UIN Jakarta dan Fdikom teken MoU-PKS dengan IPHI

UIN Jakarta dan Fdikom teken MoU-PKS dengan IPHI

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Fauzah Thabibah

Foto bersama usai rangkaian penandatanganan MoU dan PKS antara UIN Jakarta dan Fdikom dengan IPHI.
Sumber: DNK TV-Muhammad Rizza Nur Fauzi

Pada Jum’at (21/1) dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) dengan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Wakil Rektor bidang kerja sama, Lily Surraya Eka Putri, dan Dekan Fdikom, Suparto. Selain itu, dari pihak IPHI hadir Sekretaris Umum, Bambang Wiryanto, Wakil Ketua Bidang Dakwah, Anshori, dan Kepala Biro Bidang Haji dan Umrah, Dedi. Serta beberapa jajaran dari pihak Fdikom UIN Jakarta, yang berlangsung secara tertib dan khidmat.

IPHI merupakan suatu organisasi kemasyarakatan khususnya dalam masyarakat Islam dan sebagai suatu lembaga yang melestarikan juga menjadi wadah komunikasi, silaturahim bagi para alumni haji.

Sedangkan, UIN Jakarta sendiri ialah salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai kolerasi dengan IPHI dan diperuntukan oleh para haji.

Kerja sama ini bertujuan agar terselenggaranya rencana IPHI dimana akan diadakan workshop, pelatihan, serta kegiatan lainnya. Untuk itu UIN Jakarta menjadi suatu lembaga yang akan berperan dalam bidang yang relevan. Sehingga kerja sama bisa terus dijalin dengan baik.

Dalam IPHI sendiri memiliki program-program yang mampu meningkatkan kompetensi para alumni UIN Jakarta. Salah satunya dalam bidang dakwah dan bimbingan haji. Ini merupakan tujuan berikutnya dilakukan kerja sama antara IPHI dengan UIN Jakarta dan Fdikom.

Ketua IPHI, Erman Suparno memaparkan bahwa program yang ada di IPHI mampu meningkatkan kompetensi para alumni UIN Jakarta.

“IPHI punya program-program yang bisa meningkatkan kompetensi dari pada alumni dengan program-program IPHI. Misalnya dibidang dakwah, kemudian dibidang bimbingan haji, umroh, dan ini relevan,” ujarnya.

Rektor UIN Jakarta, Dekan Fdikom, dan Ketua IPHI saat memperlihatkan surat MoU dan PKS yang telah ditandatangani.
Sumber: DNK TV-Muhammad Rizza Nur Fauzi

Adapun harapan dari Dekan Fdikom, Suparto adalah dengan terselenggaranya perjanjian ini dapat saling menguntungkan.

“Kerja sama ini bisa saling menguntungkan terutama dalam penguatan lembaga dan juga penguatan SDM,” harapnya.

Sejalan dengan Dekan Fdikim, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis menyampaikan bahwa adanya kegiatan ini menjadi salah satu langkah baik untuk kegiatan selanjutnya.

Ia juga berharap bahwa kerja sama ini tidak hanya dilaksanakan dengan Fdikom saja, melainkan juga dengan fakultas-fakultas lainnya yang ada di UIN Jakarta.

“Di sini bisa kita lakukan penyuluhan-penyuluhan, bekerja sama dengan dosen dan fakultas. Bukan hanya Fakultas Dakwah saya harap, jadi bisa fakultas lainnya bila memang diperlukan,” ucap Rektor UIN Jakarta tersebut.

Salah satu isi MoU antara UIN Jakarta dengan IPHI tentang pelaksanaan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi pada Pasal 8 No. 5 yakni pelaksanaan dari nota kesepahaman ini akan dipantau dan dievaluasi oleh para pihak secara sendiri-sendiri atau bersama-sama paling kurang satu kali setahun sebagai bahan pertimbangan terhadap pelaksanaan kerja sama selanjutnya.

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Reporter Belva Carolina; Editor Fauzah Thabibah

Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” yang dipaparkan oleh Penyaji Laifa Annisa Hendarmin, Koordinator Penelitian Pesantren & Pandemi.
Sumber: DNKTV-Belva Carolina

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui CONVEY Indonesia mengadakan Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” pada Rabu (19/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan dalam sambutannya bahwa tujuan yang ingin dicapai yaitu mendapatkan data yang komprehensif bagaimana pesantren berusaha keluar dari problem yang dihadapi sejak pandemi muncul.

“Pesantren sangat rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19 dan ingin melihat kebijakan apa yang diambil oleh pesantren, melihat kaitan pandemi dengan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, serta menyoroti pula peran Kiai dalam mempromosikan prokes, meluruskan hoaks atau konspirasi, dan menyelesaikan problem Covid-19,” tuturnya.

Hasil studi penelitian diperoleh dari 15 pesantren yang memiliki sekolah menengah atas di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat terkait dengan kerentanan dan ketahanan Pesantren. Sumber pandemi dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, dan politik serta peran Nyai dan pemimpin perempuan di pesantren selama masa pandemi dengan metodologi penelitian yaitu Convergent Mixed Method Study yang dilakukan sejak bulan Januari sampai Oktober 2021.

Kemampuan pesantren sebagai institusi untuk merespon dan memitigasi pandemik yang terjadi untuk tetap memiliki siklus kinerja institusional yang baik, dalam hal ini pelayanan pendidikan dan pengasuhan di pesantren.

Berdasarkan penyampaian Team Leader CONVEY Indonesia, Profesor Jamhari Makruf bahwa dengan kapasitas dan pengetahuan kesehatan yang terbatas pesantren dapat bertahan bahkan dijadikan contoh pendidikan umum lainnya.

“Dampak positifnya membuka kesadaran pesantren untuk meningkatkan aspek kesehatan dan kebersihan menjadi bagian hidup pesantren serta mengadaptasi dunia digital sebagai kebutuhan santri saat di luar pesantren, serta harapan adanya uluran tangan pemerintah,” ucap Jamhari.

Pesantren saat pandemi mendapatkan penanganan langsung dari Kemenag dengan adanya program Gugus Tugas Covid-19, Edukasi Penanganan Covid-19, Sosialisasi SKB 4 Menteri, Bantuan langsung, Buku Pesantren Tanggap Bencana Covid-19, dan Program Pesantren Tangguh Covid – 19.

Namun semua itu realitanya tidak membendung adanya klaster penyebaran Covid-19 pada lingkungan pesantren. Dapat dilihat dalam media dan riset yang dihasilkan yaitu terdapat 605 Kyai dan Ibu Nyai yang meninggal terinfeksi Covid-19 serta 67 pondok pesantren dengan 4328 santri terinfeksi Covid-19 di 13 provinsi di Indonesia.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa pesantren mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

“Kyai dan Bu Nyai bersama-sama dan bergotong-royong melindungi santri tetap sehat. Hasil survei dalam data kami lingkungan pesantren relatif mengikuti protokol kesehatan, hanya saja keterbatasan banyak hal seperti informasi hoaks dari eksternal pesantren,” tegasnya.

Adapun dalam riset penelitian yaitu pengetahuan santri dan guru dalam merespon pandemi sudah cukup namun terdapat beberapa aspek yang masih minim seperti edukasi dan infodemik serta sikap santri dan guru dalam merespon pandemi yaitu tidak ingin orang lain tahu jika terkena Covid-19 dan masih setuju orang tua untuk berkunjung selama pademi.

Hasil Kajian Dampak dan Ketahanan Institusi PLTA di 15 pesantren Jakarta, Banten, dan Jawa Barat saat Krisis Pandemi Covid – 19 yang dikemukakan oleh Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari.
Sumber: DNK TV-Belva Carolina

Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari menerangkan manfaat penelitian ialah meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku yang positif terhadap protokol, mendapatkan perhatian serta pengetahuan tentang pencegahan dan sikap terhadap respon pemerintah, serta memberikan pemahaman yang terus-menerus melalui para Kyai dan Nyai mengenai persepsi terhadap vaksin.

“Adapun perilaku pencegahan dan pengendalian secara individu seperti pencarian sumber kesehatan yang kredibel, adanya etika saat batuk atau bersin, dan pola hidup sehat, serta secara kelompok yaitu literasi kesehatan, pelaksanaan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan kelompok seperti tracing, test, dan treatment kemudian pengendalian dan komunikasi risiko.”

Anggota DPR-RI Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily sebagai wakil rakyat dalam berbagai kesempatan selalu menyampaikan bahwa Covid-19 bukanlah konspirasi dan kewajiban kita semua memastikan agar anggapan seperti ini tidak muncul di masyarakat.

“Intinya adalah salah satu hal yang sangat penting dapat menjelaskan mengenai Covid-19 kepada masyarakat terutama dalam lingkungan pesantren agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Alangkah baiknya sampel riset ini dapat diperbanyak sehingga dapat menggambarkan kondisi pesantren pada masa pandemi, serta perlunya evaluasi dari kalangan pesantren apakah penanganan Covid-19 ini sudah tepat atau belum.

Harapan darinya pemerintah pusat dan daerah tidak saling melempar tanggung jawab dalam penanganan Covid-19.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIO) Jakarta, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, menganalisis peran Kyai dan Nyai di beberapa pesantren yang sangat dinamis dan jika ingin membidik relasi keadilan atau relasi Nyai dan Kyai yang setara mengukurnya dengan lensa keadilan hakiki untuk melihat pergulatan bagaimana peran gender yang konvensional dalam relasi suami-istri itu juga mempengaruhi pembagian peran antara Kyai dan Nyai.

Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Gus Romzi Ahmad memaparkan bahwa riset yang dilakukan PPIM perlu direspon dengan baik dan dapat dijadikan rujukan oleh pondok pesantren.

“Perlu adanya penerimaan sebuah riset secara terbuka, mulai belajar auto kritik dan memperbaiki banyak hal dari dalam agar di kemudian hari pondok pesantren bisa jauh lebih baik, mapan, dan efektif menangani masalah krisis terutama yang berkaitan dengan krisis sosial,” tegasnya.

Status vaksinasi Covid-19 dalam lingkungan pesantren terdapat 70,5 persen responden telah di vaksin, 36% masih ragu dan tidak berminat dalam melaksanakan vaksinasi serta 5% menolak vaksin karena agama. Hal tersebut beriringan dengan pemahaman fikih pandemi yang masih minim.

Sertifikasi Haji dan Umrah: Upaya Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Pelayanan Ibadah di Tanah Suci

Sertifikasi Haji dan Umrah: Upaya Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Pelayanan Ibadah di Tanah Suci

Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief saat menyampaikan sambutan pembukaan.
Sumber: DNK TV – Fajar Khairifais

Pembukaan Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan ke VI Tahun 2022 merupakan kerjasama antara Ditjen PHU Kementrian Agama Republik Indonesia, Forum Komunikasi (FK) KBIHU DPW Provinsi DKI Jakarta , dan UIN Jakarta. Acara dilaksanakan pada Rabu, (19/01) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

Kegiatan diawali registrasi peserta pada pukul 08.00 WIB kemudian dilanjutkan pre-test sebagai alat ukur pengetahuan dasar mengenai materi haji dan umrah. Acara ini dihadiri oleh Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Cecep Choirul Anwar, Ketua FK KBIHU M.Machmud, Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto.

Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief mengatakan agar jemaah haji dan pelayanan jamaah haji bisa meningkat, maka perlu mencetak pembimbing-pembimbing yang profesional dengan kualifikasi tertentu dalam segi wawasan, keterampilan, dan kepemimpinan untuk dapat terus didorong

“Kita tahu bahwa kebutuhan calon jamaah haji bukan hanya pada saat mereka akan berangkat, bukan hanya materi tentang ibadah haji tapi kita juga perlu memikirkan materi-materi keislaman lainnya,” terang Hilman Latief.

Pembukaan Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan ke VI Tahun 2022.
Sumber: DNK TV – Fajar Khairifais

Rektor UIN Jakarta Amany Lubis berharap agar pembimbing haji dan umrah menguasai secara komprehensif serta mengetahui budaya Indonesia dan Timur Tengah.

“Penting sekali para pembimbing haji dan umrah baik laki-laki maupun perempuan untuk menguasai betul materi-materi dari pelatihan ini”

Acara sertifikasi ini merupakan upaya untuk mendukung rekognisi peran Fdikom UIN Jakarta dalam menyukseskan program pemerintah, yang tidak hanya fokus pada akademik semata namun juga non akademik.

Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Reporter Ahmad Haetami

Sambutan Opening Safari Dakwah oleh Panitia Pelaksana.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Opening Safari Dakwah (Safdak), peresmian sebuah program tahunan rutin yang diikuti oleh mahasiswa BPI, di Desa Cibitung, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Selasa (18/1).

Peresmian Safdak yang dilaksanakan tahun ke-26 dengan tema “Melangkah dengan Cita untuk Merajut Ukhuwah dalam Bingkai Keberagaman” ini dilakukan setelah berjalannya kegiatan pelepasan di UIN Jakarta dan anjangsana, yakni kunjungan peserta ke rumah warga untuk bersilaturahmi dan menginformasikan kegiatan acara yang akan dilakukan nanti.

Sebelum pembukaan simbolis dengan pemukulan gong, Kepala Desa Cibitung mengatakan bahwa Safdak ini menjadi tantangan mahasiswa.

“Melihat tema yang diusung, konteks keberagamaan itu tidak bisa dipisahkan oleh konteks sosial, karena manusia hanya punya dua tujuan persoalan dalam hidup, yaitu agama dan sosial. Oleh karena itu, peran dari Safdak harapannya mahasiswa bisa menyukseskan dua tujuan hidup manusia tersebut. Ini tantangan bagi mahasiswa. Selesai Safari Dakwah, kualitas masyarakat bisa meningkat dari sebelumnya.”

Peresmian Safdak oleh Kepala Desa Cibitung.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Setelah acara Opening Safdak ini, ada banyak kegiatan yang nantinya akan dilakukan oleh mahasiswa. Di antaranya seminar sosial tentang pemilahan sampah, seminar agama yang dikemas melalui talk show, serta seminar kesehatan tentang pencegahan narkotika dan HIV. Selain seminar-seminar, ada juga cek kesehatan, pengobatan gratis, dan donor darah.

Selain hal-hal tersebut, akan dilaksanakan juga Safdak Champion Day, pembuatan saung baca, homestay, keputrian, dan akan ditutup dengan tablig akbar.

Ketua Pelaksana Safdak, Achmad Perdiansyah mengatakan acara Safdak merupakan bentuk peningkatan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Safdak ini memiliki tujuan guna meningkatkan mutu aplikatif dari Tri Dharma Perguruan Tinggi poin ke-3, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat, di mana pengabdian ini menjadi wadah kita untuk belajar dalam memberikan suatu problem solving di bidang sosial, pendidikan, agama, dan berbagai kegiatan lainnya. Kami berharap Safdak ke-26 ini mampu mendorong masyarakat untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Pelantikan LO Sketsa dan Kontras Musik 2022: Berprestasi Melalui Seni

Reporter Anggita Fitri Chairunisa

Pembacaan Surat Keputusan Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fdikom, Selasa (18/1).
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Lembaga Otonom (LO) Komunitas Edukasi dan Seni Tari Saman (Sketsa) dan Komunitas Kreasi dan Seni Musik (Kontras Musik) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan pelantikan pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik masa bakti 2022 secara hybrid, Selasa (18/1).

Dihadiri oleh Dekan Fdikom, Suparto, Wakil Dekan (Wadek) Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, pengurus LO SKETSA dan Kontras Musik, serta para tamu undangan.

Surat Keputusan dan Ikrar Pengurus LO Sketsa dan Kontras Musik dibacakan langsung oleh Wadek Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya.

Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, berharap anggota LO Sketsa dan Kontras Musik menjadi mahasiswa yang terus aktif, kreatif, dan produktif dalam menciptakan suatu karya seni.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Kontras Musik periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Kontras Musik periode 2021, Danu menyerahkan jabatannya kepada ketua terpilih periode 2022, Allendro Ghauti Najwati. Dalam sambutannya, Danu berpesan kepada pengurus LO Kontras Musik masa bakti 2022 untuk terus memberikan karya terbaik.

“Kepada pengurus baru 2022 saya ucapkan selamat, teruslah berkarya dan memberikan yang terbaik untuk fakultas. Menjadi pengurus pasti lelah, namun nikmati saja prosesnya karena nantinya banyak hal yang akan kalian dapatkan dan kalian rasakan manfaatnya,” ujarnya.

Sebagai ketua LO Kontras Musik periode 2022, Allendro mengaku senang dengan amanah yang diberikan dan ini juga menjadi kesempatan baginya untuk melatih jiwa kepemimpinannya.

“Karena ini merupakan pengalaman pertama saya dalam memimpin sebuah organisasi, pastinya dipercaya dan diberikan amanah sebagai ketua LO Kontras Musik ini menjadi sebuah tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar dalam memimpin sebuah organisasi yang baik,” tuturnya.

Allendro berharap agar ke depannya LO Kontras Musik dapat mempertahankan integritas, meningkatkan kreatifitas, dan memperkuat solidaritas.

Simbolis serah terima jabatan pengurus LO Sketsa periode 2021 kepada pengurus periode 2022.
Sumber: DNK TV–Anggita Fitri Chairunisa

Ketua LO Sketsa periode 2021, Pitri Amalia mengatakan pandemi tidak menjadi penghalang untuk tetap berkarya dan mencetak prestasi yang membanggakan.

“Tahun 2021 kita terhalang oleh pandemi, semuanya menjadi serba online. Semoga di tahun 2022 menjadi titik terang bagi kita, bisa bertemu secara tatap muka. Banyak belajar dari pandemi, menjadi gebrakan baru untuk melakukan proker secara online. Semoga menjadi semangat yang lebih besar untuk meneruskan visi misi dan membawa nama baik fakultas dakwah,” ucapnya.

Sarah Nabila Muklis, Ketua LO Sketsa Periode 2022 sendiri berharap pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa yang sempat terhenti akibat pandemi.

“Saya berharap, saya dan seluruh pengurus masa bakti 2022 bisa membawa cahaya kembali untuk LO Sketsa, karena sempat terhenti untuk kegiatan-kegiatan secara offline akibat pandemi,” ujarnya.

Nabila juga menyampaikan inovasi yang akan dilakukan oleh LO Sketsa di tahun 2022 demi memperbesar sinergi dan mengharumkan nama Fdikom melalui prestasi-prestasi yang diraih.

“Dengan memulai kegiatan-kegiatan baik secara offline maupun online, seperti latihan rutin, live class melalui media sosial seputar perempuan, kecantikan, public speaking, dan terjun untuk tampil dan mengikuti perlombaan-perlombaan baik dalam kampus maupun di luar kampus,” imbuh Nabila.

NFT, Emisi Karbon, dan Krisis Iklim

NFT, Emisi Karbon, dan Krisis Iklim

Reporter Nisrina Fathin; Editor Fauzah Thabibah dan Tiara De Silvanita

Akun NFT Ghozali Everyday
Sumber: Opensea.io

Sultan Gustaf Al Ghozali atau kerap disapa Ghozali Everyday, belakangan ini menjadi viral sebab swafoto yang ia unggah melalui Non-Fungible Tokens (NFT) mendapatkan harga jual tertinggi hingga mencapai 2 Ethereum atau senilai dengan Rp92,3 juta.

NFT merupakan aset digital berupa karya seni, atribut game hingga barang koleksi yang memiliki keunikan dengan bukti kepemilikan yang dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya. Non-Fungible sendiri memiliki makna sesuatu yang tidak dapat ditukarkan dengan sesuatu yang sebanding. Sedangankan Tokens bermakna kepemilikan yang dapat menguntungkan bagi pemiliknya.

Dengan melonjaknya pasar NFT menyebabkan terjadinya emisi karbon. Proof-of-Work (PoW) dengan intensif daya seperti Bitcoin dan Ethereum ternyata dalam prosesnya rakus energi sehingga menghasilkan emisi karbon yang tinggi, emisi ini disebut gas fee.

Seorang seniman digital, telah menganalisis 18.000 NFT dan menemukan bahwa rata-rata NFT memiliki jejak karbon yang setara dengan listrik lebih dari satu bulan untuk orang yang tinggal di Uni Eropa. Atau setiap transaksi yang dilakukan NFT dapat mengkonsumsi daya setara dengan berkendara sejauh 1.000 KM atau menerbangkan pesawat jet selama 2 jam.

Logo NFT
Sumber: medium.com/mchplus

Emisi karbon yang digunakan dalam NFT ini dapat merusak ekosistem alam secara keseluruhan. Aktivis lingkungan meberikan perhatian pada kurangnya kesadaran di komunitas Ethereum karena dampak lingkungan yang dihasilkan oleh sistem konsensus Ethereum.

Perilaku yang mendorong tren NFT secara signifikan juga mendorong nilai Ethereum, penambang akan menaikkan lebih banyak mesin yang mereka gunakan. Lebih banyak mesin berarti lebih banyak polusi.

Fdikom Pinta DNK TV Lebih Komitmen

Fdikom Pinta DNK TV Lebih Komitmen

Reporter Fauzah Thabibah; Editor Tiara De Silvanita

Suasana rapat koordinasi di Meeting Room Fdikom Lantai 1.
Sumber: DNK TV-Fauzah Thabibah

Wakil Dekan (Wadek) Bidang Kemahasiswaan dan Kepala Laboratorium (Kalab) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mengadakan rapat koordinasi bersama Lembaga Penyiaran Kampus (LPK) DNK TV dan RDK FM secara tatap muka di Meeting Room lantai 1 Fdikom. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (17/1) pukul 13.00 WIB.

Rapat ini membahas tindak lanjut pihak fakultas dalam memperhatikan kinerja dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan DNK TV dan RDK FM. Sehingga kedua LPK ini dapat meningkatkan mutunya dalam berkarya.

Wadek Bidang Kemahasiswaan Fdikom, Cecep Castrawijaya mengimbau agar DNK TV dan RDK FM lebih meningkatkan sistem koordinasi yang baik dengan fakultas.

Wadek Bidang Kemahasiswaan sedang memberikan arahan kepada anggota DNK TV.
Sumber: DNK TV-Fauzah Thabibah

Dalam rapat disampaikan bahwa saat ini pihak fakultas belum melakukan peresmian renovasi terhadap studio baru penyiaran DNK TV.

“Belum adanya serah terima antara pihak vendor dengan pihak fakultas, jadi studio baru masih belum bisa digunakan,” ujarnya.

Kalab Fdikom, Zakaria menyampaikan, nantinya jalur SOP yang ada di DNK TV diperbaiki agar segala liputan yang berkaitan dengan berita fakultas dapat segera naik tayang.

Cecep Castrawijaya kembali mengimbau semua kegiatan DNK TV dan RDK FM harus terstruktur. Juga perlunya meningkatkan keterlibatan tenaga pengajar seperti mengundang dosen sebagai narasumber dalam program acara Ramadhan.

Pihak Fakultas berharap ke depannya baik DNK TV maupun RDK FM dapat lebih menjaga koordinasi serta komitmen yang baik dengan fakultas.

Penguatan Kerja Sama antara UIN Jakarta dengan Kedutaan Amerika Serikat

Penguatan Kerja Sama antara UIN Jakarta dengan Kedutaan Amerika Serikat

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Taufik Akbar Harefa

Foto bersama usai rangkaian kegiatan pengutan kerja sama UIN Jakarta dengan Kedutaan Amerika Serikat
Sumber: Akbar-DNK TV

Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat Jakarta yang diwakili oleh Cultural Attache Officer (CAO) Emily Norris, Regional Public Engagement Specialist (REPS) Alison McKee, REPS Assistance Netty Lambardo, dan MyAmerica Jakarta Assistance Endang Nuryanti, mengunjungi American Corner UIN Jakarta pada Kamis (13/1).

Kunjungan tersebut dilakukan setelah pergantian REPS baru di Kedubes Amerika Serikat dan dalam rangka peninjauan American Corner, salah satu program kerja sama internasional antara Kedubes dengan universitas-universitas yang ada di Indonesia, termasuk UIN Jakarta.

Hal ini dilakukan dalam rangka penguatan kerja sama antara Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dengan UIN Jakarta khususnya dengan American Corner UIN Jakarta.

Adapun harapan dengan terselenggaranya kegiatan ini adalah eratnya hubungan kerja sama antara Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dengan UIN Jakarta, dan semakin banyaknya informasi yang dapat dibagikan pada para Mahasiswa UIN Jakarta.

“Harapan saya dengan adanya kunjungan tersebut, kerja sama antara Kedutaan Besar dan American Corner UIN Jakarta terutama khusunya UIN Jakarta semakin erat dan semakin banyak informasi yang bisa kami bagikan kepada Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sendiri, juga untuk publik secara umum”, ungkap Fajar Hakim, selaku voluenteer American Corner UIN Jakarta.

Diskusi dalam penguatan kerja sama UIN Jakarta dengan Kedutaan Amerika Serikat di Amerika Corner UIN Jakarta
Sumber: Akbar-DNK TV

Dalam hal ini perlu adanya kegitan terus-menerus agar kerja sama tetap terjalin secara erat dan berkepanjangan.

Kerja sama ini dapat memberikan feedback baik bagi UIN Jakarta, staff, serta Mahasiswa di UIN Jakarta. Agar kedepannya dapat berkembang dan memajukan UIN Jakarta.

Berbagi Kebahagian dalam Tali Kasih Dosen untuk Karyawan

Berbagi Kebahagian dalam Tali Kasih Dosen untuk Karyawan

Reporter: Chandra Hermawan; Editor: Tiara De Silvanita


Foto Bersama, dalam kegiatan Tali kasih Dosen Untuk karyawan, Rabu (12/1)
Sumber: DNKTV-Kevin Philips

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Tali Kasih Dosen untuk Karyawan pada Rabu, (12/01). Kegiatan ini diselenggarakan di ruang teater Gedung Fdikom UIN Jakarta yang dihadiri sekitar 30 orang diantaranya dekan, dosen, staff non PNS, pramusaji, pramubakti, satpam  Fdikom UIN Jakarta.

Rangkaian diawali pembukaan pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fdikom Suparto, selanjutnya sambutan dari perwakilan dosen yaitu Umi Musyarofah, kemudian pemberian rezeki dari dosen, acara ditutup dan diakhiri dengan doa.

Dekan Fdikom Suparto mengatakan latar belakang dari terselenggaranya acara  ini adalah bahwa Fdikom terdiri dari beberapa bagian orang dangan fungsi yang berbeda-beda namun tidak ada perbedaan dalam basis struktur.

“Jadi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi adalah organisasi dimana terdapat manusia berbeda-beda  dengan fungsi yang berbeda-beda,” ucap Suparto.

Acara ini sebagai cara untuk mempererat hubungan individu dan membangun rasa kekeluargaan sehingga hubungan antara pimpinan, dosen dan karyawan terbangun rasa `kekeluargaan.

Selain itu, Dosen Fdikom Umi Musyarofah, menyampaikan bahwa merupakan suatu kewajiban setiap manusia untuk saling berbagi.

“Dosen mempunyai tambahan rezeki dan harus kita bagi karena yang awal tadi kita saling bersama-sama” ucap Umi Musyarofah.

Sambutan dekan Fdikom UIN Jakarta, Suparto dalam acara Tali Kasih Dosen Untuk Karyawan, Rabu(12/9).

Selama masa pandemi acara ini bukan pertama kali diselenggarakan, pada tahun 2021 telah diselenggarakan empat kali dengan cara yang bervariasi.

Salah satu pegawai Fdikom, Syahirul alim berharap semua bagian dari Fdikom terus menjaga rasa kekeluargaan dan keharmonisan, tidak ada perbedaan dan tetap saling membantu.

“Saya sebetulnya belum terlalu lama di sini baru sekitar delapan bulan belum satu tahun tetapi sudah merasakan suasana nyaman,” ungkap Syahirul Alim.

Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Reporter  Latifahtul Jannah; Editor Tiara De Silvanita 

Ismatu Rompi membuka Launching Hasil Survei PPIM Jakarta
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melaksanakan Kegiatan Launching Hasil Survei Nasional PPIM Jakarta dengan tema “Anak Muda dan Covid-19: Berbineka Kita Teguh, Ber-hoak Kita Runtuh.” pada Rabu (5/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat umum mengenai bagaimana pandangan siswa di sekolah maupun madrasah tentang Agama, Pandemi dan Bencana di Indonesia.

Berbicara anak muda berbanding lurus tentang masa depan Indonesia, realita covid-19 yang ada ternyata sangat mempengaruhi anak muda.

Penelitian yang dilakukan delapan bulan dengan 3031 dari seluruh Indonesia menghasilkan temuan penting, pertama, prokes perilaku hidup sehat, dan vaksinasi perlu ditingkatkan.

Kedua saat pandemi Covid-19, level Islamisme pada pelajar Indonesia relatif tinggi, ketiga social trust pelajar Indonesia cukup tinggi, khususnya pada pemimpin agama baik lokal maupun nasional, dan juga pada keluarganya, ungkap Yunita Faela Nisa salah satu peneliti PPIM UIN Jakarta.

Narila Mutia yang juga peneliti PPIM UIN Jakarta menambahkan siswa yang stres karena pandemi mengakibatkan intensitas ibadahnya semakin menurun terutama pada siswa laki-laki.

Presentase anak muda yang terbawa suasana dengan hoax membuat teori konspirasi di masa pandemi sebesar 31,5% dari mereka percaya bahwa Rumah Sakit meng-covidkan pasien untuk keuntungan dana, 20,5% percaya Covid-19 hanyalah flu biasa, dinyatakan berbahaya untuk keuntungan pihak tertentu, dan 20,5% pemuda percaya Covid-19 adalah senjata biologi yang dibuat negara maju melemahkan negara berkembang.

Narila Mutia memaparkan hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah adalah vaksinasi, namun hasil penelitian PPIM UIN Jakarta menemukan 12,58% menganggap vaksinasi bertentangan dengan agama.

Hasil analisa menemukan bahwa agama memiliki pengaruh negatif terhadap keputusan vaksinasi.

Associate Professor of Sociology, NTU Singapore, Sulfikar Amir menanggapi bahwa agama dan bencana sebenarnya bukan suatu isu yang baru. Covid-19 sendiri dikategorikan bencana, yaitu bencana biologis.

“Bencana menjadi event-event penting membentuk peradaban, dan bagaimana bencana itu dihadapi melalui pemahaman religius masyarakat, jadi sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru,” terang Sulfikar.

Sulfikar Amir menanggapi hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Sulfikar juga menambahkan Covid-19 memiliki kompleksitas yang tinggi.

“Sebenarnya kita tidak bisa melihat secara langsung korelasi antara agama terhadap prilaku kesehatan, karena Covid-19 memiliki kompeksitas yang tinggi, dimana agama menjadi hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi cara Individu menghadapi resiko terinveksi Covid-19,” ungkap Sulfikar.

Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat Sesditjen P2P Kemenkes RI, Iqbal Djakaria juga menanggapi bahwa tantangan bagi Kemenkes di era perkembangan teknologi sekarang jauh lebih besar, sehingga memang sudah seharusnya perlu meningkatkan pemberian pemahaman kepada masyarakat baik mengenai Covid-19 dan vaksinasi.