Siapkah Indonesia Menyambut Metaverse?

Siapkah Indonesia Menyambut Metaverse?

Oleh Afrida Syakira

Platform sosial media milik Mark Zuckerberg yaitu Facebook, kini telah melakukan rebranding menjadi lebih futuristik dengan menghadirkan dunia digital yang lebih nyata yang disebut dengan metaverse.

Istilah metaverse sendiri merupakan dunia virtual 3D yang akan dihuni dengan avatar sungguhan. Mark Zuckerberg sendiri menggambarkan metaverse ini sebagai teknologi yang menyajikan lingkungan virtual dan dapat kita masuki. Alih-alih hanya melihat layer, kita dapat dimanjakan dengan merasakannya langsung ke dalam dunia virtual.

Pada teknologi ini, semua orang akan saling terhubung secara virtual dan dapat melakukan aktivitas seperti bekerja, melakukan kegiatan transaksional, hingga hiburan. Contoh potensi yang dihadirkan oleh metaverse di antaranya meeting online yang lebih realistis, menonton konser, serta mengubah aktivitas digital lain yang sebelumnya dalam bentuk teks, gambar, dan video menjadi lebih realistis dengan bantuan perangkat virtual reality (VR).

Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha mengatakan bahwa dengan hadirnya metaverse ini akan menjadi tantangan yang besar bagi Indonesia, karena akan menghasilkan dampak yang positif dan juga negatif. Maka dari itu, perlu adanya persiapan yang matang bagi Indonesia untuk menggunakan teknologi ini.

“Ini menjadi tantangan serius, apakah negara punya cukup regulasi untuk mengatur metaverse nantinya. Karena ini kan seperti tanah wilayah tapi di wilayah siber. Bagaimana regulasinya, apakah kita siap atau tidak, masih ada waktu 1-2 tahun untuk negara siap menghadapi ini,” kata Pratama pada CNNIndonesia.com, Kamis (16/12).

Lebih lanjut, Pratama menambahkan bahwa dalam menghadapi kemajuan teknologi metaverse ini juga menjadi sebuah tantangan terhadap sejumlah lembaha pertahanan keamanan seperti BSSN, BIN, TNI, dan Polri untuk pertahanan keamanan ke depannya.

“Karena bila negara tidak siap, maka masyarakat akan secara otodidak dan otomatis masuk tanpa bekal apapun. Ini berbahaya karena bisa menyedot potensi ekonomi kita, transaksi terjadi di metaverse misalnya tanpa melewati negara,” ucap Pratama.

Dengan semakin majunya teknologi dan keterlibatan metaverse sangat besar bagi kehidupan yang akan datang, maka persiapan ini perlu dilakukan bagi seluruh negara dalam menghadapi dunia virtual baru.

Kabel Bawah Laut Facebook-Google, Bikin Internet Indonesia Kencang?

Kabel Bawah Laut Facebook-Google, Bikin Internet Indonesia Kencang?

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Elsa Azzahraita

Ilustrasi Kabel Internet Bawah Laut  
Sumber: Cyberthreat.id

Facebook dan Google dikabarkan akan membangun kabel trans-pasifik Echo dan Bifrost. Facebook mengungkapkan akan menarik dua kabel bawah laut untuk menghubungkan Indonesia, Singapura dan Amerika Utara dalam sebuah proyek dengan Google dan perusahaan telekomunikasi regional untuk meningkatkan kapasitas internet antar kawasan.

“Dinamakan Echo dan Bifrost, itu akan menjadi dua kabel pertama yang melalui rute baru yang beragam melintasi Laut Jawa dan akan meningkatkan 70% lebih kapasitas bawah laut secara keseluruhan di trans-pasifik,” ujar Wakil Presiden Jaringan Investasi Facebook, Kevin Salvadori, seperti dilansir dari Reuters, Senin (29/3).

Menurut para pengamat, kerjasama ini tidak dapat meningkatkan internet secara keseluruhan sebab dua kabel bawah laut yang dibangun hanya terhubung dengan pusat data dari dua perusahaan.

Dalam pembangunannya, Facebook dan Google akan bermitra dengan beberapa perusahaan di Indonesia seperti Telin dan XL Axiata, anak perusahaan Telkomsel, serta Keppel yang berbasis di Singapura.

Echo yang dibangun oleh Google dan XL Axiata, merencanakan target pembangunannya selesai di akhir 2023. Sedangkan Bifrost yang dibangun oleh Facebook dan Telin, menargetkan selesai di akhir 2024.

Menurut Direktur Eksekutif Mastel Arki Rifazka, dengan skema ini ada kemungkinan pengguna XL dapat mengakses lebih cepat berbagai layanan Google.

Begitupun sebaliknya, bisa jadi pengguna layanan internet grup Telkom akan lebih diuntungkan ketika mengakses Facebook hingga Instagram.

Telkom Indonesia menyebut proyek Bifrost dengan Facebook akan memenuhi bandwitch internet yang sangat besar di Indonesia.

Dalam keterangan lain, Facebok menyampaikan bahwa proyek kabel bawah laut bersama Google ini masih dalam tahap perizinan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi bahwasanya aturan kerjasama perusahan-perusahaan ini  masih dalam proses.

“Minggu lalu dibahas dalam Sosialisasi di Kementerian KKP (Kantor Pelayanan Pajak). Jadi, untuk business process masih akan dimatangkan aturannya dan akan keluar dala dua bulan mendatang” tuturnya.

Menurut Heru, aturan soal kabel bawah laut ini berdasar pada UU Ciptaker No.11 tahun 2020 yang diturunkan ke PP No.21 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Tata Ruang. Adapun untuk aturan kabel dan pipa bawah laut berdasar pada aturan Kepmen KKP No.14 tahun 2021.