Ragam Drama Pelaksanaan Pemilwa

Ragam Drama Pelaksanaan Pemilwa

Reporter Belva Carolina;  Editor Tiara De Silvanita

Ilustrasi Pemilihan Umum. (Pixabay/OrnaW)

Pemilihan mahasiswa (Pemilwa) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) UIN Jakarta dan diawasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Mahasiswa (BPPM) UIN Jakarta bertujuan untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua Eksekutif dan Anggota Legislatif Intra kampus UIN Jakarta berlangsung secara e-voting pada Senin, (18/4) pukul 07.00 sampai 17.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang didapatkan DNK TV, di tengah berlangsungnya pemungutan suara beberapa mahasiswa mengeluhkan kendala log in laman El-Musyma menggunakan NIM dan password AIS.

Beragam tanggapan mahasiswa UIN Jakarta, salah satunya Melba Zahrani yang menilai banyaknya mahasiswa mengakses dalam waktu bersamaan menyebabkan gagal  log in berulang kali dan cukup memakan waktu.

Menurut keluhan salah satu Mahasiswa UIN Jakarta berinisial L,  kendala ini menjadi salah satu faktor pemicu golput.

“Karena down seperti ini saya jadi malas untuk buka ulang. Kan kalau malas gini, nantinya akan muncul kemungkinan saya tidak akan balik lagi untuk milih. Kalau tidak balik lagi untuk milih, ya jadinya golput,” jelasnya pada Senin, (18/4).

Penuturan mahasiswa UIN Jakarta, Juva Salma Chotika menyayangkan teknis maupun sistem pelaksanaan yang sudah dipersiapkan jauh hari dan bukan kali pertama kegiatan Pemilwa diselenggarakan secara e-voting, semestinya dapat menghindari adanya kesalahan teknis serupa tahun lalu.

“Mungkin untuk pemilihannya dapat dilakukan secara bergilir, per fakultas atau per prodi agar tidak banyak yang akses dalam waktu bersamaan,” ucap Juva.

Selain ketidakstabilan server dalam pemungutan suara, DNK TV juga mendapatkan laporan dari beberapa mahasiswa bahwa maraknya pihak tim sukses (timses) paslon menghubungi para pemilih untuk menanyakan siapa yang akan dipilihnya hingga meneror via WhatsApp call  untuk memengaruhi pilihan para pemilih secara paksa.

Mahasiswa UIN Jakarta berinisial F menerangkan bahwa intervensi tersebut tidak hanya dilakukan secara intensif pada saat hari pemungutan suara berlangsung tetapi pihak timses sudah bergerilya jauh sebelum hari pelaksanaan.

“Menanyakan persiapan dalam pemilihan mahasiswa, menunjukan cara-cara e-voting, hingga meminta untuk screen record,” jelasnya.

F juga merasa sangat terganggu atas pemilihan yang tidak sesuai hati nurani dan asas-asas pemilu yaitu Luber dan Jurdil. Semestinya dapat memilih tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Dengan adanya intervensi pemilih akan terbesit pikiran untuk melakukan golput.