade ini.

Gustomi Sutioso: Dear G20 Leaders, Solusi Sudah Ada, Tinggal Eksekusinya

Gustomi Sutioso: Dear G20 Leaders, Solusi Sudah Ada, Tinggal Eksekusinya

Reporter Halwa Shaima; Editor Ahmad Haetami dan Tiara De Silvanita


GALAKKAN 
INITIATIVE 
S GA' OOKUMEN 
BANGUNAN 
INDONESIA. 
o rg/da ti klim 
s a very significant role. Ir+historical record 
The G20pr '"de 
the G20 has beeh(såcé sful novercoming the 2008 giowal financial crisis.
Gustomi Sutioso, pemenang video favorit dalam lomba Dear G20 Leaders sedang berbicara dalam video yang dibuatnya (Instagram/@fpcindo)

Pemenang kompetisi video “Dear G20 Leaders” Top 21 Video yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Gustomi Sutioso, angkat bicara mengenai pelaksanaan G20 tahun ini. Pasalnya, pelaksanaan  G20 tahun ini bertuan rumah di Indonesia. Ini yang menjadikan Indonesia harus mampu dalam memberikan contoh baik bagi anggota G20 lainnya.

Gustomi yang juga seorang mahasiswa UIN Jakarta dalam videonya  memberikan beberapa rekomendasi terkait solusi agenda iklim Indonesia pasca COP26. Ia meyakini bahwa Indonesia ke depannya bisa mewujudkan solusi yang terukur dari pakar Iklim Indonesia.

“Kalau saya soal keyakinan itu di persentase masih 60 persen ya, sebenarnya untuk permasalahan agenda iklim ini, untuk solusinya sudah ada segala macam. Cuma yang belum itu tinggal eksekusinya,” tutur Gustomi melalui DNK TV, Jumat (01/04).

Ia juga berpendapat bahwa pelaksanaan eksekusi ini masih berat, karena melibatkan banyak kepentingan dari investor bisnis, masyarakat sipil,  dan pemimpin pemerintahan.

Melansir dari laman Bank Indonesia, G20 merupakan kepanjangan dari Group of Twenty. G20 sendiri adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara dan satu kawasan ekonomi, Uni Eropa. G20  merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB dunia. 

“Kalau soal iklim ini, sebaiknya Indonesia lebih memperbaharui NDC-nya. Jadi, NDC itu semacam rencana pembangunan nasional terkait dengan pengurangan suhu global,” ucap Gustomi.

IN FOCRA FIS TENTANC 
INDONESIA NDC 
tingkat 
"kap 
PROYEKSI DAMPAK PERUBAHANIKLIM 
41 % dengan ba 
3 KOMPONEN KETAHA NAN 
ExogsrEM 
S SEK roR 
(9) 
KEHUTANAN 
PERTANIAN 
IPPu
NDC terbaru Indonesia untuk masa depan yang tahan iklim (Global Green Growth Institute)

Gustomi juga menambahkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan ambisinya dengan memperbarui Nationally Determined Contribution (NDC) yang lebih baik. Karena sejauh ini, NDC Indonesia tercatat masih jauh dari target suhu global. NDC merupakan dokumen kontribusi yang ditetapkan secara nasional yang memuat komitmen dan aksi iklim sebuah negara yang dikomunikasikan kepada dunia melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

“G20 perlu memperbarui target NDC untuk mencerminkan ambisi setinggi mungkin . Kita tidak bisa bergerak sendiri, harus saling bahu-membahu. Kita tahu ini tidak mudah, tapi inilah yang bisa kita perjuangkan untuk anak cucu kita. Semoga G20 bisa memberikan contoh, G20 bisa memimpin dunia dalam bekerja sama mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dan tindakan nyata,” tutup gustomi dalam videonya.

Terkait pelaksanaan G20 sendiri, Gustomi mengungkapkan bahwa G20 berpotensi hanya dijadikan sekadar pertemuan seremonial yang sifatnya proyek. Namun, ia kembali meyakinkan jika selama G20 berjalan selaras dengan tujuan publik akan menambahkan dampak positif yang didapat.