Penyelewengan Dana ACT: Ironi dibalik Donasi

Penyelewengan Dana ACT: Ironi dibalik Donasi

Reporter Nura Inayatus Sa’adah; Editor Belva Carolina

Logo Aksi Cepat Tanggap. (News ACT)

Adanya pemberitaan mengenai penyelewengan dana oleh petinggi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) oleh Tempo, membuat lembaga ini menjadi perbicangan panas dan trending di platform Twitter dengan tagar “Jangan Percaya ACT” pada Minggu (3/7) malam.

Realita Kepedulian ACT yang Miris

Aksi Cepat Tanggap (ACT) merupakan lembaga kemanusian pengelola dana sosial dan bencana yang sudah berdiri selama belasan tahun dan sudah menjadi kepercayaan masyarakat Indonesia. Bukan hanya penggalangan untuk korban bencana di Indonesia ACT juag mengadakan penggalangan dana untuk korban konflik bersenjata negara Islam yang tentunya membuat masyarakat tak ragu untuk berdonasi.

Namun, pemberitaan penyelewengan oleh petinggi ACT sontak membuat masyarakat kecewa dan mendesak Polri, Kemenkumham, dan Kemendagri membongkar dugaan penyelewengan dana tersebut.

Melansir dari Tempo, banyak kejanggalan di ACT terjadi dalam pengumpulan dan penyaluran donasi. Mulai dari kampanye yang diduga tidak sesuai dengan fakta hingga potongan donasi berlebihan. Gaji besar dan fasilitas mewah para pendiri dan pejabat yayasan juga menjadi permasalahan yang harus diungkap.

Seperti halnya, wakaf 400 sapi dan 43 hektare lahan di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang dipublikasikan pada Maret 2019. Faktanya hingga saat ini wakaf tersebut belum terwujud.

Selain itu ada kampanye mendirikan surau yang diklaim pertama dibangun di Sydney, Australia pada April 2020. Faktanya ada sekitar 160 pusat kegiatan agama Islam di Sydney. Terakhir, kampanye donasi pembangunan masjid pertama di Desa Kepuhrejo, Magetan, Jawa Timur pada Januari 2021. Faktanya, saat itu sudah ada tiga masjid.

Adapun pemotongan donasi berlebihan yang diterapkan oleh ACT seperti donasi pembangunan masjid di Desa Kepuhrejo tercatat Rp 17,702 juta namun yang tersalurkan hanya Rp 9 juta. Donasi pembangunan surau di Sydney pun terdapat pemotongan, dimana donasi yang terkumpul berjumlah Rp 3 miliar namun yang disalurkan hanya Rp 2,3 miliar.

Bukan hanya itu, banyak rencana pembangunan pesantren dan sekolah yang belum terealisasikan hingga sekarang meskipun sudah ada dana untuk pembangunannya.

Kejanggalan lain yang dipertanyakan adalah mengenai aliran dana ACT ke Suriah yang diungkap oleh Dina Sulaeman dalam utas Twitternya.

Utas Dina Sulaeman mengenai kejanggalan ACT. (Twitter/@dina_sulaeman)

Dina mengungkap bahwa sejak awal konflik Suriah, ACT sudah aktif menggalang donasi. Bahkan ACT menebar narasi yang sejalan dengan para teroris dan menggunakan bendera pemberontak Suriah bukannya bendera resmi Arab Suriah. Dalam utasnya tersebut Dina pun mengungkap kejanggalan lain mengenai donasi ACT untuk Suriah.

Seluk Beluk Penyelewengan oleh Para Petinggi

Ahyudin, petinggi ACT yang baru saja dilengserkan, disebut menerima gaji lebih dari 250 juta rupiah selama menjabat menjadiKetua Dewan Pembina ACT. Jumlah tersebut adalah jumlah yang fantastis untuk organisasi sosial dan kemanusiaan nirlaba yang menghimpun donasi masyarakat.

Sedangkan bawahan Ahyudin, seperti Senior Vice President disebut mendapatkan gaji sebesar Rp 150 juta. Adapun Vice President sebesar Rp 80 juta per bulan. Direktur eksekutif mendapat gaji sekitar Rp 50 juta dan direktur sebesar Rp 30 juta.

Dua mantan petinggi ACT membenarkan besaran gaji tersebut. Mereka bercerita, gaji yang diterima dalam setahun bisa mencapai 18 kali karena adanya beraneka ragam bonus. Saat Idul Adha, misalnya, mereka mendapat satu kali gaji “bonus kurban”. Petinggi ACT juga menerima gaji ketika tahun ajaran baru, dan bonus lain diterima jika jumlah donasi suatu program melebihi target.

Ahyudin berdalih memberikan gaji tinggi supaya mereka dapat bekerja maksimal dan membuat program yang baik.

“Saya pasang tinggi gajinya, saya paksa kerja habis-habisan supaya ACT bisa mempersembahkan program yang baik,” ujar Ahyudin.

Bukan hanya gaji yang besar, para petinggi ACT juga mendapatkan sejumlah fasilitas kendaraan dinas yang mewah. Ahyudin misalnya, mendapatkan tiga mobil, yaitu Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero Sport, dan Honda CR-V. Pejabat di bawahnya hingga tingkat Vice President pun mendapatkan Pajero Sport. Adapun Direktur Eksekutif dan Direktur masing-masing mendapatkan Toyota Innova dan Avanza.

Ahyudin membenarkan adanya fasilitas mobil dan perjalanan dinas kelas satu yang diterimanya. Namun ia mengatakan fasilitas itu sesuai dengan plafon yang telah disetujui semua pemimpin ACT.

Sejumlah anggota staf dan mantan petinggi ACT menduga bahwa pemborosan dan penyelewengan dana yang terjadi selama bertahun-tahun menjadi penyebab krisis keuangan yang melanda ACT.

Cuitan Tanggapan dan Kritikan untuk ACT
Setelah keluarnya pengungkapan penyelewangan ACT oleh Tempo banyak masyarakat yang menyuarakan tanggapan, kritik, dan opini melalui cuitan twitter mereka. Pendapat pro dan kontra pun banyak dan membuat perbincangan mengenai kasus ACT di twitter semakin memanas.

Afwa Riyadi dengan nama pengguna @af1_ memberikan tanggapannya dalam utas, menurutnya gaji yang didapatkan petinggi ACT adalah wajar dan sudah sesuai.

“Donasi masyarakat yang dikelola ACT & Dompet Dhuafa angkanya fantastis; ratusan milyar per tahun. Tapi jika ACT dirumorkan petinggi-petingginya digaji ratusan juta sebulan, Dompet Dhuafa pimpinan tertinggi 40 juta. Saya rasa hal itu wajar. Amil memang berhak mendapat 10% dari donasi yang terkumpul,” cuitnya.

Sedangkan pengguna dengan username @SWEETICETE4 berpendapat berbanding balk dengan Afwa Riyadi.

“ACT berlindung ke syariat Islam bahwa amil (pengelola) sedekah berhak dapet bagian. Masalahnya, mereka mengembat 60-80% sedekah buat amil, sisanya 20-40% yang disalurkan. Sementara Kita Bisa, dan lainnya cuma ambil 5-10%,” balasnya dalam cuitan @akarprana.

Nyatanya memang banyak sekali yang berbisnis dengan mengatasnamakan Islam namun tidak sejalur dengan syariat Islam itu sendiri. Seakan-akan agama menjadi bisnis paling menjanjikan sehingga banyak yang menjual agamanya sendiri.

Tak sedikit pula masyarakat yang mengungkapkan ketakutan dan ketidakpercayaan mereka untuk berdonasi di suatu lembaga. Dan sebagian masih tetap percaya dengan ACT dan tidak percaya dengan bukti-bukti ataupun pemberitaan kasus penyelewengan ACT.

DNK Berbagi 2022: Semangat Berbagi, Kuatkan Silaturahmi

DNK Berbagi 2022: Semangat Berbagi, Kuatkan Silaturahmi

Reporter Riyasti Cahya Rabbani; Editor Dani Zahra Anjaswari dan Fauzah Thabibah

Pembagian santunan kepada anak yayasan. (DNK TV/Debri Wahyu)

Sebagai bentuk silaturahmi dan kepedulian pada sesama, Dakwah dan Komunikasi Televisi (DNK TV) UIN Jakarta menyelenggarakan acara santunan bersama anak-anak Yayasan Cinta Yatim dan Dhuafa pada Minggu (17/4).

Santunan tersebut merupakan puncak dari kegiatan DNK Berbagi 2022.

DNK Berbagi sendiri merupakan acara tahunan DNK TV yang dilaksanakan untuk berbagi rezeki dan keberkahan pada bulan Ramadan.

Rangkaian puncak acara DNK Berbagi 2022 berisi kegiatan edukasi serta hiburan, santunan kepada anak yatim, dan ditutup dengan buka puasa bersama.

Sebelumnya, DNK Berbagi 2022 telah melaksanakan Takjil On The Road (TOTR) dengan rute dari Ciputat hingga Bintaro, pada Sabtu (16/4).

Pengemudi ojek dan orang pinggir jalan menjadi sasaran pembagian TOTR untuk mempermudah mereka yang masih berada di jalan ketika waktu berbuka tiba.

Pelaksanaan TOTR di sekitar wilayah Ciputat. (DNK TV/Zharfan Zahir)

Ketua Pelaksana DNK Berbagi 2022, Syahrabiel, mengatakan acara kali ini mengusung tema “Semangat Berbagi, Kuatkan Silaturahmi” yang bertujuan membangkitkan semangat, rasa ikhlas, dan jiwa kekeluargaan bersama anak-anak yatim dan duafa.

“Keunikan dari acara DNK Berbagi tahun ini kita menambahkan edukasi mengenai media sosial kepada anak-anak yayasan, karena di usia ini penting sekali untuk memberikan edukasi seperti itu agar mereka tidak kecanduan dengan media sosial,” tambahnya.

Dalam acara DNK Berbagi 2022 terdapat 44 anak yatim dan duafa yang mendapatkan santunan. Bukan hanya itu, donasi berupa sembako pun turut diberikan kepada yayasan panti.

Diketahui total donasi yang masuk untuk DNK Berbagi 2022 mencapai lebih dari 25 juta rupiah yang berasal dari para donatur diberbagai lapisan masyarakat.

Acara ini mendapat tanggapan positif dari pihak yayasan, Akhmad Zaenudin Al-Hanif, ia berterima kasih karena dengan kegiatan ini membuat anak binaan yayasan lebih produktif di bulan suci Ramadan.

“Harapan kami mudah-mudahan DNK Berbagi bisa melanjuti kegiatannya, tidak berhenti sampai di sini mengingat kegiatan ini sangat positif untuk anak-anak,” ujarnya.