300 Anak Muda Sepulau Jawa Tuntut Pemerintah Serius Tangani Krisis Iklim

300 Anak Muda Sepulau Jawa Tuntut Pemerintah Serius Tangani Krisis Iklim

Reporter Ahmad Haetami; Editor  Tiara De Silvanita

Anak muda berkumpul dan membawa poster menyuarakan kegelisahan dampak krisis iklim (Dok. Istimewa)

300 anak-anak muda se-Pulau Jawa menuntut keadilan iklim dan transisi energi berkeadilan dengan berjalan dari Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga di Senayan, Jakarta hingga Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, pada Kamis, (21/7).

Anak-anak muda yang datang dari 6 provinsi di Pulau Jawa, di antaranya Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur, itu mengikuti pawai “Youth20ccupy”, aksi kreatif bagian dari kegiatan Java Youth Camp: Youth20ccupy, Voice of the Future di Depok, Jawa Barat pada, (20/07).

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terbaru, saat ini dunia tengah mengalami bencana akibat krisis iklim yang mengakibatkan krisis pangan, menghambat pertumbuhan ekonomi, menyebabkan krisis kesehatan, hingga menelan korban jiwa.

Perempuan dan kelompok marginal lainnya juga terdampak melalui makin tajamnya ketimpangan dari bencana ini. Pemerintah Indonesia terus membiarkan eksploitasi alam yang masif, memberi solusi palsu atas krisis iklim ini dengan jargon-jargon, dan menetapkan kebijakan yang hanya menguntungkan industri ekstraktif. Masyarakat, termasuk generasi muda, menerima imbas buruk atas keserakahan pemerintah dan industri.

Peserta Java Youth Camp, Taufik Ramawijaya mengatakan isu perampasan lahan sering dialami masyarakat adat termasuk di daerah asalnya di Sulawesi Barat.

“Saat ini, ruang hidup di daerah asal saya terancam akibat kehadiran tambang emas. Isu perampasan ruang hidup juga sering dihadapi oleh masyarakat adat lainnya, seperti teman adat di Toba yang berkonflik dengan TPL, lalu perampasan ruang yang dialami masyarakat Bara Baraya, Makassar. Perampasan ruang hidup itu masalah kompleks, jadi pemerintah tidak bisa sekadar bicara uang, ketika tempat tinggal kita dirampas karena ruang hidup itu terkait budaya, adat istiadat, cara mengakses kehidupan, termasuk keterikatan manusia dan alamnya,” ujar Rama.

Pawai Youth20ccupy (Dok. Istimewa)

Solusi dari permasalahan krisis iklim yang sistematis ini dapat terbantu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat di akar rumput, untuk bisa menyuarakan isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan di forum-forum Internasional, salah satunya Forum Youth of Twenty (Y20) yang tahun ini dilaksanakan di Jakarta dan Bandung.

Alih-alih Y20 inklusif dan bisa mempresentasikan keresahan anak muda, ia malah tertutup terhadap pemilihan delegasi dari Indonesia dan pada akhirnya menjadi forum yang melanggengkan hegemoni negara-negara G20 yang bawa dampak buruk bagi negara-negara berkembang di dunia. Aspirasi anak muda korban industri ekstraktif sama sekali tidak terdengar.

Di akhir pawai Youth20ccupy, anak-anak muda mendeklarasikan tuntutan bersama kepada pemerintah agar menunjukkan komitmen penuh dalam memprioritaskan penanggulangan krisis iklim dengan pengawalan dan sistem pemonitoran yang transparan dan inklusif, menyusun kebijakan krisis iklim yang bebas dari kepentingan politik praktis yang berbasis partisipasi masyarakat yang inklusif, partisipatif, representatif, dan adil gender.

Selain itu, menuntut mewujudkan energi bersih berkeadilan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, hak-hak perempuan, hak asasi lingkungan dengan mempertahankan kearifan lokal dan berdasarkan kebutuhan masyarakat, serta melakukan transformasi sistem ekonomi menjadi berbasis kedaulatan rakyat.

Gustomi Sutioso: Dear G20 Leaders, Solusi Sudah Ada, Tinggal Eksekusinya

Gustomi Sutioso: Dear G20 Leaders, Solusi Sudah Ada, Tinggal Eksekusinya

Reporter Halwa Shaima; Editor Ahmad Haetami dan Tiara De Silvanita


GALAKKAN 
INITIATIVE 
S GA' OOKUMEN 
BANGUNAN 
INDONESIA. 
o rg/da ti klim 
s a very significant role. Ir+historical record 
The G20pr '"de 
the G20 has beeh(såcé sful novercoming the 2008 giowal financial crisis.
Gustomi Sutioso, pemenang video favorit dalam lomba Dear G20 Leaders sedang berbicara dalam video yang dibuatnya (Instagram/@fpcindo)

Pemenang kompetisi video “Dear G20 Leaders” Top 21 Video yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Gustomi Sutioso, angkat bicara mengenai pelaksanaan G20 tahun ini. Pasalnya, pelaksanaan  G20 tahun ini bertuan rumah di Indonesia. Ini yang menjadikan Indonesia harus mampu dalam memberikan contoh baik bagi anggota G20 lainnya.

Gustomi yang juga seorang mahasiswa UIN Jakarta dalam videonya  memberikan beberapa rekomendasi terkait solusi agenda iklim Indonesia pasca COP26. Ia meyakini bahwa Indonesia ke depannya bisa mewujudkan solusi yang terukur dari pakar Iklim Indonesia.

“Kalau saya soal keyakinan itu di persentase masih 60 persen ya, sebenarnya untuk permasalahan agenda iklim ini, untuk solusinya sudah ada segala macam. Cuma yang belum itu tinggal eksekusinya,” tutur Gustomi melalui DNK TV, Jumat (01/04).

Ia juga berpendapat bahwa pelaksanaan eksekusi ini masih berat, karena melibatkan banyak kepentingan dari investor bisnis, masyarakat sipil,  dan pemimpin pemerintahan.

Melansir dari laman Bank Indonesia, G20 merupakan kepanjangan dari Group of Twenty. G20 sendiri adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara dan satu kawasan ekonomi, Uni Eropa. G20  merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB dunia. 

“Kalau soal iklim ini, sebaiknya Indonesia lebih memperbaharui NDC-nya. Jadi, NDC itu semacam rencana pembangunan nasional terkait dengan pengurangan suhu global,” ucap Gustomi.

IN FOCRA FIS TENTANC 
INDONESIA NDC 
tingkat 
"kap 
PROYEKSI DAMPAK PERUBAHANIKLIM 
41 % dengan ba 
3 KOMPONEN KETAHA NAN 
ExogsrEM 
S SEK roR 
(9) 
KEHUTANAN 
PERTANIAN 
IPPu
NDC terbaru Indonesia untuk masa depan yang tahan iklim (Global Green Growth Institute)

Gustomi juga menambahkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan ambisinya dengan memperbarui Nationally Determined Contribution (NDC) yang lebih baik. Karena sejauh ini, NDC Indonesia tercatat masih jauh dari target suhu global. NDC merupakan dokumen kontribusi yang ditetapkan secara nasional yang memuat komitmen dan aksi iklim sebuah negara yang dikomunikasikan kepada dunia melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

“G20 perlu memperbarui target NDC untuk mencerminkan ambisi setinggi mungkin . Kita tidak bisa bergerak sendiri, harus saling bahu-membahu. Kita tahu ini tidak mudah, tapi inilah yang bisa kita perjuangkan untuk anak cucu kita. Semoga G20 bisa memberikan contoh, G20 bisa memimpin dunia dalam bekerja sama mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dan tindakan nyata,” tutup gustomi dalam videonya.

Terkait pelaksanaan G20 sendiri, Gustomi mengungkapkan bahwa G20 berpotensi hanya dijadikan sekadar pertemuan seremonial yang sifatnya proyek. Namun, ia kembali meyakinkan jika selama G20 berjalan selaras dengan tujuan publik akan menambahkan dampak positif yang didapat.