Animal Abuse Berdalih Wisata Halal, Dosen: Tidak Bisa Dibenarkan

Animal Abuse Berdalih Wisata Halal, Dosen: Tidak Bisa Dibenarkan

Oleh M. Rizza Nur Fauzi; Editor Ainun Kusumaningrum

Potret anjing bernama Canon pada saat masih hidup.
Sumber: Instagram-@rosayeoh

Akhir-akhir ini, media sosial sedang diramaikan oleh foto dan video seekor anjing bernama Canon. Anjing tersebut harus mati karena ulah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang membungkusnya dengan lakban dan karung, yang terjadi pada Selasa (19/10).

Dalam foto dan video yang telah tersebar luas di media sosial itu, disebutkan bahwa anjing tersebut mati setelah ditangkap untuk dipindahkan dari Pulau Banyak, Aceh Singkil. Anjing itu ditangkap Satpol PP Aceh Singkil dengan dalih wisata halal dan permintaan warga.

Pada Kamis (21/10), akun instagram @rosayeoh yang merupakan pemilik anjing bernama Canon tersebut menjelaskan, bahwa Canon mati setelah ditangkap oleh Satpol PP ketika menunggu kepulangannya. Salah satu petugas di antaranya membawa ranting panjang dan mengarahkannya ke rantai tempat Canon diikat.

Salah satu petugas Satpol PP yang mengarahkan ranting panjang ke rantai Canon.
Sumber: Instagram-@rosayeoh

Ia menyebut anjing tersebut kemudian dimasukkan ke keranjang kecil, lalu dibawa pergi. Tak hanya itu, Canon juga dimasukkan ke dalam karung terpal dan diikat. Ia menyebut anjing itu tak bisa bernapas hingga terbujur kaku, lalu mati.

Berita ini mengundang banyak komentar dari netizen, khususnya para pecinta hewan. Kebanyakan warga Indonesia ikut kesal dan angkat resah atas kejadian ini, tak sedikit juga dari mereka yang curhat dengan pengalaman serupa.

Dosen Fdikom UIN Jakarta, Taslimun Dirjam berpendapat bahwasanya wisata halal itu bukan berarti menghalalkan juga untuk membantai hewan haram seperti anjing, karena itu tidak termasuk ke dalam sesuatu yang ma’ruf.

“Halal itu bukan berarti harus membantai juga kan, termasuk membantai hewan haram seperti anjing, karena ini tidak termasuk ke dalam sesuatu yang ma’ruf. Yang dimaksud wisata halal di sini, yaitu dengan meluruskan kalau tempat wisata ini terbebas dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah seperti mabuk-mabukan, prostitusi, dan lain sebagainya yang biasa dilakukan di tempat-tempat wisata pada umumnya,” jelasnya pada Senin (25/10).

Di samping itu, ia juga mengimbau bahwa kita pun harus hati-hati dalam merespon berita seperti ini, ada grand issue yang jadi muatan lain dari pemberitaan ini.

“Namun kita juga harus hati-hati, jangan terbawa isu yang ingin menyudutkan pemerintah daerah dalam rangka mengarahkan ikhtiar ke arah kebaikan. Yang salah bukan wisata halal. Peristiwa pembantaian anjing itu juga harus diklarifikasi di TKP bagaimana yang terjadi, saksi-saksi di lapangan bagaimana. Intinya tabayyun dulu,” sambungnya.

Mahasiswa UIN Jakarta, Trisna Yudistira juga berpendapat bahwa ia tidak membenarkan atas kasus pembunuhan yang terjadi pada anjing ini dengan dalih wisata halal dengan alasannya tersendiri.

“Menurut saya kasus ini cukup rumit, dalam artian jika kondisi orang yang agak anti aparat pasti langsung mengklaim bahwa perbuatan Satpol PP ini salah, dan mereka juga tidak percaya atas pengakuan Satpol PP yang mengatakan bahwa perlakuannya itu tidak termasuk ke dalam penyiksaan terhadap hewan. Namun di sisi lain, sudah jelas bahwa penyiksaan terhadap hewan itu tidak bisa dibenarkan.”

Ia juga menyebutkan Mesir sebagai salah satu sampel daerah Islam yang terdapat banyak anjing, namun tidak sampai terjadi kekerasan atau pembunuhan terhadapnya.

“Menurut saya, pembunuhan terhadap hewan termasuk anjing jelas merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan. Soalnya, di Mesir atau daerah Islam lain yang terdapat banyak Anjing juga, meskipun anjing itu terkadang masuk ke dalam Mesjid, tidak sampai terjadi yang namanya kekerasan atau pembunuhan terhadapnya. Bahkan dalam hukum fiqh pun hal ini menjadi rukhshoh atau keringanan, meskipun anjingnya berstatus najis. Bahkan kalau tidak salah, menurut ustadz yang pernah tinggal di Mesir bahwa anjing di sana itu sudah biasa melangkahi sejadah di mesjid, seperti halnya kucing,” jelas Trisna lagi.

Diskusi Dosen Fdikom: Mewaspadai Kebangkitan Komunis Baru

Diskusi Dosen Fdikom: Mewaspadai Kebangkitan Komunis Baru

Reporter Hasna Nur Azizah; Editor Syaifa Zuhrina

Pemaparan materi oleh Daud Effendy
Sumber: DNK TV-Hasna Nur Azizah

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan diskusi dosen bertajuk “Mewaspadai Kebangkitan Komunis Gaya Baru di Indonesia” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (30/9).

Acara ini dihadiri oleh Dekan Fdikom Suparto, serta menghadirkan tiga narasumber dari kalangan dosen Fdikom, yakni Asep Usman Ismail, Daud Effendy, dan Helmi Hidayat.

Dalam paparannya, Asep Usman Ismail mengatakan ideologi komunisme tidak sesuai dengan ajaran Islam karena terjadi banyak propanganda, konfrontasi, manipulasi, dan lain sebagainya.

 “Jika partai bubar, bukan berarti komunis hilang,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa ideologi komunis di Indonesia tidak akan pernah mati, tetapi bangkit dengan gaya baru, fleksibel dan bisa beradaptasi sehingga bisa terus hidup di pikiran manusia sebagai ideologi.

Kemudian, Daud Effendy menjelaskan mengenai sejarah dalam menetapkan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, proses dan lika-liku yang dilalui bangsa Indonesia, sampai dengan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemaparan Materi oleh Asep Usman Ismail
Sumber: DNK TV-Hasna Nur Azizah

Terakhir, Helmi Hidayat membahas mengenai sosialisme dan komunisme. Ia menjelaskan Islam mendukung ajaran mulia komunisme dengan mengutip salah satu ayat di Al-Quran, yaitu Al-Hasyr ayat 7, serta meyakini bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah hal mustahil.

“PKI itu partai. Komunisme itu ideologi  pikiran. PKI itu sudah menjadi bangkai dan selamanya akan menjadi bangkai. Mari kita nikmati sejarah dengan baik, dengan akal sehat,” katanya.

Menurut salah satu peserta yang juga mahasiwa UIN Jakarta, Muhammad Febriandri menanggapi kegiatan ini sangat menarik dan menambah wawasannya.

“Tentu saja sangat menarik dan menambah wawasan saya dan ilmu pengetahuan kita terhadap komunisme, apakah ada gerakan baru atau bagaimana, dan kita bisa mengambil langkah-langkah untuk mematikan komunisme ini,” ucapnya.

Distribusi Daging Anjing, Animal Rescuer: Bukti Keegoisan Manusia

Distribusi Daging Anjing, Animal Rescuer: Bukti Keegoisan Manusia

Reporter Annisa Nahwan; Editor Ainun Kusumaningrum

Kegiatan kontrol Pasar Senen (8/1).
Sumber : Instagram-@pasarsenen.official

Jual beli daging ilegal yang sedang marak tersebar di pasar-pasar Indonesia, khususnya di Pasar Senen (Jakarta Pusat), Menyebabkan Pasar Senen mendapat teguran dan sanksi keras dari  manajer pemasaran Perumda Pasar Jaya, Gatra Vaganza mengatakan bahwa Pasar Jaya sudah memberikan sanksi bagi para penjual daging  ilegal khususnya pedagang daging anjing di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Ia juga megaskan bahwa jika masih ada yang mengedarkan daging anjing tersebut maka Pasar Senen akan ditutup secara permanen.

Daging anjing termasuk komoditi yang tidak boleh diperjual belikan di dalam pasar milik Perumda Pasar Jaya. Karena hewan ini rentan terhadap virus rabies.

Animal Defenders Indonesia juga telah melakukan somasi terhadap Pasar Senen sebelumnya, karena ditemukan peredaran dan penjual daging anjing ilegal di blok 3 los daging non halal. Daging anjing yang diperjual belikan juga diduga berasal dari sindikat penculikan anjing peliharaan bukan berasal dari pertenakan anjing, yang berpotensi besar membawa virus rabies.

Ilustrasi animal abuse
Sumber www.behance.net

Mahasiswa UIN Jakarta yang memiliki fokus perihal isu kekerasan terhadap hewan, Leica Rachmah mengatakan bahwa  hal ini sangat miris dan harus diusut tuntas sesuai Undang-Undang yang berlaku.

“Suka atau tidak suka kita tetep harus concern sama binatang, khususnya anjing dan kucing karena kita hidup berdampingan juga kan sama makhluk hidup lainnya. hal ini juga sudah termasuk membunuh apalagi bukan hewan layak konsumsi, bisa dilihat lah hukumannya ada di pasal 402 ayat 2 KUHP, dan yang lainnya bisa dilihat di UU tentang perlindungan hewan,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu animal rescuer, Ikhsan Farid. Menurutnya mengkonsumsi daging Anjing merupakan salah satu tindakan yang menampilkan sifat keegoisan dan keserakahan manusia.

“Bagaimana tidak, anjing bukanlah hewan yang lazim untuk dikonsumsi, melainkan salah satu hewan paling bermanfaat dalam membantu pekerjaan manusia, seperti pelacakan, penjaga rumah, dan sebagainya,” ujar Ikhsan.

Peredaran daging anjing  yang terjadi di Pasar Senen dianggap sebagai bentuk kurangnya fungsi kontrol Pasar Jaya, yang diharapkan segera bisa melakukan pengecekan secara intensif dan melakukan hal ini juga di pasar-pasar lainnya. Warga juga diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak yang terkait untuk melaporkan jika ada pedagang pasar yang masih nakal dalam aturan yang berlaku ini.

Sebagai Mahasiswa UIN Jakarta yang tinggal di sekitar Pasar Senen, Rabiatul Adawiyah beranggapan bahwa memang ada beberapa penjual nakal yang menjual daging-daging ilegal khususnya daging anjing. Namun, menurutnya berita ini sudah lama tidak beredar lagi dan ia berharap semoga tidak ada pedagang nakal lagi yang berjualan daging ilegal, agar Pasar Senen tidak mendapatkan sanksi penutupan pemanen.

Dosen UIN Jakarta, Lily Musfirah menjelaskan perihal ini dalam hukum Islam.

“Jika kita mengonsumsinya terlanjur kan artinya kita ga tahu ya tidak apa-apa karena ini termasuk salah (tanpa sengaja). tetapi setelah tahu jangan diteruskan.  Nabi bersabda: Allah memaapfkan dari umatku tiga hal: salah (tanpa sengaja), lupa, dipaksa,” jelasnya.

Lily juga menambahkan haram atau halalnya makanan itu karena Allah SWT ingin  menguji keimanan dan ketaatan seseorang akan perintah dan larangan-Nya.

“Islam sangat melarang umatnya menyakiti siapapun, termasuk kepada hewan. Rasulullah melarang umatnya untuk menyiksa hewan. Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah menganjurkan umatnya agar memperlakukan hewan dengan baik. Misalnya ketika hendak menyembelih hewan (ayam, kambing, sapi dan lain lain), umat Islam diperintahkan agar menyembelih hewan tersebut menggunakan pisau tajam yang sekiranya tidak menyiksa hewan tersebut ketika disembelih dan merawat mereka (memberi makan dan minum).”

#MnetApologize, Dosen Fdikom: Penting Pahami Toleransi Beragama

#MnetApologize, Dosen Fdikom: Penting Pahami Toleransi Beragama

Reporter Jenni Rosmi Aryanti; Editor Syaifa Zuhrina dan Nur Arisyah Syafani

Saluran musik televisi Korea Mnet menuai kecaman Warganet dengan trending #MnetAppologize

Saluran musik televisi Korea, Mnet menuai kecaman setelah mengunggah video dari program “Sreet Woman Fight” dengan azan remix sebagai latar belakang musiknya, pada Rabu (8/9). Dimana tagar #AzanBukanMainan dan #MnetApologize pun menjadi trending di Twitter dan Tik Tok.

“Tim produksi melihat bahwa siaran elektronik dari lagu tersebut cocok sebagai musik latar program. Kami tidak memiliki niat lain.” ungkap Mnet pada unggahan Instagram resminya.

Dugaan pelecahan agama ini pada awalnya disadari sejumlah warganet  yang secara tak sengaja mendengar musik pembuka program, dan terdengar suara azan.

Dalam keterangan resminya, Mnet menyampaikan tak bermaksud untuk melecehkan Islam. Mereka hanya memilih lagu tersebut (azan remix) karena cocok menjadi pengiring program. Mnet pun berdalih bahwa lagu tersebut telah terdaftar resmi di situs streaming.

Permintaan maaf dan klarifikasi Mnet
Sumber :  Instagram-@mnet_dance

Salah satu mahasiwa Jurnalistik UIN Jakarta, Rizky Endrawan berpendapat bahwa dari peristiwa ini sebaiknya umat Islam berkomentar dengan cara yang baik, agar pihak terkait tidak mengulangi hal serupa.

“Sebagai umat Islam, tugas kita adalah memberikan komentar berupa memberitahukan kepada produser program tersebut jika azan adalah hal yang sakral bagi umat Islam dan tidak boleh digunakan sembarangan. Sehingga jika produser dan tim nya bertanggung jawab tentu video itu dihapus,” jelas Rizky saat diwawancarai secara online  pada Kamis (9/9).

Mengingat peristiwa pelecehan terhadap agama tidak hanya sekali dan bukan terhadap agama Islam saja, tentu mencerminkan intoleransi antar umat beragama.

Menurut Dosen UIN Jakarta, Syahirul Alim toleransi beragama tidak menjustifikasi bahwa keyakinan diri seseorang itulah yang paling benar, sedangkan yang berbeda keyakinan dengannya dianggap salah atau sesat.

“Kata Al-Quran: ‘Janganlah merasa diri kalian paling suci, sebab Allah Maha Mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara kalian.’ Dengan demikian toleransi harus memiliki prinsip saling menerima dan memahami keberadaan orang lain yang berbeda dengan kita (coexistance),” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan untuk sebaiknya tidak menggunakan simbol-simbol agama dalam konteks entertainment terlebih hiburan. Kecuali, dalam batas-batas tertentu yang masih diterima sebagai bagian dari tradisi atau budaya.

“Kaitannya dengan peristiwa ini, sadar literasi berarti sadar akan komunikasi baik verbal maupun nonverbal untuk lebih memberikan kenyamanan publik, bukan memancing kegaduhan,” pungkasnya.

Mengenal Baha’I: Agama yang Menjadi Buah Bibir pasca Pernyataan Menag

Mengenal Baha’I: Agama yang Menjadi Buah Bibir pasca Pernyataan Menag

Oleh Udkhiya Navidza Zahra; Editor Fauzah Thabibah

Umat Baha’i.
Sumber: Getty Image

Tepat pada 200 tahun yang lalu sekitar abad ke – 19 berdasarkan catatan Kementrian Agama pada tahun 1878 telah masuk sebuah agama baru ke Indonesia yaitu Agama Baha’i dibawa oleh pedagang bernama Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Agama ini datang dari dataran Persia pada tahun 1844, diusung oleh Mirza Husayn Ali Nuri yang bergelar Bahau’llah  (kemuliaan tuhan). Sejak hari itu untuk pertama kalinya ia mengaku bahwa dirinya ialah utusan Tuhan di dunia.

Sebenarnya agama ini masih sangat asing dimata masyarakat Indonesia, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Namun, nyatanya agama ini sudah memiliki pengikut yang tidak bisa dibilang sedikit. Walaupun pada masa Kepresidenan Ir. Soekarno agama ini telah dinyatakan menjadi organisasi terlarang mulai pada penghujung Orde Lama, pelanggaran itu termasuk dalam keputusan presiden nomer 264 tahun 1962.

Selama hampir 40 tahun setelah resmi dilarang, agama ini ternyata masih tetap hidup dalam sebuah komunitas-komunitas kecil di wilayah Indonesia. Tepat pada tahun 2000 pada masa kepresidenan Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur keputusan Agama Baha’i telah dinyatakan sah secara legal, hal ini dimanfaatkan oleh komunitas—komunitas kecil untuk eksitensi dalam menyebarkan agama tersebut.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Sumber: Dok Kemenag

Rezim kembali berganti, Baha’i tetap hidup di negeri ini. Polemik yang kini sedang panas diperbincangkan oleh warganet di Indonesia datang dari Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang menyampaikan selamat Hari Raya Nauruz kepada umat Baha’i dalam unggahan video kanal Youtube Baha’i Indonesia pada 26 Maret lalu. Unggahan tersebut rupanya membuat warganet geram, mengapa seorang Menteri Agama bisa menyampaikan hal demikian. Pasalnya Baha’i selama ini tak masuk dalam enam agama yang dikenal di negara ini.

Akhirnya, pemerintah angkat bicara menyampaikan dengan tegas. Melalui Peneliti Puslitbang Kemenag, Abdul Jamil Wahab mengatakan bahwa Indonesia menjamin dan melindungi hak warganya untuk memeluk agama masing-masing.

“Negara menjamin dan melindungi warga negara memeluk agama sesuai keyakinannya dan menjalankan ibadah,” ucap Abdul.

Menurutnya seluruh penganut agama berhak mendapat perlindungan yang sama dari negara. Jelas disebutkan dalam pasal 1 UU no. 1 PNPS Tahun 1965 bahwa di luar 6 agama yang ada di Indonesia tetap mendapat jaminan negara, selagi tidak menyalahi peraturan perundang-undangan. 

Selain itu para staf Menteri Agama juga menyampaikan bahwa yang telah dilakukan oleh Yakult Cholil adalah hal yang sah dilakukan oleh pejabat negara sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis, juga menanggapi perihal polemik ini, dirinya berharap pemerintah tidak berlebihan dalam menyikapi keberadaan Agama Baha’i , dinilai dari negara ini yang hanya mengakui 6 agama saja.

“Memang negara wajib melindungi umat agama, tapi jangan offside menjadi melayani yang sama dengan enam agama yang diakui,” kata Cholil.

Dosen Keagamaan FDIKOM UIN Jakarta, Helmi Hidayat, menjelaskan mengenai Agama Baha’i yang masuk Indonesia bahwasannya agama ini Monoteis belaka, bertuhan satu, beragama Tauhid, sama halnya seperti Agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Yakub, Agama Nasrani yang dibawa oleh Nabi Isa.

Ia juga menjelaskan, sama dengan Agama Baha’i, jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada ratusan agama beredar di Nusantara, hanya saja karena jumlah penganut agama terbanyak terdapat dalam 6 agama yang dikenal di negara ini. Oleh sebab itu, masyarakat memiliki kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing. Memberikan kebebasan beragama bukan mengakui agama, pun penganut Agama Baha’i juga memiliki hak untuk berada di negeri ini. Sama halnya dengan pengucapan Selamat Hari Raya yang dilakukan Menteri agama.

“Menteri agama enggak boleh (hanya) jadi menteri agama Islam. Kalau misalnya menteri agama hanya mengucapkan selamat Idulfitri tapi yang lainnya enggak diucapkan, buat apa kita bikin negara kesatuan dan persatuan republik Indonesia, buat apa kita berpancasila,” ucap dosen tersebut.

Ia juga menambahkan selama ucapan selamat hari raya pada suatu agama apa pun di Indonesia ini tidak melanggar aturan negara, mestinya apa yang dilakukan Menteri Agama bisa diterima. Helmi Hidayat membolehkan umat Islam menyampaikan selamat Natal pada kaum Nashrani sebab Natal berarti hari kelahiran, yakni kelahiran Nabi Isa AS. Dalilnya adalah bahwa Allah SWT saja mengucapkan selamat hari lahir pada Nabi Isa dalam Q.S Maryam (19) Ayat 33: ‘’Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan (Natal), pada hari Wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan.

Sikap yang perlu dilakukan masyarakat Indonesia, kata lulusan the University of Hull Inggris itu, adalah membangun toleransi antarsesama dan menjaga persaudaraan dan ikatan sosial yang kuat.

Sementara itu, mahasiswa UIN Jakarta, Rahman Uwais, berpendapat bahwa masuknya Agama Baha’i ke Indonesia adalah hal wajar mengingat sejak dulu negara ini memiliki bermacam komunitas keagamaan, seperti penganut paham Yahudi, aliran Syi’ah, atau pun aliran lainnya.

“Menurut saya, masuknya Agama Baha’i di Indonesia adalah hal yang wajar. Akan tetapi jika kita melihat dari sudut pandang Islam. Khusunya pada pembahasan Agama Baha’i, agama ini berasal dari Persia. Baha’i tersebut pada mulanya merupakan kelompok Syi’ah Itsnata Asyaraha yang kemudian berubah Ideologi dengan membuat kepercayaan baru. Hal tersebutlah yang menyinggung perasaan umat Islam di negara ini. Mengapa demikian? Karena Kepercayaan Baha’i telah mengklaim diri mereka menjadi agama baru yang mempunyai Nabi dan juga kitab suci. Dan pengikut Syi’ah adalah kelompok yang keluar dari Ahlu Sunnah Wall Jama’ah,” jelas Rahman.

Rahman juga menambahkan, dirinya tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Menteri Agama selama tidak ada oknum yang berusaha mencampurkan ideologi Islam dengan kepercayaaan lainnya.

Dilihat dari polemik yang semakin meluas ini timbul harapan dari masyarakat serta dari Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PUKB), Kementrian Agama Nifasri, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid, dan lainnya untuk segera menghentikan Agama Baha’i ini demi menghormati masyarakat Indonesia yang pada hakikatnya hanya mengakui enam agama saja yaitu Islam , Kristen, Khatolik, Hindu, Bundha, Koghucu.