Rapat Kerja DEMA FDIKOM 2021: Wujudkan Kinerja dalam Amplifikasi Meraki Bersama

Rapat Kerja DEMA FDIKOM 2021: Wujudkan Kinerja dalam Amplifikasi Meraki Bersama

Awak Liputan: Reporter: Laode M. Akbar; Editor; Fauzah Thabibah dan Elsa Azzahraita

Presidium Sidang Rapat Kerja DEMA FDIKOM UIN Jakarta periode 2021-2022

Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Jakarta periode 2021-2022 menyelenggarakan Rapat Kerja secara virtual, Selasa (16/02). Rapat kerja ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan guna membahas program kerja dari setiap departemen DEMA FDIKOM selama satu tahun periode kepengurusan.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana Rapat Kerja DEMA FDIKOM Raihan Islami Meha, dan Ketua Umum DEMA FDIKOM Aji Juasal Mahendra, serta dihadiri oleh pengurus dan anggota DEMA FDIKOM periode 2021-2022.

Sidang pendahuluan, sidang pleno, sidang komisi, dan sidang paripurna merupakan inti rangkaian acara dalam merumuskan dan menetapkan jalannya sidang rapat kerja serta program kerja kepengurusan.

Dengan mengangkat tema “Wujudkan Kinerja DEMA FDIKOM dalam Amplifikasi Meraki Bersama dengan Kerja Nyata”, Aji Juasal berharap agar dalam menjalankan program kerja ini seluruh pengurus dan anggota DEMA FDIKOM dapat bersinergi dengan baik sesuai dengan konsep, ide, dan pemikiran yang telah dibangun bersama.

“Kita berharap komunikasi yang kita bangun ini menjadi jalan awal untuk selanjutnya kita melakukan program kerja bersama,” ujarnya.

Para Peserta Sidang Rapat Kerja DEMA FDIKOM

Selain itu, melihat pemaparan program kerja tiap departemen, terdapat program kerja yang dilaksanakan secara offline dan online mengingat pandemi Covid-19 yang belum usai. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk melaksanakan program kerja bagi kepengurusan DEMA FDIKOM periode tahun ini.

Perkuliahan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Tetap Dilakukan Secara Daring

Perkuliahan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Tetap Dilakukan Secara Daring

Siaran Langsung Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademin Baru di Masa Pandemi Covid-19 melalui YouTube Kemendikbud (15/6)

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementrian Agama (Kemenag), Kementrian Kesehatan (Kemenkes), Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), mengumumkan Surat Keputusan Bersama terkait Panduan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, Senin (15/6).

Tidak ada perubahan dalam kalender akademik, hanya saja pola pembelajaran tatap muka masih belum diperbolehkan. Tahun akademik perguruan tinggi 2020/2021 tetap dimulai pada Agustus 2020, dan tahun akademik perguruan tinggi keagamaan 2020/2021 pada September 2020.

Melalui konferensi pers di laman Youtube resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona masih wajib dilaksanakan secara daring hingga ada kebijakan lebih lanjut. Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

“Karena keselamatan adalah nomor satu, saat ini perguruan tinggi masih melakukan secara online sampai ke depannya mungkin kebijakan berubah. Tapi, sampai saat ini belum berubah, jadi masih melakukan secara daring. Itu adalah keputusan dari kemendikbud saat ini,” terang nadim.

Nadiem menyarankan untuk mata kuliah yang tidak dapat dilaksanakan secara daring untuk meletakannya di bagian akhir semester.

Sedangkan aktivitas prioritas yang mempengaruhi kelulusan mahasiswa seperti penelitian laboratorium untuk skripsi, tesis, dan disertasi, maka pemimpin perguruan tinggi boleh mengizinkan mahasiswa untuk ke kampus.

“Kalau ini aktivitas prioritas yang berdampak pada kelulusan, masing-masing pemimpin perguruan tinggi bisa mengizinkan aktivitas mahasiswa ke kampus hanya untuk itu,” ujarny.

Kendati demikian aktivitas tersebut harus tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Reporter: Endy Ulul Azmi

Tantangan dan Kesempatan Dakwah Melalui Media Sosial

Tantangan dan Kesempatan Dakwah Melalui Media Sosial

Presiden Sayeda Khadija Centre, Toronto, Canada, Hamid Slimi (16/6)

Perkembangan media sosial belakangan ini mengambil peran besar dalam berbagai bidang kehidupan, begitu juga pada bidang dakwah dan komunikasi. Untuk itu Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI) dan Asosiasi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (ASKOPIS) Se-Jabodetabek menyelenggarakan Webinar (Web Seminar) Internasional yang kedua kalinya, dengan tema “Islamic Communication in the Era of Social Media: Challenges and Opportunities” guna mengedukasi masyarakat terutama mahasiswa mengenai tantangan dan kesempatan dakwah melalui media sosial.

Menggunakan aplikasi Zoom sebagai ruang temu diskusi dan disiarkan langsung melalui youtube DNK TV, acara ini dimulai pukul 20.00-23.00 WIB pada Jum’at (16/6) dan diikuti oleh 500 peserta dari beberapa negara seperti Indonesia, Kanada, USA, Nigeria, dan lainnya.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan welcoming address dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis diskusi ini turut menghadirkan enam narasumber yang kompeten dalam bidang Dakwah dan Komunikasi Internasional, diantaranya; Profesor Universitas & Direktur Pendiri Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding, Direktur The Bridge Initiative ICC 260, Georgetown University Washington, USA, John L. Esposito; Ketua dan Guru besar Canadian Centre for Deen Studies, Imam dan Presiden Sayeda Khadija Centre, Toronto, Canada, Hamid Slimi; Fakultas Komunikasi dan Dekan Sekolah Studi Pascasarjana, Bayero University, Kano, Nigeria, Direktur Orbicom, Umar A Pate; Direktur/Imam di Jamaica Muslim Center New York, Presiden Yayasan Nusantara Amerika, Presiden Yayasan Muslim, Amerika, dan Pendiri Pondok Pesantren Nur Inka Nusantara Madani, Connecticut, AS, Muhammad Shamsi Ali; Profesor Komunikasi dan Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan, UIN Jakarta, Andi Faisal Bakti dan Direktur Nursi Research Center, International Islamic University Malaysia, Yusuf Kara.

            Di moderator oleh Dekan Fidikom, Suparto dan Ketua PLKI, Dadi Darmadi. Diskusi ini memberikan asupan pengetahuan baru dengan sub-topik yang beragam, dintaranya; Representasi Islam di Media Barat, Pemberitaan Media Sosial Islam di Kanada, Lembaga Media Islam di Afrika: Kasus Nigeria, Komunikasi Dakwah di US, Dakwah Virtual: Pelajar Aktif dan Mandiri Adalah Pesan Islam, serta Dakwah dan Media Sosial: Menyebar Luaskan Pemikiran Sa’id Nursi’s di Malaysia.

Konsep dari dakwah adalah berbagi informasi penting atau mengajak kepada semua hal yang baik. Dahulu dakwah tradisional menggunakan beberapa teknik dalam penyebaran syiar-nya seperti pidato, one on one, menulis bahan dakwah, role modeling , persahabatan dan  pertemuan harian. Namun seiring perkembangan zaman, dakwah modern mengambil alih dengan subliminal dakwah, pop culture, internet dan media sosial, social work/community development seperti dompet duafa, volunteer, dialog antaragama, dan philantrophy.

Dalam presentasinya Hamid Slimi menjelaskan bahwa teknologi informasi modern  memungkinkan kita menyelesaikan lebih banyak tugas dalam waktu singkat, dan menghasilkan produktivitas yang lebih besar dengan upaya sedikit. Menurutya media sosial adalah teknologi berbasis komputer yang memfasilitasi pertukaran ide, pemikiran, dan informasi yang dianggap membangun jaringan dan komunitas virtual. Media sosial memang berpeluang bagi dakwah dan komunikasi Islam selama hal tersebut mengikuti pedoman Islam yang esensial dan metodologi yang ditentukan. Namun, media sosial bisa menjadi sangat merusak, tidak adil, tidak profesional, dan tidak seimbang dalam pemberitaan jika jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, karena media memiliki kekuatan yang besar dalam hal menggiring opini masyarakat.

“…media sosial memiliki kekuatan untuk membawa pesan besar ke platform tertentu atau mengubah ide atau pemikiran” ujar Slimi.

Perkembangan media menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Banyak isu negatif yang memang seolah menjadi bagian yang normal dalam kehidupan umat, terutama di negara bagian barat. Seperti ketidakadilan berkedok Islam, teroris, pencemaran nama baik Islam dan hal negatif lainnya yang menimbulkan islamophobia (rasa takut dan benci terhadap Islam).

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi umat muslim dalam dakwahnya, tantangan tersebut hadir bersama peluang. Islamophobia hadir bersama dengan globalisasi, ketika orang-orang berpikiran islam itu keras, islam mengandung hal-hal negatif lain karena adanya globalisasi, maka disitulah peran dan peluang kita sebagai seorang muslim untuk mengoreksinya. Hal lain mengenai tantangan dan peluang adalah ketika islam dihadapkan dengan kekurangan sumber daya, maka kemajuan teknologi, alat dan tempat pendidikan menjadi peluang untuk mengembangkan sumber daya.

Menambahkan tentang masalah globalisasi, Shamsi Ali mengatakan bahwa pada dasarnya ajaran Islam adalah yang paling siap untuk menghadapi globalisasi.

“Islam pada dasarnya yang paling siap menghadapi globalisasi, dan saya pikir itu bisa dimulai dengan melihat ke dalam ajaran islam yang sangat universal di alam ini, konteksnya adalah Rabbul ‘alamin, rabbunnas, malikinnas, ilahinnas, kita mungkin muslim lokal tetapi pola pikir kita haruslah global.” Ujar Ali.

Ali menambahkan bahwa untuk berdakwah da’i harus memerhatikan beberapa hal diantaranya; kepercayaan diri, pandangan positif pada setiap manusia, pendekatan rasional, mengedepankan kesamaan dari pada perbedaan, serta kata-kata dan tindakan yang sesuai.

Solusi praktis dari besarnya tantangan dakwah di era media sosial ini adalah dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip tradisional komunikasi Islam dengan kedamaian, akhlak, kebijaksanaan, dan pengetahuan, melakukan moderenisasi dan pemutakhiran alat, mengubah tantangan menjadi peluang dan melakukan strategi media sosial seperti menyampaikan pesan positif melalui story telling, menjadi bagian yang penting di industri media dan pop culture dalam rangka berdakwah, dan lain sebagainya.

Reporter: Assyifa Mardiani

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Live streaming Webinar Diskusi & Halal bi Halal Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (3/6)

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Web Seminar (Webinar) Diskusi dengan topik “Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal” dan Halalbihalal secara virtual bersama civitas akademika yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom,  Rabu (03/06).

Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fidikom Suparto dengan dimoderatori oleh Wakil Dekan Fidkom Sitii Napsiyah, serta sambutan dari Rektor UIN Jakarta Amany Lubis. Materi pembahasan webinar diskusi ini disampaikan oleh dua narasumber, yakni Wakil Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Jamhari Makruf dan Guru Besar Fidikom UIN Jakarta, Prof. Murodi.

Pemaparan Materi Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Setelah beberapa bulan pemerintah menerapkan kebijakan PSSB, pemerintah menerapkan kebijakan new normal. Kebijakan ini melonggarkan kembali berbagai macam kegiatan secara normal namun tetap mengikuti protokol kesehatan. Kebijakan new normal ini pun berdampak pada strategi berdakwah yang sebaiknya dilakukan pada masa new normal.

Murodi menjelaskan bahwa berdakwah, baik pada masa PSSB maupun new normal tidaklah mengalami perubahan. Menurutnya, berdakwah masa pandemi Covid-19 ini lebih baik dilakukan melalui media massa atau media sosial guna mencegah penyebaran virus Covid-19, baik itu dilakukan secara lisan maupun tulisan.

“Dakwah melalui tabligh akbar di masa sekarang akan mengumpulkan orang dengan jumlah yang banyak sehingga dihindari dulu karena masih dalam masa pandemi, oleh karena itu strategi dakwah yang terbaik bisa melalui Youtube, karena ada peluang untuk berdiskusi disitu.” ujarnya.

Murodi juga menjelaskan bahwa ada beberapa problematika dalam berdakwah melalui media digital seperti yang sering ditemukan yaitu minimnya penguasaan teknologi para da’i, terutama para da’i yang sudah berusia tidak muda lagi. Dan juga pesan-pesan dan dampak negatif yang marak beredar di era digital. Problematika seperti itu harus segera diatasi.

Sementara itu, narasumber lain Jamhari menyebut, menurut beberapa survei, banyak dari ustadz dan ustadzah seperti Mamah Dedeh dan Ust. Yusuf Mansyur memiliki kepopuleran yang tinggi di masyarakat karena menggunakan media massa dan media sosial dalam berdakwah.

Mengenai dakwah digital di Indonesia, Jamhari menjelaskan bahwa tidak ada negara lain yang memiliki keunikan dakwah melalui media sosial dan media massa kecuali di Indonesia. Sehingga dakwah-dakwah di Indonesia bisa memiliki kemampuan ke kancah internasional dan menjadikan dakwah di Indonesia memiliki keunikan dan keunggulan.

“Sayangnya belum banyak yang menulis dan melakukan risetnya, bahkan risetnya dilakukan oleh orang lain. Sehingga yang seharusnya riset itu dilakukan oleh para da’i-da’i di Indonesia namun malah orang luar yang melakukannya.”ujarnya.

Peserta Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Sehingga ia pun berpesan untuk seluruh civitas Fidikom agar tidak hanya berdakwah dalam ceramah dan tulisan, namun juga melakukan riset dakwah guna mengetahui strategi dakwah yang up-to-date. Kemudian, kurikulum di Fidikom juga harus link and match dengan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga mahasiswa dapat mengetahui dan memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang ini. Mahasiswa Fidikom juga harus menguasai teknologi dan informasi serta memiliki networking atau kerjasamayang baik dengan berbagai lembaga guna memudahkannya dalam berdakwah yang lebih efektif.

“Orang yang tidak melakukan riset akan ketinggalan jaman sehingga tidak akan dipakai, orang yang tidak melakukan kerjasama akan terkucil karena sekarang ini tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sendirian, semuanya harus berkoordinasi, lintas ilmu, dan lintas pengetahuan untuk mempunyai media dalam mempromosikan dakwahnya.” imbuhnya.

Reporter : Laode Akbar

Workshop Online “Meningkatkan Softskill dan Peluang Ekonomi di Masa Pandemi dalam Perspektif Islam”

Workshop Online “Meningkatkan Softskill dan Peluang Ekonomi di Masa Pandemi dalam Perspektif Islam”

Poster Workshop Online “Meningkatkan Softskill dan Peluang Ekonomi di Masa Pandemi dalam Perspektif Islam” (18/5/20)

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan workshop online dalam rangka memeriahkan Milad ke 30 tahun, bertema “Meningkatkan Softskill dan Peluang Ekonomi di Masa Pandemi dalam Perspektif Islam” (18/5/2020).

Workshop online berlangsung melalui aplikasi Zoom yang diikuti oleh 80 partisipan. Secara resmi dibuka oleh Dekan FIDIKOM UIN Jakarta Suparto, dengan narasumber Wahyu Prasetyawan (Dosen FIDIKOM UIN Jakarta) dan Akhsin Muamar (Manager PT. Bank Syariah Mandiri), serta dimoderatori oleh Amanda Reswara (Mahasiswi Manajemen Dakwah 2018).

Sambutan Dekan FIDIKOM UIN Jakarta, Suparto (18/5/20)

Wahyu Prasetyawan menjelaskan bahwa selama masa normal ekonomi bergerak berdasarkan tiga aliran yaitu capital (modal), goods (barang atau bahan baku), dan people (manusia). Namun dalam masa pandemi Covid-19 ini capital terhambat, supply barang terganggu, dan manusia mengurangi konsumsinya.

“Tujuan ekonomi dan bisnis dalam masa pandemik adalah hanya survive, bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan dan tidak bangkrut. Karena kalo bisa survive sekarang, ketika pandemi berakhir perusahaan masih bisa terselamatkan dan bisa melanjutkan kembali bisnisnya setelah pandemi bahkan bisa jauh lebih kuat” kata Wahyu.

Sehingga diperlukannya peningkatan softskill diantaranya curiosity (rasa ingin tahu), insight (wawasan), engagement (keterikatan), dan determination (determinasi/penentuan) yang dapat membawa seseorang kepada keberhasilan. Peningkatan softskill ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepercayaan terhadap diri dan menghilangkan rasa tidak enak.

Reporter : Ningtyas Septiani Putri